CeritaGW
Buku / Bab
Bab 031.096 kata

Bab 2

KT

Kata Tiwi

So Do I

Mulai membaca


"Setiap orang memiliki alasan saat merasa kesulitan. Tidak semua orang tahu kesulitan masing-masing. Namun, kamu bisa selalu ada untuknya dan menghirup udara segar bersama mereka" - S.Coups of Seventeen

----

Setelah mengantri untuk masuk ke dalam venue, Bea akhirnya duduk dengan tenang. Mengambil beberapa foto dan video yang bisa ia bagikan nanti pada teman-temannya karena sinyal tidak begitu bagus saat ini.

"Sendirian, kak?"

Bea mengangguk pelan pada seorang perempuan cantik yang memakai topi berwarna biru.

"Iya. Kamu sendirian juga?"

"Bareng temen-temen Carat yang lain sebenernya. Tapi mereka ambil section soundcheck. Aku gak keburu soalnya masih harus kerja. Jadinya misah."

"Aku tadinya mau soundcheck juga. Tapi mikirin harus berdiri berjam-jam kayaknya bakal gak kuat. Takut pingsan. Beruntung banget dari seat ini. Keliatan jelas banget,"

Perempuan itu mengangguk setuju.

"Kita masih have fun walaupun gak deket panggung. Cuman gak bisa ikutan jump aja waktu Aju Nice."

"Yang penting tetap happy kiyowo. Udah bertahun-tahun gak konser offline akhirnya konser kan,"

"Namanya siapa, kak? Aku Sana."

"Like the Twice's member?"

Perempuan itu mengangguk. "Namanya aja yang sama. Tapi cantik sama nasibnya beda,"

Bea tergelak. "Namaku Bea."

"Kak Bea nginep dimana? Mau join gak nanti sama kita?"

"Apartemenku di daerah Senayan, sih. Emangnya nanti ada apa?"

Sana tersenyum sumir. "After Party gitu. Carat yang udah pada dewasa dan kerja suka bikin acara kumpul gitu abis konser. Biasanya di salah satu room yang udah di-reserved."

Bea mengangkat alis. "Boleh juga. Tapi aku gak bisa sampe pagi. Paling lama dua jam aku balik sih, besok ada janji."

Sana mengangguk setuju. "Oke. Nanti abis konser kakak langsung bareng aku aja,"

"By the way, kamu masih kuliah?"

"Gak. Aku dua puluh lima tahun. Gen mamaku terlalu kuat jadinya kayak anak kuliahan terus."

Bea tertawa. Ia menyukai gadis ini. "Kalo gitu kita seumuran. Panggil Bea aja,"

Keduanya lalu berbincang banyak. Pembicaraan itu dikuasai topik tentang konser yang mereka tonton tentu saja. Setiap member mereka bahas satu persatu. Tidak sepertinya yang menyukai Wonwoo, Sana lebih suka Mingyu.

"Gue tuh cuman sepinggang Mingyu kayaknya kalo jejeran. Dia gede banget kayak gapura."

Bea tertawa mendengar komentar itu. Konser dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya setelah tadi hampir separuh music video Seventeen di putar sambil menunggu konser dimulai.

Lagu pertama berjudul Hot. Title track untuk album terbaru mereka. Konser yang bertajuk Be The Sun tersebut dibuka dengan panas. Suara dan performance mereka membuat semua penonton menjerit. Berdecak kagum berkali-kali.

Setelah Hot, lagu selanjutnya mulai dimainkan. Dan konser tersebut berlangsung seru dan tentu saja menyenangkan semua orang. Tidak hanya Bea, Sana dan banyak orang lainnya tidak berhenti berseru senang.


Seperti yang sudah dijelaskan Sana. After Party itu juga berlangsung seru. Karena kesukaan mereka semua sama, tidak susah untuk langsung membaur. Pembicaraannya tentu saja berputar tentang boygroup dan konser mereka yang berlangsung apik.

Banyak sekali makanan dan minuman yang dibawa oleh semua orang termasuk Bea dan Sana.

Kini disebuah sofa paling ujung, Bea sudah menepi sambil memegang sebotol wine yang isinya sudah hilang setengah.

Ia menatap kumpulan itu sambil tersenyum. Ternyata hal itu juga menyenangkan. Ia tidak menyangka ikut bergabung dengan mereka membuatnya lebih hidup. Merasa bahwa dirinya tidak sendirian.

Tepat pukul dua belas, ia akhirnya bangkit. Pamit pada semua orang yang ada sebelum keluar dari ruangan tersebut.

Sana dengan baik hati menemaninya turun untuk menunggu taksi online yang telah ia pesan.

