CeritaGW
Buku / Bab
Bab 07461 kata

Labu Merah

ZR

Zenith Ramadhan

Persimpangan Antara

Mulai membaca

Tak kuasa melihat Raka yang hampir tidak bisa lagi menahan sensasi hampir mati ini, Ayu tidak punya pilihan lain selain menandatangani formulir persetujuan transfusi yang diberikan dokter. Walaupun sebenarnya ia sempat tersesat di persimpangan antara segera menyelamatkan nyawa suaminya, dan bayang-bayang tetes demi tetes darah orang lain mengalir di dalam tubuh suaminya. Ia sangat paham bahwa Raka adalah seseorang yang sangat anti dengan medikasi modern. Raka adalah orang yang paling cerewet tentang anti-vaskin dan obat-obatan kimia. Namun, dalam keadaan seperti ini, ia merasa tidak punya pilihan lain. Pada akhirnya, ia setuju untuk menerima transfusi.

Waktu terasa sangat lambat di ruang Gawat Darurat itu. Kontras dengan hiruk pikuk kesibukan para perawat dan dokter. Jarum jam saling bersahutan dengan suara bedside monitor dari ranjang-ranjang area merah. Di sisi lain, pasien-pasien dengan trauma dan cidera juga berdatangan. Tak sedikit darah mereka berceceran ketika pertama memasuki pintu IGD. Padahal di sudut ini, Raka sedang menantikan darah tambahan.

Prosedur laboratorium menyatakan kisaran lamanya pemeriksaan di laboratorium adalah 2 jam. Mereka sudah menunggu lebih lama dari itu. Ayu yang awam dan khawatir dengan keadaan suaminya terus bertanya ke ruang perawat mengenai tindak lanjut transfusi. Tak jarang petugas kesehatan memberikan respon yang kurang ramah, dikarenakan Ayu bertanya berkali-kali di tengah kesibukan mereka. Ayu terus menghela nafas panjang, tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Raka.

Ayu tidak menyadari bahwa langit di luar sana telah gelap. Bu Nur pulang menenangkan diri, dan mengangkut cucu-cucunya. Hingga pada kasur nomor 5 itu hanya tersisa Raka dan Ayu. Tidak ada kata-kata yang keluar di antara Ayu dan Raka. Mereka sibuk dengan do'a dan nafasnya masing-masing. Ayu harus berdiri tegak dibalik bayang-bayang pikiran buruk dan kekalutan yang terjadi. Doa mereka bertarung hebat dengan rasa takut dan khawatir. Pertarungan senyap tanpa suara.

Di tengah beragamnya kondisi pasien di Unit Gawat Darurat itu, seorang perawat akhirnya datang ke arah mereka dengan membawa sekantong "labu" berisi darah merah. Ia menjelaskan prosedur, efek samping dan semua yang berkaitan dengan labu merah itu. Ia mulai menusuk arteri di tangan Raka dengan jarum infus. Ia membuka jalur infus dan sambungan jalur darah menggunakan teknik intravena.

Darah merah segar mengalir melalui selang menuju intravena, dan mulai masuk ke dalam pembuluh darah Raka. Pelan-pelan Raka mulai bisa bernafas teratur. Di saat yang sama, Ayu mulai bisa bernafas lega. Tujuh jam yang berjalan sangat lambat telah berlalu. Kini waktu perlahan berjalan normal.

Dua pasang mata yang saling merindu itu kini saling menatap. Mengalirkan rindu yang rasanya telah lama terkurung dalam penjara mimpi buruk dan kekhawatiran. Kata demi kata mulai mengalir membentuk formasi percakapan yang tenang. Percakapan hangat itu mulai membentuk tembok kedap suara di sekitar mereka berdua. Ayu dan Raka mulai mendengarkan suara satu sama lain dan saling berbincang. Telinga mereka telah terbebas dari suara-suara bising monitor dan kalibut. Kekhawatiran mulai luntur, akibat tumbuhnya rasa syukur.

Bab selanjutnya

08 - Balon Hijau

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Persimpangan Antara.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 07 / 15
Persimpangan Antara
06

Lampu Merah

460 kata / Tersedia

07

Labu Merah

461 kata / Sedang dibaca

08

Balon Hijau

356 kata / Tersedia