Diyah Islami
Desa Kanibal
Mulai membaca
# Bab2
Satria dan keempat temannya kebingungan, mau turun tapi ngeri melihat para warga itu masing-masing membawa pisau dan berbagai senjata tajam lain.
Keadaan Desa itu juga agak menakutkan. Tak ada lampu rumah yang menyala layaknya rumah-rumah di kota. Penerangannya hanya berupa obor dan beberapa lampu petromax.
"Gimana? Kok aku jadi khawatir," tukas Faisal sembari menatap sekeliling, menelisik wajah teman-teman yang sama tegang dengan dirinya.
Keributan yang tadi sempat hinggap di dalam mobil kini mendadak sunyi. Kelimanya diam, tapi memikirkan hal yang sama di kepala masing-masing.
Mereka sedang dalam bahaya atau ini hanya firasat saja. Tapi tak mungkin sambutan selamat datang dari para warga dengan membawa senjata tajam.
Tok! Tok! Tok!
Semuanya reflek menoleh ke arah kiri, jendela kaca mobil di dekat Tika duduk yang telah diketok salah satu warga dari luar sana.
Lelaki yang mengetuk jendela itu tampak mendekatkan wajahnya dan mengintip isi dalam mobil yang gelap. Tika mengalihkan pandangan, tangannya menarik kaus Satria.
"Aku takut, Sat." Tika memejam, gak berani noleh.
Satria melirik sekilas, jantungnya berdegup kencang tak karuan. Jangankan Tika, kalau Satria juga duduk di bangku Tika dan mendapati lelaki itu memperhatikannya begitu juga ia akan sangat ketakutan.
Satria hanya berusaha menepuk-nepuk pundak gadis itu sembari berusaha menenangkan.
"Mungkin penasaran kali, atau merasa kita adalah ancaman buat mereka. Coba keluar aja dulu jelasin baik-baik kita darimana mau ke mana," usul Arin yang langsung disetujui Satria. Lelaki itu keluar dari mobil pertama kali.
Keadaan tidak mengenakkan ini harus ditengahi dengan kepala dingin.
"Sumpah, perasaanku gak enak banget," tukas Lidya sembari menenangkan degup jantungnya yang menggila. Ia ikut turun disusul Tika, Faisal dan Arin.
Kelimanya menghadap warga yang telah mengerubungi. Masing-masing menatap kelimanya dengan pandangan tajam.
Sesaat setelahnya, perkumpulan itu menyeruak, salah satu dari warga tersebut yang sepertinya tampak disegani muncul di sela-sela kerumunan. Mata tajamnya menatap satu persatu anak muda itu dengan binar bahagia.
"Kalian datang dari mana?" tanyanya dengan logat daerah yang khas. Sedikit aneh namun masih dapat dimengerti oleh Satria. Meski lelaki itu bingung karena tak pernah mendengar logat daerah yang seperti itu.
"Kami dari kota, Pak, mau ke tempat nikahannya teman kami. Namanya Intan, apa dia tinggal di desa ini?" tanya Satria dengan suara pelan.
"Intan?" Lelaki tua itu terdiam sesaat. "Dia ada di sini!"
Satria menoleh ke arah Faisal, keduanya berpandangan, merasa sedikit ragu namun tak bisa membantah.
"Kalau begitu acara nikahannya di mana ya, Pak? Saya gak lihat ada acara nikahan di sini soalnya," tanya Faisal kemudian.
"Nanti saya tunjukkan, jangan khawatir teman kalian Intan itu ada di sini. Sebaiknya kalian menunggu lebih dahulu di tempat yang saya sediakan!"
Lidya menautkan kedua alis, merasa janggal. Ia menyenggol tangan Tika yang dijawab wanita itu dengan mengangkat bahu. Sementara Arin sibuk menelaah tempat tersebut, asing dan sedikit ... menakutkan.
"Mari, ikuti saya untuk menuju tempat kalian menunggu. Sementara saya akan memanggil Intan untuk menemui kalian."
Satria mau tak mau mengangguk. Mengingat para warga yang mengelilingi mereka sekarang membawa senjata di tangan masing-masing membuat ia mau tak mau harus menuruti ucapan lelaki tua itu lebih dahulu. Ia mengisyaratkan keempat temannya untuk mengikuti.
"Sat, kok gue rasa Bapak itu bohong, ya!" tukas Tika sembari berbisik.
