Bab 014.963 kata

Under The snow

y

yusuf

The Long Way Home

Mulai membaca

### Chapter 1 — Under the Snow

Salju pertama tahun itu turun tanpa suara.

Butiran putih berjatuhan dari langit mendung, menempel pada atap-atap bangunan yang rusak, menutupi kendaraan militer yang terbengkalai, dan perlahan menyamarkan jejak-jejak kaki di jalanan. Udara dingin menyusup melalui celah jendela sebuah rumah dua lantai yang telah lama ditinggalkan penghuninya. Di dalamnya, sebuah radio tua memutar lagu dengan suara yang sedikit berdesis, seolah-olah bahkan mesin itu pun sudah terlalu lelah untuk bekerja dengan baik.

Di ruang tamu yang sempit, dua prajurit muda duduk berhadapan di dekat sebuah pemanas portabel.

“Ini.”

Ivan menyodorkan sebuah cangkir logam berisi kopi panas kepada gadis yang duduk di seberangnya.

Anis menerimanya dengan kedua tangan. Uap tipis mengepul dari permukaan kopi, membawa aroma pahit yang cukup kuat untuk menutupi bau debu dan kayu lapuk di ruangan itu.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Anis meniup permukaan kopinya sebelum menyesap sedikit. Wajahnya langsung berubah.

“Panas sekali!”

“Ya, namanya juga kopi panas.”

“Bukan begitu! Lidahku hampir terbakar!”

“Kalau begitu, tunggu sampai dingin.”

Ivan mengangkat bahu seolah-olah masalah itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Ia kemudian kembali menyandarkan punggung ke sofa tua yang pegasnya sudah rusak, lalu mengarahkan pandangan ke jendela.

Di luar, salju terus turun.

Gadis di hadapannya mendengus pelan. Rambut hitam pendeknya sedikit berantakan, sebagian menutupi mata kanannya. Mata kirinya yang berwarna biru cerah terlihat jelas ketika ia menoleh ke arah jendela. Tubuhnya yang kecil terbungkus seragam lapangan hijau zaitun, dilapisi perlengkapan pelindung dan rompi taktis yang tampak kusam setelah bertahun-tahun digunakan.

Di lengan atasnya terpasang sebuah armband dengan lambang segitiga dan pion catur di tengahnya. Di bawah lambang itu terdapat tiga huruf yang tercetak dengan warna putih pudar.

F.A.U.

Federation Aggressor Unit.

Unit Agresor Federasi.

Sebuah nama yang terdengar gagah dalam pidato-pidato militer, tetapi tidak terlalu berarti bagi orang-orang yang harus menjalankan tugasnya.

F.A.U. dibentuk dengan satu tujuan utama: terus maju dan merebut setiap jengkal wilayah musuh. Mereka bukan unit yang ditugaskan untuk menjaga garis pertahanan dalam waktu lama, bukan pula pasukan yang dipersiapkan untuk membangun hubungan dengan penduduk setempat. Begitu sebuah wilayah ditetapkan sebagai sasaran, unit-unit agresor akan dikirim untuk menembus pertahanan, mengamankan jalur, dan memastikan bahwa wilayah tersebut berada di bawah kendali Federasi.

Mereka harus bergerak maju.

Apa pun yang terjadi.

Setidaknya, begitulah bunyi perintah yang selalu mereka terima.

Di atas kertas, F.A.U. memiliki banyak unit, kendaraan lapis baja, dukungan artileri, dan jaringan komunikasi yang menghubungkan mereka dengan markas operasi. Namun, keadaan di medan perang tidak selalu sesuai dengan laporan yang disusun oleh para perwira di belakang garis depan.

Unit Ivan dan Anis, misalnya, pernah memiliki lebih dari tiga puluh personel.

Sekarang hanya tersisa dua orang.

Ivan, seorang pemuda berusia sembilan belas tahun dengan rambut hitam pendek dan mata cokelat, sedang duduk dengan santai seolah-olah ia sedang menikmati sore hari di rumah sendiri. Tingginya hanya sekitar seratus enam puluh sentimeter. Di samping sofa tergeletak sebuah senapan mesin PKM yang besar, sementara ransel miliknya yang nyaris penuh tergeletak di lantai.

Di sebelahnya ada helm, sarung tangan, dan beberapa perlengkapan yang sudah ia bersihkan sejak pagi.

Berbeda dengan Anis, Ivan tidak terlalu peduli apakah barang-barangnya tersusun rapi atau tidak. Selama ia masih bisa menemukan apa yang dibutuhkan, menurutnya tidak ada masalah.

Ivan dan Anis telah berada di medan perang selama empat tahun.

Mereka direkrut ketika masih sangat muda, menjalani pelatihan militer yang singkat, lalu dikirim ke garis depan. Pada awalnya, mereka bahkan belum cukup memahami arti dari kata-kata seperti operasi ofensif, penguasaan wilayah, atau pengorbanan demi kemenangan.

Mereka hanya tahu bahwa mereka harus mengikuti perintah.

Selama empat tahun berikutnya, keduanya berpindah dari satu unit ke unit lain. Orang-orang yang mereka kenal datang dan pergi. Ada yang dipindahkan, ada yang terluka dan dievakuasi, dan jauh lebih banyak yang tidak pernah kembali.

Entah bagaimana, mereka masih bertahan.

Mungkin karena keberuntungan. Mungkin karena mereka cukup pintar untuk mengetahui kapan harus berlindung dan kapan harus berlari. Atau mungkin karena perang memang belum memutuskan untuk mengambil mereka.

