CeritaGW
Buku / Bab
Bab 021.861 kata

Es Krim Coklat Yang Hangat (Part 2)

m

meltice

Meltice: Satu Scoop yang Tidak Pernah Kamu Pesan

Mulai membaca

“Aku nggak mau lima tahun lagi kamu bangun terus bilang ternyata ini keputusan paling bodoh dalam hidup kamu.”

Sekar melihat wajahnya. Untuk pertama kalinya malam itu ia memahami bahwa di balik semua pertanyaan bisnis Randi, mungkin sebenarnya ada ketakutan yang tidak bisa ia ucapkan dengan baik.

Kalau Sekar pindah ke Bandung, apa yang terjadi pada mereka? Kalau hidup Sekar berubah, apakah Randi masih punya tempat di dalamnya? Dan mungkin Randi sendiri belum tahu bagaimana cara menanyakan itu. Sekar tidak menjawab langsung. Akhirnya ia hanya berkata,

“Aku lebih takut lima tahun lagi bangun dan nyesel karena nggak pernah nyoba.”

Itu bukan pertengkaran besar. Tidak ada yang meninggalkan meja. Tidak ada gelas pecah. Malam itu mereka tetap naik ke unit Sekar bersama. Randi bahkan membantu membuang sampah sebelum pulang. Tapi Sekar masih ingat bagaimana ketika pintu lift tertutup di antara mereka, ada sesuatu yang terasa sedikit bergeser. Kecil. Nyaris tidak terlihat. Seperti retakan tipis pada kaca. Belum cukup besar untuk membuat semuanya hancur. Namun sudah ada.

Awalnya mereka tetap mencoba. Randi datang ke Bandung beberapa kali ketika Sekar mulai renovasi. Ia membantu mengangkat beberapa kardus. Menghubungkan Sekar dengan temannya yang punya vendor POS.

Bahkan pernah seharian duduk di teras rumah sambil bekerja ketika tukang sedang memperbaiki bagian dapur. Randi tidak pernah benar-benar meninggalkan Sekar sendirian. Itulah mungkin yang membuat perpisahan mereka jauh lebih sulit untuk dijelaskan. Tidak ada penjahat di antara mereka. Tidak ada perselingkuhan. Tidak ada satu peristiwa besar yang bisa ditunjuk sebagai penyebab semuanya selesai. Yang ada hanya dua orang yang pelan-pelan mulai menginginkan hidup yang berbeda.

Randi menelepon setelah investor meeting. Sekar bercerita tentang mesin espresso yang rusak. Randi membicarakan ekspansi. Sekar mengirim foto tanaman baru di halaman. Randi mengirim screenshot artikel yang membahas startup-nya. Mereka masih saling berbicara. Masih menanyakan sudah makan atau belum. Masih saling mengucapkan selamat tidur. Mereka masih saling berbicara. Hanya saja semakin lama rasanya percakapan mereka terasa seperti dua orang yang sedang memberikan laporan mingguan tentang hidup masing-masing. Sampai pada suatu malam, Randi berkata,

“Kayaknya kita sekarang hidup di dua dunia yang beda.”

Sekar tidak membantah. Karena mungkin itulah kalimat paling jujur yang mereka ucapkan dalam beberapa bulan terakhir hubungan mereka. Mereka memang tidak lagi menuju tempat yang sama.  Ketika hubungan itu berakhir, Sekar tidak menangis sehebat yang pernah ia bayangkan. Mungkin karena patah hati tidak selalu terjadi tepat ketika kata putus diucapkan.

Kadang ia terjadi sedikit demi sedikit. Di percakapan yang semakin pendek. Di rencana yang berhenti memakai kata kita. Di masa depan yang tanpa sadar mulai dibayangkan masing-masing. Putus hanya menjadi pengumuman resmi dari sesuatu yang sudah lama selesai.

Karena itu Sekar cukup terkejut ketika sebuah undangan pernikahan mampu meninggalkan rasa pahit di mulutnya pagi ini. Bukan karena ia masih ingin kembali kepada Randi. Ia tahu itu. Yang dirasakannya jauh lebih aneh daripada rindu. Ia sedang berduka atas sebuah kehidupan yang pernah hampir menjadi miliknya.

