Kata Tiwi
So Do I
Mulai membaca
"It's everyone's first time living this life, how can you be good right from the start?"
--Hoshi of Seventeen
"Heh Bea cukai!"
Gadis yang sedang menyeruput sisa-sisa kopi dari gelas yang sedang ia pegang itu menoleh. Menatap dengan ekspresi bertanya.
"Materi buat meeting siang ini udah kelar? Lo dicariin Pak Gilang. Katanya nomer lo gak aktif,"
Bea Edina adalah seorang supervisor keuangan di sebuah perusahaan start up yang bergerak di bidang event organizer bernama Abyakta. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan jasa yang tentu saja kepuasan pelanggan adalah poin utama dalam lini bisnis tersebut. Dan posisi Bea adalah seseorang yang tentu saja berpengaruh dalam hal tersebut.
"Ini gue mau balik ke atas. Lo mau kemana?"
Bea mengajukan pertanyaan sambil berjalan menuju tempat sampah di antara dua lift. Yang sudah ia tekan tombolnya menuju ke atas.
"Mau ambil bunga sama makanan."
"Buat apaan?"
Suci, rekan kerjanya bagian kontrak berdecak.
"Lo tuh emang keterlaluan cueknya. Lo gak inget hari ini partnernya Pak Gilang bakalan dateng hari ini?"
Bea menggeleng cepat. "Serah lo deh!"
Perempuan bernama Suci itu mengibaskan tangan lantas berlalu dari hadapan Bea yang hanya menatapnya heran. Sedang perempuan itu segera masuk lift dan menuju lantai tepat kantornya berada.
Rapat berlangsung lancar. Semua materi tersampaikan dengan baik. Tidak banyak perdebatan yang tidak penting hingga akhirnya Bea bisa bebas dengan cepat dari sana.
Ia tengah merapikan meja dan seluruh barang-barangnya ketika sekitarnya mulai riuh. Semua orang beramai-ramai menuju ruang rapat yang tadi mereka gunakan. Bukan hanya tim manajemen, tetapi semua staf menuju ke sana.
Dengan badannya yang kecil dan lincah, Bea menuju Gilang yang sedang berjalan menuju ruangannya. Mencegat laki-laki itu untuk ia ajak obrol bersama.
"Pak Gilang!"
"Gimana? Ada yang kurang, bae?"
Bibir Bea mengerucut. Gilang adalah laki-laki berumur tiga puluh lima tahun. Yang masih lajang dan tentu saja menarik di mata para wanita di luar sana. Jika tidak sering memperlihatkan bahwa kehidupannya yang free dan nemplok sana-sini, Bea yakin semua perempuan yang ada di kantornya juga menginginkan Gilang menjadi pria mereka.
Tapi genitnya itu sudah ditahap yang membuat Suci yang notabene pecinta laki-laki matang dan lajang tidak tertarik pada atasan mereka tersebut. Selain karena jika bukan Bea, Suci-lah yang menjadi orang yang akan memesan kamar untuk Gilang jika laki-laki itu memerlukan hotel untuk kebutuhan pribadinya sebagai laki-laki dewasa.
Dulu sekali mereka memanggil Gilang dengan sebutan 'Mas' tapi lama kelamaan mereka memutuskan untuk memanggil Gilang dengan sebutan 'Pak'. Hanya karena tidak ingin laki-laki itu merasa lebih muda, tapi toh panggilan itu tidak menjadi masalah untuk Gilang.
"Bisa gak kalo manggil gue itu Bea aja bukan bae?!"
Gilang tergelak. "Biar anak-anak mikir lo simpenan gue aja. Asik tahu nanggepinnya,"
Bea mencibir. "Gue mau pulang duluan. Mau nuker tiket,"
"Konser?"
Bea mengangguk. "Biar gue ketemu pacar gue yang beneran aja,"
"Halah. Dia gak bisa bikin lo puas. Mending gue kemana-mana,"
Gadis itu kembali mencibir. "Gak minat!"
Gilang tentu saja kembali tergelak. "Konsernya kapan? Ntar lo gak masuk besoknya gara-gara masuk angin."
"Indoor, Pak. Di ICE. Lagian konsernya sabtu. Jadi minggunya gue bisa tidur seharian."
"Terus lo gak ikut welcome party-nya dong?"
