HALUSINASI
Kepolosan Yang Hilang
Mulai membaca
“Nama?”, tanya seorang pria berseragam polisi yang sedang duduk didepanku.
Aku memberitahukan namaku kepadanya. Polisi itu menulis di atas kertas yang sedang dipegangnya.
“Umur?”, tanya polisi itu.
“15”, jawabku singkat.
“Alamat tempat tinggal?”, tanya polisi itu lagi.
“Di ibukota pak”, jawabku.
“Berarti kamu bukan penduduk sini ya?”, tanyanya.
Aku mengangguk sekali lalu menjelaskan tujuanku datang ke pulau ini kepadanya. Aku datang karena akan bersekolah dan tinggal di asrama untuk hidup mandiri. Bukan keinginanku sih, tetapi karena ini semua perintah dari Ayahku. Lebih tepatnya lagi, ini adalah sebuah paksaan. Ayahkulah yang mengatur ini semua. Kalau tidak menuruti perintahnya maka diriku tidak akan diakui lagi sebagai anaknya. Aku tidak akan punya tempat tinggal dan uang. Tidak punya uang bagiku adalah hal yang sangat mengerikan. Karena itu, mau tidak mau aku terpaksa melakukannya. Setelah kejadian Mia meminta jadi pacarku berakhir, aku melanjutkan perjalananku. Tujuanku adalah asrama yang akan jadi tempatku tidur. Jujur saja, aku sudah lelah dan rasa mengantuk sudah mulai menyerangku. Aku berjalan kesana kemari tanpa arah. Aku tersesat. Aku tidak tahu dimana diriku saat ini. Aku sudah mulai putus asa dan berpikir untuk bermalam di hotel atau penginapan akan tetapi aku tidak melihat adanya bangunan yang terlihat seperti itu. Perasaan putus asa mulai menghantuiku. Aku mulai berpikir untuk tidur diluar walaupun enggan. Saat melewati persimpangan aku melihat ada pos polisi yang letaknya tidak jauh dari tempatku berada. Aku mempercepat langkahku menuju pos polisi itu. Setelah itu, inilah yang terjadi sekarang. Diinterogasi.
Polisi itu mendengarkan ceritaku dengan seksama tanpa memotong pembicaraanku. Suasana jadi hening dan yang terdengar hanya suara detik jam dinding didalam ruangan pos polisi. Polisi itu menaikkan sebelah alisnya lalu meletakkan penanya di meja.
“Jadi maksudmu kamu adalah penghuni baru asrama itu?”, tanyanya dengan memberikan tatapan tajam kepadaku.
“Betul”, jawabku singkat.
Brak. Tiba-tiba polisi itu menggebrak meja. Tindakkannya membuat pena yang diletakkannya tadi loncat jatuh ke ubin dan kertas-kertas terbang berhamburan. Wajah polisi itu berubah menjadi marah.
“Saya tidak punya waktu buat omong kosongmu anak muda. Tolong jawab yang serius”, katanya dengan nada keras.
“Aku serius kok”, balasku karena itu memang benar apa adanya.
“Dengar ya anak muda, aku sudah tinggal disini dari lahir dan aku belum pernah menginjakkan kakiku keluar pulau tapi aku tahu semua seluk beluk tempat dipulau ini seperti halaman belakang rumahku sendiri. Oleh karena itu tolong berikan jawaban yang benar”, kata polisi itu.
“Apa yang kukatakan tadi benar semua kok”, balasku.
Polisi itu kembali menggebrak meja dan bangun dari kursinya dengan cepat sehingga membuat kursi yang didudukinya tadi terjatuh.
“Dengar ya anak muda, asrama yang kamu maksud itu bukanlah tempat yang pantas untukmu”, katanya sambil menunjukkan jari telunjuknya kearahku.
Aku menaikkan sebelah alisku karena bingung dengan perkataannya.
“Maksud Bapak apa?”, tanyaku.