Pernikahan yang pernah mereka bicarakan. Apartemen yang pernah mereka bayangkan. Anak yang pernah mereka beri nama hanya untuk bercanda.

Versi Sekar yang mungkin sekarang masih berada di Jakarta, memakai blazer, memesan kopi dari aplikasi dalam perjalanan menuju kantor, lalu pulang ke seseorang bernama Randi setiap malam. Sekarang kehidupan itu benar-benar tidak mungkin terjadi. Bukan lagi sebuah kemungkinan yang mereka batalkan. Seseorang lain akan menjalaninya.

“Neng Sekar!”

Suara motor yang berhenti di depan halaman membuat Sekar mengangkat kepala. Seorang perempuan turun dari ojek sambil membawa terlalu banyak barang untuk ukuran satu manusia. Bi Mia. Kerudung cokelatnya sedikit miring karena tertiup angin selama perjalanan. Ia merapikannya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mempertahankan beberapa kantong belanja.

Kantong plastik merah besar tergantung di tangan kiri. Di tangan kanan ada keranjang berisi daun bawang, tomat, cabai, dan beberapa bungkusan. Setelah membayar pengemudi, Bi Mia baru menyadari Sekar duduk sendirian.

“Neng Sekar, keur naon pagi-pagi bengong di luar?”

Tatapannya turun ke cup di tangan Sekar. Ekspresinya berubah.

“Astaghfirullah. Habis ngopi langsung makan es krim deui?”

Sekar tersenyum tipis.

“Cuma dua scoop.”

“Jam dalapan pagi?”

Sekar tertawa kecil. Bi Mia mengangkat salah satu kantong.

“Nih, Bibi beli bubur ti Pasar Andir. Hayu sarapan dulu. Jangan es krim wae.”

Tanpa menunggu jawaban, Bi Mia berjalan masuk sambil terus bergumam tentang anak muda yang tidak tahu cara menjaga lambung. Tanpa menunggu jawaban, Bi Mia berjalan masuk sambil terus bergumam tentang anak muda yang tidak tahu bagaimana menjaga lambung.

Sekar memperhatikannya sampai menghilang di balik pintu. Dari depan, bangunan ini masih lebih mirip rumah daripada kafe. Ia memandang rumah di hadapannya. Bangunannya sederhana. Dindingnya dicat putih bersih, dengan atap genteng merah tua yang membuat rumah itu terlihat hangat. Bagian bawah dinding masih dilapisi batu alam gelap yang sudah ada sejak Sekar kecil. Di tengah bangunan terdapat pintu kaca berdaun dua. Sekar sengaja tidak banyak mengubah bagian luar rumah.

Baru setelah mendekat, orang akan menyadari meja di teras, papan kecil dekat pintu, serta sebuah tulisan sederhana di dinding. MELTICE

Tidak ada papan penunjuk mencolok dari jalan utama. Bahkan beberapa pelanggan pertama mereka pernah mengirim pesan karena mengira Google Maps membawa mereka ke rumah seseorang. Sekar menyukai itu. Meltice tidak terasa seperti tempat yang meminta untuk ditemukan. Lebih seperti rumah yang kebetulan membiarkan orang masuk.

Belum sempat Sekar berdiri, sebuah motor lain berhenti. Kali ini seorang gadis turun. Ia melepas helm hijau milik ojek online dan buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

“Teh Sekar! Pagi!”

Dia adalah Risa waitress Meltice. Baru lulus SMK beberapa bulan lalu dan Meltice adalah pekerjaan penuh waktu pertamanya. Hampir setiap pagi Risa datang dengan energi yang membuat Sekar curiga anak itu memiliki cadangan baterai sendiri.

“Pagi.”

Risa hendak berlari masuk ketika matanya menangkap cup kosong di tangan Sekar.

“Teh Sekar makan es krim pagi - pagi?”

Sekar memicingkan mata.

“Kok semua orang hari ini ngurusin sarapan saya?”

Risa tersenyum lebar.

“Kan kemarin Teh Sekar bilang lagi ngurangin gula.”

“Saya juga pernah bilang kamu jangan telat.”

