raya nufis
Kita Ini apa?
Mulai membaca
Senja yang selelu membuat jatuh cinta kepada siapa saja yang melihatnya, karena senja tahu cara berpamitan dengan indah sebelum berganti dengan malam Sabtu sore, Raya melihat diluar jendela kamarnya, senja yang selalu menjadi favoritnya, Raya selalu menatap lebih lama bila senja itu datang, karena dia tahu hanya senja yang mengerti keadaannya. Sabtu ini raya memutuskan untuk tidak kemana-mana karena dia tahu, hari sabtu ditambah tanggal muda pasti jalanan dimana-mana macet dan transportasi umum juga pasti penuh kegiatan hari ini adalah bersih-bersih apartementnya, membersihkan dari debu, dan barang-barang bekas yang mungkin sudah tidak terpakai tapi masih disimpan di tempatnya, seperti halnya ada satu nama yang seharusnya tidak ada dihatinya tapi masih saja melekat, mau dihilangkan tapi tidak bisa, bukan tidak bisa hanya saja belum mampu untuk menggantikan posisi orang lain dihatinya, belum siap memulai semuanya dari awal lagi "beli kopi kayanya enak nih" Raya mengucap ke diri sendiri Raya beranjak dari tempat duduknya, lalu mengambil dompet dan Hpnya tidak lupa kartu akses apartemennya dan siap-siap ke bawah untuk beli kopi Raya membeli kopi di convenience store terletak di unit sebelah, selisih 2 gedung apartement tempat tinggal raya Raya membuka pintu disambut oleh karyawannya "selamat datang di familymart , silakan berbelanja" Entah kenapa sapaan itu membuat Raya sedikit senang, dan sedikit candu untuk Raya dan bau kopi yang khas juga menyambutnya "Mau pesan apa kak Raya?" Sapa Mas Budi, salah satu kasir yang memang mengenal Raya, Mas Budi sampai hapal dengan Raya karena hampir setiap hari Raya membeli kopi disini "Hai Mas Budi, aku mesen kopi kaya biasanya yyaaa" Jawab Raya "Ok Mbak, ditunggu sebentar yyaaa" Raya menunggu tidak sampai 3menit, kopi sudah jadi "Kopi Susu Keluarga less Sugar Large dengan extra shoot, totalnya jadi 25rb kak, mau bayar pake cash apa qris?" "Cash aja mas, kebetulan aku bawa cash, ini uangnya pas yaa, terimakasih" Raya mengambil kopi lalu pergi "terimakasih kak Raya" Balas Mas budi, Raya membalas dengan anggukan Raya membuka pintu dan duduk disamping familimart yang memang disediakan oleh pihak familymartnya, entah kenapa hari ini agak lumayan rame, apa orang-orang ga ada yang malam mingguan, atau mereka malas karena pasti jalanan juga bakal macet Raya menatap langit malam ini, entah kenapa langit tiba-tiba mendung, sepertinya akan turun hujan malam ini, karena bau angin dan petrikor sudah mulai tercium, 5 menit kemudian terdengar suara gemuruh dari langit yang bersahut-sahutan, tak lama kemudian hujan deras , Raya lupa membawa payung, karena dia tidak mempresiksi akan turun hujan Raya sedikit melamun, beberapa bulan lalu Raya dan Nufis sempat terjebak hujan ketiak Nufis menjemput Raya dari kantor, karena Nufis mau mengambil buku yang tertinggal di apartement Raya "Kenapa lu suka hujan?" Tanya Nufis tiba-tiba "Gw ga begitu suka hujan, tapi gw suka gerimis" Jawab Raya sambil melihat langit, mereka berteduh disalah satu ruko kosong didaerah Tebet, "Gerimis kan malah bikin sakit Ray, karena nanggung aja gitu menurut gw, lebih baik kehujanan , basah sekalian" "Hhhmmmm gini yyaa Nufis, gerimis itu penuh dengan ketenangan, kesabaran dan kelembutan yang membawa pesan penuh dengan cinta, rindu dan berkah yang turun tanpa merusak, gerimis juga mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu harus keras, tetesan kecil yang konsisten mampu menyuburkan bumi, menenangkan hati dan merawat kenangan" Nufis diam dan mencerna omongan Raya "Ngerti ga?" Raya memastikan penjelasan Raya ke Nufis membuatnya paham "Sedikit" "Ok gw jabarin sedikit yyaa, tapi ini menurut gw lhoo, bukan jurnal" Raya menyindir Nufis, karena setiap ngobrol sama Nufis harus sesuai dengan jurnal-jurnal yang ada, dia ga mau hanya pendapat kosong "Sindir aja teruussss" Nufis mode merajuk, dan tangan Raya reflek mencubit pipi Nufis, muka Nufis kalo mode merajuk sangat lucu "Mode Kelembutan dan Kesabaran itu Berbeda dengan hujan deras, gerimis turun lembut, menggambarkan keikhlasan dan proses yang tenang, kalo hujan kan ga, kaya terburu-buru gitu mau menumpahkan semua isinya. Mode Refleksi Diri dan Rindu, Rintik gerimis sering kali membawa suasana romantis atau melankolis, mengundang kenangan dan rindu yang tenang dan damai. hhhmmmm mode harapan yang ada di Balik Kesedihan, Seperti gerimis yang melembabkan, ia sering dianggap sebagai penawar rindu atau air mata yang membasuh kesedihan, menyembuhkan hati yang gersang. hmmm apa lagi yyaa?? oohh sama mode Kesetiaan Alam, Gerimis yang turun membasahi bumi diibaratkan cinta yang tulus dan konsisten, meskipun langit dan bumi tidak pernah bertemu langsung" Raya menjelaskan panjang dan lebar ke Nufis, berharap dia mengerti apa yang diomongin sama Raya "Ok paham sekarang, pantes aja lu suka gerimis" "Yaaa gerimis itu menurut gw tenang aja, karena semua ga harus buru-buru, ada kalanya kita harus tenang, yyaa kaya menghadapi masalah aja sihh menurut gw" "Sama kaya hubungan juga?" "Hah? gimana?" Nufis mengusap-usap kepala Raya, entah kenapa setiap kepala Raya diusap rasanya tenang banget "yyaa sama kan kaya hubungan, ga harus buru-buru, pelan-pelan aja nikmati proses yang ada, karena pasti semua itu ada tujuan yang jelas" "tapi tujuan lu bukan gw Nu" Raya membatin "permisi mbak, bangkunya kosong?" ada seseorang yang tiba-tiba membangunkan Raya dari lamunannya "hah? gimana mas?" "bangkunya kosong?" diulangi lagi pertanyaan mas-masnya "oohh kosong mas" "saya duduk disini yyaa mbak?" "oohh silakan mas" Raya melihat kembali layar hpnya dan membuka sejenak sosial medianya, melihat-lihat apa yang sedang terjadi hari ini Tiba-tiba muncul di story di intagram Raya , nufis mengupload foto bersama Via, ternyata hari ini Nufis sedang jalan ke mall bersama Via, pantes hari ini ga ada pesan rese dari Nufis, pada akhirnya Raya semakin sadar bahwa dia bukanlah tujuan dari hidup Nufis
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kita Ini apa?.