“Asrama yang kamu maksud itu adalah...”, jawab pak polisi itu tetapi terputus karena ada seseorang berdiri didepan pintu pos polisi itu.
“Permisi”, kata orang yang berdiri didepan pintu itu.
Polisi itu langsung meninggalkanku sendiri dan pergi menghampiri orang yang berdiri didepan pintu itu.
Aku melihat seorang wanita dewasa mengenakan kaos warna hitam dan celana panjang warna merah sedang berbicara dengan polisi itu tadi. Wanita itu memiliki rambut panjang sepunggung dan sepertinya disemir karena rambutnya berwarna merah tua. Kira-kira perempuan itu berusia kisaran 20 atau 30 tahunan. Wanita itu masih berbincang-bincang dengan polisi itu. Aku tidak bisa mendengarkan percakapan mereka karena suara mereka kecil dan berada jauh dari tempatku berada. Tidak lama kemudian percakapan mereka berhenti. Polisi itu datang menghampiriku.
“Kamu boleh pergi”, katanya.
“Oh, kenapa aku boleh pergi?”, tanyaku.
“Situasimu sudah dijelaskan oleh walimu”, jawabnya sambil melihat kearah perempuan tadi.
Aku melihat kearah wanita yang mengaku dirinya sebagai waliku. Dia diam melihatku. Tidak lama kemudian, dia melambaikan tangannya memanggilku. Aku bangun dan pergi menghampirinya tanpa banyak bicara.
“Maaf sudah mengganggu. Kami permisi dulu ya”, kata wanita itu kepada polisi itu.
“Ya, hati-hati di jalan”, balas polisi itu.
Kami berdua pergi keluar dari pos polisi itu. Aku melihat ada mobil sport yang memiliki dua pintu dan berwarna merah bagaikan bunga mawar parkir pas didepan pintu pos polisi itu. Wanita itu memencet remot kunci mobilnya sambil berjalan menuju pintu kursi kemudi yang pelan-pelan terbuka keatas.
“Masuk”, kata wanita itu sebelum masuk ke mobil.
Aku menganggukkan kepalaku sekali lalu berjalan menuju pintu kursi penumpang. Saat menuju ke mobil, aku melihat simbol kuda hitam di depan kap mobil. Setelahnya aku duduk kedalam mobil. Pintunya otomatis turun perlahan menutup akses keluar dari mobil. Wanita itu menyuruhku untuk memakai sabuk pengaman. Aku diam menuruti perintahnya. Setelah aku memakai sabuk pengamanku, wanita itu langsung menghidupkan mobilnya. Tanpa menunggu mesin mobilnya panas, dia langsung menjalankan mobilnya pergi meninggalkan tempat itu. Kami berdua tidak berbicara satu sama lain selama dalam perjalanan. Tidak ada yang membuka percakapan. Akhirnya setelah cukup lama waktu berjalan, aku memaksakan diriku untuk mencoba memulai percakapan dengannya.
“Terima kasih telah menolongku”, kataku sambil melihat kearahnya.
Tidak ada jawaban. Wanita itu tidak menggubris perkataanku. Rasa sakit seperti tertusuk muncul di dadaku. Rasa sakit inilah yang sering kurasakan di masa lalu. Tapi itu dulu. Diriku yang sekarang sudahlah berbeda dengan yang dulu. Aku sudah memiliki pacar. Aku bukanlah lagi diriku yang dulu. Aku menarik nafasku dalam-dalam. Setelah itu kuhembuskan sebelum kembali mencoba untuk berinteraksi dengan wanita yang sedang mengemudi disebelahku. Aku memperkenalkan diriku kepadanya. Reaksinya tetap sama. Pantang menyerah, akupun mencoba untuk kembali berbicara dengannya.
“Permisi, aku...”, belum sempat aku selesai bicara, wanita langsung membentakku.
“Matamu buta ya? Enggak bisa lihat apa aku lagi nyetir? Diamlah!”, bentaknya tanpa melihatku.
