CeritaGW
Buku / Bab
Bab 06460 kata

Lampu Merah

ZR

Zenith Ramadhan

Persimpangan Antara

Mulai membaca

Sebuah motor melaju kencang menembus jalanan ramai di waktu padat jam makan siang. Dengan klakson yang terus berulang bersahutan dengan makian orang-orang kaget di jalanan. Pak Rudi tak peduli, ia menancap gas sejadi-jadinya, membawa Bu Nur segera menuju anak mereka yang terbaring di IGD. Di tempat lain, Ayu berlari kesana kemari mengurus administrasi, meninggalkan anak-anak di kursi tunggu bersama tetangga belakang rumah.

Dua perempuan itupun bertemu, air mata mertua dan menantu beradu. Pecah tanpa kata-kata. Raka masih terkujur lemas, beberapa kali hampir kehilangan kesadarannya kembali. Para petugas bergerak dalam kecepatan normal, tetapi tampak slow motion di mata kedua perempuan ini. Bagi Ayu dan Bu Nur, dunia rasanya sedang akan runtuh, tetapi orang lain tampak tidak peduli. Cemas, khawatir, gemas ingin segera ada tindakan medis untuk menyelamatkan anak laki-laki satu-satunya bagi Bu Nur, tapi tak ada satu pun kata yang mampu keluar dari bibir Bu Nur.

Air mata berhasil dibendung setelah beberapa waktu, Bu Nur pun mulai berbicara kepada Raka, "Rakaa...," satu kata saja. Bu Nur menahan lidahnya lagi. "Jangan nangis Ma," ucap Raka, "Maafin Raka ya Ma."

Emosi Bu Nur terhimpit di antara 2 kalimat Raka. Jangan menangis menahan air matanya, tetapi kata maaf memecahkan pertahanannya. Mereka pun akhirnya menangis tanpa air mata. Kerongkongan rasanya bengkak menahan luapan emosi kesedihan. Raka kembali kehilangan kesadarannya. Bu Nur menangis sejadi-jadinya. Ia berteriak, "Dokter, tolong anak saya, Dok,"

Dua perawat menghampiri, mengalirkan Natrium Klorida ke dalam tubuh Raka. Mereka membalut luka di tangan Raka akibat terjatuhnya tadi. Rupanya tangan Raka terluka. Luka terbuka, tetapi tidak banyak darah yang mengalir dari tubuh Raka. Raka kehabisan sel darah merah. Perawat menyuntikkan jarum ke lengan Raka, mencoba menyedot sample darah yang tersisa. Tapi hanya 3 tetes yang didapatnya. Satu botol sample masih kosong tak terisi. "Kita coba lagi nanti," perawat bilang, sambil merapikan peralatannya. Dengan luka terbuka di tangannya itu, Raka semakin kekurangan darah. "Ini anemia akut, ... " dokter menyodorkan surat persetujuan transfusi kepada Ayu. Bu Nur semakin cemas. Namun, Raka benar-benar sudah semakin melemah.

Haruskah begini nasib seorang tulang punggung? Dia memikul berat beban dunia sendiri. Setiap pulang berburu nafkah, ia harus menyeruput pahit kehidupan sampai ia tiba di gerbang rumah. Ia menghembuskan sesak nafas beban hidup sebelum membuka pagar rumah. Ia harus memastikan bahwa topeng cerianya sudah kembali terpasang saat tiba di teras rumah. Keluh dan peluh harus ia basuh sebelum berinteraksi dengan buah hati. Ia benar-benar memilkul tanggung jawab sebesar ini sendirian. Berat, sungguh berat, ia terus memacu kuda perangnya bahkan dalam keadaan terburuknya. Sakit itu apa? tanyanya sambil terus memacu kecepatan mencoba mengejar waktu. Pada akhirnya sang tulang punggung tumbang di depan orang-orang yang paling ia lindungi.

Lampu merah telah menyala. Pion yang tak kenal kata mundur dipaksa berhenti melaju. Ini bukanlah akhir. Ini adalah tanda seru besar agar pejuang mengambil jeda untuk rehat dan kembali sehat.

Bab selanjutnya

07 - Labu Merah

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Persimpangan Antara.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 06 / 15
Persimpangan Antara
05

Kotak Pandora Terbuka

439 kata / Tersedia

06

Lampu Merah

460 kata / Sedang dibaca

07

Labu Merah

461 kata / Tersedia