Mereka sendiri tidak pernah benar-benar tahu.

Yang jelas, mereka sudah terlalu terbiasa dengan semua itu.

“Menurutmu, kapan mereka akan memberi kita perintah berikutnya?”

Anis bertanya setelah menyesap kopinya sekali lagi.

Ivan mengalihkan pandangan dari jendela.

“Entahlah.”

“Jawaban yang sangat membantu.”

“Terima kasih.”

“Aku tidak sedang memujimu.”

“Aku tahu.”

Anis menatapnya dengan kesal. Ivan hanya tersenyum kecil, lalu meraih cangkirnya sendiri.

Di atas meja, sebuah radio rumah tangga berwarna cokelat tua terus memutar lagu instrumental. Bentuknya sederhana, dengan dua kenop pengatur dan sebuah antena kecil di bagian belakang. Radio itu bukan perangkat komunikasi militer, bukan pula alat khusus yang dirancang untuk digunakan di medan perang.

Itu hanyalah radio biasa yang mungkin dahulu menemani sebuah keluarga ketika mereka sarapan, membersihkan rumah, atau menghabiskan malam bersama.

Mereka menemukannya di ruang tamu rumah itu ketika sedang memeriksa bangunan setelah pertempuran.

Ajaibnya, radio tersebut masih berfungsi.

Ivan menyukainya karena suaranya cukup jelas dan kadang-kadang mereka bisa menangkap siaran berita dari stasiun radio sipil yang masih beroperasi. Anis menyukainya karena radio itu membuat rumah kosong yang mereka tempati tidak terasa terlalu sunyi.

Lagu yang sedang diputar berganti ke lagu berikutnya.

Anis meletakkan cangkirnya di meja.

“Setidaknya, kota ini sudah berhasil kita amankan.”

“Ya.”

“Tidak ada lagi musuh di sekitar sini. Kita juga sudah memeriksa jalan utama dan bangunan-bangunan penting.”

“Ya.”

“Jadi, seharusnya kita sudah bisa pergi dari sini.”

“Ya.”

Anis menyipitkan mata.

“Ivan.”

“Hm?”

“Kau mendengarkanku, tidak?”

“Tentu saja.”

“Lalu kenapa jawabanmu hanya ‘ya’?”

“Karena aku setuju.”

Anis menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang.

“Kadang-kadang aku ingin tahu bagaimana caramu bertahan hidup selama ini.”

“Dengan makan, minum, dan bernapas.”

“Kau benar-benar menyebalkan.”

Ivan terkekeh.

Ia tidak bermaksud membuat Anis kesal. Hanya saja, ia memang tidak melihat alasan untuk terlalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Mereka telah menyelesaikan tugas di kota kecil ini. Selama tidak ada perintah baru, mereka bisa beristirahat.

Lagi pula, di luar sedang turun salju.

Menurut Ivan, itu alasan yang cukup bagus untuk tidak melakukan apa-apa.

Lalu, tiba-tiba, musik dari radio berhenti.

Suara statis terdengar selama beberapa detik sebelum digantikan oleh suara seorang penyiar laki-laki.

“—kami kembali dengan berita terbaru dari pusat komunikasi Federasi. Setelah operasi militer besar-besaran selama beberapa pekan terakhir, komando utama mengonfirmasi bahwa seluruh wilayah Republik telah berhasil dikuasai oleh pasukan Federasi.”

Ivan berhenti mengangkat cangkirnya.

Anis perlahan menoleh ke arah radio.

“Pasukan utama Federasi dilaporkan telah memasuki ibu kota Republik sejak dini hari tadi. Benteng pertahanan terakhir telah menyerah, sementara presiden Republik yang memimpin pemerintahan selama konflik berlangsung berhasil ditangkap oleh pasukan Federasi.”

Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.

“Pihak komando menyatakan bahwa penangkapan presiden dan penguasaan seluruh kota besar Republik menandai berakhirnya operasi militer utama dalam perang ini. Federasi mengumumkan kemenangan dan meminta seluruh warga untuk tetap tenang sambil menunggu arahan lebih lanjut dari pemerintah pusat.”

Penyiar melanjutkan pembacaan berita. Ia berbicara mengenai kemenangan, stabilitas, dan masa depan yang lebih baik. Kata-kata yang mungkin terdengar meyakinkan bagi seseorang yang mendengarkannya dari rumah yang hangat, jauh dari medan perang.

Namun, Ivan dan Anis tidak lagi memperhatikan sebagian besar isi berita itu.

Keduanya saling menatap.

“...Kau dengar itu?” tanya Anis.

Ivan mengangguk pelan.

“Sepertinya begitu.”

“Seluruh wilayah Republik?”

“Begitulah katanya.”

“Presidennya juga ditangkap?”

“Ya.”

Anis terdiam sejenak.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah kata yang sangat jarang terdengar darinya dalam situasi serius.

“Sial.”

Ivan meletakkan cangkirnya.

Mereka tidak berada jauh dari ibu kota Republik. Jika berita itu benar, berarti pasukan utama Federasi telah bergerak melewati wilayah-wilayah yang selama ini menjadi garis pertahanan musuh. Kota kecil yang mereka kuasai sekarang mungkin tidak lagi memiliki nilai strategis sebesar sebelumnya.

Mungkin tidak akan ada operasi lanjutan.

Mungkin tidak akan ada pertempuran berikutnya.

Mungkin, untuk pertama kalinya dalam empat tahun, mereka benar-benar bisa pulang.

Ivan menatap radio dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Kalau begitu...” Ia berhenti sejenak. “Perangnya selesai?”