Aku langsung menutup mulutku dan mengalihkan pandanganku keluar jendela. Suasana berubah jadi tegang. Emosiku meluap-luap. Aku meremas tanganku.
“Perlakuan macam apa ini? Padahal aku ingin berterima kasih tetapi dibentak. Dasar wanita sialan!”, gerutuku dalam hati.
Aku menahan emosiku selama perjalanan. Mengumpat dalam hati kulakukan terus menerus hingga tanpa kusadari kalau kita sudah sampai ke tempat tujuanku.
“Turun”, kata wanita itu.
Aku melepaskan sabuk pengamanku dan turun dari mobil tanpa berkata apa-apa. Aku melihat bangunan seperti gedung terletak dihadapanku. Gedung itu memiliki tiga lantai. Aku melihat kearah jendela yang berada di lantai dua karena merasa ada yang sedang memperhatikan diriku sedari aku turun dari mobil. Semua jendelanya terlihat gelap bahkan sampai ada yang ditutup dengan tirainya.
“Apa perasaanku saja ya?”, gumamku dalam hati masih sambil melihat kearah jendela yang berada di lantai dua.
Aku menurunkan pandanganku dari jendela lalu melihat kesana kemari untuk memastikan bahwa ini benar-benar tempat yang kucari-cari. Aku melihat di sebelah kanan pintu masuk ke gedung ada sebuah papan nama berukuran besar yang menempel di temboknya.
“Asrama khusus murid sekolah Saint Lily”, kataku dalam hati sewaktu membaca tulisan yang tertera di papan nama itu.
Selagi aku sibuk membaca tulisan itu, tiba-tiba pundak kananku ditepok seseorang. Aku berbalik dan melihat siapa pelakunya. Aku mendapatkan dingin dari pelakunya. Wanita yang dari tadi kuumpat dalam hati adalah pelakunya.
“Masuk. Jangan diam aja”, ucap wanita itu tanpa rasa bersalah atas tindakannya barusan.
Wanita itu berjalan melewatiku dan membuka pintu lalu dia masuk kedalam asrama itu. Dengan perasaan kesal, aku jalan mengikutinya masuk kedalam. Begitu sesampainya didalam, aku diam ditempatku sembari melihat kearah sekitarku. Lorong yang panjang dengan pintu yang saling berhadapan satu sama lain. Suasananya sangat hening seperti tidak ada kehidupan. Aku melihat ada sebuah jam besar antik berdiri disamping tembok dekat pintu masuk. Aku juga melihat ada satu tabung gas pemadam api kebakaran berdiri didekatnya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat dua puluh menit.
“Ini!”, kata wanita itu sambil melemparkan suatu benda kepadaku.
Dengan reflek cepat, aku menangkapnya dengan dua tangan lalu membuka tanganku untuk melihat benda apa yang kutangkap tadi. Sebuah kunci dengan angka 13 dan huruf A disampingnya.
“Kamarmu berada di lantai dua”, kata wanita itu sambil menunjuk keatas lalu pergi meninggalkanku dan masuk kedalam ruangan yang berada tepat sebelah kananku. Wanita itu menutup pintunya. Papan nama bertuliskan kamar staff terpajang di muka pintu itu.
“Sepertinya dia pengurus asrama ini”, gumamku dalam hati.
Aku menghela nafas lalu berjalan melewati lorong itu untuk menuju tangga yang letaknya berada diujung kamar lantai ini. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar yang berada dibelakangku terbuka. Wanita yang masuk ke kamar staff tadi kembali membuka pintunya dan mengucapkan sesuatu kepadaku.
“Jangan bikin masalah ya”, katanya lalu menutup kembali pintunya. Terdengar bunyi kunci pintu setelahnya.
