CTP18
LOVE BEYOND CONTROL
Mulai membaca
Farel duduk terpaku menatap keranjang sampah itu. Penyesalan perlahan menggerogoti jiwanya. Namun, ada hal aneh yang sedang terjadi pada biologisnya. Obat perangsang yang diracik Dewi di dalam gelas susunya belum sepenuhnya reda. Cairan kimia itu masih bersirkulasi aktif di dalam aliran darahnya.
Hanya dalam kurun waktu lima menit setelah kenikmatan dahsyat itu, rasa panas di ulu hatinya mendadak menyala kembali.
Farel memegang dadanya yang kembali berdetak kencang. Di balik celana dalamnya yang melorot, pusakanya yang baru saja lemas mendadak kembali menegang keras. Bahkan kali ini, kekerasannya terasa jauh lebih ngilu, lebih kaku, dan lebih membara dari sebelumnya. Pembuluh darah di sekitarnya berdenyut-denyut kencang, menuntut pelampiasan yang jauh lebih nyata daripada sekadar sentuhan tangannya sendiri.
Farel menjadi sangat gelisah. Tubuhnya tidak mau diajak kompromi. Dalam kondisi linglung dan terdesak oleh insting biologis yang pekat, Farel meraih ponselnya dari atas kasur. Dengan jemari yang masih terasa sedikit lengket, ia membuka aplikasi peramban internet. Ia mengetikkan kata kunci pencarian secara asal, mencari artikel tentang dorongan gairah pria, kebutuhan biologis, dan cara mengatasi ketegangan yang menyiksa.
Namun, semakin banyak baris kalimat yang ia baca di layar ponsel, bayangan-bayangan pemuas fantasi itu justru makin liar memenuhi kepalanya. Tulisan-tulisan itu bukannya mendinginkan kepalanya, melainkan makin membakar nalurinya sebagai pria dewasa. Pergolakan batinnya di dalam kamar yang sepi itu kian tak terkendali.
"Daripada cuma main sendiri, buang-buang tisu, dan tetap merasa tersiksa begini, kenapa aku tidak langsung mendatangi sumbernya?, soal ini salah nanti aku pikirkan, sekarang aku hanya sudah tidak tahan lagi" sebuah pemikiran liar dan berbahaya mendadak terlintas di benaknya.
Farel dengan cepat menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran gilanya. "Tidak! Tidak boleh! Dia ibu tiriku! Dia wanita yang diamanatkan Ayah untuk ku jaga. Aku tidak boleh melampaui batas ini!"
Namun akal sehatnya telah kalah telak oleh efek obat yang menguasai seluruh sistem sarafnya. Rasa panas yang membakar selangkangannya membuat seluruh moralitas yang ia pegang teguh mendadak menguap tanpa sisa.
Farel meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan. Ia menarik celana pendeknya kembali ke atas, meski tonjolan besar di bagian depannya masih tercetak sangat jelas dan menegang kaku.
Dengan kaki yang terasa agak goyah dan berat, Farel melangkah menuju pintu kamar. Tangannya memutar kunci pintu, mengeluarkan suara klik pelan yang memecah keheningan. Ia membuka pintu kayu itu sedikit, lalu melangkah keluar menuju koridor rumah yang temaram dan sunyi.
Hanya ada satu lampu dinding berdaya rendah di ujung lorong yang menyalakan pendar kuning samar-samar. Udara malam di koridor itu terasa dingin, namun tak sedikit pun sanggup mendinginkan tubuh Farel yang membara.
Dengan napas tertahan, dada berdebar kencang, dan ketegangan fisik yang sudah berada di puncaknya, Farel melangkahkan kakinya lurus menuju pintu kamar Dewi yang berada di ujung lorong.kinya lurus menuju pintu kamar Dewi yang berada di ujung lorong.