Anis tidak langsung menjawab.

Ia tahu bahwa pengumuman kemenangan tidak serta-merta berarti semua senjata di seluruh garis depan akan berhenti menyalak. Masih mungkin ada kelompok yang menolak menyerah, daerah yang belum menerima kabar, atau unit yang tidak mengetahui bahwa perang telah berakhir.

Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka memiliki alasan untuk berharap.

“Sepertinya begitu,” jawab Anis akhirnya.

Ivan tersenyum kecil.

“Bagus.”

Hanya itu yang ia katakan.

Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada teriakan kemenangan. Tidak ada pelukan penuh haru seperti yang sering ditampilkan dalam film-film perang.

Ia hanya tersenyum, mengangkat kembali cangkirnya, lalu meminum kopi yang sudah mulai mendingin.

Anis memperhatikan wajahnya.

“Kau tidak senang?”

“Senang, tentu saja.”

“Wajahmu tidak terlihat seperti orang yang senang.”

“Memangnya aku harus bagaimana? Berlari mengelilingi ruangan sambil berteriak bahwa perang sudah selesai?”

Anis membayangkan hal itu selama sesaat.

“Kalau kau melakukannya, mungkin aku akan tertawa.”

“Kalau begitu, tidak akan kulakukan.”

“Pengecut.”

Ivan hendak membalas, tetapi suara dari perangkat komunikasi militer di atas meja memotong percakapan mereka.

Suara bip pendek terdengar.

Keduanya langsung terdiam.

Radio rumah tangga itu masih memutar berita kemenangan Federasi, tetapi perhatian mereka kini tertuju pada perangkat komunikasi yang terhubung ke jaringan militer.

Ivan meraih radio komunikasi tersebut dan menekan tombol penerima.

“Di sini unit F.A.U. Posisi sektor timur, kota yang baru diamankan. Kami mendengar.”

Ada suara desis, lalu suara seorang operator yang terdengar lelah tetapi tegas.

“Seluruh unit agresor yang masih aktif, harap menerima instruksi. Komando utama mengonfirmasi bahwa seluruh kota besar dan wilayah administratif Republik telah berhasil dikuasai. Presiden Republik telah ditangkap. Operasi militer utama dinyatakan selesai.”

Ivan melirik Anis.

Anis mendekatkan tubuhnya, berusaha mendengar dengan lebih jelas.

“Seluruh unit agresor diperintahkan menghentikan pergerakan ofensif, mengamankan posisi masing-masing, dan bersiap untuk penarikan. Segera hubungi markas operasi lapangan terdekat dan laporkan status personel, kondisi perlengkapan, serta lokasi terakhir. Tunggu instruksi lanjutan dari komando.”

Operator itu berhenti sejenak. Suara statis kembali terdengar.

“Ulangi, seluruh unit agresor. Hentikan pergerakan ofensif. Amankan posisi dan laporkan kepada markas operasi lapangan. Tunggu instruksi penarikan.”

Ivan menekan tombol komunikasi.

“Dimengerti. Unit kami akan melaporkan status dan menunggu instruksi.”

“Konfirmasi diterima. Tetap siaga.”

Sambungan terputus.

Ivan menurunkan perangkat komunikasi itu perlahan.

Anis mengembuskan napas panjang.

“Jadi, kita benar-benar akan pulang?”

Ivan memandangi perangkat di tangannya, kemudian menoleh ke arah jendela. Salju masih turun di luar sana, menutupi jalanan kota yang telah mereka rebut beberapa hari sebelumnya.

“Sepertinya begitu.”

“Menurutmu, berapa lama sampai mereka menjemput kita?”

Ivan mengangkat bahu.

“Sehari? Dua hari?”

“Semoga tidak lebih lama.”

“Kenapa? Kau sudah merindukan rumah?”

Anis terdiam.

Untuk sesaat, ekspresinya berubah. Bukan karena takut atau sedih, melainkan karena pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang sudah lama tidak ia pikirkan.

Rumah.

Sudah berapa lama sejak terakhir kali ia membayangkan tempat itu?

Empat tahun.

Empat tahun sejak ia meninggalkan kehidupan lamanya, mengikuti pelatihan militer, dan dikirim ke garis depan. Dalam waktu itu, begitu banyak hal telah berubah. Ia tidak tahu apakah rumahnya masih berdiri, apakah orang-orang yang dikenalnya masih berada di tempat yang sama, atau apakah ia masih bisa kembali ke kehidupan yang pernah dimilikinya.

Namun, ia ingin pulang.

Tentu saja ia ingin pulang.

“Ya,” jawabnya singkat. “Aku merindukannya.”

Ivan tidak menggoda Anis kali ini.

Ia hanya mengangguk.

“Aku juga.”

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka tidur tanpa memikirkan kemungkinan menerima perintah untuk bergerak sebelum matahari terbit.

Mereka tidak tahu bahwa perjalanan pulang mereka baru saja dimulai.

Dua hari berlalu.

Salju tidak pernah benar-benar berhenti turun, meskipun terkadang butirannya menjadi sangat tipis hingga hampir tidak terlihat dari jendela. Kota kecil yang mereka kuasai tetap sunyi. Tidak ada kendaraan militer yang memasuki jalan utama, tidak ada suara mesin dari kejauhan, dan tidak ada tanda-tanda bahwa seseorang akan datang menjemput mereka.

Pada hari pertama, Ivan dan Anis masih menganggap keterlambatan itu sebagai hal biasa.

Mungkin jalan menuju kota mereka tertutup salju.

Mungkin kendaraan penjemput harus menunggu pengawalan.

