HALUSINASI
Kepolosan Yang Hilang
Mulai membaca
Awan putih dan langit biru, menunjukkan bahwa langit sedang cerah. Suasana yang sangat baik untuk berlayar bahkan banyak burung camar berterbangan kesana kemari sambil berkicauan diatas air laut yang tenang. Ditengah-tengah itu semua, terlihat sebuah perahu nelayan berukuran kecil sedang berlayar dengan cepat mengibas lelautan yang menghalangi haluannya. Terlihat hanya ada dua orang lelaki diatas perahu itu. Satu penumpang dan satunya lagi nahkoda. Sang nahkoda memiliki paras badan besar berotot kekar dan kulit coklat. Dia terlihat seperti sudah berumur 40-an karena rambutnya yang berwarna putih. Dia mengenakan kaos oblong dan celana pendek yang terlihat keren karena dia mengemudikan perahu. Dia juga terlihat seperti sudah berkali-kali menghadapi kerasnya laut ombak deras. Benar-benar lelaki sejati. Sedangkan satunya lagi, si sang penumpang hanya memiliki wajah biasa-biasa saja, bertubuh gemuk dan juga terlihat berusia belasan tahun. Pemuda gemuk itu mengenakan kaos tangan pendek warna putih dan celana pendek warna biru. Dia berdiri dibelakang sang nahkoda karena perahu itu tidak memiliki tempat duduk.
“Kita sudah mau sampai tujuan!”, teriak sang nahkoda. Dari kejauhan terlihat sebuah pulau yang akan menjadi tempat tinggal baru si lelaki gemuk itu yang juga adalah karakter utama novel ini.
Terlihat perahu nelayan berukuran kecil itu sedang berhenti di dermaga yang sepi. Dermaga itu terlihat sepi karena tidak ada perahu lain selain perahu nelayan berukuran kecil itu. Penumpang itu turun dari perahu kemudian menaruh tas ranselnya ditanah. Setelah itu dia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya sambil merenggangkan kedua tangannya keatas.
“Akhirnya sampai juga”, kataku didalam hati sambil menurunkan kedua tanganku.
“Selamat bersenang-senang anak muda”, teriak sang nahkoda sambil menjalankan perahunya pergi meninggalkan dermaga.
“Terima kasih banyak!”, balasku dengan suara yang keras sambil melambaikan tangan kananku.
Aku terus melambaikan tangan kananku sampai perahu nelayan itu mengecil dan tidak terlihat lagi dari pandanganku. Aku menurunkan tangan kananku lalu mengambil ransel yang kutaruh ditanah tadi.
“Sudah saatnya aku pergi”, gumamku dalam hati sambil mengenakan ranselku.
Aku membalikkan tubuhku dan tiba-tiba aku terkejut karena adanya kehadiran seseorang dihadapanku. Yang membuatku terkejut adalah dia seorang perempuan. Cantik pula. Rambut pendek sebahu dengan warna kuning cerah. Kulit putih mulus. Tinggi badannya terlihat lebih kecil 10 sentimeter dari tinggiku. Dia mengenakan jaket berkerudung warna putih dengan corak garis warna ungu disetiap tepinya dan rok warna hitam yang panjangnya hanya sampai diatas lutut. Tatapanku bertemu dengannya. Aku terdiam. Aku terpaku dengan pantulan diriku yang terpapar di matanya yang berwarna putih keabuan itu.
Aku membuka mulutku tetapi tidak ada satupun kalimat yang keluar. Aku bisa merasakan keringat mulai turun dari keningku. Dadaku juga sudah berdebar tidak karuan karena gadis itu terus menatapku tanpa berkedip sekalipun.
“Siapa dia? Mengapa dia melihatku seperti itu?”, kataku didalam hati sambil mencoba memikirkan kalimat apa yang harus kulontarkan.
Dengan kecepatan secepat kilat, tiba-tiba terbesit sebuah ide. Tanpa pikir panjang aku langsung mengibaskan rambutku kebelakang dan tersenyum.
“Hai cantik, apakah kamu mau minum teh dengan paman?”, kataku sambil tersenyum kepadanya.
