Kata Tiwi
So Do I
Mulai membaca
"Take time to catch your breath. After the through and tiring journey, we shall meet each other"--Dino of Seventeen
---
Setelah bersusah payah bangkit, lalu memesan taksi untuk kembali ke apartemen. Bea akhirnya sampai di unit tempatnya tinggal bersama Gavin. Ia baru masuk ketika Gavin tampak semrawut berlari ke arah pintu dan mematung menatapnya.
Laki-laki itu hanya menggunakan celana dan kaos pendek. Di tangannya tergenggam kunci mobil yang langsung meluruh ketika matanya menemukan Bea.
"Oh my god."lirihnya.
Bea membiarkan tubuhnya dipeluk erat walaupun ia langsung meringis membuat Gavin melepaskan dan meneliti wajahnya.
"You okay?"
Lama-lama pertanyaan itu menjadi sebuah template yang akan diutarakan oleh Gavin pertama kali jika beremu dengannya. Pasalnya memang ia selalu tidak baik-baik saja jika bersama laki-laki itu.
"Naka menghubungiku barusan. Katanya kamu hilang gitu aja, dia mau memastikan kamu sudah sampai dengan aman."
Bea hanya mengangguk. Ia masih kesulitan untuk mengeluarkan suara.
"Aku bantu mandi dulu sebelum obatin luka-luka kamu ya?"
Ini aneh. Keduanya tidak tahu kapan mengubah panggilan menjadi aku-kamu. Entah karena Bea yang sengaja memanggilnya demikian di kantor hingga membuat Gavin mengikuti caranya bicara.
Dan ini juga aneh. Gavin tidak menanyakan ia kemana dan apa yang baru saja ia lalui tapi langsung mengatakan untuk mengobati luka-lukanya.
Langkahnya dituntun menuju kamar. Gavin melangkah menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat untuknya berendam sedangkan Bea mengambil pakaian tidurnya.
Gavin lalu duduk dipinggiran bathup ketika Bea melepas bathrobe dan duduk membelakanginya. Duduk meringkuk dalam air hangat yang sudah disediakan laki-laki itu. Ia mengamati punggung yang penuh baret dan lebam dimana-mana.
Bagaimana mungkin perempuan di hadapannya ini tidak menangis sedikitpun?
"Tadi aku makan bareng Naka,"
Sebenarnya bukan ini yang ingin didengan Gavin. Tapi melihat Bea yang akhirnya membuka mulut mau tak mau membuatnya tetap merasa bersyukur.
"Aku bilang kita tinggal bareng. Sorry."
"It's okay. Kita memang tinggal bareng, kan?"
Seharusnya saat ini Bea malu. Ia tidak memakai sehelai benangpun dan berada dalam satu ruangan bersama laki-laki yang sudah menyelamatkannya berkali-kali. Terlebih lagi tubuhnya saat ini penuh luka dan lebam.
"Cuman itu satu-satunya cara untuk membuat dia mundur."
Gavin berdehem. "Naka orang baik. Mungkin menjalin hubungan sama dia tidak akan seburuk--"
Ucapan itu menggantung di udara. Gavin hanya bisa kembali berdehem.
"Aku tunggu di luar."
---
"Sakit, gak?"
Gavin menggeleng pelan. Melepaskan jemari Bea yang tadi menyentuh pipinya. Memeriksa bekas pukulan Naka tadi sore.
Setelah mandi dan membersihkan diri, Bea sudah tampak lebih cerah mengenakan hotpants dan kaos kebesaran. Gavin lalu menarik tungkai itu untuk ia periksa sebelum dioleskan salep meredakan lebam yang ada disana.
Mata Bea memanas melihat bagaimana laki-laki itu dengan tekun menyentuh hati-hati setiap lukanya. Biasanya jika ia mengalami hal tersebut, jika tidak bersama Ditta yang akan mengomelinya sepanjang malam, Bea hanya mengobati dirinya asal-asalan walau seringkali mengabaikannya dan izin sakit dua sampai tiga hari sampai luka-luka itu sembuh.
"Biasanya aku cuman perlu izin dua atau tiga hari sampai lebamnya hilang. Setidaknya yang di wajah dan lengan atau bagian terlihat lainnya."
Cerita itu membuat Gavin menahan napas. Informasi tersebut menyampaikan bahwa Bea sudah terbiasa menerima hal ini sejak lama.
"Nyokap mati waktu lahirin aku. Galih Purwanto punya tiga istri. Veny ibunya Alby dan Aruna. Mereka bercerai sewaktu Veny didiagnosa sakit jiwa. Disaat yang sama waktu aku lahir. Aku bahkan gak tahu aku anak siapa sampai Miranda, istri ketiganya datang dan membawa aku dari panti asuhan. Mengatakan bahwa aku masih punya ayah. Sejak saat itu aku hidup sendirian."
Tangan Gavin mengusap lututnya lembut.
"Butuh bertahun-tahun buat aku sadar bahwa aku dibawa dari panti hanya takut jika media tahu bahwa Galih punya anak lain yang tidak sah. Karirnya yang cemerlang tentu tidak ingin tercoreng kalau tiba-tiba keberadaanku muncul ke permukaan."
