N. Lucien
Kusumaloka
Mulai membaca
Di meja makan sederhana yang satu kakinya pincang dan ditopang potongan bambu, tersaji sekuali lodeh nangka muda dengan asap mengepul seolah ramuan obat tradisional buatan Ibu, dan sepiring sambal terong. Lauk malam itu sekadar telur dadar yang diambil dari kandang ayam belakang, tetapi tak lantas menurunkan kesenangan anak-anak menyambut makan malam.
Roro Kemuning memiliki empat orang anak, yang tertua Manika, seorang Wijoyokusuman muda. Usianya belum genap delapan belas tahun, sebab itu ia masih bersekolah dan tinggal di asrama sekolah. Meski sudah banyak pinangan yang datang padanya sejak ia berumur dua belas, tetapi Manika bertekad untuk menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu sebelum menikah. Saat Manika lahir, seluruh warga menyambut kehadirannya dengan perayaan meriah, sebab sudah lama sekali sejak Desa Aren Wangi terakhir memiliki seorang Wijoyokusuman. Menurut cerita yang Istari dengar, wangi kembang Wijoyokusuma yang mekar di halaman rumah Ibu bertahan hingga empat puluh hari setelahnya, meski kembang tersebut sudah tercerabut dan terganti pendaman ari-ari. Konon, semakin semerbak aroma yang tercium, maka masa depan anak tersebut akan kian cerah, namun saat Istari hendak mencari tahu kebenaran tersebut lebih jauh, baik Ibu maupun Manika sendiri tidak ada yang mau menjawab.
Ekspektasi penduduk terhadap Ibu Istari jadi terpantik ketika beliau hamil anak kedua, hanya berselang kurang dari satu tahun setelah kelahiran Manika. Namun, antusiasme tersebut seketika surut saat mendengar prediksi jika anak tersebut laki-laki. Anak kedua beliau terlahir laki-laki dengan posisi kepala di atas. Waktu itu, Mbok Kasiya sampai kesulitan mengeluarkannya, sehingga kepala Janitra sedikit lonjong saat ia baru lahir. Tetapi, kini pemuda yang sehari-hari membantu Bapak di ladang itu tumbuh menjadi pria muda sehat dengan bentuk kepala selayaknya manusia normal.
Kurang dari setahun setelah Janitra hadir, Roro Kemuning kembali hamil. Perkiraan warga terpecah menjadi dua; yang melihat perut Roro Kemuning terlihat bulat pepat menebak anak yang kelak lahir berjenis kelamin perempuan, sedangkan sebagian lagi yang dikecewakan pengalaman sebelumnya menebak anak laki-laki.
Sampai ketika tangisan Istari pertama kali pecah, lantas sekonyong-konyong diikuti pekik histeris Mbok Kasiya, barulah orang-orang menyadari keanehan yang terjadi. Anak tersebut berjenis kelamin perempuan, tetapi tidak ada wangi bunga yang terhidu dari pelataran depan rumah. Para tetua dan Wedana Ki Satria Wirang langsung mengadakan pertemuan di balai untuk membahas ini. Satu orang berseru jika keberadaan Istari adalah peringatan bencana, sementara orang lain menuding Roro Kemuning memiliki anak dengan laki-laki lain di luar Kusumaloka. Sebab hanya perempuan-perempuan yang terlahir di wilayah Kusumaloka saja yang memiliki perlambang bunga. Tetapi seorang bijak berkata jika kembang tersebut mungkin tumbuh di tempat lain selain halaman depan. Maka dikerahkanlah rombongan pencari untuk menggeledah seisi rumah, tetapi tak juga kunjung ditemukan bunga tersebut. Sehingga, Ki Satria Wirang memutuskan agar Istari dikelompokkan bersama para Gapyukan. Gapyukan juga yang tertulis di akta kelahiran Istari yang diberikan hampir enam sasi setelah ia lahir, setelah melalui pertimbangan alot. Meski begitu, saat tiba waktu untuk sekolah, tak ada yang mau menerima Istari sebagai murid karena semua orang di desa ini tahu status Istari yang sebenarnya.
