meltice
Meltice: Satu Scoop yang Tidak Pernah Kamu Pesan
Mulai membaca
Jam dinding di ruang makan baru saja menunjukkan pukul enam pagi. Udara Bandung sedang dingin-dinginnya. Kaca jendela dapur masih sedikit berembun, dan cahaya pagi belum benar-benar masuk ke dalam rumah. Tapi di dalam rumah, dapur sudah hangat oleh oven yang menyala sejak sebelum matahari naik.
Ratih sudah berdiri di depan oven dengan apron coklat yang diikat rapi di pinggang. Ia membuka pintu oven sebentar, memastikan suhu di dalamnya sudah cukup panas, lalu memasukkan satu loyang berisi adonan banana muffin yang tadi ia siapkan sejak subuh. Dua belas cup kertas tersusun rapi di dalamnya, permukaan adonannya masih pucat dan sedikit mengkilap. Pintu oven ditutup. Timer dinyalakan. Dua puluh lima menit.
Cukup untuk membuat cream cheese frosting. Di atas meja, tiga mangkuk kaca sudah menunggu. Mangkuk paling besar berisi enam ratus gram cream cheese. Warnanya putih pucat, padat, tetapi lembut ketika ditekan spatula. Di sampingnya ada enam puluh lima gram mentega tawar yang sejak tadi dibiarkan berada di suhu ruang. Warnanya sedikit lebih kuning, seperti satu-satunya benda yang berani berbeda diantara bahan-bahan berwarna pucat pagi itu. Mangkuk terakhir berisi gula halus. Seratus tiga puluh gram.
Ratih selalu menimbangnya dengan teliti. Gula halus terlalu ringan untuk dipercaya hanya dengan perkiraan. Sedikit saja mangkuknya tersenggol, butiran putihnya bisa beterbangan dan menempel di meja, celemek, bahkan rambut.
Sebuah mixer sudah terpasang di sebelahnya. Di rak pendingin, tiga loyang carrot cake yang ia panggang semalam sudah dikeluarkan dari kulkas. Permukaannya kecoklatan dan sedikit tidak rata, dengan aroma kayu manis yang masih samar meski kuenya sudah dingin.
Hari itu Ratih punya beberapa pesanan yang harus diselesaikan sejak pagi. Satu carrot cake ukuran besar untuk sebuah café yang rutin mengambil kuenya, dua loaf cake untuk pelanggan langganan, dan satu kotak banana muffin pesanan teman sekantor Anton yang hari itu akan menjalani hari terakhirnya sebelum resign.
Ratih memasukkan cream cheese dan mentega ke dalam satu mangkuk besar, lalu menyalakan mixer dengan kecepatan paling rendah. Bunyi dengungnya segera memenuhi dapur.
Awalnya, cream cheese dan mentega masih terlihat seperti dua benda berbeda. Putih dan kuning saling bertabrakan setiap kali pengaduk berputar. Ratih menggerakkan mixer perlahan mengelilingi mangkuk, memastikan bagian pinggir ikut tercampur.
Dari lantai atas terdengar suara pintu kamar dibuka.
“Ayu, bangun dulu.”
Suara Anton, suaminya terdengar. Namun tidak ada jawaban. Beberapa detik kemudian terdengar lagi, kali ini lebih keras.
“Ayo. Kalau lima menit lagi, nanti lima menitnya jadi lima belas.”
Ratih tersenyum kecil tanpa menghentikan mixer. Lima tahun menikah membuatnya tahu satu hal tentang suaminya: Anton suka menjelaskan segala sesuatu seperti sedang memberi briefing kepada pegawai bank. Beberapa menit kemudian terdengar langkah kaki kecil di lorong.
Cream cheese dan mentega mulai menyatu menjadi warna putih kekuningan yang halus.
Dari pintu dapur muncul Ayu dengan piyama strawberry kesayangannya. Rambut hitamnya berantakan ke segala arah, satu sisi bahkan masih menempel di pipi bekas tidur. Di belakangnya Anton berjalan sambil membawa sikat gigi kecil berwarna merah muda.
