CeritaGW
Buku / Bab
Bab 05671 kata

Surat Ancaman

S

Summer

My Forbidden Royal Guard

Mulai membaca

Caelan mengarahkan Elara menuju sudut aula yang lebih lengang di dekat ceruk jendela tinggi yang terlindung tirai beludru.

Elara melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang cukup dekat untuk mendengar bisikannya. “Aku baru saja mendengar sesuatu yang aneh.”

Caelan menyimak. “Apa itu?”

“Lord Varen dan seorang utusan dari Arven sedang membicarakan dokumen lama di lorong samping. Mereka menyebut kerajaan Astraea, entahlah Caelan, mereka membicarakannya seperti ada sebuah konspirasi.”

Ekspresi Caelan berubah.

“Kamu tahu tentang itu?” desak Elara.

Caelan tidak menjawab pertanyaan itu, malah balik menuntut, “Apa lagi yang mereka katakan?”

Elara mengingat kembali kata demi kata yang terngiang di kepalanya. “Mereka bilang dokumen itu seharusnya sudah dimusnahkan dua belas tahun lalu. Lalu mereka membicarakan seseorang yang masih menyimpan salinannya. Mereka juga bilang... jika orang itu kembali, mereka harus memastikan dia tidak sempat berbicara.”

Untuk beberapa saat, Caelan tidak mengucapkan sebaris kata pun. “Putri, mulai sekarang, jangan pernah membicarakan percakapan itu kepada siapa pun,” ujar Caelan dengan nada berat dan menekan.

Elara mengerutkan kening, tidak puas. “Kenapa?”

“Saya hanya tahu bahwa percakapan seperti itu bukan sesuatu yang aman untuk disimpan oleh seorang putri.”

Sebelum Elara hendak mendesaknya lebih jauh, suara bernada hangat milik Lucien terdengar dari balik tirai. “Elara?”

Tak ingin menimbulkan prasangka buruk, Elara buru-buru keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Lucien meski di kepalanya masih banyak pertanyaan berisik yang ia ingin tanyakan pada Caelan.

Paginya, setelah sarapan Elara mendapati sebuah amplop putih polos beserta bunga mawar putih tergeletak tepat di atas meja dekat jendela yang sedikit terbuka.

Elara mengerutkan kening, mengamati benda asing itu. Ia yakin betul meja tersebut bersih ketika ia tinggalkan beberapa jam lalu. Dengan hati-hati, ia memecah lipatannya dan mengeluarkan selembar kertas di dalamnya. Hanya ada satu baris kalimat pendek yang ditulis dengan tinta hitam pekat:

Jangan ikut campur dalam urusan Astraea.

Elara membaca kalimat itu sekali lagi, merasakan sensasi dingin menjalar di tengkuknya. Tanpa pikir panjang, ia melipat kertas tersebut rapat-rapat dan memasukkannya dan bunga mawar ke dalam laci meja teratas.

Menurut pengakuan pelayan yang membersihkan kamarnya, tak ada seorangpun yang masuk selain dirinya.

Menjelang siang, Elara memutuskan melangkah ke perpustakaan kerajaan
dan mulai meneliti buku-buku mengenai Astraea. Sebagian besar catatan di sana tidak berbeda dari pelajaran membosankan yang pernah ia terima dari para tutor istana. Astraea jatuh dua belas tahun lalu. Penyebab keruntuhannya disebut-sebut akibat konflik internal dan kecamuk perang saudara.

"Putri?"

Elara menoleh kaget. Caelan berdiri tegap di ujung barisan rak dengan mantel pengawalnya.

“Kau mengagetkanku,” tegur Elara sambil mengelus dadanya.

“Maafkan saya,” sahut Caelan pelan. Pria itu melangkah mendekat, matanya bergulir menilai sampul buku tua di tangan sang putri. “Astraea?”

Elara mengangguk perlahan. “Aku hanya ingin tahu lebih banyak.”

Caelan menatap mata Elara lekat-lekat. “Kenapa?”

“Karena semalam aku mendengar nama itu disebut dalam percakapan yang seharusnya tidak kudengar,” bisik Elara dengan nada menuntut.

Caelan membisu, menyembunyikan reaksi di balik raut wajahnya yang selalu dingin.

Melihat ketenangan itu, Elara melipat tangannya di dada. “Aku juga menerima surat ini dan bunga mawar putih pagi tadi.” Ia mengeluarkan surat peringatan tanpa nama itu, lalu menyodorkannya pada Caelan.

Caelan mengambil kertas itu dan membacanya cepat. Ekspresinya berubah. “Kapan Anda mendapatkannya?” tanya Caelan.

“Pagi ini.”

Caelan melipat kertas itu kembali dan menyerahkannya. “Jangan tunjukkan surat ini kepada siapa pun. Termasuk Raja atau Ratu.”

"Kenapa?”

“Kita belum tahu siapa penyusup yang berhasil menaruhnya di kamar Anda.”

“Justru itu,” desak Elara gemas. “Aku ingin tahu siapa orangnya!”

“Tidak semua hal aman untuk Anda cari tahu saat ini, Putri,” tegas Caelan dengan nada memeringatkan.

Elara menatap pengawalnya dengan tatapan sengit. “Kau juga bilang begitu semalam.”

“Dan saya serius dengan ucapan saya.”

“Aku juga tidak sedang bercanda, Caelan.”

Keduanya saling mengunci tatapan selama beberapa saat di antara keheningan perpustakaan yang sunyi. Pada akhirnya, Elara yang menghela napas pasrah lebih dulu. "Baik. Aku tidak akan membicarakan surat ini kepada siapa pun,” janjinya.

Caelan mengangguk pelan, sedikit melonggarkan postur tubuhnya yang tegang. “Terima kasih, Putri.”

“Tapi aku tidak berjanji akan berhenti mencari tahu soal Astraea,” tambah Elara menyunggingkan senyum tipis.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sudut bibir Caelan terangkat samar. “Saya sudah menduganya.”

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 05 / 5
My Forbidden Royal Guard
04

Percakapan Rahasia

517 kata / Tersedia

05

Surat Ancaman

671 kata / Sedang dibaca