Kata Tiwi
So Do I
Mulai membaca
"It was hardtime without you. I was scared. I was scared of being alone. So I spent my time foolishly. Didn't even know how time was passing."--Without You By Seventeen
---
Bea tahu bahwa semua ini sudah terlalu jauh dari apa yang mereka sepakati. Menerima tinggal bersama Gavin bukan hanya untuk membuat Aruna 'senang' tetapi juga membuat Ditta dan Gerry tenang. Setidaknya jika bersama Gavin, kedua sahabatnya itu tidak akan mengkhawatikannya terus-terusan.
Tapi ini sudah keterlaluan.
Tidak seharusnya Bea menerima perbuatan baik Gavin untuk mengobati tiap ia terluka atau terlibat masalah dengan Aruna. Tidak juga seharusnya Bea meminta pelukan yang berujung dipangku semalaman.
Apalagi dengan keadaan setengah telanjang!
Ia menghela napas pelan. Memejamkan matanya guna menenangkan pikiran.
Gavin memang tidak melakukan apapun. Seperti yang disebutkan, laki-laki itu memang hanya memangkunya. Memberikan pelukan yang ia butuhkan. Lalu entah bagaimana mereka akhirnya tertidur semalaman dengan posisi tersebut.
Bea yang pertama kali sadar di pagi hari. Dan gerakannya membuat Gavin juga membuka mata saat itu. Ia langsung salah tingkah ketika matanya menemukan Gavin yang menatapnya lembut. Jadi yang ia lakukan adalah segera bangkit dan menuju kamarnya. Tidak mengucap satu katapun.
Kini setelah mencoba menghindari laki-laki itu berhari-hari, berbicara seperlunya. Bea menginginkannya lagi. Bea ingin dipangku dan dipeluk dengan lembut seperti itu lagi.
Jadi yang ia lakukan saat ini adalah berdiri canggung menatap Gavin yang tengah mencuci piring setelah mereka selesai dengan makan malam.
Ketika laki-laki itu selesai dan membalikkan tubuh, ia tidak bisa tidak kaget menatap Bea yang tampak gelisah ditempatnya.
"Need something?"
Bea mengangkat wajah. Menemukan Gavin yang tengah mengelap tangannya yang basah. Laki-laki itu seperti biasa hanya menggunakan celana pendek dan kaos tanpa lengan. Lengannya yang kekar membuat Bea bersemu karena menginginkan untuk melingkari tubuhnya erat.
Melihat Bea yang masih bungkam membuat Gavin berdehem. Menarik perhatian.
"Ada masalah?"
Gelengan kepalanya terlalu cepat membuat laki-laki itu mengernyit. Namun akhirnya hanya mengangguk singkat. Gavin melangkah pelan menuju sofa untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena dirinya sibuk meninggalkan kantor beberapa hari ini.
Melihat hal itu Bea kembali melangkah mendekat. Duduk di sofa paling ujung. Menatap Gavin yang sudah memangku laptop miliknya sembari menatap selembar kertas yang ada di tangannya.
Sudah hampir satu jam, Gavin akhirnya mengangkat wajah. Menatap Bea yang sudah mulai bersandar dengan mata terpejam. Ia menaruh laptop di atas meja untuk mendekat pada perempuan itu.
"Hei--"Panggilnya pelan. Bea membuka matanya dan langsung bersitatap dengan Gavin."Kayaknya ada yang mau diomongin?"
Ditanya seperti itu tentu saja membuat Bea manahan napas. Ia tidak tahu bagaimana mengutarakan maksudnya dengan baik agar Gavin tidak salah paham. Lagipula ia sedang tidak sakit dan butuh pelukan. Ia hanya menginginkan pelukan.
"Aku--"
"Hm?"
Mata Bea lari menghindari Gavin ketika ia berucap sangat pelan."Aku mau peluk."
Tentu saja Gavin tidak memprediksi hal ini. Bagaimana mungkin perempuan itu menginginkan pelukan. Darinya?
Namun melihat Bea yang salah tingkah membuatnya sadar bahwa Bea benar-benar minta dipeluk.
"Kayak kemarin?"
Kepalanya menoleh. Mata mereka langsung bertatapan sebelum Bea kembali memutusnya dan menunduk sembari menggigit bibirnya pelan. Gelagat itu sudah menunjukkan niat gadis itu. Akhirnya Gavin hanya mengangguk.
Ia menarik lengan Bea dengan pelan. Sebelum ia duduk di sofa panjang lalu membawa tubuh kurus itu duduk di pangkuannya. Kali ini tidak lagi miring seperti sebelumnya tapi saling berhadapan.
"Ada masalah hari ini?"
Bea menggeleng. Tangannya sudah melingkar di leher Gavin dan dengan tidak malu membenamkan wajahnya di bahu laki-laki itu.
"Bea?"
Panggilan pelan dari suara laki-laki itu membuat Bea akhirnya mengangkat wajah. Ia benar-benar harus membuat pengakuan.
"Malam itu aku tidur nyenyak untuk pertama kalinya."