Risa langsung melihat jam.

“Delapan dua puluh tujuh. Aku masuk setengah sembilan.”

“Tiga menit lagi.”

“Nah. Berarti belum telat.”

Ia tersenyum puas lalu berlari masuk. Sekar menggeleng. Beberapa detik kemudian terdengar suara Risa dari dalam.

“Kang Rakha! Hair tie aku ada di sini nggak?”

“Mana saya tahu.”

“Kemarin aku pinjem punya Akang!”

“Nah, berarti punya saya.”

“Ya terus mana?”

“Kalau saya tahu, saya pakai dari tadi.”

“Kang, rambut Akang udah diiket!”

“Oh iya.”

Sekar akhirnya tertawa. Entah kenapa suara ribut mereka terasa melegakan. Ponselnya kembali bergetar. Sekar menunduk. Pesan kedua. Kali ini benar-benar dari Randi.

Kar, sorry ngirim undangannya tiba-tiba. Aku sebenarnya udah beberapa kali mau bilang langsung. Semoga kamu baik-baik aja di Bandung.

Sekar membaca bagian terakhir dua kali. Semoga kamu baik-baik aja di Bandung. Sebuah kalimat yang seharusnya biasa. Tapi entah mengapa membuat sesuatu di dadanya bergetar. Karena setahun lalu, pertanyaan terbesar mereka memang itu.

Apakah Sekar akan baik-baik saja setelah memilih Bandung? Apakah ia akan menyesal? Apakah meninggalkan karier yang dibangunnya hampir sepuluh tahun hanya merupakan keputusan emosional setelah kehilangan nenek? Apakah kafe kecil di sebuah gang ini benar-benar kehidupan yang ia inginkan?

Sekar mengangkat wajah. Dari balik kaca, ia bisa melihat Rakha menata cangkir di atas mesin kopi. Bi Mia berjalan menuju dapur sambil membawa belanjaan. Risa menyeka meja dengan gerakan terburu-buru meskipun kafe bahkan belum dibuka. Sesekali ia berhenti hanya untuk mengatakan sesuatu kepada Rakha, lalu tertawa sendiri.

Sekar seharusnya merasa yakin. Ia sudah memilih semua ini. Tapi mungkin keputusan yang benar pun tidak selalu membuat kita berhenti mempertanyakan pilihan lain. Kadang kita bisa bahagia dengan kehidupan yang kita pilih sekaligus sedikit berduka untuk kehidupan yang tidak jadi kita jalani. Keduanya bisa tinggal di hati yang sama.

Sekar mengetik balasan.

Terima kasih undangannya, Ran. Selamat ya. Semoga semuanya lancar.

Ia berhenti. Lalu menambahkan satu kalimat.

Aku baik-baik di Bandung.

Sekar memandanginya beberapa detik. Lalu menekan kirim. Tidak ada sesuatu yang dramatis setelahnya. Tidak ada rasa lega besar. Tidak ada jawaban tentang apakah hidup yang dipilihnya adalah hidup yang paling benar. Hanya dua centang kecil yang muncul di layar. 

Dan mungkin memang begitu sebagian besar hal dalam hidup berakhir. Tidak dengan musik. Tidak dengan penjelasan panjang. Kadang hanya dengan dua orang yang akhirnya berjalan menuju kehidupan masing-masing. Sekar memasukkan ponsel ke saku apronnya.

“Neng!”

Suara Bi Mia terdengar dari dalam.

“Buruan buburna tiis!”

“Iya, Bi!”

Sekar berdiri dan membawa cup kosongnya masuk. Begitu membuka pintu, dia membuang cup kosong itu ke tempat sampah, suara dari dalam langsung menyambutnya.

“Kang Rakha, aku bilang jangan taruh lap di sini!”

“Kenapa?”

“Nanti kelihatan customer.”

“Customer-nya belum ada.”

“Ya nanti kan ada.”

“Berarti nanti dipindahin.”

“Kenapa nggak sekarang aja?”

Rakha menatap Risa beberapa detik. Kemudian memindahkan lap itu tanpa berkata apa-apa. Risa tersenyum puas. Sekar melewati mereka menuju dapur.