Mungkin markas sedang sibuk mengatur kepulangan ribuan prajurit yang tersebar di berbagai sektor.

Mereka memiliki banyak alasan untuk menunggu.

Pada hari kedua, alasan-alasan itu mulai terdengar semakin lemah.

Ivan telah mencoba menghubungi markas operasi lapangan beberapa kali. Sebagian besar panggilannya tidak mendapatkan jawaban. Ketika sambungan berhasil terhubung, suara yang diterimanya terputus-putus, terlalu berisik untuk dipahami, atau berakhir sebelum mereka sempat mendapatkan informasi yang berguna.

Anis pun mulai kehilangan kesabaran.

“Kita tidak bisa terus begini.”

Ia berdiri di dekat meja, mengenakan seragam lengkap dan memeriksa isi ransel kecilnya untuk terakhir kali.

Ivan duduk di lantai dengan ransel besar terbuka di hadapannya. Berbagai benda memenuhi ruangan: perlengkapan medis, makanan kaleng, botol air, kabel, beberapa perkakas, pakaian tambahan, dan barang-barang lain yang menurutnya mungkin akan berguna.

Di sampingnya tergeletak senapan mesin PKM.

Senjata itu cukup besar dan berat, terutama bagi seseorang dengan tubuh sekecil Ivan. Namun, ia tampaknya tidak menganggapnya sebagai masalah.

Anis memandang isi ransel tersebut.

Kemudian ia memandang Ivan.

Kemudian kembali memandang ransel itu.

“Ivan.”

“Hm?”

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Mempersiapkan barang-barang kita.”

“Kenapa kau membawa tiga gulung kabel?”

“Siapa tahu berguna.”

“Dua senter cadangan?”

“Bagaimana kalau salah satunya rusak?”

“Panci kecil?”

“Untuk memasak.”

“Kita sudah punya wadah makanan.”

“Panci lebih praktis.”

Anis memejamkan mata.

Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.

“Baiklah. Lalu, kenapa kau membawa buku ini?”

Ivan mengangkat kepala.

“Oh, itu buku tentang mesin pembakaran generasi awal. Aku menemukannya di sebuah toko beberapa waktu lalu. Isinya menarik.”

“Dan apa hubungannya dengan perjalanan kita?”

“Tidak ada, tetapi—”

“Tidak.”

“Tunggu dulu, Anis. Kita tidak tahu apa yang akan kita temukan di sepanjang jalan. Bisa saja suatu hari nanti kita membutuhkan pengetahuan tentang mesin pembakaran generasi awal.”

“Tidak.”

“Bagaimana kalau kita menemukan kendaraan yang rusak dan—”

“IVAN.”

Pemuda itu langsung terdiam.

Anis berdiri dengan kedua tangan bertumpu di pinggang. Wajahnya menunjukkan ekspresi seseorang yang telah mencapai batas kesabarannya.

“Kita akan berjalan kaki sejauh dua puluh kilometer menuju markas operasi lapangan. Kita tidak tahu apakah jalanan aman, berapa lama perjalanan akan berlangsung, atau apakah kita bisa menemukan tempat berlindung di sepanjang jalan. Kita membutuhkan makanan, air, perlengkapan medis, pakaian hangat, dan barang-barang yang benar-benar berguna.”

Ia menunjuk ransel Ivan.

“Kita tidak membutuhkan perpustakaan berjalan.”

“Tapi—”

“Tidak ada tapi.”

Ivan menatap barang-barang di hadapannya dengan wajah murung.

Anis melanjutkan, “Kau juga tidak perlu membawa semua perkakas yang kita temukan di kota ini. Pilih yang benar-benar kita butuhkan.”

“Bagaimana kalau kita membutuhkannya nanti?”

“Kalau begitu, kita pikirkan nanti.”

“Tapi kalau nanti kita tidak menemukannya lagi—”

Anis memukul kepala Ivan dengan gulungan kain yang sejak tadi dipegangnya.

“Aw!”

“Berhenti mencari alasan!”

Ivan mengusap kepalanya.

“Kenapa kau selalu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah?”

“Karena kau tidak pernah mendengarkan kalau diajak bicara baik-baik.”

“Itu tidak benar.”

“Kalau begitu, kenapa buku itu masih ada di tanganmu?”

Ivan melihat tangannya.

Buku tentang mesin pembakaran generasi awal masih tergenggam di sana.

Ia segera meletakkannya.

Anis menghela napas panjang.

“Dengar. Aku tahu kau suka mempelajari hal-hal baru. Aku juga tahu kau tidak suka meninggalkan barang yang menurutmu menarik. Tapi kita sedang tidak pergi berlibur.”

Ivan menunduk, memainkan ujung sarung tangannya.

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, berkemaslah dengan benar.”

“Baiklah.”

Ia terdengar seperti anak kecil yang baru saja kehilangan mainan kesayangannya.

Anis sempat merasa sedikit bersalah, tetapi ia tahu bahwa keputusan ini perlu diambil. Mereka tidak memiliki kendaraan, dan perjalanan menuju markas hanya akan menjadi lebih sulit jika Ivan bersikeras membawa setengah isi kota di dalam ranselnya.

Beberapa menit kemudian, Ivan akhirnya menyerah.

Ia mengeluarkan barang-barang yang tidak diperlukan, mengembalikan perkakas yang terlalu berat, dan menyisakan makanan, air, perlengkapan medis, pakaian tambahan, alat penerangan, serta beberapa kebutuhan dasar lainnya.

Ranselnya menjadi jauh lebih ringan.