Bukan hanya Bea, namun Gavin juga sama terkejutnya. Pasalnya ia juga merasakan hal yang sama.
"Aku gak tahu gimana rasanya tidur tanpa merasa ketakutan setelah sekian lama."
Dan lagi, hal itu juga dirasakan Gavin setelah sekian lama. Hal itu membuatnya mengangkat lengan lalu melingkari tubuh kurus Bea. Menyurukkan wajah pada perpotongan leher perempuan itu.
"Aku tahu rasanya,"bisik Gavin akhirnya. Dan begitu saja, Bea merasa tidak lagi khawatir. Ia membalas pelukan itu sama eratnya. Membenamkan wajahnya semakin dalam. Membiarkan telapak tangan lebar itu mengusap seluruh bagian belakang tubuhnya. Karena hal itulah yang ia inginkan saat ini.
Tidak ada suara lagi dari keduanya hingga beberapa menit kedepan hingga jemari Gavin menelusup pelan dalam pakaian Bea dan mengusapnya pelan.
"Udah gak sakit?"
Napas Bea langsung tercekat bukan hanya karena bisikan lembut tersebut namun juga usapan pada kulitnya yang terbuka. Sebelumnya Gavin juga melakukan hal yang sama. Bahkan ia hanya memakain bra saat itu. Namun kini jantungnya serasa melompat dari tempat yang seharusnya berada.
"Biasanya hanya satu atau dua tamparan. Apa yang terjadi malam itu?"
Napas Bea memberat. Rangkulannya semakin erat dan menumpukan tubuhnya makin lekat. Memorinya berputar pada kejadian malam itu dan tentu saja membuatnya kembali menggigil ketakutan.
Seperti tahu apa yang sedang ditakutinya, Gavin semakin lembut padanya. Tidak hanya tangan kanan, kini tangan kiri laki-laki itu ikut menyusup masuk dan mengusap punggungnya naik turun. Memberikan perasaan berdebar dan juga menghangatkan disaat yang bersamaan.
Bea harus membuat pengakuan satu lagi malam ini.
"Aku membantah Aruna malam itu."
Selama ini, Bea hanya diam dan menerima semua ucapan dan perlakuan Aruna. Hal itu membuat kakaknya itu puas hanya dengan sedikit pukulan.
"Kamu enggak biasanya membantah."
Bea berdehem. "Dia sebut kamu pembunuh."
Ini hal yang baru. Bea hampir tidak pernah peduli atas semua kalimat yang dikeluarkan oleh Aruna. Bahkan mengatainya anak haram saja selalu diterima oleh gadis itu. Bagaimana mungkin Bea membiarkan tubuhnya dipukul lebih banyak hanya karena membela Gavin malam itu?
Napas Gavin tercekat. Ia tidak tahu bahwa pukulan yang diterima gadis yang kini diatas pangkuannya ini karena membela. Usapannya terhenti. Umpatan pelan langsung keluar dari mulutnya saat itu juga.
"Aku bukan membela kamu. Aku hanya membeberkan fakta yang sebenarnya Aruna juga tahu."
Laki-laki itu menggeleng. "Tetap saja. Kamu gak perlu menerima semua ini hanya karena hal itu. Felix memang mati karenaku."
Mendengar kalimat yang sarat akan kesakitan dan penuh putus asa itu membuat Bea mengangkat tangannya lalu mengelus rahang Gavin dengan pelan. Laki-laki ini juga menanggung banyak kesakitan sepertinya.
"Kalau saja malam itu tidak gak pegang tongkat baseball aku akan balas pukul dia."
Mata Gavin langsung menemukan Bea. Lidahnya kelu mendengar bahwa luka dan lebam yang didapat gadis itu berasal dari tongkat kayu yang tentu saja sangat sakit.
"Be--"
Gadis itu menggeleng. "Jangan biarkan hal itu tertanam lebih lama. Kamu bukan pembunuh. Felix mati karena keinginannya sendiri."
Gavin memang tidak menceritakan dengan detail kejadian apa yang melibatkannya dengan Aruna. Tapi Gerry sudah menjelaskan bahwa terjadi banyak kesalahpahaman diantara mereka. Aruna mencintai Felix sedangkan laki-laki itu mencintai Gavin. Gavin yang tentu saja memiliki perasaan cinta untuk wanita menolak Felix dan berkata pada laki-laki itu untuk menjauhinya. Kalimat yang terdengar sepele namun diterima Felix dengan maksud lain. Ia merasa hina ketika Gavin berkata tidak seharusnya cinta itu datang dari Felix untuknya. Beriringan dengan semua masalah yang muncul, Felix memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Dan Aruna yang tahu salah satu penyebabnya tentu saja memilih Gavin untuk membalaskan dendamnya. Karena ketika kehilangan Felix, Aruna juga kehilangan seluruh cahaya dihidupnya. Sahabat yang ia cintai tersebut membawa seluruh asa yang ada dalam dirinya.
Gavin adalah sasaran paling empuk yang bisa disasarkan oleh Aruna untuk membalaskan semua sakit hati dan kehilangan.
---
Love
--aku
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari So Do I.