Gavin sudah selesai dengan kakinya. Laki-laki itu memegang ujung kaos yang digunakan oleh Bea.
"Bahu dan punggung kamu?"
Seolah paham. Bea langsung menarik benda itu melewati kepalanya. Membiarkan dirinya sekali lagi begitu terbuka di hadapan laki-laki itu. Walaupun kini sebuah bra berwarna hitam menyangga dadanya.
Matanya menatap ujung ruangan ketika jemari Gavin menyentuh leher dan bahunya. Mengoleskan salep berwarna putih itu dengan lembut.
"Miranda dan Galih ternyata juga tidak saling cinta. Hubungan mereka hanya pernikahan bisnis. Galih butuh Miranda dan keluarganya untuk bisa menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPR saat itu. Dan keluarga miranda yang punya tambang batu bara tentu butuh Galih untuk melancarkan usaha mereka."
Harusnya jika tahu seperti itu, Bea tidak perlu terkejut bagaimana hubungan Galih dan keluarga Gautama yang sering terdengar dan juga ia dengar dari Gavin berminggu-minggu yang lalu. Harusnya hubungan seperti itu sudah biasa ditelinganya.
Napas Bea menahan ketika Gavin mengelus tulang selangkanya dengan lembut. Ia tahu laki-laki itu hanya mengoleskan obat namun keberadaannya dan sentuhan laki-laki itu tetap membuatnya kalang kabut.
Ia berdehem sesaat sebelum melanjutkan. "Satu-satunya yang aku syukuri dari keluarga itu hanya keberadaan Alby. Dia benar-benar jadi kakak yang baik. Aku bahkan berani bersumpah bahwa Alby juga menerima dan menyayangiku sebagai adiknya."
Tangan Gavin memutar tubuh Bea dengan lembut. Agar ia dengan mudah mengobati bagian belakang tubuhnya.
"Sampai akhirnya Alby mencintai seorang perempuan dan tidak direstui keluarga. Ia memilih kabur dan tinggal di Aussie. Mereka membangun sebuah keluarga disana."
"Kenapa?"
Bea tersenyum kecil.
"Istrinya kakakku di panti asuhan. Mereka berkenalan waktu aku ngajak Alby kesana. Siapa yang menginginkan menantu seorang perempuan yang bahkan tidak tahu asal usulnya?"
Kalimat itu sarat sakit hati. Gavin bahkan terdiam sesaat sebelum kembali menyentuh punggung Bea.
"Sejak saat itu aku benar-benar sendirian. Satu-satunya manusia yang menginginkan keberadaan aku cuman Ditta. Bahkan jika bukan untuk Ditta, aku gak akan hidup lagi di dunia."
Untuk cerita itu sudah pernah didengar oleh Gavin dari Ditta maupun dari Gerry. Bagaimana keduanya menjalin hubungan persahabatan hingga kini.
"Saat itulah semua menjadi damai namun dingin. Sejak Alby pergi, Aruna ikut melarikan diri. Ia ke Berlin. Dan aku gak pernah ketemu dia lagi. Sampai akhirnya dia pulang ke sini. Setiap aku mengalami hal-hal menyakitkan, Ditta akan selalu memelukku. Berkata bahwa dengannya dunia akan baik-baik saja. Tidak ada yang bisa membuat aku lebih tenang dari pelukan Ditta. Walaupun akhirnya aku tetap memilih mengakhiri hidupku berkali-kali."
Gerakan tangan Gavin berhenti mengolesi obat untuknya. Lengan kokoh itu kini melingkari tubuhnya. Bea bahkan merasakan sebuah kecupan menyapa bahunya dengan sangat lembut. Seolah-olah ia porselen yang bisa pecah kapan saja.
"Mau aku peluk?"
Pertanyaan itu lebih seperti bisikan. Mata Bea kembali memanas. Ia tidak tahu apakah ia mengangguk atau menggeleng, namun lengan Gavin menariknya mendekat. Tubuhnya berputar pelan.
Gavin tidak hanya memeluknya. Laki-laki itu menariknya mendekat untuk naik ke pangkuannya. Tubuhnya meringkuk miring dalam dekapan lengan kekar itu. tubuhnya yang setengah telanjang menggigil ketika kulitnya bertemu dengan lengan-lengan yang tampak bisa mematahkannya dengan mudah.
Bea membiarkan tingkah impulsifnya mengambil alih. Ia membiarkan lengannya membuka lalu melingkari laki-laki itu. Membiarkan wajahnya terbenam dalam perpotongan leher yang menguarkan aroma kayu yang menenangkan.
Lengan Gavin melingkari tubuhnya. Laki-laki itu kini bahkan tidak sungkan untuk mengusap lengan dan punggungnya. Menjatuhkan kecupan beberapa kali di bahunya yang terbuka.
Sesaat Bea merasa tubuhnya yang mengigil perlahan hangat. Usapan itu lembut penuh perasaaan.
Untuk pertama kalinya ia merasa aman berada didekat seseorang.
---
Love
--aku
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari So Do I.