CTP18
LOVE BEYOND CONTROL
Mulai membaca
Setiap langkah Farel di koridor temaram terasa begitu berat. Pergolakan batin di dalam dadanya berkecamuk hebat, saling menghantam antara sisa-sisa moralitas dan gairah terlarang yang membakar jiwanya.
"Aku harus berhenti. Ini sudah jelas-jelas salah. Tapi sensasi panas ini bikin aku makin gila. Aku cuma ingin menyentuh wanita sekarang. Cuma sebentar saja, cuma sebentar. Mungkin Ibu tiriku akan marah besar nanti. Tapi aku tidak bisa tahan lagi," batinnya menggeram, mencoba membenarkan dorongan impulsif yang menguasai pikirannya.
Pintu kamar Dewi ternyata tidak terkunci rapat, menyisakan celah tipis. Farel mendorongnya perlahan, melangkah masuk ke dalam area pribadi wanita itu.
Suasana kamar terasa begitu sunyi dan hangat. Hanya lampu tidur kecil berdaya redup di sudut meja yang menyala, memancarkan pendar kuning lembut yang membiaskan bayangan panjang di dinding.
Dewi sudah berbaring di atas tempat tidur besarnya. Daster tipis tiga kancing berwarna maroon itu masih melekat di tubuhnya yang padat terawat. Napas wanita itu terdengar teratur, seolah-olah sudah tertidur nyenyak di balik selimut tipis.
Farel mendekat ke tepi tempat tidur dengan langkah yang sangat pelan, hampir tanpa suara. Jantungnya berdegup kencang bak derap genderang perang. Di dalam celana pendek kainnya, pusakanya yang menegang kaku berdenyut-denyut menyiksa, menekan kain celana dengan sangat kuat ke arah atas.
"Maaa, aku barusan mimpi aneh Ma. Aku takut tidur sendiri Ma," ucap Farel lirih. Rengekan itu terdengar bertolak belakang dengan postur tubuhnya yang sudah menjadi pria dewasa.
Dewi bergerak pelan, seolah baru terjaga dari tidur lelapnya. Ia membuka mata, memandang Farel yang berdiri kaku di samping tempat tidurnya. Di bawah pendar cahaya remang, paras wanita tiga puluh delapan tahun itu tampak begitu cantik jelita dan lembut.
"Kok kamu belum tidur, Farel?" suara Dewi terdengar serak khas orang bangun tidur.
Farel menjawab dengan nada polos yang gemetar, menundukkan kepalanya. "Aku, aku mimpi aneh, Ma. Nggak berani tidur sendiri di kamar untuk saat ini Ma. Aku boleh tidur di sini sebentar kan Ma?"
Dewi terdiam sejenak. Matanya menyapu wajah Farel yang tampak tegang dan memerah, sebelum pandangannya menyenggol lipatan celana pendek anak tirinya yang menonjol keras. Ia menyembunyikan senyum samar yang melengkung licik di balik kegelapan, Dewi menggeser tubuhnya sedikit untuk memberi ruang di atas kasur.
"Boleh Farel, Sini Nak"
Farel naik ke atas tempat tidur dengan gerakan yang ekstra hati-hati. Ia berbaring miring di samping ibu tirinya. Jarak di antara mereka begitu dekat—hanya tersisa belasan sentimeter. Aroma harum sabun mandi bercampur parfum mawar khas tubuh Dewi langsung menyeruak memenuhi indra penciuman Farel yang makin membuat kepalanya pusing oleh gairah yang tertahan sepanjang waktu.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari LOVE BEYOND CONTROL.