Hening.
“Busyet! Aku ngomong apa sih?! Bisa-bisanya aku ajakin gadis cantik ini minum teh, kenal juga enggak, ini sih sudah pasti seratus persen bakalan ditolak”,kataku didalam hati.
Gadis itu hanya terdiam dan masih terus menatapku tanpa berkedip.
“Dia pasti jijik dengan senyumku”, kataku didalam hati sambil terus tersenyum paksa kepadanya.
Masih hening.
“Hello how are you? I am fine thank you and you?”, aku berkata kepadanya dengan bahasa Inggris karena dia memiliki perawakan seperti orang barat.
Raut wajah gadis itu tiba-tiba berubah dari rasa penasaran menjadi bingung.
“Aduh! Kok bahasa Inggrisku jadi kacau begini? Aku ini ngomong apa sih? Fine thank you and you? Busyet! Bikin malu saja”, kataku dalam hati sambil menahan rasa malu dengan tetap tersenyum kepadanya.
Aku ingin memalingkan pandanganku dari wajahnya yang cantik tapi aku takut akan menyakiti perasaannya jika melakukan hal itu. Seperti orang bodoh, aku masih tetap diam dan tersenyum kepadanya.
“Huf...ha ha ha ha ha”, gadis itu tiba-tiba tertawa sambil menutupi mulutnya menggunakan dua tangan dan memalingkan wajahnya kebawah.
“Fine thank you and you? Pfft...ha ha ha ha ha”, kata gadis itu sambil tertawa.
Aku hanya terdiam karena terpesona dengan wajah cantiknya yang sedang tertawa lepas tanpa halangan. Padahal aku bermaksud untuk memecahkan keheningan tetapi hasilnya diluar dari dugaanku. Gadis itu tersenyum sambil melihatku.
“Boleh”, kata gadis itu.
“Boleh apa?”, tanyaku karena bingung dengan perkataan gadis itu.
“Bukankah tadi kamu ingin mengajakku minum teh?”, balasnya.
Suasana berubah menjadi hening, yang terdengar hanya suara air laut dan kicauan burung camar.
“Apakah aku tidak salah dengar? Gadis ini menerima ajakanku?”, gumamku didalam hati.
“Tidak jadi ya?”, tanya gadis itu dengan raut wajah sedih.
Dadaku berdebar kencang. Tanpa menunggu lama aku langsung menganggukkan kepalaku dua kali dengan cepat.
“Tentu saja jadi mademmoiselle”, jawabku sambil mengancungkan dua jempol.
Raut wajah gadis itu langsung berubah dari sedih menjadi bahagia. Gadis itu mendekat lalu menarik tanganku. Aku terkejut karena ini pertama kalinya dalam hidupku ada lawan jenis yang menyentuhku selain Ibuku. Biasanya para perempuan selalu memberikan tatapan jijik kepadaku tidak peduli itu murid perempuan disekolahku, guru, pelayan restoran, kasir, bahkan pembantu dirumahku langsung pergi membersihkan tangannya saat tidak sengaja bersentuhan denganku.
“Kita sudah sampai”, ucap gadis itu yang langsung membuatku sadar dari lamunanku.
Ternyata sedari tadi aku terus melamun sehingga tidak sadar kalau aku sudah berdiri didepan sebuah bangunan satu lantai yang terlihat seperti sebuah restoran. Aku bisa melihat didalamnya cukup ramai pengunjung dari jendela didekat pintu masuk.
“Yuk kita masuk kedalam”, kata gadis itu sambil menarik tanganku.
Aku hanya diam saja membiarkan dia menarik tanganku dan masuk kedalam restoran itu. Begitu masuk, seorang pelayan perempuan mendatangi kami.
“Selamat datang direstoran kami, meja untuk dua orang?”, sambut pelayan itu dengan sopan. Dia melihat kearah gadis yang menarik tanganku lalu melirik kearahku. Tatapanku bertemu dengannya.
“Iya, untuk dua orang”, balas gadis itu yang masih belum melepaskan tanganku.
