CeritaGW
Buku / Bab
Bab 15595 kata

Boarding Pass

ZR

Zenith Ramadhan

Persimpangan Antara

Mulai membaca

Tahun yang dinanti tiba, dunia telah banyak berubah. Kehidupan naik turun. Pak Hadi semakin tua, begitupun Bu Nur. Guratan tak lagi halus, kini telah tampak menjadi kerutan yang jelas. Kulit keriput sudah menghiasi wajah orang tua Raka.

"Raka, Mama senang masih bisa melihat anak Mama sehat di usia Mama sekarang. Mama juga senang melihat kalian akur. Mama bahagia melihat cucu-cucu Mama tumbuh sehat dan ceria. ..." Ucap Bu Nur tiba-tiba di sore hari itu. Raka yang sudah mendengar hal yang sama ini berulang kali mulai paham ke mana arah pembicaraan ini:

tentang waktu yang mungkin tak akan lama lagi bisa mereka habiskan bersama, tentang aktivitas yang tidak bisa lagi dinikmati dengan kondisi yang prima, dan tentang akhir yang mungkin akan segera tiba.

Tidak ingin mengakhiri obrolan dengan tangisan yang sama, Raka membuat manuver pembicaraan, "Umroh yu Ma ... sama Bapak, sama Ayu, sama anak-anak. Sekarang kan si kecil sudah SD, udah bisa kita ajak, ga perlu dititip-titip." Obrolan yang sama, air mata dari wajah-wajah yang sama, dengan emosi yang berbeda. Kali ini haru menyentuh hati mereka, bukan luka akan bayang-bayang akan sebuah adegan elegi yang belum terjadi.

Satu bulan berlalu, persiapan sudah matang, tibalah hari saat keluarga kecil ini berangkat menunaikan ibadah luar biasa. Bu Nur dengan berbagai dzikirnya tak berhenti mengucap syukur sambil mengusap-usap boarding pass yang digenggamnya. Pak Hadi dan Raka menggenggam tangan pasangan-pasangannya, si sulung dan si kecil, mengikuti di belakang mereka. Verifikasi data berhasil dilakukan. Satu per satu dari mereka berhasil melewati boarding gate. Mimpi akan menjadi nyata di depan mata.

Langit masih gelap di atas Hotel Jabal Omar hari itu. Jendela menunjukkan pemandangan yang tidak pernah mereka lihat lewat jendela rumah mereka. Si Sulung menjadi peserta rombongan terakhir yang bersiap. Ia menyemprotkan wewangian ke pakaiannya, lalu bergegas berlari menuju rombongan yang sudah menunggunya, "Cepat Kak," sahut Ayu yang tidak enak membuat mertuanya menunggu. Mereka berniat melaksanakan umrohnya pagi ini, tetapi tidak ingin membuang kesempatan emas, mereka mengawali hari sebelum subuh, berjalan bersama sepanjang lebih dari 600 meter menuju Masjid Al Haram. Ayu mendampingi Bu Nur memasuki area khusus perempuan, terpisah dari Raka, Pak Hadi dan anak-anak.

Bu Nur berdiri pada rakaat pertamanya, sedangkan Ayu menyusul tak lama setelah duduk agak lama lalu merapikan hijabnya. Ayu memang tampak tidak biasa sejak sebelum berangkat. Seolah ada sesuatu yang disembunyikannya. Ayu lahir dari keluarga yang bisa dikatakan serba kekurangan. Memiliki boarding pass, dan terbang menuju Makkah saja baginya seolah-olah mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata.

Ayu kembali terbayang saat hari pertama ia duduk di bangku SD, teman-temannya lantang mengutarakan cita-cita: dokter, guru, pengusaha, arsitek... Kontras dengan Ayu yang tidak pernah benar-benar bisa menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa berkata dalam hati, "Apapun profesiku nanti, aku ingin sekali ke Mekkah. Tidak hanya untuk beribadah, tetapi untuk berpulang dengan tenang."

Hari ini ia berdiri di atas mimpi itu. Air mata Ayu tak terbendung sejak Al Fatihah pertamanya dalam shalat itu. Ia terus menangis, dalam rukuknya, i'tidalnya, bahkan saat sujudnya. Ia menekuk badannya sambil berdoa dalam sujudnya. Memohon agar dosa-dosanya diampuni, dan harapan-harapannya dikabulkan, untuk kebaikan dunianya, akhiratnya, untuk suaminya, orangtuanya, termasuk kedua mertuanya, untuk anak-anak dan seluruh keturunannya kelak. Ia memohon keselamatan dan kebaikan tidak hanya yang berlaku di dunia tetapi di akhirat. Angin syahdu membersamai lirih do'a seorang perempuan biasa itu. Seorang istri dengan do'a khusyu untuk suaminya, dan do'a sakti seorang ibu untuk anak-anaknya.

Bu Nur sudah menyelesaikan salam terakhirnya, sedangkan Ayu belum juga bangun dari sujudnya. Bu Nur menunggu sedikit lebih lama, tetapi tangis tak lagi terdengar di balik sujud menantunya itu. Ia mulai menyentuh lengan menantunya dengan lembut, "Yu ...," tetapi Ayu tidak pernah bangun lagi sejak saat itu.

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 15 / 15
Persimpangan Antara
14

Kembali ke Jalur

342 kata / Tersedia

15

Boarding Pass

595 kata / Sedang dibaca