Old Familiar Face
yusuf
The Long Way Home
Mulai membaca
### Chapter 2 — Old Familiar Face
Angin bertiup cukup kencang.
Di bawah langit sore yang mulai kehilangan warna birunya, sebuah jembatan besar membentang di atas jurang yang begitu lebar. Kabut tipis menyelimuti bagian bawahnya, membuat dasar jurang hampir tidak terlihat. Jembatan itu menghubungkan dua sisi pegunungan yang dipisahkan oleh lembah dalam, menjadi satu-satunya jalur langsung menuju wilayah selatan.
Sayangnya, jembatan tersebut sudah jauh dari kata layak digunakan.
Beberapa kabel baja yang menopang konstruksinya telah putus. Sebagian pagar pembatas bahkan sudah tidak ada lagi, menyisakan beberapa tiang besi yang bengkok dan berkarat. Permukaan jalannya dipenuhi retakan, sementara beberapa bagian aspal telah menghilang, memperlihatkan rangka besi di bawahnya.
Setiap kali angin bertiup, seluruh badan jembatan bergoyang pelan.
Dan di atas jembatan itulah dua orang prajurit muda sedang berjalan.
"Hei, Anis."
"Apa?"
"Kalau kita jatuh dari sini, menurutmu kita bakal langsung mati?"
Anis yang berjalan beberapa langkah di belakang Ivan menoleh.
"Kenapa kau bertanya begitu?"
"Ya, cuma penasaran."
"Kalau jatuh dari ketinggian seperti ini, menurutmu apa yang akan terjadi?"
Ivan memiringkan kepalanya, berpikir sejenak.
"Mungkin kita bisa terbang."
Anis terdiam.
Kemudian dia menghela napas panjang.
"Kadang aku bertanya-tanya bagaimana caranya kau bisa bertahan hidup selama empat tahun di medan perang."
Ivan tersenyum kecil.
"Keberuntungan."
"Kalau begitu, aku berharap keberuntunganmu tidak habis hari ini."
"Tenang saja. Aku masih punya banyak."
Anis hanya menggelengkan kepala.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
Jembatan itu memiliki panjang lebih dari enam ratus meter. Dari tempat mereka berdiri, ujung seberangnya terlihat seperti garis kecil di antara kabut. Mereka sebenarnya tidak berniat melewati jalur tersebut. Ada jalan lain yang lebih aman, tetapi jalur itu mengharuskan mereka memutar cukup jauh.
Hari sudah semakin sore.
Mereka tidak punya banyak alasan untuk membuang waktu.
"Ngomong-ngomong," Ivan kembali membuka percakapan. "Kenapa mereka membuat jembatan sepanjang ini?"
Anis menoleh sekilas.
"Karena ingin menghubungkan kedua sisi jurang?"
"Itu aku juga tahu."
"Kalau begitu, kenapa bertanya?"
Ivan menunjuk ke arah lembah di bawah mereka.
"Kenapa tidak membuat jalan memutar saja? Atau membangun beberapa jembatan yang lebih pendek?"
Anis mengangkat bahu.
"Mungkin karena lebih murah."
"Lebih murah?"
"Kalau mereka membuat jalan memutar, mereka harus membangun jalan baru melewati pegunungan. Belum lagi kalau harus membuat beberapa jembatan kecil. Biaya pembangunannya mungkin jauh lebih besar daripada membangun satu jembatan panjang seperti ini."
Ivan mengangguk pelan.
"Masuk akal."
Dia kembali memperhatikan konstruksi jembatan.
"Tapi bukankah biaya perawatannya pasti mahal?"
Anis berhenti sejenak untuk memperhatikan salah satu kabel baja yang menjuntai.
"Mungkin."
"Kalau satu bagian rusak, mereka harus memeriksa bagian lainnya juga. Kalau kabel utamanya putus, seluruh jembatan bisa runtuh. Belum lagi biaya perbaikan setelah beberapa tahun."
Ivan mengerutkan kening.
"Sepertinya membuat beberapa jembatan kecil justru lebih masuk akal."
Anis tersenyum tipis.
"Siapa tahu memang begitu rencana mereka."
"Maksudmu?"