Tiba-tiba suasana berubah menjadi hening dan aku merasa semua mata yang ada direstoran ini tertuju kepada kami. Sang pelayan pun juga hanya terdiam dan menatapku. Tatapannya membuatku merasa terintimidasi. Aku jadi teringat hal-hal seperti ini sudah biasa terjadi saat aku berhadapan dengan lawan jenis. Tatapan dingin. Rasa sakit menusuk didadaku. Rasa mual muncul diperutku. Angin dingin yang dikeluarkan pendingin udara direstoran itu tidak menutupi panasnya perasaanku saat ini. Ingin rasanya aku berteriak dan pergi keluar dari restoran.
“Dimanakah kami bisa duduk makan mbak?”, tanya gadis itu dengan tegas sehingga membuat pelayan yang tadinya diam menatapku jadi terkejut.
“Oh, mari saya antar kesana”, kata pelayan itu dengan tersenyum lalu mengantar kami menuju meja makan yang letaknya berada diujung kanan restoran.
Gadis itu baru melepaskan tanganku pada saat kami sampai di sana. Kami berdua duduk lalu membuka buku menu. Menunya lumayan banyak dan juga terlihat lezat sehingga membuatku ingin mencoba semua makanan yang ada didalam buku menu itu. Setelah melihat semuanya, akhirnya aku memutuskan untuk memesan secangkir kopi susu hangat dan satu porsi nasi goreng seafood.
“Aku pesan seporsi nasi goreng seafood dan satu cangkir kopi susu hangat”, kataku kepada pelayan yang sedang melayani kami.
Pelayan itu menulis pesananku lalu mengulang kembali pesananku untuk memastikan pesananku benar atau tidak. Hatiku kembali jadi tidak karuan karena tatapan kami bertemu. Keringat mulai mengalir turun pelan diwajahku.
“Aku mau bistik ayam satu, spaghetti carbonara satu, nasi tim ayam kampung satu, nasi goreng spesial komplit satu, dan satu gelas besar cola float”, kata gadis itu.
Aku terkejut waktu mendengar pesanannya jauh lebih banyak dariku. Sang pelayanpun ikut terkejut saat mencatat pesanan gadis itu.
“Bistik ayam satu, spaghetti carbonara satu, nasi tim ayam kampung satu, nasi goreng spesial komplit satu dan cola float gelas besar satu, apakah itu sudah semuanya pesanan kakak?”, tanya sang pelayan.
“Betul, cepetan ya mbak soalnya cacing diperutku sudah pada ribut nih”, pinta gadis itu kepada sang pelayan.
“Baiklah, mohon ditunggu ya, saya akan kembali membawa pesanan kakak-kakak semua nanti”, kata sang pelayan sebelum pergi menuju dapur meninggalkan kami berdua sendirian.
Gadis itu bersenandung sambil membuka-buka halaman buku menu yang dipegangnya.
Suaranya membuat hatiku yang gelisah tidak karuan menjadi tenang kembali. Aku melirik kearahnya dan terlihat jiwa kepemimpinan ada didalam dirinya yang membuatku jadi jatuh hati kepadanya. Sebagai seorang lelaki, aku malah merasa bahwa dialah yang semestinya jadi lelaki daripada diriku. Tiba-tiba mata kami bertemu. Tanpa kusadari, aku langsung memalingkan wajahku kesamping untuk menghindari tatapan darinya. Aku berpura-pura melihat pemandangan luar dari kaca jendela yang berada disampingku. Pelan-pelan aku mencoba kembali melirik kearahnya. Tatapan kami bertemu lagi. Aku kembali berpura-pura melihat keluar jendela.
“Dia masih melihat kearah sini”, kataku didalam hati.
Dadaku berdebar kencang sehingga aku bisa mendengar suara detak jantungku sendiri. Aku mencoba berpikir bagaimana caranya supaya bisa keluar dari suasana yang canggung ini. Jujur saja aku bingung karena ini pertama kalinya dalam hidupku aku berduaan dengan lawan jenisku. Walaupun aku berpura-pura melihat pemandangan diluar tetapi hatiku sedang tidak disana. Aku juga bisa merasakan tatapan gadis itu masih kearahku.
