CeritaGW
Buku / Bab
Bab 30537 kata

BAB 30 : LEMBARAN YANG SELALU TERBUKA

S

Suhendar

MENANAM DAMAI

Mulai membaca

Senja merambat pelan di atas langit desa, memancarkan warna jingga keemasan yang hangat dan menenangkan. Suasana halaman rumah yang tadi pagi diramaikan oleh gelak tawa dan tepuk tangan warga kini telah kembali tenang. Tenda sederhana dan deretan kursi plastik telah dirapikan, meninggalkan aroma khas rumput basah dan keheningan malam yang mulai turun membungkus kampung halaman.

Galang duduk seorang diri di sudut beranda rumah, memangku laptop yang menyala dan sebuah buku catatan hitam bergaris dengan sampul yang sudah mulai lusuh di sisinya. Buku catatan yang sama—buku yang dulu diberikan oleh Malik di peron stasiun kota tiga tahun lalu, saat hidupnya berada di titik nadir terketinggi, dikejar utang, dan digulung keputusasaan.

Perlahan, Galang membuka lembar pertama buku catatan hitam itu. Tulisan tangannya yang gemetar dari masa lalu terpampang nyata: Pekerjaan stuck, keuangan gali lubang tutup lubang, waktu terbuang sia-sia.

Ia tersenyum tipis, merasakan desir haru yang menyapu dadanya. Mengingat betapa berbedanya pria dalam catatan itu dengan dirinya yang sekarang. Hari ini, karyanya terbit secara fisik, ayahnya sehat dan tersenyum bangga di sampingnya, jiwanya tenang, dan hubungannya dengan Sang Pencipta telah kembali erat. Perubahan itu tidak terjadi secara ajaib dalam satu malam, melainkan disusun rapi lewat habit tracker harian, sholat tepat waktu, konsistensi belajar, dan keberanian untuk mengakui kesalahan diri tanpa dalih.

Langkah kaki pelan terdengar mendekat dari dalam rumah. Pak Ridwan keluar membawa dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap halus. Lelaki tua itu duduk di kursi bambu kesayangannya di sebelah Galang, menatap ke arah pekarangan dengan pandangan teduh.

"Masih belum tidur, Lang?" tanya Pak Ridwan lembut sambil meletakkan cangkir di atas meja kayu.

"Belum, Pak. Lagi nulis poin terakhir di buku ini," jawab Galang halus, membalas tatapan ayahnya dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang.

Pak Ridwan tersenyum seraya menepuk-nepuk pundak putra tunggalnya. "Tulis yang baik-baik, Nak. Ingat, setinggi apa pun pohon tumbuh dan sebesar apa pun namamu dikenal orang, jangan pernah lupa menyiram akarmu di bumi."

"Nggak akan pernah, Pak. Galang janji," bisik Galang penuh keyakinan.

Setelah sang ayah masuk kembali ke dalam rumah untuk beristirahat, Galang kembali menatap layar laptop dan buku catatan hitamnya. Ia mengambil pulpen hitam favoritnya, lalu membalik halaman terakhir di buku tersebut yang masih kosong bersih.

Di bawah temaram lampu teras yang hangat dan suara jangkrik malam yang bersahut-sahutan, Galang menorehkan kalimat penutup perjalanan audit hidupnya:

"Perubahan besar tidak pernah dimulai dari panggung yang megah atau kejutan yang instan. Ia lahir dari keputusan-keputusan kecil di tengah kesunyian malam: memilih untuk memaafkan masa lalu, membenahi sholat yang bolong, mendisiplinkan diri setiap hari, dan berani jujur pada ketakutan sendiri. Aku tidak lagi lari dari hidupku. Aku telah pulang, dan dari sini, aku siap melangkah lebih jauh."

Galang menutup buku catatan hitam itu dengan bunyi klik yang mantap, lalu menyimpannya rapi di dalam tas bersama eksemplar buku novel cetaknya.

Dari kejauhan, suara azan Isya dari musala desa berkumandang merdu, memanggil setiap jiwa untuk bersujud dan mengadu. Galang bangkit berdiri, menghirup napas dalam-dalam merasakan udara malam desa yang bersih dan sejuk. Ia tersenyum menatap dedaunan yang bergesek ditiup angin.

Tidak ada lagi ketakutan akan masa depan. Tidak ada lagi penyesalan atas masa lalu. Di beranda rumah sederhana ini, sebuah bab cerita telah purna ditutup dengan indah—dan lembaran baru kehidupan yang sesungguhnya, baru saja dimulai.

TAMAT

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 30 / 30
MENANAM DAMAI
29

BAB 29 : PELUNCURAN BUKU FISIK

772 kata / Terkunci

30

BAB 30 : LEMBARAN YANG SELALU TERBUKA

537 kata / Sedang dibaca