"Bayangkan saja. Seseorang mengajukan proyek pembangunan jembatan dengan anggaran yang sangat besar. Kemudian proyeknya disetujui, uangnya mengalir ke perusahaan konstruksi, lalu perusahaan itu memberikan sebagian uangnya kepada orang-orang yang menyetujui proyek tersebut."
Ivan menatap Anis.
"Suap?"
"Kurang lebih."
"Korupsi?"
"Ya."
Ivan mendengus.
"Orang-orang seperti itu benar-benar menyebalkan."
"Memangnya kau pernah bertemu orang seperti itu?"
"Tidak. Tapi aku bisa membayangkannya."
Ivan kembali berjalan.
Beberapa detik kemudian, dia kembali bertanya.
"Tapi, kalau memang mereka melakukan itu, apakah mereka tidak memikirkan risiko yang akan terjadi?"
Anis mengangkat bahu.
"Mungkin mereka tahu. Mungkin juga tidak. Pemerintah pusat bisa saja mengetahui masalah itu, tetapi sekarang semuanya sudah terlambat. Jembatan ini sudah dibangun."
"Jadi mereka tidak bisa berbuat apa-apa?"
"Mereka masih bisa menangkap orang-orang yang melakukan korupsi. Tapi kalau harus membangun jalur baru, mereka perlu mengeluarkan uang lagi dan menunggu bertahun-tahun sampai selesai."
Anis menatap bagian jembatan yang rusak.
"Lagi pula, alasan pembangunan jembatan ini sebenarnya cukup masuk akal. Mereka ingin memangkas waktu perjalanan. Tidak semua keputusan buruk selalu dimulai dari alasan yang buruk."
Ivan terdiam.
Dia masih memiliki banyak pertanyaan. Tentang siapa yang menyetujui pembangunan jembatan ini, berapa banyak uang yang dihabiskan, dan berapa banyak orang yang mungkin mendapat keuntungan darinya.
Namun, semakin lama dia memikirkannya, semakin dia menyadari sesuatu.
Tidak ada gunanya.
Jembatan itu sudah berdiri, kemudian rusak, dan sekarang wilayah tempatnya berada sudah menjadi bagian dari Federasi.
Tidak ada yang akan datang untuk memperbaikinya.
"Yah, setidaknya kita tidak perlu membayar tol," katanya akhirnya.
Anis tertawa kecil.
"Benar juga."
Mereka melanjutkan perjalanan sambil sesekali membicarakan hal-hal tidak penting lainnya.
Di bawah mereka, jurang tetap sunyi.
Dan di atas jembatan tua itu, dua orang yang seharusnya sudah lama meninggalkan medan perang terus berjalan menuju rumah.
Di tempat lain, beberapa kilometer dari posisi mereka, sebuah markas operasi lapangan milik Federasi masih sibuk menjalankan aktivitasnya.
Markas tersebut dulunya merupakan kompleks perkantoran milik pemerintah Republik. Setelah wilayah itu berhasil direbut, bangunannya dialihfungsikan menjadi pusat komando sementara untuk mengatur pergerakan pasukan Federasi di daerah tersebut.
Di salah satu ruangan, seorang pria paruh baya duduk di belakang meja kerja yang dipenuhi dokumen.
Namanya Rian.
Dia adalah seorang komandan lapangan yang bertanggung jawab atas pengamanan perbatasan dan beberapa kota yang baru saja direbut Federasi.
Rambutnya sudah mulai memutih di beberapa bagian. Wajahnya terlihat lelah, sementara kantong matanya semakin menghitam akibat kurang tidur.
Di hadapannya terdapat beberapa laporan mengenai persediaan makanan, bahan bakar, amunisi, serta perintah terbaru dari markas pusat.
Dia menghela napas panjang.
"Astaga..."
Rian melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidung.
Perang memang sudah dinyatakan berakhir, tetapi pekerjaan para personel militer justru belum selesai.
Ada begitu banyak hal yang harus diurus. Pasukan yang perlu ditarik, wilayah yang harus diamankan, tahanan yang harus dipindahkan, dan berbagai macam urusan administratif yang seolah tidak pernah ada habisnya.
Dia bahkan belum sempat tidur dengan benar selama dua hari terakhir.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuatnya mengangkat kepala.
"Masuk."
Seorang prajurit masuk dan berdiri tegak di hadapannya.
"Komandan, ada dua personel F.A.U yang ingin melapor."