“Hey”, kata gadis itu yang membuatku langsung berbalik melihat kearahnya.
Gadis itu memberikan tatapan serius. Aku hanya terdiam melihat kecantikan yang terpapar diwajahnya yang sedang serius itu. Kami berdua hanya terdiam saling memandangi satu sama lain.
“Dia sedang marah padaku ya?”, tanyaku didalam hati.
Tiba-tiba gadis itu tertawa sambil menutupi mulutnya dengan dua tangan agar tidak mengganggu pengunjung yang lain. Setelah selesai tertawa, dia melihat kearahku sambil tersenyum. Dadaku berdebar kencang sewaktu melihat senyumannya.
“Mia”, kata gadis itu.
“Hah?”, balasku dengan bingung.
“Mia, namaku Mia”, kata gadis itu.
“Oh, salam kenal Mia”, balasku lalu setelah itu aku memberitahukan namaku kepadanya.
“Wow, namamu keren sekali”, puji Mia kepada nama yang diberikan oleh orangtuaku kepadaku.
“Oh makasih tapi namamu juga bagus kok, cocok untuk kamu yang cantik”, balasku memuji namanya yang menurutku memang bagus untuk diucap oleh bibir dan enak didengar ditelinga.
Mia langsung terdiam dan wajahnya berubah menjadi merah padam. Suasana berubah menjadi hening karena aku juga baru menyadari bahwa perkataanku tadi terlalu berani untuk orang yang baru saja tadi kenal. Kami berdua sama-sama terdiam dan menundukan kepala karena malu. Sang pelayan datang membawakan pesanan kami dan menatanya dengan rapi di meja.
“Silahkan menikmati”, ucap sang pelayan setelah menaruh semua pesanan kami di meja.
“Ah, terima kasih banyak”, kataku sambil tersenyum kearah pelayan itu.
Pelayan itu terdiam sebentar lalu dengan cepat pergi meninggalkan kami berdua tanpa berkata apa-apa. Dadaku jadi sakit karena hal itu. Aku menghela nafasku lalu aku merasakan adanya tatapan penuh dengan amarah tertuju kepadaku. Ternyata Mia pelakunya. Entah mengapa dia terlihat marah kepadaku.
“Dasar mata keranjang”, ucap Mia sambil membuang muka.
Ucapannya membuatku bingung dan berpikir kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga dia mengucapkan kalimat itu. Aku mengambil sendok lalu mengelapnya sebelum kugunakan untuk memakan nasi goreng seafood yang kupesan tadi.
“Makanannya sudah datang, ayo kita makan”, kataku kepadanya.
Tanpa melihat kearahku, dia langsung mengambil memakan semua makanan yang dipesannya dengan lahap. Aku hanya terdiam melihat dia menghabiskan semua makanannya tanpa sisa.
“Nah ini baru namanya kenyang”, ucap Mia dengan bahagia sambil memeganggi perutnya.
“Makanannya pada pergi kemana semua?”, tanyaku didalam hati sambil melihat kearah perutnya yang langsing.
“Kamu enggak makan?”, tanya Mia yang sadar kalau aku dari tadi belum menyentuh makananku.
“Ah, iya”, balasku.
Aku memakan makananku dengan perasaan gugup karena Mia terus memperhatikan diriku yang sedang makan. Aku makan dengan pelan agar aku tidak tersedak atau makananku tumpah kemeja. Lirik. Aku hampir tersedak karena terkejut melihat Mia tersenyum kearahku.
“Apakah ada sesuatu di wajahku?”, tanyaku.
“Plankton”, balasnya.
“Hah?”, balasku bingung.
Tiba-tiba Mia tertawa. Hal itu membuatku jadi tambah bingung.
“Aku cuma bercanda kok, jangan dianggap serius”, ucapnya masih sambil tertawa.
