Diyah Islami
Desa Kanibal
Mulai membaca
# Bab 1
Malam itu, di hutan yang lengang. Dengan setiap pepohonan yang tinggi nan menjulang menghiasi jalanan, sebuah mobil Mercedez Benz berwarna hitam melintas dengan perlahan. Sorot lampunya menerangi jalanan yang cukup sepi dihiasi bunyi binatang malam.
Pukul sebelas saat Tika melihat arloji, dinginnya udara membuat ia yang duduk di samping kemudian menurunkan kaca mobil. Sebenarnya alasan lain bukan karena hal itu, melainkan ia cukup merinding saat melihat keadaan di luar sana. Seolah dedaunan pohon yang bergerak karena tertiup angin berusaha untuk menakutinya. Ia sengaja menguatkan volume musik, alunan lagu Shepia dari Sheila On 7 yang sedang hits, sedikitnya membuat ia merasa tenang.
"Ini jalannya yang bener, yang mana?" tanya Satria saat tak berapa lama mobil yang ia kendarai berada di persimpangan jalan dengan arah panah penunjuk jalan yang sudah tak berbentuk. Bahkan sudah terlihat lapuk.
Mobil mereka berhenti tepat di tengah-tengah dua jalan yang terpisah dengan arah tanda panah yang berbentuk itu sebagai pembatas.
Sementara di bangku penumpang, Tika, Lidya, Faisal, dan Arin saling pandang dengan raut bingung. Kelimanya juga tak ada yang tahu jalan.
Ini pertama kali kelimanya berpergian bersama. Itupun untuk menghadiri pernikahan Intan, sang sahabat yang diadakan gadis itu di kampungnya. Mengetahui jalan alakadarnya, mereka nekad pergi karena sudah lama tak bersua dengan Intan.
Terakhir kali kelimanya bertemu adalah saat masa SMA. Setelahnya kelimanya berpencar untuk berkuliah di universitas masing-masing.
"Hadeh! Coba telpon Intan aja!" saran Tika yang duduk tepat di samping Satria. Ia menoleh ke belakang, tepat ke arah Lidya. Gadis itu langsung membuka ponselnya.
"Gak ada sinyal," ucap Lidya yang duduk di tengah, di sisinya Faisal melongok, menatap ponsel gadis itu dan mencoba menggunakan ponselnya.
Mengotak-atik tombol dari benda berbentuk persegi panjang dengan layar kuning itu dengan cermat, lantas menggeleng pelan sembari menatap Tika. Bar sinyal di ujung ponsel tak kunjung bertambah.
"Bener, gak ada sinyal di sini," ucapnya kemudian.
"Lah terus gimana?" tanya Arin yang duduk di bangku belakang sendirian. Faisal menoleh, tersenyum sembari mengangkat bahu pada gadis itu.
Arin menghela nafas, menatap ke luar mobil dari kaca jendela. Rimbunan pepohonan yang lebat tanpa satu rumah penduduk pun. Seketika membuatnya resah.
Ia mengambil undangan yang diberikan Intan dua minggu lalu saat dengan sengaja sahabatnya itu datang ke kota, mengunjunginya di universitas.
Dua September tahun tahun dua ribu, tanggal yang tertera di undangan tersebut. Setelah berdiskusi, kelimanya berniat datang satu hari sebelum pernikahan Intan dilaksanakan.
Selama ini, yang Arin, Faisal, Lidya, Tika dan Satria tahu Intan tinggal bersama Paman dan Bibinya untuk melanjutkan sekolah. Sementara rumah asli Intan yang diceritakan gadis itu berada cukup jauh di dalam hutan tak pernah kunjungi.
Jadi untuk pertama kali, dengan inisiatif liburan. Kelimanya nekad pergi meski tidak begitu tahu arah jalan. Hanya melalui petunjuk yang diberikan Intan sekedarnya.
Namun, setelah beberapa jam berkendara, tak ada tanda-tanda sebuah pesta akan terlaksana. Atau jangan katakan soal itu, rumah penduduk pun Arin tak melihatnya barang satu atau dua.