PKM tetap ia bawa, meskipun Anis sempat mempertanyakan keputusan tersebut.

“Kau yakin bisa membawa benda sebesar itu sambil membawa ransel?”

“Bisa.”

“Kalau kau kelelahan, jangan mengeluh.”

“Aku tidak akan mengeluh.”

“Kau mengeluh ketika aku menyuruhmu membuang buku tadi.”

“Itu berbeda.”

“Bagaimana bedanya?”

“Buku itu punya nilai sentimental.”

Anis menatapnya tanpa ekspresi.

Ivan terdiam.

“Baiklah. Aku tidak akan membicarakannya lagi.”

“Bagus.”

Mereka menyelesaikan persiapan menjelang siang.

Sebelum pergi, Anis memeriksa persediaan mereka sekali lagi. Ia memastikan bahwa botol air terisi, makanan disimpan di tempat yang mudah dijangkau, dan perlengkapan medis tidak tertimbun barang lain. Ivan memeriksa perangkat komunikasi serta memastikan bahwa senjata dan perlengkapan yang mereka bawa berada dalam kondisi layak.

Mereka masih mengenakan armband F.A.U.

Namun, untuk pertama kalinya, keduanya tidak lagi menunggu perintah untuk menentukan langkah berikutnya.

Mereka akan pergi sendiri.

Tujuan mereka sederhana: markas operasi lapangan yang terletak sekitar dua puluh kilometer dari kota tersebut. Di sana, mereka berharap bisa menemukan komandan yang masih bertugas, mendapatkan informasi tentang penarikan pasukan, dan akhirnya mengetahui bagaimana mereka dapat kembali ke wilayah Federasi yang aman.

Seharusnya perjalanan itu tidak terlalu sulit.

Setidaknya, begitulah yang mereka pikirkan.

Ivan berdiri di depan pintu rumah, menarik ritselnya agar lebih nyaman di bahu.

“Sudah siap?”

Anis mengangguk.

“Sudah.”

Ivan membuka pintu.

Udara dingin langsung menyambut mereka.

Langit mendung membentang luas di atas kota yang sunyi. Salju menumpuk di tepi jalan, sementara lapisan tipis es mulai terbentuk di permukaan genangan air. Tidak ada kendaraan yang melintas. Tidak ada suara manusia. Bahkan angin pun bertiup begitu pelan sehingga pepohonan di kejauhan nyaris tidak bergerak.

Ivan menatap jalanan di depan mereka.

“Kalau kita berjalan terus, mungkin kita bisa sampai sebelum malam.”

“Kalau tidak ada masalah,” jawab Anis.

“Kenapa kau selalu menambahkan bagian itu?”

“Karena biasanya memang ada masalah kalau kau yang mengatakan sesuatu.”

Ivan tertawa kecil.

Lalu mereka mulai berjalan.

Mereka memilih mengikuti jalan beraspal yang menghubungkan kota dengan desa-desa di sekitarnya.

Keputusan itu bukan tanpa alasan.

Setelah empat tahun berada di medan perang, mereka mengetahui bahwa jalan yang tampak aman belum tentu benar-benar aman. Ranjau darat bisa tersembunyi di bawah tanah, di antara rerumputan, atau di tempat-tempat yang tampaknya tidak mencurigakan. Beberapa bahkan bisa tertutup oleh lapisan salju yang baru turun.

Berjalan di atas aspal yang masih utuh tidak menjamin keselamatan mereka, tetapi setidaknya mengurangi kemungkinan menginjak sesuatu yang seharusnya tidak mereka injak.

Karena itu, mereka menjaga jarak dari bahu jalan yang rusak dan menghindari jalan pintas melewati ladang atau halaman rumah.

Langkah mereka terdengar pelan di tengah kesunyian.

Sesekali, Ivan menoleh ke arah bangunan-bangunan di pinggir jalan. Beberapa rumah masih berdiri dengan utuh, sementara yang lain telah kehilangan atap atau sebagian dindingnya. Kendaraan sipil teronggok di tempat-tempat yang tidak seharusnya, beberapa tertutup salju, yang lain berkarat dan ditumbuhi tanaman liar.

Mereka tidak banyak berbicara.

Bukan karena tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan, melainkan karena perjalanan semacam ini tidak selalu membutuhkan percakapan. Mereka sudah berjalan bersama selama bertahun-tahun. Ada kalanya mereka dapat memahami maksud satu sama lain hanya melalui gerakan kepala atau tatapan singkat.

Setelah menempuh beberapa kilometer, mereka memasuki sebuah desa kecil.

Papan nama di pintu masuknya telah patah pada salah satu sisinya. Beberapa huruf masih terlihat, tetapi catnya terkelupas sehingga nama desa itu sulit dibaca.

Anis memperlambat langkah.

Ivan melakukan hal yang sama.

Desa itu pernah menjadi tempat yang cukup indah.

Setidaknya, mereka mengingatnya demikian.

Ketika pertama kali melewati tempat itu beberapa waktu sebelumnya, rumah-rumahnya masih berdiri relatif utuh. Jalan-jalan kecil membelah permukiman, menghubungkan rumah warga dengan ladang di pinggir desa. Ada sebuah toko kelontong, sebuah bengkel, dan beberapa bangunan kecil yang kemungkinan digunakan sebagai tempat berkumpul penduduk.

Saat itu, desa tersebut sudah kosong.

Tidak ada penduduk yang mereka temukan ketika memasuki wilayah itu. Namun, tanda-tanda kehidupan masih terlihat di mana-mana: pot bunga di ambang jendela, sepeda yang bersandar di pagar, dan pakaian yang tertinggal di jemuran belakang rumah.