Jauh beberapa tahun setelah gonjang-ganjing akan status Istari baru mereda, saat anak bungsu Roro Kemuning lahir, warga dikejutkan akan keberadaan tak hanya satu, melainkan serumpun puspanyindran di bawah pagar bambu rumah sederhana mereka. Keberadaan Puspanyindro baik di desa ini maupun seluruh pelosok Kusumaloka mungkin tidaklah sedikit, namun belum pernah ada dalam catatan sejarah, seorang perempuan melahirkan anak-anak dengan kedudukan di atas orang tuanya lebih dari sekali.
Keributan kembali terjadi di kalangan penduduk. Ada yang mengatakan jika serumpun puspanyindran itu mungkin sebagian milik Istari yang terlambat tumbuh, namun praduga tersebut dengan mudah terbantahkan, sebab tak mungkin dalam satu keluarga terlahir anak dengan kembang yang sama. Lalu, ada taksiran lain jika Istari mungkin memiliki perlambang Mlathi, tetapi kembang tersebut hancur karena di malam ia lahir hujan turun berderai-derai hingga air menggenang sebatas mata kaki. Namun, pada akhirnya perdebatan tinggallah prasangka semata, sebab hingga Istari beranjak remaja, masih menjadi misteri mengapa ia satu-satunya anak perempuan yang tidak memiliki bunga perlambang.
“Mana mbakmu?” tanya Bapak pada Istari. Beliau baru pulang dari hutan disusul oleh Janitra sambil membawa sekeranjang hasil panen. Istari sempat mengintip isinya sekilas dan mendapati ada ketela dan labu serta beberapa batang rebung. Meski dia dilabeli sebagai produk gagal, namun Bapak tak pernah lupa membawakan makanan kegemaran Istari ketika sedang musim.
“Di kamar, membalas surat.”
Sejak setahun belakangan, Manika dipercaya mengurus sendiri korespondensi dengan pria-pria yang hendak meminangnya. Hanya tinggal hitungan sasi sebelum ia dinyatakan siap menikah, sehingga setiap harinya selalu ada tumpukan kecil surat ditujukan untuk Manika.
Bapak merogoh kantong baju dengan keliman yang hampir seluruhnya tercerabut, lalu mengeluarkan dua buah delima. “Kasih ke Manika,” perintah Bapak. Tanpa menunggu diperintah dua kali, Istari langsung melesat menuju kamar Manika. Setelah ia beranjak dewasa, Manika dibuatkan kamar tersendiri di rumah, meski di bagian belakang rumah dekat pawon.
“Mbak,” panggil Istari. Manika yang sibuk tafakur di hadapan sehelai kertas, menoleh ke arah sumber suara. “Dari Bapak.”
“Taruh sini,” panggil Manika sambil mengisyaratkan pada Istari untuk mendekat. “Makasih ya, Dik.”
Istari tak pernah cemburu setiap kali Bapak membawakan delima untuk Manika. Selain karena ia tidak begitu suka rasanya, delima menurut Ibu, baik untuk kesuburan sehingga disarankan dimakan oleh orang-orang yang ingin memiliki anak. Alasan mengapa Bapak rutin membawakan delima jika sedang musim adalah, beliau ingin Manika segera memiliki anak setelah menikah nanti.
Istari langsung keluar kamar Manika dan melanjutkan pekerjaannya di dapur, sebab Ibu tadi sore mendapat panggilan dari tetangga di ujung desa untuk mengobati anaknya yang sakit. Untung saja Ibu sudah selesai memasak sejak siang, sehingga mereka tidak akan kelaparan sampai malam. Amat bertentangan dengan orang-orang lain yang menyuruh anak gadis mereka masuk dapur, Roro Kemuning justru kebalikannya. Anak-anak beliau tidak diperkenankan membantu di dapur, itu sebabnya Istari hanya lewat saja di sana dalam perjalanannya ke kamar mandi atau jika ingin mengambil minum. Tetapi, kali ini ia masuk lebih dalam ke dapur yang letaknya terpisah dari bangunan utama rumah, untuk menjerang air panas dan menyeduh kopi bagi Bapak.