"Kan kalo gak ada gue juga gak apa-apa, Pak. Senin kan juga ketemu lagi. Lagian ini jumat, kenapa sih temen lo ini datengnya hari ini? Udah lewat jam kantor lagi."
"Dia mau say hi doang. Sama paling makan malem bareng nanti."
Bea mengangguk. "Yaudah kalo gitu gue cabut ya, Pak. Takut kejebak macet."
Bea tidak bisa tidak tertawa melihat ekspresi Ditta ketika gadis itu masuk mobil. Wajahnya penuh keringat, rambutnya lepek, dan wajahnya memerah.
"Gue gak mau nemenin lagi. Bodo amat lo mau ngambek kek, mau salto kek, gue gak mau lagi nemenin!"
Dengan wajah yang penuh bahagia walaupun kondisinya tidak jauh dengan perempuan yang duduk di balik kemudi itu, Bea mengulurkan air mineral untuk diteguk oleh Ditta. Bea lalu mengambil dua lembar tisu dan membantu Ditta mengusap keringatnya.
"Iya ini terakhir kalinya."
Tadi Bea sudah berhasil menukarkan tiket untuknya menonton konser sebuah boygroup asal Korea Selatan bernama Seventeen. Ditta yang menjadi sahabatnya hampir seumur hidup dengan baik hati walaupun terpaksa menemaninya untuk menukarkan tiket tersebut setelah mengantri di antara lautan manusia lainnya. Ditta adalah perempuan yang menemani seluruh perjalan hidup Bea. Begitu juga yang dilakukan oleh Ditta. Termasuk untuk hal-hal random seperti ini.
"Gue mau ketemu Wonwoo, Dit. Lo kan tahu udah lama banget mereka gak konser karna covid. Lagian salah lo sih kemaren gak mau nemenin ke Korea atau Jepang. Pasti di sana gak panas kayak di sini."
Ditta mendelik. "Gak panas tapi beku! Gak mau!" Gadis itu lalu menghidupkan mobil dan mulai menjalankannya keluar dari parkiran. Ia mendelik pada Bea sebelum berujar pedas.
"Lagian bukannya terima kasih udah ditemenin malah nyalahin gue lagi,"
Bea lalu tertawa. Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Ditta hingga perempuan itu berjengit jijik.
"Gak usah cium-cium!"
"Kan makasih,"
"Lo besok cari pacar deh. Gue udah mulai capek jadi supir lo mulu. Kapan gue pacarannya kalo gini,"
Bea lantas tertawa. Selain menjadi sahabatnya, Ditta juga menjadi supirnya selama ini. Kemampuan gadis itu menyetir hampir sama dengan laki-laki. Ditta tidak pernah menggunakan fasilitas parkir khusus perempuan. Gadis itu menjunjung tinggi kesetaraan gender.
"Yaudah mumpun weekend ini gue nonton konser. Lo manfaatin aja berduaan sama Gery."
"Gak usah lo ajarin! Lo sana cari pacar lagi. Jangan diputusin cuman karena dia ga ngerti cerita lo soal cowok-cowok kpop itu,"
Bea langsung manyun. "Mereka bukan gak ngerti. Tapi karena mereka hina. Muka plastik lah, make up ketebelan, cowok kok dandan lah. Lo yang ngomong soal kesetaraan gender. Kalo cewek disuruh rawat diri kenapa cowok gak boleh? Lagian kan itu pekerjaan mereka yang mengharuskan mereka merawat diri. Kan kalo lagi bareface keliatan jerawatnya."
Jika sudah begini, Ditta hanya akan mendengarkan bagaimana Bea membela idolanya. Tidak ingin membantah. Toh sebenarnya yang diucapkan oleh gadis itu juga benar. Perawatan tentu saja menjadi poin penting yang harus dilakukan oleh pada public figure.
"Ntar gue anter jemput lo aja sama Gery. Atau minta jemput Sania sama Lucky."
Dengan tegas Bea menggeleng. "Pasti sinyalnya susah. Gue kan seating. Jadi gak akan capek banget. Nanti gue naik taksi online yang udah nongkrong aja. Pasti banyak,"
"Yakin?"
Anggukan itu tidak bisa dibantah Ditta. Mulut kecil Bea lalu kembali bercerita tentang cowok-cowok yang akan ditonton oleh gadis itu esok hari.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari So Do I.