Seolah-olah semua orang hanya pergi untuk sementara waktu.

Sekarang, keadaan desa itu jauh berbeda.

Sebagian rumah telah hancur akibat ledakan. Sebuah bangunan di dekat persimpangan kehilangan hampir seluruh atapnya, sementara dinding rumah di seberang jalan retak dari bagian atas hingga ke fondasinya. Pecahan kaca berserakan di trotoar, bercampur dengan tanah dan salju.

Di dekat sebuah pagar yang roboh, dua kendaraan militer teronggok dalam keadaan rusak.

Salah satunya adalah tank yang badan lapis bajanya menghitam akibat ledakan. Bagian luarnya dipenuhi bekas kerusakan, sementara roda rantainya terlepas dari salah satu sisinya. Beberapa meter dari sana, sebuah tank lain tergeletak miring di dekat kawah yang cukup besar.

Tidak sulit menebak apa yang terjadi.

Ranjau atau serangan antitank telah mengakhiri perjalanan mereka.

Ivan memandang kendaraan-kendaraan itu selama beberapa detik sebelum kembali berjalan.

Anis mengikuti dari belakang.

Mereka melewati jalan yang dahulu mungkin dipenuhi suara anak-anak bermain, percakapan orang dewasa, dan deru kendaraan yang datang dari ladang. Kini, yang terdengar hanyalah bunyi langkah kaki mereka sendiri.

Anis memecah kesunyian.

“Ivan.”

“Hm?”

“Kau masih ingat keadaan desa ini sebelum kita mengambil alih?”

Ivan menoleh kepadanya.

“Tentu saja.”

“Bagaimana menurutmu?”

Ivan berpikir sejenak.

“Cukup indah.”

Anis menunggu kelanjutannya.

“Rumah-rumahnya sederhana. Ada ladang di bagian luar desa, dan jalanannya juga lumayan bagus. Kalau dibandingkan dengan tempat-tempat lain yang pernah kita lewati, desa ini sebenarnya cukup nyaman.”

Ia melirik salah satu rumah yang dinding depannya telah runtuh.

“Walaupun waktu itu tempat ini sudah kosong.”

Anis mengangguk pelan.

“Ya. Tapi setidaknya, waktu itu semuanya masih utuh.”

Mereka terus berjalan.

Salju turun semakin rapat, menempel pada bahu seragam mereka dan menutupi sebagian jejak yang baru saja mereka tinggalkan.

Anis menatap rumah-rumah di sekelilingnya.

“Kadang-kadang aku berpikir...” Ia berhenti sejenak, seolah-olah sedang mencari kata-kata yang tepat. “Apa jadinya kalau Federasi tidak pernah menyerang Republik?”

Ivan tidak segera menjawab.

Anis melanjutkan, “Mungkin desa ini masih baik-baik saja. Orang-orangnya bisa kembali bekerja di ladang. Anak-anaknya bisa bermain di jalanan. Mungkin mereka bahkan bisa memperbaiki rumah-rumah mereka dan membuat tempat ini lebih indah daripada sebelumnya.”

Ia menunduk, memperhatikan lapisan salju di bawah sepatunya.

“Menurutmu begitu juga?”

Ivan mengembuskan napas melalui hidung.

“Mungkin.”

“Mungkin?”

“Ya, mungkin. Aku tidak tahu.”

Anis menoleh kepadanya.

Ivan masih berjalan dengan santai, kedua tangannya memegang tali ransel. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan ataupun kesedihan yang jelas.

“Kalau Federasi tidak menyerang, mungkin desa ini akan baik-baik saja. Atau mungkin suatu hari nanti perang tetap terjadi karena alasan lain. Kita tidak tahu.”

“Tapi setidaknya—”

“Anis.”

Ivan menghentikan langkahnya.

Gadis itu ikut berhenti.

Ivan menatapnya dengan mata cokelatnya yang tenang.

“Semua itu sudah terlambat untuk disesali, bukan?”

Anis terdiam.

“Aku tidak mengatakan bahwa apa yang terjadi di sini itu baik. Jelas tidak. Tapi kita juga tidak bisa mengubahnya sekarang.” Ivan kembali memandang jalan di depan mereka. “Kita bahkan tidak tahu alasan sebenarnya perang ini dimulai. Kita hanya menerima perintah untuk bergerak maju, lalu melakukannya.”

Ia mengangkat bahu.

“Jadi, untuk siapa kita menyerang dan kenapa kita harus melakukannya... semuanya berada di luar kendali kita.”

Kata-kata itu terdengar ringan, hampir acuh tak acuh.

Namun, Anis tahu bahwa Ivan tidak sedang bercanda.

Ia telah mengenal pemuda itu selama empat tahun. Ia tahu bahwa Ivan memiliki rasa ingin tahu yang besar, terkadang sampai membuat mereka berdua berada dalam masalah. Ivan selalu ingin mengetahui alasan di balik sesuatu, bahkan ketika orang lain memilih untuk tidak bertanya.

Tetapi ketika menyangkut perang, ada banyak pertanyaan yang tidak pernah mereka dapatkan jawabannya.

Siapa yang benar-benar memulai semuanya?

Apa tujuan yang ingin dicapai kedua pihak?

Berapa banyak orang yang harus mati sebelum para pemimpin mereka menganggap kemenangan itu layak dirayakan?

Dan setelah semuanya berakhir, apa yang akan terjadi kepada orang-orang yang masih hidup?

Ivan pernah mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu.

