Fyda Fauziyyah
Martabak, Kosan Sempit, dan Pelajaran Jadi Orang Dewasa
Mulai membaca
Aku tumbuh besar dengan menyaksikan sebuah keajaiban yang kusebut "Mama". Di mataku, Mama adalah pusat dari segala hal yang ada di rumah kami. Ia adalah mesin yang tidak pernah mengenal kata lelah, seorang istri dengan kesetiaan yang tak tergoyahkan, ibu yang mencintai tanpa syarat, dan sosok kakak yang selalu ada sebelum kata "tolong" sempat terucap. Mama mengurus ribuan hal sekaligus dengan ketenangan yang menakutkan, seolah-olah dunia kami akan runtuh berkeping-keping jika ia berhenti bernapas sejenak saja.
Dan jujur saja, mungkin sebagian dari dunia kami memang akan benar-benar runtuh tanpanya.
Awalnya aku tidak mengerti dari mana rasa marah itu muncul. Namun kini aku tahu: aku marah karena Mama terlalu baik. Aku marah karena ia selalu menaruh dirinya di urutan paling belakang, setelah urusan suami, anak-anak, pekerjaan, dan keluarga besarnya selesai. Aku marah karena ia mencintai orang-orang di sekitarnya sampai-sampai dirinya sendiri tidak lagi tersisa. Mama memberikan segalanya, hingga ia lupa menyisakan sedikit saja untuk jiwanya sendiri.
Mama tidak pernah belajar cara berkata “tidak.” Ia tetap berdiri tegak saat tubuhnya sudah menjerit minta istirahat. Ia tetap tersenyum lebar saat hatinya sedang patah berkeping-keping. Ia lebih memilih diam seribu bahasa saat ia merasa kecewa atau dikhianati. Ia hampir tidak pernah menuntut, jarang sekali meminta, dan yang paling menyedihkan: bahkan ketika ia benar-benar butuh bantuan, ia tidak tahu bagaimana caranya mendahulukan dirinya sendiri tanpa merasa bersalah.
Dan yang membuatku jauh lebih marah lagi adalah kenyataan bahwa aku menyerap semua itu darinya.
Tanpa sadar, aku belajar menjadi perempuan "kuat" dengan cara menahan sakit sendirian. Aku belajar mencintai dengan cara mengorbankan keinginanku demi kenyamanan orang lain. Aku tumbuh dengan keyakinan bawah sadar bahwa menjadi perempuan yang baik berarti tidak boleh merepotkan, tidak boleh terlalu berisik, tidak boleh banyak menuntut, dan harus selalu ada untuk kebutuhan dunia di luar sana.
Mungkin, cara terbaik untuk menghormati pengorbanan Mama bukanlah dengan menirunya mentah-mentah, melainkan dengan menjadi versi perempuan yang lebih bahagia. Perempuan yang berani bersuara, berani meminta, dan berani untuk merasa cukup. Aku ingin sembuh dari luka yang tak pernah sempat ia rawat, agar kelak, jika aku memiliki anak perempuan, aku tidak akan mewariskan koper yang sama beratnya.
Mama adalah pahlawanku, tapi aku ingin menjadi perempuan yang utuh, yang mencintai dunia, tapi tetap menyisakan ruang yang luas untuk mencintai dirinya sendiri.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Martabak, Kosan Sempit, dan Pelajaran Jadi Orang Dewasa.