“Ayo, cuci muka sama sikat gigi dulu,” katanya.
Ayu berjalan menuju kamar mandi dengan mata setengah tertutup. Anton menahan tawa. Beberapa menit kemudian Ayu muncul lagi dengan wajah yang masih basah. Matanya sudah sedikit lebih terbuka. Ia berjalan melewati dapur, lalu tiba-tiba berhenti.
Hidung kecilnya mengendus udara. Sekali. Dua kali.
“Hmmm…”
Ratih menoleh. Ayu mengendus sekali lagi dengan serius.
“Hari ini wanginya banana.”
“Hidung siapa itu?”
Ayu menunjuk dirinya sendiri dengan bangga.
“Hidung Ayu.”
Ratih tertawa kecil.
“Pinter.”
Ayu langsung melihat ke arah oven.
“Hari ini ibu bikin banana muffin buat Ayah bawa ke kantor,” jawab Anton.
Wajah Ayu langsung berubah.
“Semua?”
“Kalau Ayu cepat mandinya hari ini, mungkin ada satu yang bisa dimakan sebelum sekolah.” kata Ratih sambil mematikan mixer.
Ayu langsung berlari kecil meninggalkan dapur. Ratih tertawa kecil melihatnya. Pemandangan seperti itu sudah menjadi bagian dari pagi mereka sekarang. Oven menyala sebelum matahari terbit. Pesanan memenuhi meja makan. Kotak-kotak kue tersusun di sudut dapur.
Kadang kurir datang ketika Ratih masih mengenakan apron. Kadang seorang pelanggan mengirim pesan bahkan sebelum ia selesai mengantar Ayu ke sekolah. Kalau seseorang mengatakan lima tahun lalu bahwa suatu hari dapur rumahnya akan menjadi tempat ia bekerja, Ratih mungkin akan tertawa. Karena waktu pertama kali pindah ke Bandung, membuat kue bahkan tidak pernah masuk ke dalam rencana hidupnya.
Saat itu suaminya, Anton mendapat promosi untuk menjadi kepala cabang di kantor Bandung. Dan Ratih baru saja menjadi ibu. Ditambah ia baru saja berhenti dari pekerjaannya sebagai customer service di sebuah bank di Jogja. Pindah kota terasa seperti beban tambahan yang cukup berat untuk dijalani.
Tahun pertama hidupnya di Bandung hampir seluruhnya tentang putri kecilnya. Jadwal imunisasi. MPASI. Demam tengah malam. Mencari dokter anak. Mencuci botol susu. Belanja kebutuhan rumah. Menghafal jalan di kota yang belum dikenalnya.
Hari-harinya terasa sibuk, begitu sibuk sampai Ratih tidak sadar kapan tepatnya ia mulai merasa kehilangan sesuatu. Mungkin ketika Ayu sudah mulai bisa makan sendiri. Atau ketika anaknya mulai punya teman di playgroup. Atau mungkin ketika suatu pagi Anton berangkat kerja dan Ratih berdiri di depan pintu sambil menyadari bahwa suaminya pergi menuju dunia yang masih terus bergerak, sementara dunianya terasa hanya berputar di tempat yang sama.
Anton pulang membawa cerita yang beragam. Tentang rapat, pegawai baru, target kantor atau tentang nasabah yang menyebalkan. Kadang Ratih mendengarkan sambil melipat pakaian Ayu. Kadang sambil menyiapkan makan malam. Kadang sambil berpikir bahwa dulu ia juga punya cerita semacam itu.
Dulu ada orang yang mengenalnya sebagai Ratih. Bukan Ibunya Ayu. Bukan istrinya Pak Anton. Hanya Ratih. Empat tahun setelah pindah ke Bandung, pertanyaan itu semakin sering muncul di kepalanya: sebenarnya selain menjadi ibu dan istri, aku ini siapa?
