Zenith Ramadhan
Persimpangan Antara
Mulai membaca
Raka pulang membawa kehampaan. Ayu yang membaca situasi dari gerak gerik dan gurat wajah suaminya mencoba meredam kekecewaan. Sulit menemukan kata-kata untuk saling ditukar pada saat seperti itu. 'Gapapa' atau 'sabar' tidak cocok untuk situasi ini. Tanpa kendalinya, ia pun ngambek.
Mereka saling lalu lalang satu sama lain di rumah itu, tetapi tidak belum juga menemukan satu kalimat yang tepat untuk membuka pembicaraan. Nafas panjang saling bersahutan. Tersisa celotehan anak-anak dengan dunianya masing-masing, dan suara nyanyian dari iklan di TV yang tidak cocok untuk menjadi backsound dari situasi ini. Raka terus menerus membuka hpnya, mencoba menghubungi Gege. Ayu tak kalah sibuk memainkan hpnya, walaupun hanya bolak-balik membuka lockscreen, home dan back.
Dalam kecanggungan yang panjang itu, si sulung membaca situasi, dan mengajak si kecil berpindah ke kamar, "De, sini Kakak bacain buku," seolah mengerti ada sesuatu yang sedang terjadi. Tanpa bertanya 'kenapa' 'ada apa', anak-anak itu telah memberi ruang obrolan untuk kedua orang-tuanya. Raka belum menemukan kalimat, karena ia masih fokus menghubungi Gege.
Ayu memulai dengan kalimat yang masih agak tegas sebagai cerminan dari keadaan hatinya yang masih kecewa, "Aku belum perlu tau detailnya seperti apa, tapi kalo kamu mau cerita, aku siap dengerin. Hanya sekarang sepertinya kamu masih mau mencari kepastian," Ayu memperhatikan betul bahwa suaminya belum mendapat respon dari partner usahanya itu. Ayu beranjak dari sofa, melangkah pelan ke kamar, dan menutup pintu.
Raka mulai mengetik, "Mas tadi saya ke rumah, ketemu istri sampeyan. Ada masalah apa sih Mas?"
Membaca pesan tersebut Gege mulai tampak mengetik pada papan keyboardnya. Raka sangat penasaran dengan apa yang sedang akan diketik oleh Gege---apa alasannya, tetapi Raka memilih untuk menunggu Gege selesai mengetik. "Gue ada masalah di rumah, ge udah lama ga pulang. Duit lu nanti ya," Lagi-lagi pernyataan menggantung, "Nanti kapan Bang?" Raka tidak lagi betah dengan kerancuan-kerancuan Gege. "Gini deh, Abang di mana, biar saya yang ke sana," tegas Raka. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, tidak ada jawaban apa-apa. Raka sudah sangat kesal sampai-sampai ingin membanting hpnya.
Ringtone Raka berbunyi. Nomor tidak dikenal. Biasanya Raka tidak mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal, tapi kali ini firasatnya berkata lain. Ia mengangkat telepon itu, "Mas Raka, ini saya, istri Mas Gege. tadi saya mau jelasin panjang lebar tapi sampeyan langsung pulang. Oiya terima kasih atas bantuannya tadi, kami jadi bisa beli lauk dan beras buat besok. Sebenarnya, ... boleh saya jelasin terkait Bang Gege?" begitu yang Raka dengar, ia pun mengiyakan. "... Sepertinya Mas Gege punya istri muda, tanpa persetujuan saya ... sudah beberapa lama ini adik saya ikuti dia sepulang dari proyek, rupanya dia sering pulang ke daerah proyek saluran air, Mas Raka, dan tidak pernah pulang kesini sejak saat itu. Sedangkan kami, dibiarkannya, tanpa nafkah," "Rumit dan malesin," cetus Raka dalam hati, tapi satu hal yang ingin dia tahu, alamat yang harus dituju untuk bertemu Gege. Tidak begitu jelas arahan yang diberikan, berhari-hari Raka berkeliling, akhirnya ketemu juga Gege beserta keluarga barunya. "Mas, saya tidak mau ikut campur urusan keluarga Mas, tapi tolong kembalikan uang dan hak saya. Saya juga punya keluarga yang harus dikasih makan," jelas Raka lugas. Gege mengakui kesalahannya tidak amanah dalam mengelola proyek dan keuangan, juga tidak professional dalam menjalani pekerjaan dan usaha yang mereka dirikan bersama. Gege juga menyatakan bahwa uang proyek sudah terpakai untuk kebutuhan pribadinya. Ia berjanji akan mengembalikan uang Raka dengan cara dicicil. Akan tetapi Raka tidak mau lagi percaya begitu saja. Raka menuntut jaminan.
Gege izin masuk ke dalam rumah untuk berdiskusi dengan pemilik rumah, istri barunya. Suara panci terbang terdengar lantang dari teras tempat Raka duduk. Dengan air muka yang tidak karuan, Gege keluar membawa kunci, "Ini bawa dulu aja mobil. Titip sampai uang mu bisa kuganti." Ia ingat Raka tidak suka hal rancu, akhirnya ia bilang, "Tiga bulan dari sekarang ya." Gege menyerahkan sebuah mobil tua, yang sudah tidak terawat, dengan tunggakan pajak dan cicilan. Raka tidak senang dengan hasil ini, tetapi mau bagaimana lagi? Daripada pulang dengan tangan kosong lagi, dengan berat hati Raka pulang dengan membawa barang 'sitaan' itu. Sebelum meninggalkan tempat yang menjijikan itu, Raka teringat pesan istri Gege, "Mas ada pesan dari istri sampeyan. Tadinya tidak mau saya sampaikan, tapi saya ga enak bawa-bawa amanah kalo ga disampaikan. Kata beliau, 'Kalo ga mampu, jangan banyak gaya.' Permisi Mas, jangan ngilang, tetap berkabar, dan tetap dibayar ya Mas utangnya." Raka pamit. Tiga bulan, bukan waktu yang singkat untuk seorang kepala keluarga. Terlebih berarti tanggal jatuh tempo itu mepet sekali dengan jadwal konfirmasi pendaftaran sekolah. Raka memutar otak, membanting setir ke rest area. Mencoba menenangkan diri, dan kembali menatap langit. Dalam sendirinya ia berpikir, apakah salah jalan yang kupilih? Atau apakah aku sudah di jalan yang benar, dan ini adalah cobaan pertamaku? Awan bergerak perlahan. Sekawanan burung berlarian dari satu pohon ke pohon lainnya, seolah sedang mempertontonkan pertunjukan penghiburan. Dalam kekalutan itu, ia menyadari kekuasaan Tuhan. Adzan magrib berkumandang, tepat saat itu ia memantapkan hati bahwa ia sedang menempuh jalan yang sesuai dengan mimpinya. Saat itu juga ia meyakinkan diri bahwa ini adalah pelajaran pertama, dan Tuhan tidak akan membiarkannya menderita sendirian di luar kemampuan.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Persimpangan Antara.