Rian mengangkat alis.
"F.A.U?"
"Benar, Komandan."
Dia terdiam sejenak.
Bukankah semua unit agresor seharusnya sudah ditarik dari garis depan paling lambat kemarin?
Setidaknya itulah yang tertulis dalam perintah dari markas pusat.
"Di mana mereka sekarang?"
"Menunggu di luar, Komandan."
Rian mengangguk.
"Suruh mereka masuk."
"Siap!"
Prajurit itu berbalik dan keluar dari ruangan.
Rian kembali memasang kacamatanya. Dia masih bertanya-tanya siapa dua orang yang datang tersebut.
Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka.
Dua orang prajurit muda masuk.
Keduanya mengenakan seragam lapangan Federasi dengan perlengkapan taktis yang terlihat sudah cukup usang. Pada lengan mereka terdapat sebuah armband dengan lambang segitiga dan pion catur di dalamnya.
Di bawah lambang tersebut terdapat tulisan kecil:
F.A.U.
Rian memperhatikan kedua orang itu.
Kemudian dia terdiam.
"...Ivan?"
Kedua prajurit muda itu langsung tersenyum.
"Selamat sore, Komandan!"
"Sudah lama tidak bertemu!"
Rian menyandarkan punggungnya ke kursi.
Dia benar-benar tidak menyangka akan melihat kedua wajah tersebut lagi.
Ivan dan Anis.
Dia mengenal mereka.
Sekitar satu tahun sebelumnya, Rian pernah memimpin operasi pengamanan sebuah kota besar. Dalam operasi tersebut, dia sempat bertemu dengan dua anggota F.A.U yang menarik perhatiannya.
Bukan karena mereka memiliki kemampuan luar biasa.
Justru sebaliknya.
Mereka hanyalah dua prajurit muda yang terlihat terlalu biasa untuk berada di tengah-tengah unit agresor.
Namun, keduanya berhasil bertahan hidup dalam situasi yang seharusnya sudah cukup untuk menghabisi seluruh personel unit mereka.
Dan sekarang, setelah satu tahun berlalu, mereka masih berdiri di hadapannya.
"Astaga..." Rian menggelengkan kepala. "Kalian berdua masih hidup?"
Ivan tersenyum lebar.
"Sepertinya begitu, Komandan."
"Jangan-jangan kalian memang tidak bisa mati?"
Anis langsung menjawab.
"Kalau bisa memilih, saya lebih suka tidak pernah berada di sini sejak awal, Komandan."
Rian tertawa kecil.
"Jawaban yang bagus."
Suasana yang awalnya terasa formal perlahan menjadi lebih santai.
Rian menunjuk dua kursi kosong di hadapannya.
"Duduklah. Kalian pasti punya banyak hal untuk dilaporkan."
"Terima kasih, Komandan."
Ivan dan Anis duduk.
Rian mengambil sebuah buku catatan kecil.
"Baiklah. Pertama, laporkan kondisi unit kalian."
Anis langsung meluruskan posisi duduknya.
"Unit kami sebelumnya ditempatkan di sektor timur laut wilayah Republik. Setelah pertempuran terakhir, seluruh personel selain kami berdua dinyatakan gugur. Kami berhasil mengamankan kota tempat kami bertahan, kemudian menerima perintah penarikan setelah siaran kemenangan Federasi."
Rian mengangguk.
"Bagaimana kondisi kalian?"
"Relatif baik, Komandan. Kami masih memiliki persediaan makanan dan air untuk beberapa hari. Kondisi kendaraan tidak ada karena unit kami sudah kehilangan seluruh kendaraan operasional dalam pertempuran sebelumnya."
"Senjata?"
"Masih berfungsi. Perlengkapan pribadi juga masih cukup lengkap."
Rian mencatat beberapa hal.
"Jadi, kalian berdua berjalan kaki sampai ke sini?"
"Benar, Komandan."
"Berapa jauh?"
"Kurang lebih dua puluh kilometer."
Rian berhenti menulis.
"Kalian berjalan sejauh itu?"
Ivan mengangguk.
"Jembatannya agak merepotkan, tapi masih bisa dilewati."
Rian memandang keduanya bergantian.
Dia kemudian tertawa kecil sambil menggelengkan kepala.
"Kalian benar-benar..."