Aku menghelakan nafasku lalu kembali melanjutkan jalanku menuju tangga. Sesampainya diatas, masih terasa seperti tidak ada tanda kehidupan disana. Semua pintu tertutup dan lorongnya kosong. Aku berjalan mencari kamarku. Akhirnya ketemu. Kamarku terletak cukup jauh hampir diujung lorong lantai ini. Aku membuka kunci kamarku dengan pelan agar tidak menggangu penghuni yang lain. Setelah terbuka, akupun masuk kedalam dan menutup pintu kamarku dengan pelan. Aku menaruh tas ranselku ke lantai dan meraba-raba tembok untuk mencari tombol lampu penerangan ruangan ini. Klik. Bunyi tombol yang kupencet. Kamar menjadi terang karena lampu yang berada di langit-langit kamarku sudah menyala. Terlihat banyak sekali kardus-kardus berserakan di lantai. Semua kardus itu berisikan barang-barangku. Sebelum pindah kesini, semua kebutuhan harianku sudah dikirim oleh Ayahku kesini. Semua ini sudah diatur olehnya. Dia melakukan ini semua agar aku mengenal apa yang namanya usaha. Usaha yang dimaksud Ayahku adalah bagaimana caranya kita mengatasi hidup dari susah hingga berhasil menjadi sukses. Ayahku hidupnya sangat serba kekurangan waktu masih kecil tetapi dengan kerja keras, pantang menyerah dan kepandaian, beliau berhasil sukses dan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Bahkan beliau pernah masuk majalah terkenal di Amerika karena perusahaan yang didirikannya sangat terkenal di seluruh benua. Pemimpin Britannia rayapun juga memakai produknya. Produk Ayahku bergerak disemua bidang. Makanan, minuman, pakaian, elektronik, obat-obatan dan masih banyak lagi. Bisa dibilang aku ini anak orang kaya. Tapi itu semua bakalan cuma mimpi kalau aku tidak berhasil memenuhi persyaratan yang diberikan Ayahku. Sebelum kesini, Ayahku telah memberikan sebuah tantangan padaku. Bila aku berhasil maka aku akan mewariskan usaha Ayahku yang itu berarti semua kekayaannya akan menjadi milikku. Syaratnya hanya satu yaitu aku tidak membuat nama keluargaku ternodai selama tiga tahun hidup di pulau ini. Kalau gagal itu berarti kematian. Aku tidak akan mendapatkan warisan dan namaku dicoret dari daftar keluarga itu artinya aku ditendang keluar dari keluargaku. Ditendang keluar itu sih tidak akan menjadi masalah buatku akan tetapi lain halnya dengan tidak dapat warisan. Tidak ada uang itu sih sama saja mati bagiku. Karena syarat yang dibuat oleh Ayahku, mau tidak mau terpaksa aku melakukan ini. Kalau tidak ada syarat itu, mungkin sampai sekarang aku masih hidup senang dengan berfoya-foya menghamburkan uang jajanku yang memiliki dua belas digit tanpa peduli dengan sekitar. Sekarang di rekeningku hanya ada uang berjumlah dua ratus juta dan bagiku itu sangatlah kurang dan tidak cukup buat sebulan. Keadaan yang tidak bagus buatku.
Kamar ini memiliki dua tempat tidur, dua meja belajar dan satu kamar mandi. Aku berjalan melangkahi kardus-kardus yang pada berserakan di lantai. Aku merebahkan tubuhku di tempat tidur yang letaknya berada didekat kamar mandi. Tubuhku terasa lelah karena semua kejadian yang terjadi hari ini. Rasa kantuk juga sudah mulai menyerangku. Aku memejamkan mataku dan tidak berapa lama kemudian akupun masuk kedalam alam mimpi.
Hari sudah berganti dari malam menjadi pagi. Kicauan burung sudah mulai terdengar dan sinar matahari mulai memasuki jendela kamar sang karakter utama novel ini. Pelan-pelan, tokoh utama novel ini membuka matanya. Mendengar kicauan burung dan melihat sinar matahari yang masuk melewati tirai jendela membuat tokoh utama novel ini bangun dari tempat tidurnya.
“Sudah pagi rupanya”, kataku sambil merogoh saku celana untuk mengeluarkan hapeku.