Setelah mendengar perkataannya, aku kembali melanjutkan acara makanku. Aku meningkatkan sedikit kecepatanku karena merasa tidak enak membuat dia menungguku selesai makan. Akhirnya tidak makan waktu lama, aku menyelesaikan makananku. Perutku terasa kenyang walaupun aku hanya makan seporsi saja.
“Sudah kenyang?”, tanya Mia.
“Sudah”, jawabku sambil meminum kopiku.
“Enakkan nasi gorengnya?”, tanya Mia lagi.
“Enak, lain kali aku mau mencoba menu yang lain nanti kalau aku kesini lagi”, jawabku.
“Kalau kesini ajak aku lagi ya, aku juga masih ada makanan yang ingin kucoba”, ucapnya dengan mata berbinar.
“Oke”, balasku sambil mengancungkan jempol.
“Benaran nih? Enggak bohongkan?”, tanya Mia dengan penuh harap.
“Benaran tapi bolehkah aku minta nomor hapemu?”, balasku sambil mengeluarkan hapeku dari saku celana.
Mia mengeluarkan hapenya dari saku jaketnya. Hapenya berwarna merah muda dan memiliki banyak hiasan stiker gambar bintang dan emoji dibadannya.
“Ayo kita tukaran nomor”, katanya sambil menunjukkan hapenya.
Aku terdiam. Aku tidak berpikir kalau dia mau memberitahu nomor hapenya kepadaku padahal aku hanya bergurau karena yakin kalau dia tidak akan mau melakukannya. Dengan ragu-ragu, aku mengetik nomor hapeku.
“Ini nomorku”, kataku sambil menunjukkan layar hapeku kepadanya.
Dengan sigap dia langsung mengetik nomorku. Aku terkejut dengan kecepatan jarinya. Tidak sampai dua detik, nomorku sudah terekam di hapenya. Tiba-tiba hapeku berdering dan aku melihat ada nomor yang tidak kukenal terpapar dilayar hapeku. Aku mengangkatnya.
“Halo?”, tanyaku.
“Ini nomorku”, jawab suara perempuan yang kudengar di hapeku.
Aku berpaling dan melihat Mialah pemilik nomor tidak dikenal itu. Dia sedang bertelepon sambil melambaikan satu tangannya untuk memberitahu kalau dialah yang meneleponku. Aku menganggukkan kepalaku lalu merekam nomornya di hapeku. Mia. Nama lain yang muncul di daftar kontak selain Ayahku dan rumahku. Rasa bangga dan senang muncul di dadaku. Tanpa kusadari, diriku tersenyum.
“Aku mau pesan hidangan penutup, boleh enggak?”, tanya Mia yang langsung membuatku tersadar.
“Busyet, bukankah tadi dia makan banyak sekali dan sekarang dia mau makan lagi?”, tanyaku dalam hati.
Jujur aku terkejut dengan badannya yang langsing seperti itu dia bisa makan banyak sedangkan badanku yang jauh lebih besar darinya saja sudah kenyang hanya dengan makan satu piring nasi goreng. Jempol kananku kuacungkan sambil tersenyum. Kebahagiaan terpampang di wajahnya. Dia membuka buku menu lalu memanggil sang pelayan.
“Ada yang bisa dibantu?”, tanya sang pelayan.
“Aku mau banana split satu terus es krim sundae gelas besar satu dan puding coklat dengan es krim stroberi satu”, jawab Mia.
Aku terbelalak mendengar pesanannya bukan hanya satu tapi tiga.
“Banana split satu, es krim sundae ukuran besar satu dan puding coklat dengan es krim stroberi satu, pesanan kakak sudah semua?”, tanya sang pelayan.
“Ah, tambah kentang goreng saus barbekyu juga ya mbak”, balas Mia menambah pesanannya.
“Saya ulangi lagi ya pesanan kakak. Banana split satu, es krim sundae ukuran besar satu, puding coklat dengan es krim stroberi satu, dan kentang goreng saus barbekyu satu. Apakah pesanan kakak sudah semua?”, tanya sang pelayan untuk memastikan bahwa pesanannya sudah benar semua.
“Ya dan ditambah cepat ya mbak”, minta Mia kepada sang pelayan.