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Entah karena tidak tahu harus berkata apa atau karena sudah terlalu lelah untuk mengomentari tingkah kedua anak muda itu.
Setelah laporan selesai, Rian menutup buku catatannya.
"Baiklah. Laporan kalian sudah saya terima. Untuk sementara, kalian tidak perlu melakukan apa-apa lagi."
Ivan mengangkat tangan.
"Jadi, kami boleh pulang?"
Rian mengangguk.
"Tentu saja. Kalian sudah menyelesaikan tugas kalian."
Anis terlihat sedikit lega.
Rian kemudian menambahkan.
"Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kalian beristirahat di sini malam ini? Kalian bisa menggunakan tenda yang masih kosong. Besok pagi baru pikirkan perjalanan selanjutnya."
Ivan langsung menoleh kepada Anis.
Anis mengangguk kecil.
"Kami menerima tawaran itu, Komandan. Terima kasih."
"Sama-sama. Kalian sudah berjalan cukup jauh. Setidaknya, biarkan saya menyediakan tempat tidur yang layak untuk kalian."
Ivan tersenyum.
"Kalau begitu, apakah ada makanan juga?"
Rian menatapnya.
Kemudian tertawa.
"Dasar anak muda."
Malam tiba.
Di luar kompleks markas, udara terasa semakin dingin. Awan tebal masih menutupi langit, membuat malam terasa jauh lebih gelap daripada biasanya.
Di sebuah area kecil tidak jauh dari tenda-tenda personel, sebuah api unggun menyala.
Rian duduk di atas sebuah peti kayu, sementara Ivan dan Anis duduk di hadapannya.
Di antara mereka terdapat sebuah panci kecil yang sedang dipanaskan di atas api.
Isinya adalah sup sederhana dari persediaan markas.
Ivan memperhatikan panci itu dengan penuh minat.
"Berapa lama lagi?"
Anis menoleh.
"Kau sudah bertanya tiga kali."
"Tapi aku lapar."
"Kita baru saja makan beberapa jam yang lalu."
"Itu beberapa jam yang lalu."
Rian tertawa.
"Biarkan saja. Sepertinya dia memang tidak pernah berubah."
Ivan tersenyum bangga.
"Terima kasih, Komandan."
"Itu bukan pujian."
"Oh."
Anis tertawa kecil.
Malam itu terasa anehnya nyaman.
Tidak ada suara tembakan, tidak ada perintah mendadak, dan tidak ada sirene peringatan. Hanya suara angin, kayu yang terbakar, dan percakapan ringan antara tiga orang yang kebetulan pernah bertemu di tengah perang.
Rian mengambil sebuah sendok dan mengaduk isi panci.
"Jadi, kalian berdua sudah memikirkan apa yang akan dilakukan setelah pulang?"
Ivan mengangkat kepala.
"Belum terlalu banyak."
Anis menjawab lebih dulu.
"Saya mungkin tidak akan melakukan apa-apa untuk sementara waktu. Saya ingin beristirahat."
Rian mengangguk.
"Itu keputusan yang bagus. Kalian memang pantas mendapatkannya."
Ivan tiba-tiba menoleh kepada Anis.
"Memangnya bukankah kau pernah bilang ingin melanjutkan sekolah?"
Anis menatapnya.
"Dan?"
"Kenapa tidak melanjutkannya?"
"Karena aku lelah."
"Tapi kau selalu bilang ingin melanjutkan pendidikanmu."
"Aku bisa mengambil pendidikan kesetaraan kapan saja. Tidak harus sekarang."
Anis mengangkat kedua tangannya.
"Aku ingin tidur selama beberapa bulan, makan makanan enak, dan tidak perlu memikirkan apa pun."
Ivan mengangguk-angguk.
"Benar juga. Kedengarannya menyenangkan."
Dia kemudian bersandar sedikit.
"Kalau aku mungkin ingin membuka toko."
"Toko?" Rian bertanya.
"Ya. Toko kelontong kecil. Tidak perlu terlalu besar, yang penting cukup untuk menjual makanan, minuman, dan kebutuhan sehari-hari."
Anis menoleh.
"Kenapa tiba-tiba ingin membuka toko?"
"Entahlah. Sepertinya menyenangkan."
Ivan mengambil ranting kecil dan menggambar sesuatu di tanah.