"Ikut insting aja!" ujar Tika asal.
"Gila Tik, kalau kesasar gimana?"
"Ya, gitu Lid."
Tika terkekeh, sementara Lidya menggeleng pelan sembari memutar mata melihat tingkah sahabatnya itu. Dalam keadaan begini bahkan Tika masih bisa bercanda.
"Lagian Intan nikahannya di pelosok bener. Mana udah malam gini, kita gak mungkin balik lagi, kan? Jalan masuknya aja jauh banget tadi," ujar Satria yang diiyakan oleh keempat sahabatnya yang lain.
"Yaudah voting aja, milih kanan atau kiri," usul Arin kemudian. Tak ada pilihan lain selain mencoba semua jalur yang ada.
"Bisa gitu?" Faisal menoleh ke belakang tempat gadis itu duduk.
"Mau gimana lagi coba? Nunggu sinyal ada? Nunggu pagi datang? Ini area hutan, kalau ada binatang buas gimana? Ya syukur-syukur kita ketemu Desa berpenghuni dulu. Kalau misalnya salah jalan bisa di sana dulu terus kita balik lagi ke sini dan lewati jalan ini," ucap Arin enteng.
Kelima sahabat yang duduk di mobil itu mengangguk-angguk. Tampak setuju dengan usul yang diberikan oleh Arin.
"Ide bagus, kanan." Faisal bersuara.
"Kiri deh," ucap Tika.
"Kiri aja, kayaknya itu jalan yang bener deh." Lidya memberi usul.
"Kanan," ujar Satria.
"Kanan," tukas Arin.
"Oke karena kanan paling banyak, kita pilih lewat jalan kanan aja." Satria memutuskan. Terdengar sedikit aneh, tapi apa boleh buat. Satria mulai menjalankan mobilnya kembali dengan laju yang begitu pelan. Jalanan kecil dan sedikit berbatu itu, tampak seperti jalan yang jarang dilewati pengendara.
"Aku gak tahu kenapa, tapi perasaanku mulai gak enak sekarang," ucap Lidya di tengah perjalanan.
"Gak enak kenapa Lid?" tanya Arin.
Lidya angkat bahu. "Gak tahu, firasatku tiba-tiba jelek aja gitu."
"Mungkin belum makan kali," ucap Arin asal.
"Ya kali, Rin!" protes Lidya, gadis yang duduk di belakangnya itu terkekeh.
Mobil mereka berbelok ke kanan, menyusuri jalanan penuh pepohonan yang tinggi. Jalanan sepi dan lengang serta penerangan hanya berasal dari mobil yang mereka kendarai membuat kesan menyeramkan semakin kentara.
Hanya suara mesin mobil yang memecah kesunyian. Beberapa kali terdengar suara binatang yang sangat berisik, entah dari mana asalnya.
"Jangan buka jendela Tik!" peringat Lidya geregetan.
"Kenapa sih? Cuma mau lihat suara binatang itu berasal dari mana."
"Jangan cari gara-gara deh, udah tutup jendelanya! Gak lucu, kan, kalau tiba-tiba ada yang nongol."
"Kamu mah takut makanya bilang begitu," ucap Tika sembari tersenyum menggoda. Ia menoleh ke belakang.
"Iya, kan?"
"Kayak kamu gak takut aja!"
Perseteruan itu terus berlanjut, sementara di bangku belakang beberapa kali Arin terus mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Ia sama sekali tak minat untuk ikut perdebatan antara Tika dan Lidya yang ditengahi Faisal dan Satria. Arin sibuk menolehkan kepala ke sana ke mari seolah merasa ada yang tengah memperhatikannya.
Sesaat pandangannya tertuju pada suatu pohon yang agak besar di pinggir jalan. Ia mengerutkan dahi, mengucek matanya berkali-kali.
Ia tidak salah lihatkan?
Itu wanita dengan pakaian merah di balik pohon sedang melambaikan tangan ke arahnya.
"Sal! Faisal!" panggil Arin kemudian tanpa mengalihkan pandangan dari sosok itu. Tangannya menepuk-nepuk pundak Faisal hingga lelaki itu menoleh.