Dinding pawon di tempat tinggal mereka terasa lembab dan dingin, mungkin sebab atapnya acap kali bocor saat hujan. Namun, kali itu Istari menggigil karena alasan berbeda. Dalam pencahayaan temaram, ia mendapati sebuah sulur merambat di dinding, melombar dan tertambat sepanjang pinggiran pawon. Istari buru-buru membawa oblik yang tertempel di sisi dinding yang mengarah ke bagian depan rumah lalu mendekatkan ke tanaman tersebut. Yang tadinya Istari kira sebagai pohon, rupanya sebuah akar. Jemarinya menelusuri ke mana tanaman itu pergi, namun pencariannya terhenti pada api yang membara di lubang pembakaran kompor. Meski begitu, ia berhasil menyelamatkan satu daun tersisa dari percabangan batang dan akar yang nyaris sepenuhnya terbakar, lalu disimpannya dalam lipatan baju. Istari buru-buru meletakkan panci berisi air sumur yang sudah ditimba oleh Bapak ketika beliau baru pulang tadi di atas tungku.
Sebagai anak seorang mantri, Istari sama sekali tidak terkejut mendapati ibunya menyimpan beberapa macam tanaman di dalam dapur. Namun, yang ia kejutkan adalah, penyebab Ibu membakar tanaman tersebut seolah tidak berguna. Tumbuh besar di bawah pengasuhan beliau membuat Istari belajar jika tidak ada bagian dari tanaman yang tiada bermanfaat. Itu sebabnya, Istari heran mengapa ranting sekurus itu dijadikan kayu bakar alih-alih dimanfaatkan untuk hal lain.
“Istari! Ayo makan, Nduk!” terdengar panggilan Bapak dari ambang dapur. Tiada waktu bagi Istari untuk bertanya-tanya tentang tanaman yang baru ia temui tersebut.
“Nggih, Pak,” sahut Istari.
Dengan gayung batok, ia mengambil air panas lalu menuang ke gelas kopi untuk Bapak, kemudian membawanya ke dalam rumah. Ia menyajikan kopi tersebut di meja dapur alih-alih mengantarkan ke hadapan beliau, sebab Bapak biasanya lebih suka menunggu kopinya agak dingin terlebih dahulu sebelum diminum. Sayup-sayup terdengar suara ibu di depan rumah sedang mengobrol dengan tetangga sebelah, pertanda jika beliau sudah kembali dari rumah pasiennya.
Istari mengambil piring kosong dari tumpukan di sudut meja, lalu mulai mengisi sesuai porsinya sendiri, setelah Bapak selesai mengambil porsi untuk beliau. Tersisa dua piring di sana, yang artinya hanya dia dan Ibu yang belum makan, sebab semua orang langsung duduk di ruang depan setelah mengambil makan.
“Wah, wangi banget. Bapak bikin kopi sendiri?” terdengar suara Ibu dari arah depan.
“Istari yang bikin.”
“Mana anaknya?” Ada nada kepanikan dari suara ibu. “Istari? Nduk?”
“Dalem, Bu,” jawab Istari setengah berteriak.
Dengan langkah tergopoh, sekonyong-konyong Ibu menyongsong ke arah bagian belakang rumah, hanya untuk mendapati anaknya sedang memotong telur dadar di meja makan. Istari mengangkat alisnya dengan sedikit heran, tidak biasanya beliau terlihat secemas ini.
“Kamu dari pawon?” tanya Ibu. Istari mengangguk.
“Tadi panaskan air di panci. Api di tungku masih nyala, kok,” jawabnya. Tungku di rumah-rumah hampir tidak pernah padam kecuali saat malam, sebab butuh waktu lama untuk menyalakannya. Istari mengerti jika ibunya mungkin panik jika apinya padam karena kehabisan kayu bakar. Dengan takut-takut, Istari kembali bertanya, “Ibu mau mandi pakai air panas? Air panasnya masih banyak.”
Ibu menyiuk, cengkeramannya di pundak Istari perlahan mengendur.
“Iya. Terima kasih, Nak. Sana makan sama saudara-saudaramu.”
Istari menurut, namun keingintahuannya terpantik melihat kepanikan ibunya. Diam-diam ia mengeluarkan daun yang ditemukannya tadi dekat kompor. Apa Ibu tidak ingin ia tahu tanaman apa ini?