"Bayangkan saja. Kita punya toko kecil di suatu tempat yang tenang. Tidak ada suara tembakan, tidak ada ledakan, dan tidak ada orang yang menyuruh kita pergi ke garis depan."
Dia menggambar sebuah kotak sederhana.
"Kita bisa bangun pagi, membuka toko, kemudian duduk sambil minum kopi. Kalau ada pelanggan, kita layani. Kalau tidak ada, kita bisa tidur."
Anis tersenyum tipis.
"Kedengarannya seperti pekerjaan yang sangat malas."
"Memang."
Rian tertawa.
Ivan kemudian menoleh kepada Anis.
"Hei, bagaimana kalau kita melakukannya bersama?"
Anis berkedip.
"Berdua?"
"Iya. Kau bisa tinggal bersamaku dan membantu menjaga toko."
Anis terdiam sebentar.
Kemudian wajahnya sedikit memerah.
"Tunggu... apa maksudmu tinggal bersamamu?"
Ivan menatapnya dengan ekspresi polos.
"Ya, tinggal bersama. Kita bisa menghemat biaya sewa rumah."
"Bu-bukan itu maksudku!"
"Lalu apa?"
Anis terlihat kebingungan.
Rian hanya memperhatikan mereka sambil menahan senyum.
Ivan melanjutkan dengan santai.
"Lagipula, aku merasa kalau bersama Anis, kita bisa melakukan apa saja dengan mudah."
Anis semakin salah tingkah.
"Ka-kau..."
Namun sebelum dia sempat melanjutkan kalimatnya, Ivan menambahkan sesuatu.
"Selain itu, aku bisa mendapatkan pegawai murah tanpa harus mengeluarkan banyak uang."
Hening.
Anis menatap Ivan.
Ivan masih tersenyum.
Satu detik.
Dua detik.
Kemudian—
"IVAN!"
Anis langsung berdiri.
"Hah?"
Buk!
Sebuah pukulan mendarat di bahu Ivan.
"OW!"
Ivan mencoba menjauh, tetapi Anis sudah terlanjur kesal. Dia terus memukulinya dengan kedua tangan, sementara Ivan berusaha melindungi kepalanya.
"TUNGGU! AKU BERCANDA!"
"KAU PIKIR AKU MAU BEKERJA GRATIS?!"
"TAPI KITA KAN TEMAN!"
"JUSTru KARENA KITA TEMAN!"
Beberapa detik kemudian, keduanya jatuh ke tanah.
Rian yang sedari tadi menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Anak-anak muda..."
Dia mengambil cangkir kopinya.
"Benar-benar masa muda."
Keesokan paginya.
Pukul 05.30.
Udara masih terasa sangat dingin ketika Ivan dan Anis keluar dari tenda mereka.
Keduanya sudah mengenakan seragam lengkap dengan perlengkapan taktis masing-masing. Ransel mereka sudah terisi, senjata sudah dibawa, dan seluruh barang yang diperlukan telah disiapkan.
Ivan menguap lebar.
"Masih terlalu pagi..."
Anis memperbaiki tali ranselnya.
"Kalau kau tidak ingin bangun pagi, seharusnya kau tidur lebih awal."
"Aku sudah tidur lebih awal."
"Jam berapa?"
"Sebelas malam."
"Itu bukan tidur lebih awal."
Ivan tidak menjawab.
Mereka kemudian berjalan menuju area parkir kendaraan seperti yang diperintahkan Rian malam sebelumnya.
Di sana, mereka menemukan sang komandan sedang berdiri di samping sebuah jip tua bersama seorang pria yang tampaknya merupakan mekanik markas.
Jip tersebut terlihat cukup usang. Catnya sudah memudar, beberapa bagian bodinya memiliki bekas goresan, dan terdapat sedikit karat di sekitar bagian bawah pintunya.
Namun, setidaknya kendaraan itu masih terlihat utuh.
Ivan mendekat.
"Selamat pagi, Komandan!"
Rian menoleh.
"Oh, kalian sudah datang."
Anis mengangguk.
"Komandan, apa yang sedang Anda lakukan?"
Rian menunjuk jip di sampingnya.