Mataku membelalak lebar karena terkejut melihat waktu sudah menunjukkan jam setengah tujuh. Aku buru-buru bangun dari tempat tidurku dan masuk ke kamar mandi. Aku mandi secepat mungkin. Setelah selesai mandi aku langsung membuka-buka kardus yang berserakan di lantai untuk mencari seragam sekolah baruku.
“Dimana? Kardus mana yang ada seragam sekolahku?”, kataku masih sambil membongkar kardus-kardus itu.
Akhirnya seragamku berhasil kutemukan setelah mengobrak-abrik kardus kesebelas yang di lantai. Aku langsung mengenakan seragam itu dan berkaca di depan cermin yang letaknya berada dipinggir kanan tembok dekat jendela kamar. Setelah kulihat diriku terlihat sudah rapi didepan cermin, aku langsung mengambil tas ranselku yang kuletakkan di lantai dan keluar dari kamarku. Aku juga tidak lupa untuk mematikan lampu dan mengunci kamarku sebelum pergi. Aku menuruni tangga dengan cepat dan berlari menuju pintu keluar. Tanganku sudah sampai digagang pintu tetapi aku langsung terdiam saat memegang gagangnya. Masalah baru muncul dibenakku. Aku tidak tahu dimana sekolahku.
“Gawat! Gimana nih? Masa aku telat di hari pertamaku sekolah”, kataku dalam hati masih dengan tanganku digagang pintu.
Keringat dingin mulai bercucuran jatuh ke lantai dari wajahku. Aku takut kejadian ini bakal membuat reputasiku jelek dan terdengar sampai ke telinga Ayahku. Tidak ada uang untukku. Aku ditendang keluar dari keluargaku. Akhirnya aku hidup di jalan seperti pengemis.
“Tidak!”, teriakku dalam hati sambil mengacak-acak rambutku.
“Pagi-pagi sudah berisik. Tenang dikit kek!”, kata suara wanita yang berasal dari belakangku.
Aku langsung menoleh kearah sumber suara itu. Aku melihat wanita yang mengaku dirinya sebagai waliku sedang berdiri dihadapanku. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalaku. Ide itu memberikanku sebuah harapan jika berhasil tetapi bayarannya adalah harga diriku jadi rendah kalau ide ini kulakukan.
“Biarlah, hanya harga diriku saja yang berkurang”, gumamku dalam hati sambil melihat kearahnya.
“Apa lihat-lihat!?”, tanya wanita itu dengan ketus karena merasa tidak nyaman dengan diriku yang terus melihat kearahnya.
Rasa kesalpun mulai muncul tapi tidak kuhiraukan. Aku berlutut dihadapannya lalu menciumkan keningku dilantai yang terasa dingin dikening dan kedua telapak tanganku.
“A-apa?”, tanya wanita itu terkejut dengan tindakkanku.
“Tolong antarkan aku ke sekolah dengan mobilmu”, jawabku.
“Enggak mau!”, balasnya dengan cepat.
“Kumohon tolonglah aku”, mohonku kepadanya.
“Ogah, ah!”, balas wanita itu dengan nada ketus.
“Wanita sialan! Apa kamu tidak merasa kasihan melihatku berlutut memohon seperti ini kepadamu!?”, umpatku di dalam hati.
Aku merasa sangat kesal mendengar jawaban yang diberikan wanita itu padahal aku sudah berbuat sejauh ini sampai membuang harga diriku demi mendapatkan pertolongan darinya. Aku mengangkat wajahku dan menatap dirinya. Dia menatapku dengan dingin sambil menaruh tangan kirinya dipinggang.
“Lihat apa kamu?!”, ucapnya dengan angkuh.
Ingin sekali rasanya aku menonjok wajah wanita tapi takut jika aku melakukannya bisa membuat nama keluargaku tercemar dan bukan hanya itu saja, aku juga bakal dicap sebagai kriminal dan akibatnya aku bakalan mati berdiri seumur hidupku. Melihat wajah angkuhnya membuatku tersenyum. Sebuah ide gila muncul di dalam kepalaku.