Kepada rekan satu unit mereka. Kepada para perwira yang sesekali mereka temui. Bahkan kepada seorang petugas komunikasi yang tampaknya memiliki akses terhadap informasi lebih banyak daripada mereka.

Jawaban yang diterimanya selalu sama.

Mereka tidak perlu tahu.

Tugas mereka hanya bergerak maju.

Anis kembali menatap desa yang rusak itu.

Ia tidak menjawab perkataan Ivan. Tidak ada yang bisa ia katakan untuk membantahnya.

Namun, jauh di dalam hatinya, ia berharap pemuda itu salah.

Ia berharap bahwa suatu hari nanti mereka bisa mengetahui alasan semua ini terjadi, meskipun ia sendiri tidak yakin apakah jawaban tersebut akan membuat mereka merasa lebih baik.

Untuk saat ini, ia hanya bisa terus berjalan.

Mereka melanjutkan perjalanan tanpa membicarakan perang lagi.

Di ujung desa, mereka menemukan sebuah bangunan yang masih berdiri dengan cukup baik.

Sebuah sekolah.

Bangunan itu tidak terlalu besar, hanya terdiri dari beberapa ruang kelas, sebuah kantor kecil, dan lorong yang menghubungkan semuanya. Sebagian jendelanya pecah, tetapi dinding-dindingnya masih utuh. Papan nama di dekat pintu masuk telah miring, sementara halaman depannya dipenuhi rumput kering yang tertutup salju.

Ivan berhenti di depan gerbang.

“Oh.”

Anis menoleh.

“Apa?”

“Sekolah.”

“Aku bisa melihatnya.”

“Bagus. Berarti matamu masih berfungsi.”

Anis mendecakkan lidah.

Ivan tersenyum, lalu melangkah melewati gerbang yang terbuka setengah.

“Sebentar saja. Kita bisa beristirahat di dalam.”

Anis memandang langit mendung, lalu bangunan di hadapan mereka.

Ia tidak melihat alasan untuk menolak.

Mereka masuk melalui pintu utama yang tidak terkunci. Bagian dalam sekolah itu berbau debu dan kayu lembap. Beberapa meja terbalik di lorong, sementara papan pengumuman di dinding masih dipenuhi lembaran kertas yang warnanya mulai memudar.

Tidak ada suara selain langkah kaki mereka.

Ivan berjalan melewati sebuah ruang kelas yang pintunya terbuka. Ia berhenti sejenak, mengintip ke dalam, lalu mendorong pintunya lebih lebar.

Di dalamnya terdapat meja dan kursi yang tersusun dalam beberapa baris. Sebuah papan tulis memenuhi bagian depan ruangan. Di salah satu sudut, sebuah lemari kecil tergeletak miring, dengan beberapa buku berserakan di lantai.

Cahaya kelabu dari jendela yang pecah menerangi debu yang melayang di udara.

Ivan masuk.

Anis mengikutinya dan berdiri di dekat pintu.

Untuk beberapa saat, keduanya hanya memandang ruangan itu.

Sulit membayangkan bahwa tempat seperti ini pernah dipenuhi anak-anak yang mengeluh karena harus bangun pagi, mengerjakan pekerjaan rumah, atau menghadapi ujian.

Hal-hal kecil yang mungkin terasa menyebalkan bagi mereka saat itu.

Hal-hal yang sekarang terdengar hampir seperti kemewahan.

Ivan menarik sebuah kursi yang masih cukup utuh, membersihkan debu di permukaannya dengan sarung tangan, lalu duduk.

“Anis.”

“Hm?”

“Kau pernah bersekolah?”

Anis menoleh kepadanya, sedikit terkejut oleh pertanyaan itu.

“Pernah.”

“Sampai kapan?”

“Sampai sekolah menengah pertama.”

Ivan mengangguk.

“Begitu.”

Anis mengamati wajahnya.

“Bagaimana denganmu?”

“Sama. Aku juga tidak pernah masuk SMA.”

“Karena wajib militer?”

“Ya. Aku baru lulus SMP ketika menerima panggilan itu.”

Anis menyandarkan punggungnya ke meja terdekat.

“Kalau dipikir-pikir, kita masih cukup muda ketika semua ini dimulai.”

“Benarkah?”

Anis menatapnya tajam.

“Ivan.”

“Apa?”

“Kita direkrut ketika masih empat belas tahun.”

“Ya, aku tahu.”

“Dan sekarang kita sudah menghabiskan empat tahun di medan perang.”

“Ya, aku juga tahu.”

“Lalu kenapa kau terdengar seperti baru menyadarinya?”

Ivan menggaruk pipinya.

“Entahlah. Rasanya sudah lama sekali.”

Anis terdiam.

Ia tidak bisa menyangkal hal itu.

Empat tahun bukan waktu yang terlalu panjang bagi seseorang yang sudah dewasa. Namun, bagi mereka, empat tahun itu mencakup hampir seluruh masa remaja yang seharusnya mereka habiskan di sekolah, bertemu teman baru, memikirkan masa depan, atau melakukan hal-hal yang tidak memiliki hubungan dengan perang.

Mereka bahkan tidak tahu seperti apa kehidupan mereka seandainya tidak pernah direkrut.

Mungkin Ivan akan melanjutkan sekolah dan menghabiskan waktunya membaca buku-buku yang membuatnya penasaran.

Mungkin Anis akan memiliki lebih banyak waktu untuk mencoba makanan-makanan yang disukainya, atau menghabiskan sore bersama teman-temannya.

Mungkin mereka akan mengeluhkan ujian, guru, dan pekerjaan rumah.

Mungkin.

