N. Lucien
Kusumaloka
Mulai membaca
Ke mana pun Istari melangkah, bisikan riuh rendah senantiasa mengiringi, meski hanya menempuh beberapa jengkal jarak dari rumah menuju kediaman Nyai Arum untuk mengantar bobok. Gadis berambut pendek ini telah mengalami perlakuan tersebut sepanjang usia yang seumur jagung itu, sehingga tidak ada hal baru lagi yang bisa mereka dengungkan tentangnya. Mulai dari para lansia yang bercengkerama di depan balai tempat diselenggarakan posyandu bagi penduduk berusia senja, segerombol perempuan paruh baya saat beristirahat di saung setelah setengah hari berada di ladang, hingga mudi belia yang berpapasan sepulang mereka dari sekolah, hampir semua orang di desa Aren Wangi ini membicarakan kekurangan Istari setiap kali ada kesempatan.
Istari mengayunkan tungkainya dengan lebih cepat, hingga tibalah ia di kediaman Nyai Arum. Saat ia mengetuk pintu depan sambil beruluk salam, seorang perempuan berumur muncul membukakan pintu. Istari mengenalnya sebagai Mbok Kasiya, perempuan yang mengabdikan masa tuanya dengan menjadi emban di rumah ini.
“Ada apa, Tari?” tanya Mbok Kasiya. Istari mengeluarkan jambangan bertutup dari dalam tas anting yang ia jinjing, kemudian menyerahkan pada Mbok Kasiya.
“Ini pesanan Nyai Arum,” ucapnya santun dengan kepala tertunduk takzim. Bagaimana pun juga, Mbok Kasiya adalah paraji yang menolong proses persalinannya lima belas tahun lalu, sehingga ia sudah selayaknya menghormati beliau sebesar penghargaan orang-orang Aren Wangi terhadap Nyai Arum. “Dari Ibu,” tambah Istari ketika dirasa Mbok Kasiya tidak kunjung menerima wadah berbahan gerabah tersebut dari tangannya.
Diiringi bunyi tarikan napas panjang, jambangan tersebut akhirnya berpindah kepemilikan. Istari membungkukkan badan sebelum undur diri. Meski belum jauh dilangkahkannya sepasang tungkai tersebut, terdengar kembali panggilan dari Mbok Kasiya yang membuat Istari berhenti berjalan.
“Berapa kali?”
“Dalem?”
“Pakainya berapa kali?” ulang Mbok Kasiya.
“Oh …” Mengingat-ingat pesan ibunya tadi, Istari menjawab. “Pagi dan sore, Mbok. Dioles saja, ditunggu sampai kering, lalu dibilas air hangat.”
Mbok Kasiya kembali menyiuk, “Suwun ya, bilang ke ibumu. Nanti Mbok sampaikan ke Nyai Arum kalau sudah pulang dari kota.”
“Pareng, Mbok,” ucap Istari kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri halaman depan kediaman Nyai Arum yang hampir seluas rumahnya.
Satu-satunya alasan mengapa Nyai Arum mencari jasa ibu Istari ialah, sebab Nyai berparas ayu tersebut sedang menemani Ki Satria Wirang turun ke kota untuk suatu urusan. Desa Aren Wangi terletak di lereng gunung Hargokusumo menyebabkan daerah ini memiliki suhu udara lebih sejuk dari daerah lain di Kadipaten Kusumaloka. Itu sebabnya, Nyai Arum tidak ingin warna kulitnya yang putih langsat menjadi gelap sekembalinya dari Kartasura.
Ibu Istari, Roro Kemuning, adalah seorang mantri di sini. Selain mengobati orang sakit, Roro Kemuning juga menerima pesanan khusus seperti membuatkan jamu rapet wangi bagi para perempuan yang sudah menikah, serta bobok temu giring untuk mencerahkan kulit. Sebagai anak yang tidak pernah mengenyam pendidikan, Istari menghabiskan seluruh waktunya untuk membuntuti sang Ibu atau Bapak setiap saat. Orang tua Istari bukannya tidak mampu untuk menyekolahkan dia, tetapi tidak ada sekolah yang mau menerima. Alasan utama, sebab Istari telah berkekurangan sejak lahir; yakni tidak memiliki perlambang bunga saat dilahirkan.