“Kenapa kamu nyengir seperti itu!?”, tanya wanita itu karena aku tersenyum kearahnya.
“Kakak cantik sekali”, jawabku.
“Hah?”, kata wanita itu yang terlihat bingung dengan jawabanku.
“Wajah Kakak tetap terlihat cantik walaupun sedang marah”, kataku.
“Ngomong apa sih kamu?”, tanya wanita itu yang tiba-tiba bergerak mundur selangkah.
“Sepertinya kata-kataku barusan berhasil membuat hatinya yang dingin itu terguncang. Bagus. Tinggal sedikit lagi”, gumamku di dalam hati setelah melihat tingkah wanita itu.
“Aku hanya sedang mengutarakan isi hatiku yang sedang terpesona dengan kecantikan Kakak yang bagaikan malaikat”, jawabku.
“Kamu...”, wanita itu ingin mengatakan sesuatu tapi kuputus karena aku melanjutkan ucapanku kepadanya.
“Kakak! Aku jatuh hati kepadamu!”, ucapku dengan keras sehingga kalimatku barusan bergema di lorong ini.
Wanita itu tiba-tiba terdiam. Hening. Yang terdengar hanya bunyi suara detikan jam di dekat pintu keluar asrama ini. Suara detikan jam itu membuatku sadar kalau waktu terus berjalan sampai saat ini. Aku kembali menciumkan keningku ke lantai dan memohon kepadanya. Kalau taktikku ini gagal maka habislah sudah diriku. Nama keluargaku tercemar, aku tidak dapat warisan, tidak ada uang dan akhirnya mati.
“Kakak, kumohon tolong antarkan saya ke sekolah”, kataku sambil terus memohon kepadanya.
Suasana kembali hening. Hanya suara bunyi detik jam yang terdengar di lorong itu.
“...baiklah”, kata wanita itu yang tiba-tiba memecahkan keheningan.
“Benarkah? Kakak mau mengantarku ke sekolah?”, tanyaku sambil mengangkat wajahku dari lantai dan melihat kearahnya.
“Mau bagaimana lagi, sebagai walimu aku harus menolongmu walau sebenarnya aku malas untuk melakukannya”, balasnya tanpa melihat kearahku sambil menyibakkan rambutnya dengan tangan kanannya.
“Terima kasih Kakak yang cantik, aku tidak akan pernah melupakan kebaikanmu saat ini”, kataku sambil kembali menciumkan keningku ke lantai.
“Udah ah, ayo ke mobil!”, balasnya sambil berjalan melewatiku dan pergi keluar dari asrama ini.
Akupun berdiri dan mengikutinya keluar. Aku melihat wanita itu sudah masuk kedalam mobilnya tetapi pintu mobilnya masih terbuka keatas.
“Tunggu apa?! Ayo masuk!”, kata wanita itu yang melihatku masih diam berdiri di depan mobilnya.
Tanpa ragu aku langsung masuk kedalam mobil itu dan memasang sabuk pengamanku. Setelah pintunya tertutup, wanita itu langsung menjalankan mobilnya dengan cepat keluar dari lingkungan asrama.
Selama perjalanan kami tidak berbicara sama sekali itu dikarenakan wanita itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan aku juga sampai menahan kedua tanganku di jok mobil karenanya. Perasaan takut kena kecelakaan menghantuiku walaupun aku sudah mengenakan sabuk pengaman. Pemandangan yang seharusnya bisa kunikmati dari jendela mobil terlihat buyar tidak jelas. Aku melihat lampu lalu lintas sudah berganti warna dari hijau menjadi merah. Bukannya menurunkan kecepatan malahan wanita itu injak gas sehingga mobil ini jaraknya sudah hampir mendekati zebra cross dimana lampu lalu lintas itu berada.
