CeritaGW
Buku / Bab
Bab 11725 kata

Bab 11

T

Tikaa

30 hari mengejar cinta jeanne

Mulai membaca

Lagu Happy Birthday terdengar dari tengah kantor. Mula-mula hanya beberapa suara, lalu makin banyak orang ikut bernyanyi hingga riuhnya memenuhi ruangan. Jeanne yang baru datang mengikuti suara itu. Hampir semua orang berkumpul membentuk lingkaran, termasuk Katrin, Gisela, Bob, dan Fay.

Jeanne menyelip di antara mereka. Di tengah lingkaran, Fumiya berdiri sambil memegang kue ulang tahun. Senyumnya tampak sedikit canggung, seolah ia belum terbiasa menjadi pusat perhatian.

Suasana semakin meriah ketika Kaito naik ke atas kursi dan mulai berbicara dalam bahasa Jepang. Jeanne tidak memahami kata-katanya, tetapi ia menduga Kaito sedang menyampaikan harapan untuk Fumiya. Setiap kali Kaito berhenti, orang-orang bertepuk tangan. Tepuk tangan terakhir terdengar paling keras, disusul sorakan dan tawa.

Kaito turun dari kursi, menyalami Fumiya, lalu menerima potongan kue pertama. Yang lain segera menyusul. Jeanne menunggu hingga kerumunan sedikit berkurang sebelum menghampiri Fumiya.

"Sayang sekali aku datang terlambat,” katanya. "Sepertinya aku tidak kebagian kue ulang tahunmu.”

Fumiya tertawa. Jeanne mengulurkan tangan.

"Selamat ulang tahun Fumiya.”

"Terima kasih.” Fumiya menyambut uluran tangannya. "Kalau begitu, ayo makan malam. Aku akan membelikanmu kue yang lebih besar.”

Jeanne memicingkan sebelah mata. Ia tak menyangka Fumiya akan menanggapi candaannya dengan serius. Di sekitar mereka, orang-orang masih sibuk mengobrol dan menikmati makanan, tak ada yang memperhatikan percakapan itu.

"Aku cuma bercanda. Kau tidak perlu repot-repot.”

"Aku serius. Biar aku yang traktir.”

Jeanne berpikir sejenak. Ia tidak punya rencana malam ini. Biasanya, sepulang kerja ia hanya kembali ke hotel dan tidur.

"Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam,” jawabnya sambil tersenyum.

Jeanne berbalik menuju ruang kerja. Dari pantulan kaca jendela, ia melihat Fumiya masih memperhatikannya.

Begitu ia masuk, Fay, Katrin, Gisela, dan Bob langsung cekikikan.

"Cieee…”

Jeanne tertegun. "What?” tanyanya, pura-pura tidak mengerti.

"Kak, kayaknya ada yang suka sama lo,” kata Katrin.

"Fumiya?” Jeanne menatap mereka bergantian.

"Yoih. Dari tadi dia merhatiin lo terus,” sahut Bob. "Sampai lo masuk sini juga masih diliatin.”

"Jangan bikin rumor, deh.”

"Tapi dia pernah nanyain Kak Jeanne waktu kemarin nggak masuk kantor,” tambah Fay.

"Nanyain kabar bukan berarti suka, kali.” Jeanne menarik kursinya. "Udah, ah. Gue mau kerja.”

Ia membuka laptop, tetapi pikirannya justru kembali pada ucapan Fay. Fumiya mencariku?

Jeanne memang sempat tidak masuk kantor selama sehari. Demam tinggi dan nyeri di sekujur tubuh membuatnya memilih beristirahat penuh di hotel. Ia mengira tubuhnya hanya kelelahan setelah beberapa hari bekerja tanpa jeda. Ia tak tahu Fumiya sempat menanyakan keberadaannya.

***

Sore itu, mereka berjalan menuju Stasiun Shibuya dan naik kereta di Jalur Ginza. Fumiya menyarankan Tokyo Metro agar mereka tidak terjebak macet. Kereta cukup padat oleh orang-orang yang pulang kerja. Di stasiun maupun di trotoar, semua bergerak cepat, seolah masing-masing sudah tahu persis kemana harus pergi.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka tiba di Nihombashi. Fumiya membawa Jeanne ke sebuah gedung bernama Annex dan mengajaknya naik ke lantai tujuh.

Ketika pintu lift terbuka, Jeanne melihat papan nama Two Rooms Grill Bar di dekat pintu masuk. Fumiya berbicara dengan resepsionis dalam bahasa Jepang. Jeanne hanya bisa menunggu sambil memperhatikan resepsionis mencari sesuatu di layar komputer, lalu mencocokkannya dengan tanda pengenal yang Fumiya berikan.

Beberapa menit kemudian, seorang pelayan mengantar mereka ke meja di area luar.

Jeanne berhenti sejenak sebelum duduk. Dari sana, lampu-lampu kota tampak berkelip seperti hamparan bintang. Angin malam menyentuh wajahnya, membawa rasa sejuk setelah hari yang panjang. Padahal mereka masih berada di tengah kota, tetapi tempat itu terasa cukup jauh dari kebisingan jalanan.

"Sebenarnya ada restoran ini juga di Shibuya,” kata Fumiya, memecah lamunannya. "Tapi menurutku pemandangan di sini lebih bagus.”

"Aku percaya saja pada warga lokal,” balas Jeanne, menggoda.

Sesuai janjinya, Fumiya memesan sepotong kue coklat untuk Jeanne. Tak lama kemudian, pelayan datang membawa hidangan lain yang mereka pesan. Jeanne memandangi meja yang mulai penuh. Semuanya tampak lezat.

"Apa kau sering ke sini?” tanyanya.

"Tidak juga. Biasanya kalau sedang penat dan ingin tempat yang lebih tenang. Dari tempat tinggalku juga tidak terlalu jauh.” Fumiya berhenti sejenak. "Walaupun sebenarnya aku lebih suka pergi ke tempat yang dekat dengan alam.”

"Gunung atau pantai?”

"Keduanya.”

"Aku lebih suka pantai.” ucap jeanne.

"Kalau begitu, kau harus pergi ke Okinawa.”

Mata Fumiya berbinar saat ia bercerita tentang pantai-pantai di sana: pasir putih, air yang jernih, dan terumbu karang yang bisa dilihat dari dekat. Ia menyebut Okinawa sering dijuluki Hawaii-nya Jepang. Letaknya memang jauh dari Tokyo, tetapi perjalanan dengan pesawat sepadan dengan apa yang akan Jeanne lihat.

"Kita harus mengagendakannya,” kata Jeanne bersemangat.

Fumiya tersenyum. "Suatu hari nanti.”

Bab selanjutnya

12 - Bab 12

Lanjutkan ke bab berikutnya dari 30 hari mengejar cinta jeanne.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 11 / 16
30 hari mengejar cinta jeanne
10

Bab 10

744 kata / Tersedia

11

Bab 11

725 kata / Sedang dibaca

12

Bab 12

664 kata / Tersedia