raya nufis
Kita Ini apa?
Mulai membaca
Semua yang ditakdirkan bukan untukmu, maka akan dipisahkan
"aahh , akhirnya selesai juga hari ini" Raya sambil merengkan badannya yang cukup pegal, membuat report harian, mengitung jumlah transaksi yang telah diinputnya hari ini, agar tidak ada selisih sedikitpun, karena kalau sampe selisih maka Raya harus refersal hari ini juga
"Raya hari ini lu mau kemana? mau ngopi dulu ga? atau pergi kemana yukk gw suntuk?" ajak Naya
"sorry darling hari ini gw ada janji sama Nufis" Raya sambil membereskan kertas-kertas yang lumayan berantakan di mejanya
"Balikan lagi?" tebak Naya
"no, tapi kaya gw sama dia mau menyelesaikan semua yang harusnya udah selesai, karena gw ga mau hidup tapi masih ada bayang-bayang dia"
"ga yakin gw" sindir Naya
"hahhahahaha" Raya ketawa dengan nada yang sumbang
Setelah membereskan berkas-berkas yang dimeja dan mengkelompokan sesuai urutan transaksinya, kemudian Raya menaruhnya dimeja Pak Aziz, setelah itu mengambil tas dan tak lupa mengisi air putih ditumblrnya, lanjut pulang. tak lupa absen sebelum pulang
Hari ini raya pulang agak terlambat, sengaja karena janjian dengan Nufis setelah magrib, janjian di cafe deket sama apartement Raya. kenapa ga di apart? karena Raya tidak mau lagi ada beban dihidup raya lagi, kalau diapart Raya tau ujungnya akan berakhir seperti apa.
Raya membuka pintu cafe langganan raya kalau lagi suntuk diapartment dan pengen ngopi, cafenya sederhana, tidak banyak interior cocok untuk kaum introvert, karena tidak banyak pengunjung yg duduk santai, biasanya mereka akan datang dengan sistem takeaway.
Bau kopi yang cukup strong menusuk hidung Raya, bau yang selalu membuatnya tenang, bau yang membuatnya candu untuk selalu dihirupnya
"Hai Kak Raya, apa kabar kak? udah lama nih ga datang kesini" sapa Baristanya
"Hai kak Bara, kabarku baik, kamu apa kabar? " balas raya
"Baik kak, mau pesen seperti biasa?" saking seringnya Raya datang kesini, baristanya sampai hafal pesanan Raya. hot latte no sugar dan plan croissant yang dihangatkan
"Makasih yyaa kak, bayarnya pake qris yyaaa"
"Baik kak, nanti pesenannya saya antar yyaa kak" Raya mengangguk
Setelah melakukan pembayaran, Raya duduk dipojok, tempat yang menjadi favoritenya kalau sedang suntuk, Raya membuka sosial medianya tidak lupa menggunakan headset untuk mendengarkan lagu dispotifynya
Entah apa yang ada diotak Raya hari ini, Raya tidak mempersiapkan kata-kata apa yang akan disampaikan ke nufis nantinya, karena memang cuman ingin ketemu, lalu mengucapkan kata selamat tinggal, atau kita selesai
"Hai maaf ya aku telat dikit, tadi macet banget di deket stasiun cikini, asli dibawah underpassnya itu lhooo nyusahin" ucap Nufis yang tiba-tiba datang dan membuat raya agak syock
"gapapa, kamu udah mesen kopi belum? sana ngopi dulu"
"kamu nyindir aku? aku kan ga bisa ngopi" Nufis menjawil hidung raya gemes, raya hanya membalas cengengesan
Nufis tidak bisa minum kopi seperti Raya, bila sedang di coffeeshop pasti Nufis pesan hot chocolate atau ga es teh, aneehh sih tapi yyaa itulah Nufis, beda dengan Raya pasti pesan kopi dengan extra shot
"Gimana harimu?" tanya Nufis
"Baik-baik aja, yyaa walau banyak transaksi, pas gajian gini pasti banyak transaksi yang harus dijalanin kan? hari ini aku transaksi nyaris 2miliar, diluar RTGS yyaaa, kalo pas jadwalnya RTGS bisa lebih gila lagi" cerita Raya
Nufis mengeluarkan bingkisan kecil yang dibungkus dengan kertas warna pink, "ini buat kamu?"
"Apa ini?" Raya sambil menggoyang-goyangkan kadonya
"Dibukanya nanti aja pas kamu udah sampe apart yyaaa"
"Ok" raya memasukkan kadonya ke dalam tasnya
Raya belum memulai percakapannya, masih bingung memulainya, Raya mencoba menenangkan pikirannya dengan meminum kopi dan memakan sedikit croissantnya
Mereka duduk depan-depanan, Nufis paling suka didepan Raya, karena katanya biar bisa liat muka Raya yang suka tiba-tiba aneh kalo melihat sesuatu yang unik, atau tidak sesuai dengan jalannya, dan itu membuat Nufis gemasss
"Katanya tadi mau ngajak ngobrol, kamu mau cerita apa? muka kamu itu lhooo tamplate banget kalo lagi gugup" Ucap Nufis
"Aku mau nanya sesuatu boleehh?"