“Kak, kak, jangan ngebut kak! Itu sudah lampu merah!”, kataku.
Wanita itu tidak menggubris perkataanku dan tetap menambah kecepatan mobilnya. Aku berdoa dalam hati karena melihat mobil diseberangku sudah mulai jalan. Semua orang yang tadinya lagi pada jalan di zebra cross langsung balik lagi ke tempatnya semula karena untuk menghindari amukan mobil yang kutumpangi sekarang. Aku mulai berteriak karena tidak mau mati muda.
“Mamaaaaaaaaaaaa!”, teriakku saat kita melaju dengan sangat cepat melewati zebra cross dan kendaraan-kendaraan yang sedang lalu lalang di depanku.
Bersamaan dengan teriakanku yang bergema di dalam mobil, wanita itu dengan gesit dan reflek cepat berhasil menghindari dan melewati semua rintangan yang sedang dihadapinya sehingga akhirnya sampai ke seberang jalan. Aku masih tetap berteriak walaupun kita sudah berhasil keluar dari situasi yang mengerikan itu.
“Diamlah! Berisik tahu! Dasar orang norak!”, bentak wanita itu tanpa melihat kearahku karena pandangannya masih tertuju ke depan.
Aku langsung diam dan menelan ludahku setelah dibentak olehnya. Aku meraba-raba tubuhku untuk memastikan apakah ada luka atau tidak ditubuhku. Setelahnya aku langsung mengatur nafasku setelah tahu bahwa tubuhku tidak terluka. Aku menaruh tanganku di dada dan bisa merasakan kalau jantungku berdetak kencang. Tanpa aku sadari, ternyata aku sudah sampai ke sekolahku. Kami berhenti di depan pagar gedung sekolah itu.
“Kita sudah sampai nih”, kata wanita itu sambil mematikan mesin mobilnya lalu keluar dan berjalan menuju arah gerbang sekolah.
Aku melepaskan sabuk pengamanku lalu keluar dari mobil. Aku melihat wanita itu sedang berbicara dengan satpam yang berjaga di dalam gerbang sekolah. Satpam itu melihat kearahku. Aku merasa tidak enak karena tatapan tajam yang diberikan olehnya. Tidak lama kemudian, wanita itu memanggilku dengan melambaikan tangannya. Aku berjalan menghampirinya sampai berada disebelahnya.
“Dia murid baru sekolah ini”, kata wanita itu sambil menunjuk kearah saya yang berada tepat disampingnya.
Satpam itu melihatiku dari atas kepala sampai ke bawah ujung kaki. Terlihat ada ekspresi penuh dengan kecurigaan ditunjukkan olehnya kepadaku.
“Anda yakin kalau dia akan bersekolah disini?”, tanya satpam itu.
“Ya betul, dia akan bersekolah disini”, jawab wanita disampingku.
“Tapi dia ini...”, satpam itu ingin mengatakan sesuatu tetapi diputus oleh wanita disampingku.
“Sudahlah! Bukakan saja pagarnya!”, bentak wanita itu.
Satpam itu terlihat pasrah dan langsung menuruti kemauannya. Srek. Bunyi pagar yang sedang dibuka dorong oleh satpam itu. Pintu untuk masuk ke dalam gerbang sekolah akhirnya terbuka lebar. Sebelum masuk ke dalamnya, aku membungkukkan badanku kearah wanita itu untuk mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih sudah mengantarku Kak”, ucapku.
“Bukan apa-apa kok, sudah masuk sana daripada nanti telat”, balas wanita sambil mengibaskan tangannya dengan maksud menyuruhku pergi.
Setelah berterima kasih kepadanya, aku melangkahkan kakiku masuk kedalam sekolah. Aku langsung berlari menuju sekolah. Samar-samar aku mendengar suara wanita itu yang berkata,”belajar yang benar” dari arah punggungku. Tanpa melihat kebelakang, aku melanjutkan lariku ke arah gedung sekolah yang ada di depanku.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kepolosan Yang Hilang.