“Teh,” panggil Risa.

“Hm?”

“Jam sembilan aku boleh balik papan closed-nya, kan?”

Sekar melihat jam. Masih tiga puluh menit lagi.

“Kamu semangat banget buka.”

Risa mengangguk.

“Soalnya kalau sepi aku ngantuk.”

Rakha menyela tanpa menoleh.

“Kalau rame juga kamu ngantuk.”

“Itu beda.”

“Apa bedanya?”

“Kalau rame malu tidurnya.” 

Rakha mengangguk seolah jawaban itu sangat masuk akal.

“Oh.”

Sekar kembali tertawa. Ia masuk ke dapur dan menemukan semangkuk bubur sudah menunggu di meja. Bi Mia meletakkan irisan daun bawang ke dalam sebuah wadah.

“Nah, makan.”

Sekar duduk.

“Bi.”

“Hm?”

“Menurut Bibi, orang bisa bahagia sama hidup yang dia pilih tapi tetap kepikiran hidup yang nggak dia pilih nggak?”

Bi Mia berhenti memotong. Ia menoleh ke Sekar dengan ekspresi seperti seseorang yang baru saja diberi soal ujian tanpa persiapan.

“Kumaha?”

Sekar tertawa kecil.

“Nggak jadi.”

Bi Mia kembali memotong daun bawang. 

“Udah. Buburna makan. Keburu dingin.”

Sekar tersenyum.

“Iya, Bi.”

Ia mulai makan. Beberapa menit kemudian, ketika berjalan kembali ke depan, Sekar berhenti di tengah ruangan. Ada sesuatu yang selalu ia sukai dari Meltice sebelum jam buka. Kafe itu berada dalam keadaan di antara. Tidak benar-benar kosong, tetapi belum dipenuhi orang.

Rakha sedang mengecek mesin espresso. Risa merapikan sendok dan tisu di setiap meja. Bi Mia terdengar membuka-buka lemari di dapur. Playlist pagi belum dinyalakan. Hanya ada suara benda-benda kecil yang sedang dipersiapkan untuk memulai hari.

Pagi itu ia belum tahu siapa saja yang akan datang ke Meltice. Seorang mahasiswa mungkin akan mengambil meja dekat jendela dan mengerjakan skripsinya selama empat jam hanya dengan satu americano. Seorang ibu mungkin akan datang bersama anaknya sepulang sekolah. Seseorang mungkin akan bertemu seseorang yang sudah lama tidak ditemuinya. Seseorang mungkin hanya akan mampir sebentar lalu tidak pernah kembali lagi.

Sekar belum tahu. Itulah salah satu hal yang mulai ia sukai dari pekerjaannya sekarang. Dulu, hampir semua hal dalam hidupnya harus direncanakan. Campaign punya timeline. Meeting punya agenda. Target punya angka. Karier punya jenjang. Bahkan hidup seolah harus memiliki roadmap.

Di Meltice, tidak semuanya bisa direncanakan. Orang datang membawa kehidupan mereka sendiri. Lalu duduk sebentar di salah satu meja. Kadang hanya tiga puluh menit. Kadang berjam-jam. Dan Sekar perlahan mulai memahami bahwa sebuah tempat tidak menjadi berarti karena apa yang dijual di dalamnya. Melainkan karena cerita apa saja yang pernah berhenti di sana. Pukul sembilan tepat, Risa membalik papan kecil di pintu.

CLOSED menjadi OPEN.

Rakha menyalakan playlist pagi. Sekar berdiri di belakang coffee bar sambil mengikat kembali apronnya. Bel kecil di atas pintu berbunyi. Pelanggan pertama pagi itu masuk. Risa langsung berdiri tegak.

“Selamat pagi, Kak. Silakan.”

Rakha mengambil gelas dari rak. Sekar menarik napas kecil. Lalu tersenyum. Hari baru di Meltice dimulai.

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 02 / 2
Meltice: Satu Scoop yang Tidak Pernah Kamu Pesan
01

Es Krim Coklat Yang Hangat (Part 1)

2.468 kata / Terkunci

02

Es Krim Coklat Yang Hangat (Part 2)

1.861 kata / Sedang dibaca