"Sesekali lo harus ikut main sama mereka, Be. Kali aja lo cocok kan,"

"Boleh. Ntar chat aja. Gue banyak free nya kok."

Ternyata lobby hotel sudah tidak seramai tadi. Beruntung juga taksi yang dipesan Bea sudah berada di depan sejak tadi. Hingga ia tidak perlu menunggu terlalu lama.

Mobil itu berjalan pelan karena jalanan yang ramai. Bea yang sebenarnya sudah setengah sadar menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Tidak begitu menanggapi supir taksi yang akhirnya sadar bahwa pelanggannya malam ini sudah hampir tidak sadar.

"Kak jangan tidur, ya. Nanti saya bingung turuninnya gimana,"

Bea hanya bergumam sembari mengangguk.

Setelah melewati beberapa puluh menit, taksi tersebut sudah berhenti di lobby apartemen. Bea masih sadar ketika turun. Ia langsung menuju lift untuk naik ke lantai tempat unitnya berada.

Matanya menemukan seseorang juga ikut masuk lift bersamanya. Yang ternyata juga menuju lantai yang sama.

Tiba di lantai dua puluh lima, lift berhenti dan pintunya terbuka. Bea melangkahkan kaki. Ia bisa merasakan laki-laki yang tadi bersamanya ikut melangkah pelan di belakangnya.

Ia buru-buru melangkah hingga oleh hingga lengannya diraih membuatnya tidak jatuh dan mencium lantai. Mata mereka bertemu.

"Sorry,"

Setelah Bea berdiri dengan benar, lengannya dilepas. Laki-laki itu tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Wajahnya yang tertutup masker membuat Bea tidak bisa mengenali apakah pria ini tetangganya atau bukan. Walaupun sebenarnya Bea tidak mengenal siapapun yang ada di apartemen ini selain satpam di bawah.

Ia kembali melangkah, begitu juga dengan laki-laki itu. Hingga tiba di depan unit 2512, Bea berhenti melangkah. Pria bermasker itu juga berhenti.

Bea memutar tubuhnya, mendongak menatap laki-laki yang kini juga menatapnya datar. Tingginya hanya sebatas dada laki-laki itu hingga Bea benar-benar harus mendongak.

"Lo kenapa ikutin gue?"

Pria itu menyugar rambutnya. Ia tidak bereaksi.

"Heh kalo orang nanya itu jawab!"

"Awas,"

Suaranya dalam dan berat. Bea mengangkat tangannya lalu memegang kepalanya yang pusing. Tidak sampai satu menit kepalanya yang pusing membuat matanya berkunang. Tangannya menggapai untuk berpegangan, tapi belum sempat meraih apapun tubuhnya sudah ambruk.

Bea akhirnya benar-benar mencium lantai.


Tubuhnya diguncang keras. Matanya lalu terbuka dan menemukan Ditta yang kini menatapnya kesal campur khawatir.

"Bisa gak lo sehari aja hidupnya bener?"

Bea meringis. Kepalanya masih pusing. Ia mengangkat tubuhnya berusaha untuk duduk.

"Kok lo bisa masuk?"

Pertanyaan itu membuat Ditta berdecak. Gery yang berdiri di belakangnya juga menatap Bea khawatir.

"Lo semalem kemana sampe dianterin cowok mabok gitu?"

Bea menatap Gery bingung harus menjawab apa. Memangnya kemarin dia berasama cowok?

"Gue ikut after party post concert gitu. Cewek semua. Cowok maksud lo supir taksi?"

Gery menatapnya prihatin. "Supir taksi?"

"Lo sadar gak lo lagi dimana?"

Bea menatap sekitarnya sebelum menjerit heboh.

"KENAPA GUE TIDUR DI POS SATPAM?!"

Jika Gery menatapnya tak percaya, Ditta memegang bahu sahabatnya itu dengan gemas.

"Lo gak inget semalam sama siapa? Lo gak inget lo tidur di sini?"

Bea menggeleng pelan. Ia semalam mengingat semua yang terjadi kecuali adegan tidur di pos satpam. Apa benar-benar ia pingsan di taksi hingga sang supir yang bingung langsung menaruhnya di pos satpam?

"Satpam yang jaga juga ngomong kalo pas dia balik dari toilet lo udah kegeletak kayak mayat di sini. Untung dia kenal lo, Be. Kalo gak mungkin dia udah lapor polisi,"

Penjelasan Ditta membuat Bea menghela napas. "Yaudah kalo gitu gue mau lanjut tidur di kamar,"

Ditta membantu perempuan itu bangkit. "Sekalian mandi. Lo bau kambing!"


Hehe

Love

--aku

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 03 / 3
So Do I
02

Bab 1

1.033 kata / Tersedia

03

Bab 2

1.096 kata / Sedang dibaca