Seluruh perempuan di Kusumaloka terlahir bersamaan dengan perlambang bunga yang menentukan status sosial mereka. Bunga tersebut tumbuh liar di sepetak tanah di halaman tempat ari-ari mereka kelak akan dikuburkan. Ada tujuh macam bunga yang menjadi bunga perlambang kelahiran, yang paling tinggi serta kian jarang ditemukan adalah Wijoyokusuman. Sebab kuntum-kuntum lebar mempesona dan aroma semerbak yang menguar dari kembang itu, membuat anak-anak perempuan yang terlahir bersamaan dengan kemunculan bunga tersebut memiliki nasib paling baik dari lainnya. Para pemimpin bangsa yang telah membawa Kerajaan Bawonomandala pada kejayaan hingga beberapa tahun belakangan adalah pria-pria yang dilahirkan oleh perempuan-perempuan ini. Sebab itulah, para priyayi, wedana, maupun pangeran dan raja dari wilayah di luar Kusumaloka berbodong-bondong datang ke sini untuk mencari istri.
Jika tak bisa mendapatkan Wijoyokusuman, maka mereka mencari para Mlathi, yang berada di urutan kedua. Sebagaimana namanya, bunga Mlathi yang juga dijadikan simbol kepangkatan tertinggi keprajuritan, melahirkan anak-anak dengan potensi dan daya juang tinggi sebagai pemimpin pasukan. Para Mlathi biasanya dijunjung oleh suami-suami mereka, meski tidak cukup terhormat untuk dijadikan satu-satunya istri. Mlathi biasanya beriringan dengan Puspanyindro, yaitu perempuan-perempuan dengan paras rupawan dan dicintai karena keindahannya semata. Dari rahim mereka lahirlah anak-anak tampan dan cantik, untuk memperbaiki garis keturunan secara fisik.
Pada urutan keempat yakni Jepunan, yaitu perempuan-perempuan seperti Nyai Arum yang mampu melahirkan keturunan dengan tangan dingin; di mana setiap tanaman yang mereka rawat selalu tumbuh subur dan menghasilkan banyak hasil panen. Mungkin karena penduduk Kusumaloka lebih banyak mengandalkan hasil bercocok tanam untuk komoditas hidup sehari-hari, hampir semua perempuan Jepunan tak boleh dibawa keluar meninggalkan daerah ini. Berbeda dengan tiga golongan sebelumnya, perempuan Jepunan tidak hanya berdiam di rumah seperti burung dalam sangkar emas, mereka turut turun ke ladang membantu suami-suami berkebun. Begitu juga dengan kelompok berikutnya, yaitu Mayangan yang seolah terlahir menjadi pengasuh anak-anak. Biasanya, perempuan-perempuan ini memiliki watak lembut dan hati penuh welas asih terutama pada anak-anak. Sentuhan dan pelukan para Mayangan mampu menenangkan bayi yang sedang tantrum tanpa sebab. Itu sebabnya, mereka berada di sekolah-sekolah untuk mengajarkan hal-hal apa saja yang perlu anak-anak ketahui sebagai persiapan menuju fase kehidupan orang dewasa.
Golongan berikutnya yaitu Senduran, orang-orang dengan kemampuan alami sebagai mantri atau paraji. Ibu Istari termasuk dalam golongan ini, bersama beberapa perempuan lain yang cukup Istari kenal akrab dari desa tetangga. Jika beruntung, para mantri ini bisa mengabdi di keluarga-keluarga priyayi sebagai penyembuh pribadi dan kehidupan mereka terjamin berkecukupan. Namun, tidak semua beruntung mendapatkan kesempatan tersebut, itu sebabnya keluarga Istari tidak terlalu berada dibandingkan keluarga-keluarga lain.