"Apaan, Rin?"
"Kamu lihat itu, gak?" tunjuk Arin pada sosok tersebut. Faisal mengikuti arah yang ditunjuk Arin.
"Mana?"
"Itu!"
Faisal mengerutkan kedua alis, menatap lamat-lamat tempat tersebut.
"Gak ada siapa-siapa, Rin. Jangan bikin takut deh, apa sih yang kamu lihat?" tukas Lidya yang juga sedang memperhatikan hal yang sama. Tak sengaja mendengar pembicaraan dua orang sahabatnya itu
"Ih mata kalian semua katarak, ya? Gak lihat ada perempuan di balik pohon itu lagi lambai-lambaikan tangan?"
Ciiit!
Arin sontak terhuyung ke depan, bersamaan dengan Faisal dan Lidya yang tak berpegangan sedari tadi. Ketiganya menoleh ke depan. Menatap Satria yang mengemudi dengan sengit.
"Sat, kenapa tiba-tiba berhenti?"
"Kalian gak lihat barusan ada yang nyebrang tadi?" ucap Tika sama shock nya dengan Satria yang menyetir.
"Memangnya apa yang lewat?" tanya Faisal.
"Ya gak tahu. Tiba-tiba aja ngelintas buat kaget jadi aku ngerem mendadak," jawab Satria.
"Please, firasatku gak enak. Kayak pertanda kita gak boleh jalan lagi gak sih." Lidya lagi-lagi mengucapkan hal yang sama.
"Eh, mana ada kayak begituan. Mending lihat dulu mana tahu ada hewan yang ngelintas terus ketabrak," usul Arin.
"Kamu yang lihat coba, Sal!"
"Aku sendiri?"
"Ck ... yaudah bareng aku," ucap Lidya. Keduanya sontak turun dari mobil, mengintip ke bawah kolong dan tak melihat ada apa-apa di sana.
Lidya memberi isyarat dengan menyilangkan dua tangannya di depan tubuh dari luar mobil membuat ketiga temannya bernafas lega.
"Udah Lid, ayo masuk! Lama-lama seram juga di sini," ujar Faisal.
Lidya mengangguk, berjalan mendekati mobil dan hendak membuka pintu.
Srak! Srak!
Ia menoleh seketika, semak-semak ilalang di belakangnya bergoyang diantara pohon besar. Hal itu menarik perhatiannya. Seolah ada sesuatu yang sedang mengintip mereka dari sana.
"Lid, ayo masuk!" perintah Tika. "Kamu lihatin apaan dah?"
"Gak, itu kayak ada yang ...."
Lidya menggeleng, menatap lekat padang ilalang itu yang tak lagi bergoyang. Ia menghiraukan hal itu dan masuk ke dalam mobil.
Kendaraan itu melaju kembali dengan kecepatan sedang. Hampir dua jam setengah membelah jalanan hingga sampai di pemukiman yang agak terpelosok. Bangunan-bangunan yang tampak kuno karena masih beratapkan daun kelapa dengan penerangan yang cukup minim. Beberapa obor tampak menghiasi bagian depan rumah-rumah tersebut.
"Ini Desa Intan?" tanya Tika penasaran sembari celingukan. Desa itu begitu sepi seolah tak berpenghuni.
"Kayaknya gak mungkin deh."
"Jadi gimana? Mau turun atau putar balik?"
"Lihat, itu ada warga, tanya aja coba!" tunjuk Faisal pada seorang warga yang terlihat mengintip dari balik pohon dengan obor di tangan dan sebuah benda panjang di tangan yang satunya, mirip seperti busur panah.
Lalu, sesaat kemudian, beberapa warga lain mulai bermunculan. Satu persatu mendekati mobil mereka, mengerumuni dari beberapa sisi.
"Aku udah berusaha gak berpikir negatif, tapi kenapa mereka semua bawa pisau dan senjata tajam?" tukas Arin membuat keempat temannya menegang.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari Desa Kanibal.