Tetapi semua kemungkinan itu sekarang hanya menjadi sesuatu yang tidak pernah terjadi.

Anis menatap papan tulis yang sudah usang.

“Ivan, apa kau ingin bersekolah lagi?”

Pertanyaan itu membuat Ivan mengangkat kepala.

Ia tampak berpikir selama beberapa detik, lalu menjawab dengan santai.

“Tidak terlalu.”

Anis berkedip.

“Kenapa?”

“Karena aku tidak suka pekerjaan rumah.”

Anis menatapnya tanpa ekspresi.

“Kau serius?”

“Tentu saja. Kau tidak tahu betapa menyebalkannya mengerjakan soal matematika selama berjam-jam hanya untuk mendapatkan nilai yang bahkan tidak membuatku senang.”

“Jadi, kau tidak ingin melanjutkan sekolah hanya karena pekerjaan rumah?”

“Kurang lebih begitu.”

Anis menahan diri selama beberapa detik.

Lalu ia tertawa.

Tawanya terdengar kecil pada awalnya, seolah-olah ia sendiri terkejut karena masih bisa tertawa setelah melihat keadaan desa tadi. Namun, semakin lama ia semakin sulit menahannya.

Ivan memandangnya dengan wajah bingung.

“Apa yang lucu?”

“Kau!” Anis menjawab di sela tawanya. “Kita baru saja membicarakan empat tahun hidup kita yang hilang karena perang, lalu kau mengatakan tidak ingin kembali sekolah karena pekerjaan rumah!”

“Memangnya itu bukan alasan yang masuk akal?”

“Tidak!”

“Menurutku masuk akal.”

Anis kembali tertawa.

Ivan menghela napas, berpura-pura tersinggung, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Baiklah. Kalau begitu, apa kau ingin kembali sekolah?”

Anis berhenti tertawa.

Ia memandang jendela yang pecah. Di luar, salju terus turun, menutupi halaman sekolah yang kosong.

“Entahlah,” katanya akhirnya. “Mungkin.”

“Mungkin?”

“Kalau ada kesempatan, mungkin aku ingin mencoba.”

Ivan mengangguk seolah-olah jawaban itu sangat masuk akal.

“Kalau begitu, kau harus mengerjakan pekerjaan rumah.”

Anis langsung menoleh kepadanya.

“Jangan samakan aku denganmu!”

Ivan tertawa.

Anis meraih sebuah penghapus papan tulis yang tergeletak di meja dan melemparkannya ke arah Ivan. Benda itu melayang melewati bahunya, lalu jatuh ke lantai dengan bunyi pelan.

“Melenceng,” komentar Ivan.

“Aku sengaja.”

“Tentu saja.”

Anis mengangkat tangan, seolah-olah hendak melempar benda lain.

Ivan segera berdiri.

“Baiklah, baiklah! Kita pergi sekarang!”

“Kau yang memulai!”

“Aku tidak ingin dilempari barang-barang sekolah sepanjang perjalanan.”

“Kalau begitu, jangan menyebalkan!”

Mereka keluar dari ruang kelas sambil masih saling melontarkan komentar kecil. Suara mereka menggema di lorong yang kosong, terdengar begitu asing di antara dinding-dinding yang selama bertahun-tahun tidak lagi mendengar percakapan anak-anak.

Ketika melewati pintu utama, Ivan sempat menoleh sekali lagi ke arah bangunan sekolah.

Ia tidak tahu siapa saja yang pernah belajar di sana. Ia tidak tahu apakah mereka berhasil melarikan diri sebelum perang mencapai desa, apakah mereka sekarang tinggal di tempat lain, atau apakah sebagian dari mereka tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk pergi.

Ia hanya berharap mereka baik-baik saja.

Kemudian ia mengikuti Anis keluar.

Udara dingin kembali menyambut mereka. Langit masih mendung, dan salju terus turun perlahan.

Anis membetulkan tali ranselnya.

“Kalau kita terus berjalan, mungkin kita bisa mencapai jalan utama sebelum gelap.”

Ivan mengangguk.

“Kalau tidak ada masalah.”

Anis menoleh dengan tatapan mengancam.

Ivan langsung mengangkat kedua tangan.

“Baiklah. Aku tidak akan mengatakannya lagi.”

Mereka kembali melangkah menyusuri jalan beraspal, meninggalkan sekolah kecil itu di belakang.

Dua puluh kilometer menuju markas operasi lapangan.

Mungkin di sana mereka akan menemukan kendaraan yang bisa membawa mereka pulang. Mungkin mereka akan mendapatkan perintah baru. Mungkin mereka hanya perlu menunggu beberapa hari lagi sebelum akhirnya dibebaskan dari dinas militer.

Mereka tidak tahu.

Untuk pertama kalinya setelah empat tahun, mereka berjalan tanpa benar-benar mengetahui apa yang menanti di ujung jalan.

Namun, mereka tidak lagi memiliki alasan untuk tetap tinggal.

Di belakang mereka, desa kecil itu perlahan menghilang di balik tirai salju.

Di depan mereka, jalan membentang jauh di bawah langit kelabu.

Dan di antara keduanya, dua prajurit muda terus berjalan, membawa perlengkapan yang semakin berat terasa, kenangan yang belum sepenuhnya mereka pahami, serta harapan sederhana untuk bisa pulang.

Perang telah berakhir.

Setidaknya, itulah yang dikatakan radio.

— Akhir Chapter 1: Under the Snow —

Bab selanjutnya

02 - Old Familiar Face

Lanjutkan ke bab berikutnya dari The Long Way Home.

Lanjut baca