"Saya tidak bisa memerintahkan seseorang untuk mengantar kalian ke zona aman. Sebagian besar kendaraan kami masih dibutuhkan untuk operasi pemindahan pasukan dan pengiriman suplai."
Dia menepuk kap mesin jip tersebut.
"Tapi saya bisa memberikan kendaraan ini kepada kalian."
Ivan langsung memperhatikan jip itu.
"Untuk kami?"
"Ya. Kendaraan ini sudah tidak terlalu dibutuhkan di sini. Daripada hanya terparkir dan berkarat, lebih baik kalian gunakan."
Ivan mendekati kendaraan tersebut.
"Kelihatannya cukup bagus."
Anis menatapnya.
"Jangan langsung senang. Kita belum tahu kondisinya."
Pria tua yang berdiri di dekat Rian tertawa kecil.
"Tenang saja. Saya sudah memeriksanya. Mesin, rem, dan bagian lainnya masih bisa digunakan. Memang bukan kendaraan baru, tetapi seharusnya cukup untuk perjalanan kalian."
Anis mengangguk sopan.
"Terima kasih banyak."
Ivan ikut mengangguk.
"Terima kasih, Komandan. Ini sangat membantu."
Rian mengibaskan tangannya.
"Tidak perlu berterima kasih. Anggap saja hadiah kecil karena kalian berhasil bertahan hidup sampai perang selesai."
Ivan tersenyum.
"Kalau begitu, kami akan menjaganya baik-baik."
"Jangan terlalu baik. Kalau rusak, kalian tidak perlu mengembalikannya."
Ivan tertawa.
Setelah memastikan seluruh barang sudah dimasukkan ke dalam kendaraan, mereka bersiap untuk berangkat.
Anis duduk di kursi penumpang, sementara Ivan mengambil posisi pengemudi.
Mesin jip menyala dengan suara yang sedikit kasar, tetapi tetap bekerja dengan baik.
Ivan menurunkan kaca jendela.
"Sampai jumpa lagi, Komandan!"
Rian mengangkat tangannya.
"Hati-hati di jalan!"
Jip itu perlahan bergerak meninggalkan area parkir.
Rian berdiri diam, memperhatikan kendaraan tersebut sampai akhirnya menghilang di balik bangunan markas.
Di sampingnya, pria tua yang sedari tadi membantu memeriksa kendaraan ikut memperhatikan kepergian kedua prajurit muda itu.
"Anak-anak yang cukup menarik," katanya.
Rian mengangguk.
"Memang."
Pria tua itu kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.
"Sungguh menyedihkan melihat dua anak muda seperti mereka harus berada di medan perang selama itu."
Rian tidak menjawab.
"Umur mereka bahkan belum dua puluh tahun, bukan?"
"Benar."
Pria tua itu menghela napas.
"Apa sebenarnya yang dipikirkan orang-orang di pemerintahan sampai harus mengirim anak-anak seperti mereka ke garis depan?"
Rian menoleh.
"Hati-hati dengan ucapanmu."
Pria tua itu mengangkat alis.
"Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan."
"Aku tahu."
Rian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel.
"Dan sebenarnya aku juga tidak pernah menyukai keputusan mengirim anak-anak muda seperti mereka ke garis depan."
Pria tua itu terdiam sebentar.
Kemudian matanya tertuju pada armband yang tadi dikenakan Ivan dan Anis.
"Ngomong-ngomong, apa sebenarnya lambang yang mereka kenakan tadi? Aku belum pernah melihatnya."
Rian mengikuti arah pandang pria tersebut.
Sebuah lambang segitiga dengan pion catur di tengahnya.
"F.A.U."
"F.A.U?"
"Federation Aggressor Unit."
Pria tua itu mengernyit.
"Apa itu?"
Rian menarik napas panjang.
"Unit agresor milik Federasi. Tugas mereka hanya satu, terus maju dan mengambil setiap jengkal wilayah musuh."
Pria tua itu mengangguk pelan.
"Jadi mereka semacam pasukan penyerang?"
"Lebih dari itu."
Rian menatap ke arah jalan yang sudah kosong.
"F.A.U tidak seperti unit infanteri biasa. Mereka biasanya dikirim untuk merebut wilayah yang masih dikuasai musuh, bahkan ketika kondisi medan tidak menguntungkan. Mereka harus terus bergerak maju, mengamankan posisi, dan membuka jalan bagi pasukan utama."