Ia malu setiap kali memikirkannya. Bukankah ia memiliki keluarga yang baik? Anton tidak pernah melarangnya melakukan apa pun. Ayu tumbuh dengan sehat. Mereka hidup berkecukupan. Seharusnya itu cukup, begitu yang sering Ratih katakan pada dirinya sendiri.
Ketika Ayu mulai masuk playground dan waktunya sedikit lebih longgar, Ratih memutuskan untuk kembali bekerja. Mungkin dengan bekerja ia akan bisa mengisi rasa kosong yang tiba-tiba muncul itu. Ia mulai memperbarui CV lamanya pada malam-malam setelah Ayu tidur. Lalu mulai mengirim lamaran. Satu. Dua. Sepuluh. Dua puluh. Beberapa tidak pernah dibalas. Beberapa berakhir setelah wawancara pertama. Ada recruiter yang bertanya,
“Empat tahun terakhir kegiatannya apa, Bu?”
“Mengurus anak.”
“Oh.”
Jawaban itu hanya satu suku kata. Diwawancara lain, seseorang bertanya apakah ia yakin masih bisa mengikuti ritme kerja penuh waktu setelah lama menjadi ibu rumah tangga. Ratih menjawab yakin. Tapi dalam perjalanan pulang, ia justru bertanya kepada dirinya sendiri: apa iya aku masih bisa?
Satu penolakan mungkin tidak berarti banyak. Tapi penolakan yang datang berulang-ulang justru membuat perasaan tidak cukup dalam hatinya semakin berat. Ratih mulai berhenti mencoba melamar pekerjaan. Kemudian berhenti bercerita kepada Anton setiap kali ia mendapat email penolakan.
Sampai saat ulang tahunnya yang ketiga puluh empat datang. Beberapa hari sebelumnya, Ratih baru saja menerima penolakan dari perusahaan yang cukup ia harapkan. Hari ulang tahunnya jatuh pada hari Sabtu. Pagi itu ia bangun karena mendengar suara benda jatuh dari arah dapur. Lalu suara Ayu.
“Yah! Tumpah!”
“Nggak apa-apa. Jangan diinjek dulu.”
Ratih turun dari kamar. Begitu masuk ke dapur, ia berhenti. Tepung tercecer di atas meja. Satu spatula tergeletak dekat wastafel. Ada noda putih di lantai. Anton berdiri dengan apron milik Ratih yang tidak diikat karena terlalu kecil untuk badannya.
Sementara Ayu yang waktu itu baru empat tahun, berdiri di atas bangku kecil dengan sedikit krim putih menempel di ujung hidung. Di tengah meja ada sebuah kue. Bentuknya sedikit miring. Frosting-nya tidak rata. Dan di atasnya ada hiasan wortel kecil berwarna oranye dan hijau yang bentuknya lebih menyerupai cabai.
Ratih memandangnya beberapa detik.
“Apa ini?”
Ayu menjawab paling cepat.
“Carrot cake!”
Anton mengangkat kedua tangan.
“Jangan lihat bentuknya ya bu, tapi usahanya.”
Ratih tertawa. Tawa pertama yang terasa benar-benar lepas setelah beberapa hari.
“Kalian bikin ini?”
“Ayu yang aduk,” kata Ayu bangga.
Anton mengangguk lalu mengambil satu lilin kecil dari laci dapur, menancapkannya di tengah carrot cake yang bentuknya sedikit miring itu, lalu menyalakannya.
“Ya udah, jangan diketawain terus. Tiup lilin dulu,” katanya.
Ayu langsung bertepuk tangan.
“Wish dulu, Bu!”
Ratih tertawa kecil.
“Memangnya Ayu tahu make a wish?”
“Tahu. Harus tutup mata.”
Ratih menatap dua api kecil yang bergoyang di atas frosting yang tidak rata. Biasanya dia selalu punya daftar panjang saat ulang tahun. Umur panjang. Sehat. Rezeki. Pekerjaan baru. Rumah yang lebih besar. Liburan ke tempat yang jauh.