"Apa? nanti kalo aku ga bisa jawab, aku tanya mbah google deehh, biar kamu puuass, jawaban sesuai jurnal" sindir Nufis, Raya memang lebih suka jawaban yang pasti,
Tangan Raya memutarkan digelas yang berisi hot latte dengan art gambar hati
"Aku ini apa buat kamu?" Ucap Raya
Nufis memposisikan diri senyaman mungkin, Nufis paham arah kemana pembicaraan Raya kali ini "Kamu? buat aku?" Raya mengangguk
"Kalo aku seseorang yang ada dihati kamu, kenapa kamu ga memilih aku buat mememani hari-harimu, i mean as a couple"
"Ada sesuatu hal yang membuat itu ga mungkin..."
"Let me know" Raya memotong pembicaraan Raya
"Kamu hidup disetiap langkahku, disetiap hembusan nafasku, disetiap memori yang mungkin via aja ga ada didalamnya, kamu tuh susah ditebak Raya, dan membuat hidupku dar der dor, aku kadang masih suka ga bisa nebak kamu kaya gimana? padahal kita udah lama banget kenalnya, kamu terlalu mandiri, terlalu apa-apa sendiri, aku maunya tuhh dominan buat kamu, bukan kamu yang dominan di aku, kadang aku mikir aku bisa ga yaa ngasih pendapat ke kamu ketika kamu ada masalah, ketika kamu ada masalah pasti kamu sudah tau jalan keluarnya, tanpa minta aku pendapat atau apapun itu, kamu tau ga kita tuh sama-sama dominan"
"Kamu harusnya menjelaskan semuanya, kalo kamu bilang, aku bisa berubah kok, kamu tau kan sifat aku kaya gimana? kalo aku salah dan ga ditegur pasti akan melakukan kesalahan itu lagi, begitupun juga yang kamu bilang tadi"
"Aku ga mau merubah kamu, kamu ya tetap kamu, yang hidup apa adanya seperti ini, aku ga mau kamu malah tertekan dan ga nyaman sama hidup kamu, pada akhirnya kita akan ribut setiap hari, aku ga suka"
"Bukannya setiap hubungan pasangan pasti ada beda pendapat, ada sesuatu yang harus didiskusikan yyaaa?"
"Yyaa aku tau itu, tapi ini beda aja, kamu akan tetap disetiap langkah yang seperti aku bilang tadi"
"Jadi wanita indipendent juga ga enak yyaaa?"
"Bukan gitu Raya, aku mau kamu tetap menjadi kamu, ada seseorang yang berhak dan menerima kamu apa adanya kamu, yang ga usah merubah dengan apanya kamu ini"
Raya diam dan memilih untuk sejenak menikmati latte - nya yang mulai dingin karena lama didiamkan
"Kamu tau kan kita udah sepakat dari awal untuk menjalani hubungan ini, kenapa sekarang kamu membahasnya?"
Raya menaruh gelasnya "kamu tau kan dari dulu aku sayang sama kamu, lebih dari apapun itu? aku mau kamu, cuman kamu ga lebih, aku mencoba buka hati buat orang lain, tapi aku ga bisa, ga tau kenapa, aku selalu stuck di kamu, pleeaasee let me know how to forget you"
Nufis menggenggam tangan Raya "pelan-pelan , kamu pasti bisa, aku yakin kita bisa lepas dari semua ini, aku yakin nanti kamu akan menemukan seseorang yang jauh lebih baik dari aku, kamu tahu sampai kapanpun aku akan selalu ada buat kamu, kamu tau aku dimana, kamu bisa datang kapan aja" Nufis mencoba menenangkan Raya, tapi bukan itu jawaban yang Raya harapkan
"datang kapan aja?" Raya menggumam pelan
Raya diam cukup lama memikirkan semua kata-kata Nufis, Raya tau, semua kejadian yang dia lalui, ujung-ujungnya pasti Nufis yang akan pertama kali raya temui dan akan mendapatkan ceritanya. Raya tau semua itu ga akan mudah, tapi Nufis sudah membuat keputusan dan raya harus menghargainya, dan mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya Raya membahas hubungannya dengan Nufis, karena bagaimanapun Raya tau, Raya bukan tempatnya untuk pulang, hanya tempatnya untuk singgah
Sudah saatnya Raya berhenti bersujud dan menyebut namanya disetiap doa yang dia panjatkan, sudah saatnya Raya berhenti untuk membuat hubungan ini semakin kacau, biarkan hubungan ini mengalir seperti ini, yang tak akan pernah ada ujungnya, tapi Raya tau kapan raya harus berhenti
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kita Ini apa?.