"Jangan bilang gitu, ikuti aja dulu. Siapa tahu Intan memang ada di sini."
Tika menghela nafas, mengikuti langkah Satria yang berjalan lebih dahulu, diikuti oleh Tika, kemudian Faisal, Lidya dan Arin.
Gadis itu berjalan di belakang, tak sadar sedari tadi ada mata yang mengikuti dengan binar bahagia. Saat ia lengah sosok itu mendekat.
"Argghh!" seru Arin kesakitan ia menoleh dan mendapati seorang anak kecil tengah menggigit tangannya dengan kuat.
"Luta, kamu ngapain?" Seorang wanita kini menarik tangan sang anak kecil tersebut hingga gigitannya terlepas dari tangan Arin.
Wanita itu tak meminta maaf, hanya menatap Arin lekat sembari membisiki anak kecil itu dengan suatu bahasa yang cukup aneh menurut Arin.
Arin mengibas-ngibas tangannya. Perih bercampur jijik. Tangannya berbekas gigitan dan air liur anak kecil itu.
"Ibu anaknya tolong dijaga, ini tangan saya sakit sekali loh," protes Arin tak terima.
Wanita itu hanya meliriknya tajam, lalu mengalihkan pandangan pada sang anak.
"Tidak boleh begitu, kamu bisa dimarahi ketua."
"Enak Ibu, sudah lama tidak makan daging. Semenjak Ketua Pele mati, kita sudah tidak bisa berburu lagi."
"Luta!"
Arin terpaku, komunikasi yang cukup aneh. Daripada menunggu permintaan maaf yang tak kunjung keluar dari mulut wanita itu ia bergerak menyusul keempat temannya. Melewati para warga yang menatap tanpa berkedip. Seolah sedang memperhatikan buruan mangsa yang telah tertangkap basah.
Kelimanya sampai di sebuah rumah. Ah, bukan rumah lebih tepatnya. Entah kenapa Arin merasa itu seperti kerangkeng yang ditutupi oleh daun kelapa secara tidak keseluruhan. Hanya sebuah tempat berbentuk segi empat yang ditutupi oleh tiang-tiang kayu. Ada sela-sela di bagian rumah tersebut. Persis seperti penjara yang ditutupi daun kelapa.
Lelaki tua yang berjalan di depan satria membuka pintu, lantas mempersilahkan mereka masuk.
"Silahkan tunggu di sini!" ucap Lelaki itu dengan seringaian.
Satria mendadak terpaku, hendak menolak dan mengurungkan niat saat melihat rumah itu hanya beralaskan tanah merah. Ragu ia untuk masuk, namun tatapan mengintimidasi si lelaki tua mau tak mau membuatnya kembali menggerakkan langkah dan keempat temannya mengikuti hal itu.
"Saya akan mencari Intan, jadi kalian jangan kemana-mana!" ucap si lelaki tua sebelum menutup pintu ruangan tersebut.
Gelap gulita dan hanya ada obor api sebagai penerangan. Lidya yang duduk di samping Arin memperhatikan saat gadis itu berulangkali mengaduh.
"Kamu kenapa Rin?"
"Tangan aku luka," ucapnya sembari menunjukkan tangannya yang kemerahan dan ada sedikit bercak darah dari bekas gigitan anak kecil tadi.
"Kok bisa? Kamu nyenggol apa?"
"Gak nyenggol apa-apa, tiba-tiba digigit sama anak kecil di belakangku tadi. Tahu tuh anak, entah belajar sopan santun dari mana."
"Coba aku lihat!" ucap Satria mendekat. Memperhatikan tangan Arin yang terluka. "Dalam banget gini, kalo dibiarin bisa lepas daging kulit kamu Rin. Tuh anak kayak gak main-main."
"Makanya itu, mana Ibunya juga aneh lagi."
"Di mobil ada obat merah sama kapas. Seenggaknya bisa ngurangin infeksi. Sebentar aku ambil dulu." Satria bangkit dari duduknya lantas beranjak ke pintu. Berusaha menarik dan mendorong pintu dari kayu tersebut.
Ia mengernyit, karena pintu itu tak kunjung terbuka. Beberapa kali ia mencoba.
"Kenapa Sat?"
Satria mundur dua langkah. "Ehm ... kayaknya kita dikunciin dari luar deh."