“Baiklah, mohon ditunggu sebentar ya”, jawab sang pelayan.
Aku melihat kearah punggungnya yang pergi meninggalkan kami. Mia terlihat gembira. Dia bersenandung lagu yang tidak pernah kudengar.
“Lagu apa?”, tanyaku karena penasaran.
“Hm? Lagu?”, balasnya.
“Iya, aku ingin tahu judul lagu yang kamu nyanyikan tadi”, kataku.
“Ganbare!”, balasnya.
“Gan...apa?”, kataku bingung.
“Ganbare! Itu lagu pembukaannya anime mahou shoujo Mika-mika-chan”, balas Mia dengan mata berbinar.
Aku terdiam menatap matanya yang tiba-tiba dipenuhi dengan aura kehidupan. Aku juga merasakan wajahku berubah menjadi merah padam. Tiba-tiba dia bangun dari tempat duduknya lalu melakukan gerakan aneh dihadapanku. Dia berputar sebanyak dua kali sambil mengucapkan bahasa yang tidak dapat kupahami lalu mengakhirinya dengan pose mengedipkan matanya sambil memberikan kecupan dari tangan kanannya. Aku terdiam menatap kearahnya.
“Bagaimana? Apakah aku berhasil mencuri hatimu?”, tanya Mia setelah selesai melakukan aksinya tadi.
“Jujur saja. Aku sama sekali tidak tahu harus berkata apa tetapi kita baru saja menjadi pusat perhatian semua orang dan itu membuatku jadi merasa malu”, gumamku dalam hati karena sadar semua mata tertuju kearah kita.
Mia sepertinya masih menunggu jawaban dariku tetapi aku hanya terdiam hingga akhirnya ada anak perempuan yang sedang duduk bersama Ibunya menunjuk kearah Mia berkata,”Mika-mika-chan”.
Mereka duduk tepat di sebelah kami. Anak perempuannya terlihat seperti masih berusia 5 atau 6 tahunan. Ibunya dengan cekatan langsung menurunkan tangan anaknya dan meminta maaf kepada Mia. Mia tersenyum dan berjalan mendekati anak perempuan itu lalu kembali melakukan gerakan aneh tadi sambil menyanyikan sebuah lagu. Anak perempuan itu terlihat gembira sekali lalu ikut bernyanyi dengan penuh semangat. Suasana berubah menjadi penuh dengan kehangatan. Banyak pengunjung yang tersenyum melihat kejadian itu. Aku yang tadinya malu juga berubah menjadi tersenyum melihat pemandangan itu. Semua orang terlihat bahagia.
“Ah, kenyangnya”, kata Mia memegangi perutnya.
Sekarang kita sedang berjalan diluar restoran. Banyak orang lalu lalang. Aku merasa banyak tatapan yang sedang tertuju kepadaku tetapi tidak kuhiraukan karena perhatianku sedang tertuju ke secarik kertas yang sedang kupegang. Secarik kertas yang biasa dipanggil dengan nama “bon”. Mataku terpaku dengan angka yang tertera didalamnya.
“Busyet, inikah harga kebahagian?”, tanyaku dalam hati sembari menyimpan bon itu ke saku celanaku.
Aku melihat ke langit dan terlihat hari sudah mulai menuju sore. Aku masih belum sampai ke tempat tujuanku. Aku melihat kearah Mia. Dia berbalik melihat kearahku dan tersenyum. Senyuman darinya membuat diriku jadi lupa dengan tujuanku untuk bertanya alamat tempat yang kutuju.
“Makasih ya sudah mentraktirku”, katanya masih sambil tersenyum.
“Sama-sama”, balasku.
Kami melanjutkan jalan kami tanpa mengeluarkan satu katapun dan itupun berlangsung cukup lama. Terdengar suara kendaraan, suara orang lalu lalang dan langkah kaki kami yang sudah menyatu dengan suara langkah kaki orang-orang sekitar.
“Kok tiba-tiba suasananya berubah jadi canggung begini? Apakah jawabanku tadi terlalu dingin?”, tanyaku pada diriku sendiri dalam hati.