Golongan terakhir sekaligus mengisi mayoritas perempuan yang terlahir baik di Kusumaloka ataupun wilayah lain di luar sana, adalah para Gapyukan. Mereka tidak memiliki kemampuan istimewa seperti yang lain, namun ada satu masa dalam sekian peluang kelahiran anak, di mana mereka bisa menaikkan derajat keluarga jika bisa memiliki anak perempuan dengan golongan selain Gapyukan. Seperti tetangga belakang rumah Istari bernama Mak Ambar yang memiliki anak perempuan pertama dari golongan Puspanyindro, di mana perempuan rupawan tersebut menjadi istri ke-3 Gusti Garjito Mahasura, pangeran mahkota Bawonomandala, dan kini tinggal di Kartasura. Rumahnya kini hanya ditinggali anak bungsu laki-laki beliau seorang diri, tetapi ia menghabiskan setiap malamnya untuk berpesta dengan pemuda-pemuda lain di Kusumaloka yang tidak memiliki masa depan jelas dan gemar merisak anak-anak perempuan dari golongan kelas bawah, hanya karena mereka dianggap lebih lemah dan tidak bisa melawan balik. Namun, tidak demikian dengan Istari, karena ia selalu melawan sama keras setiap rundungan yang menimpanya, oleh sebab itu semakin banyak orang yang menjadikannya bulan-bulanan.
Istari menyiuk ketika pria yang dia pikirkan kini sebentar lagi akan berpapasan dengannya. Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk berbalik arah dan memutar sedikit lebih jauh ke arah hutan pinus, jadi mau tak mau, ia harus menghadapi pemuda tersebut.
“Dari mana, Gal?” sapa pemuda bernama Gita tersebut. Ia dan sebagian lain warga Kusumaloka memanggil Istari dengan sebutan ‘Gagal’, sebab kondisi khusus yang Istari alami membuatnya dianggap memiliki kedudukan yang lebih rendah dari Gapyukan. Sebuah produk gagal.
“Ada urusan apa sama kamu?” tantang Istari dengan dagu diangkat jemawa.
“Justru harusnya aku yang nanya, ada perlu apa produk gagal macam kamu ke rumah Nyai Arum tadi? Mau minta berkah apa sedekah? Atau keduanya?”
Kedua lengan Istari di samping tubuhnya terkepal erat. Jika saja Gita tidak beberapa tahun lebih tua dan sejengkal lebih tinggi, mungkin ia akan langsung melayangkan bogem ke wajah yang sedang menyeringai sinis tersebut. Namun, Istari tahu betul dari pengalamannya menghadapi orang-orang seperti ini, jika semakin ditanggapi, mereka akan kian merasa seperti sedang di atas angin.
“Memang,” jawab Istari singkat. “Sekarang pergi sana.”
Wajah Gita merah padam mendengar pengusiran Istari. Ia mengayunkan sebelah tangannya ke arah Istari, namun gadis ini tak memperkirakan perlawanan pemuda tersebut, sehingga ia hanya bisa pasrah dan memejamkan mata, menunggu pukulan mendarat di tubuhnya.
“Heeii!”
Istari membuka mata, tepat ketika sebuah buku melayang dan mengenai lengan Gita, membuatnya mengaduh kencang. Ia menoleh ke arah penolongnya, kemudian sebuah senyum terkembang di wajah saat melihat Manika, sang kakak perempuan, berdiri di sana seraya mengatur napas yang tersengal.
“Jangan ganggu adikku, sana pergi!” hardik Manika. Gita buru-buru menghambur pergi seraya memeluk lengannya yang dihantam oleh buku setebal batu bata. Manika buru-buru menghampiri Istari seraya bertanya, “Nggak apa-apa?”
Istari mengangguk. Ia membungkuk untuk mengambil buku yang tergeletak di tanah. Sebaris huruf membentuk kata Wijoyokusuman tertulis di sampulnya. Karena alasan inilah, Gita tidak berani melawan Manika, tetapi semena-mena menindasnya. Sebab tidak ada yang berani melawan perintah seorang Wijoyokusuman, terlebih seorang pria tanpa kedudukan sosial seperti Gita.
“Maaf ya, bukunya jadi kotor.” Istari mengembalikan buku tersebut pada pemilknya. Manika melingkarkan sebelah lengannya yang terbebas di pundak Istari lalu mengajak sang adik pulang ke rumah. “Hari ini giliran Mbak Nika pulang ke rumah?”
“Iya lah! Aku sudah kangen banget makanan rumah. Ibu masak apa? Aku lapar,” tanya Manika.
“Lodeh nangka muda dari kebun Bapak dan sambal terong.”
“Enak tuh!” seru Manika.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kusumaloka.