Namun beberapa bulan terakhir ia terlalu sibuk mencari pekerjaan sampai hampir semua harapannya berubah menjadi satu hal yang sama: semoga ada yang menerima aku. Sekarang, di depan kue yang dibuat berantakan oleh suami dan anaknya, keinginan itu tiba-tiba terasa terlalu sempit. Ratih menutup mata sebentar. Lalu meniup lilin. Api kecil itu padam hampir bersamaan. Asap tipis naik di atas carrot cake.
“Yeaaay!” Ayu berteriak paling keras.
Anton bertepuk tangan sambil tersenyum.
“Semoga terkabul.”
Ratih merasa bahagia. Bukan karena rasanya. Tapi karena Anton masih ingat. Di tengah beberapa bulan ketika Ratih sendiri seperti lupa apa yang ia sukai, suaminya masih mengingat bahwa carrot cake selalu menjadi kue favoritnya.
Siang itu Ratih memotret cake tersebut di dekat jendela. Ia mengunggahnya ke akun Instagram keduanya @RatihFood, sebuah akun kecil yang selama bertahun-tahun menjadi semacam food diary. Berisi café yang ia datangi. Makanan yang ia coba. Catatan singkat tentang tempat-tempat makan. Pengikutnya tidak banyak. Sebagian besar hanya teman. Ratih menulis:
Birthday carrot cake made by Anton & Ayu. Visually questionable, emotionally 10/10.
Ia tertawa sendiri ketika mengunggahnya. Lalu beberapa menit kemudian, sambil melihat foto itu lagi, Ratih mendadak berpikir: kalau aku coba bikin sendiri gimana?
Malam harinya, setelah Ayu tidur, Ratih mencari resep carrot cake. Ia membuka satu resep. Lalu resep lain. Membandingkan takaran wortel. Mencari tahu kenapa ada resep yang menggunakan minyak dan ada yang memakai mentega. Membaca perbedaan cream cheese frosting dan buttercream.
Carrot cake pertama terlalu basah. Yang kedua terlalu manis. Yang ketiga masih belum sesuai ingatannya. Ratih justru semakin penasaran. Ia terus mencoba lagi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sesuatu yang membuat Ratih ingin bangun lebih pagi.
Bukan karena Ayu harus sekolah. Bukan karena Anton harus berangkat kerja. Bukan karena rumah harus dibersihkan. Tapi karena ia sendiri ingin melakukan sesuatu. Pelan-pelan, akun food diary-nya berubah. Dari foto makanan yang ia beli menjadi makanan yang ia buat. Temannya mulai bertanya apakah kuenya dijual. Tetangganya minta dibuatkan banana bread. Seseorang memesan carrot cake untuk ulang tahun ibunya. Pesanan pertama datang.
Beberapa minggu kemudian, sebuah plang kecil dipasang di depan rumah mereka. Dasarnya putih gading, dengan tulisan Ratih BakeHouse berwarna hijau tua yang lembut. Plang itu berdiri di dekat pagar depan, di antara pot-pot tanaman yang dirawat Anton dan sepeda kecil Ayu yang kadang tergeletak sembarangan.
Ukurannya tidak besar. Tidak cukup mencolok untuk membuat orang yang lewat berhenti. Tapi cukup jelas bagi kurir yang mencari alamat, pelanggan yang datang mengambil pesanan, atau tetangga baru yang bertanya dari mana aroma kue setiap pagi berasal.
Kadang saat memandangi plang di depan rumahnya itu ada perasaan aneh yang Ratih raska, aneh tapi menyenangkan. Jika dipikir - pikir carrot cake pertama yang ia makan di usia sepuluh tahun juga terasa aneh. Wortel dan kue. Dua hal yang menurutnya tidak seharusnya berada di tempat yang sama. Tapi ternyata, setelah dicoba, justru menjadi rasa yang tidak pernah ia lupakan.