Aku melirik kearahnya. Mia masih berjalan disampingku tapi ekspresi wajahnya terlihat muram. Dadaku terasa sakit melihatnya. Kalimatku tadi sepertinya penyebab suasana yang canggung ini terjadi. Keringat dingin mulai bercucuran di wajahku. Aku memutar otakku mencari cara agar bisa keluar dari situasi ini. Nihil. Sama sekali tidak terpikir caranya. Aku mencobanya lagi tetapi hasilnya tetap sama. Waktu terus berlalu hingga tanpa kusadari kalau langit sudah berganti dari sore menjadi malam. Kami terus berjalan tanpa saling berbicara satu sama lain.
“Tak tak tak”, bunyi dari langkah kaki menaiki anak tangga jembatan penyeberangan.
Kami sudah sampai diatas. Tidak ada yang berbicara. Yang terdengar hanya suara langkah kami berdua yang sedang berjalan dan ditemani suara kendaraan dibawah kami. Aku ingin memulai pembicaraan tapi tidak terpikirkan topik apa yang harus kubicarakan. Aku melanjutkan jalanku. Tanpa kusadari, Mia menghentikan langkahnya.
“Hey”, panggil Mia yang membuatku menoleh kebelakang karena menyadari dirinya tidak berada disampingku.
Mia berada tidak jauh dibelakangku. Dia diam menatapku sebentar lalu menundukkan kepalanya. Tidak berapa lama, dia menatapku dan dengan mata penuh keberanian mengatakan sesuatu kepadaku.
“Jadikan aku pacarmu!”, katanya dengan suara keras.
Aku terdiam. Suara klakson mobil melintas memecahkan keheningan yang terjadi. Aku mencoba mencerna perkataannya barusan sambil ditemani suara sekitar.
“Apa? Pacar? Dia mau aku menjadikan dirinya pacarku?”, pikirku.
Dadaku mulai berdegup kencang. Aku belum menjawabnya karena takut kalau dia sedang mengerjaiku tetapi aku melihat keseriusan terpancar di matanya. Dengan berani, aku membuka mulutku.
“Oke”, kataku singkat.
Wajahnya berubah dari serius menjadi gembira setelah mendengar jawabanku tadi. Gerak tubuh kegirangan ditunjukkan olehnya. Dia berbalik dan lari meninggalkanku. Dia berhenti lalu berbalik kearahku dan berkata,”sampai jumpa nanti sayangku”. Setelah itu dia berbalik dan lari meninggalkanku. Karena tidak percaya dengan ini semua, aku mencubit pipiku. Aku merasakan sakit di pipiku.
“Ini bukan mimpi rupanya”, kataku masih belum melepaskan pipiku yang kucubit.
Setelah sakit yang kurasakan ini kurasa nyata, aku berhenti mencubit pipiku. Aku menaruh tangan kananku di dada. Debaran dadaku dapat kurasakan ditelapak tanganku.
“Sepertinya kehidupanku disini tidak akan membosankan”, kataku.
Setelah memastikan pada diriku sendiri apa yang baru saja terjadi barusan bukanlah mimpi, aku berbalik melanjutkan jalanku dan berjalan menuruni tangga. Aku terus berjalan, jalan dan jalan dan jalan terus sampai akhirnya aku sadar kalau aku tidak tahu dimana tempat tujuanku. Aku menepuk jidatku dan menyesal karena lupa bertanya tempat tujuanku sewaktu Mia masih bersamaku.
"Seharusnya tadi aku tanya sama dia", ucapku kepada diriku sendiri dengan penuh penyesalan.
Aku menengadahkan kepalaku keatas. Aku melihat langit benar-benar sudah mulai gelap dan bintang sudah mulai menunjukkan sinar kilau gemerlapannya kepada dunia.
"Kalau memang begini, lebih baik aku cari hotel dulu biar bisa tidur", ucapku di dalam hati .
Aku melanjutkan langkahku dan berharap kakiku bisa membawa ke tempat tujuanku.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Kepolosan Yang Hilang.