Pria tua itu terdiam.
"Dan dua anak tadi..."
"Mereka anggota F.A.U."
Rian berhenti sejenak.
Kemudian dia melanjutkan dengan suara lebih pelan.
"Sebagian besar anggota unit itu tidak pernah bertahan lama."
Pria tua tersebut menoleh.
"Maksudmu?"
"Setiap kali mereka menerima perintah, kemungkinan besar mereka akan dikirim ke tempat yang paling berbahaya. Banyak operasi mereka pada dasarnya adalah misi yang hampir tidak memberikan kesempatan untuk kembali."
Rian menghela napas.
"Karena itulah jumlah personel F.A.U selalu berubah. Mereka terus kehilangan anggota, lalu menerima anggota baru untuk menggantikan yang gugur."
Pria tua itu terlihat tidak percaya.
"Tunggu sebentar. Jadi kedua anak tadi..."
"Mereka sudah berada di medan perang selama empat tahun."
"Empat tahun?"
Rian mengangguk.
"Dan mereka sudah berganti unit berkali-kali. Aku sendiri tidak tahu bagaimana mereka bisa bertahan selama itu."
Pria tua itu terdiam cukup lama.
Dia kembali mengingat kedua prajurit muda yang baru saja pergi.
Mereka terlihat begitu santai. Bahkan masih sempat bercanda dengan sang komandan sebelum berangkat.
Sulit membayangkan bahwa kedua orang tersebut telah menghabiskan sebagian besar masa remaja mereka di medan perang.
"Orang-orang di tingkat atas benar-benar..." Pria tua itu menggantungkan kalimatnya.
Rian tidak menjawab.
Dia hanya menatap langit pagi yang tertutup awan.
"Entahlah."
Suaranya terdengar lelah.
"Aku hanya seorang komandan lapangan. Aku menerima perintah, kemudian meneruskannya kepada orang-orang di bawahku."
Dia memasukkan kembali kedua tangannya ke dalam saku.
"Pada akhirnya, kami yang memiliki pangkat rendah hanyalah bagian kecil dari sebuah mesin yang sangat besar."
Pria tua itu menatapnya.
"Mesin?"
Rian mengangguk.
"Sebuah mesin yang terus bekerja, tidak peduli berapa banyak bagian di dalamnya yang rusak."
Angin pagi berembus melewati kompleks markas.
Beberapa prajurit mulai keluar dari tenda mereka. Ada yang membawa kotak persediaan, ada yang sedang membersihkan kendaraan, dan ada pula yang berjalan menuju kantin untuk sarapan.
Kehidupan militer terus berjalan.
Bahkan setelah perang berakhir.
Rian kembali menatap jalan yang dilalui Ivan dan Anis beberapa menit sebelumnya.
"Setidaknya..."
Dia bergumam pelan.
"...kali ini mereka bisa pulang."
Jauh dari markas, sebuah jip tua melaju melewati jalan raya yang kosong.
Ivan duduk di kursi pengemudi dengan satu tangan di kemudi. Sesekali dia melihat peta yang terpasang di perangkat navigasi kendaraan, sementara Anis duduk di sebelahnya sambil memperhatikan keadaan sekitar.
Pemandangan di luar jendela perlahan berubah.
Pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan mulai kehilangan daunnya. Beberapa bangunan tua berdiri tanpa penghuni, sementara papan penunjuk jalan yang sudah rusak bergoyang tertiup angin.
"Hei, Anis."
"Apa lagi?"
"Menurutmu, berapa lama sampai kita benar-benar tiba di zona aman?"
Anis melihat peta.
"Kalau tidak ada masalah, mungkin beberapa hari."
"Beberapa hari..."
Ivan mengangguk.
Kemudian dia tersenyum kecil.
"Sebentar lagi kita pulang."
Anis menatap jalan di depan mereka.
"Iya."
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Mereka hanya mendengarkan suara mesin kendaraan dan angin yang melewati celah jendela.
Di luar sana, musim dingin sudah datang.
Salju mungkin akan turun semakin lebat dalam beberapa hari ke depan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka tidak perlu memikirkan ke mana harus bergerak ketika salju mulai menutupi tanah.
Mereka hanya perlu terus berjalan.
Menuju rumah.
Akhir Chapter 2.