CeritaGW
Buku / Bab
Bab 171.215 kata

Bab 16

KT

Kata Tiwi

So Do I

Mulai membaca

"Repeat this. 'I can do this. Whatever happen I believe can do this'"-Seventeen

---

Gavin Janardana baru saja keluar dari mobil ketika tubuh seorang perempuan menabraknya. Lengannya dicengkeram dengan erat hingga terasa sakit. Ia menunduk untuk melihat wajah perempuan itu sebelum menghela napas lelah.

"Gue harus tahu apa yang terjadi di Berlin sebelum jadi sekutu lo."

Tangannya bergerak untuk mendorong tubuh itu menjauh karena beberapa mata sudah menoleh ingin tahu ke arah mereka. Keduanya berdiri terlalu dekat dan ini masih jam delapan pagi. Orang-orang masih ramai.

"Bea?"

Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi keduanya. Bea langsung mundur dengan cepat dan melepaskan pegangan pada lengan Gavin. Berdehem sejenak sebelum balik badan untuk menyapa.

"Pagi Mas Naka, baru dateng juga?"

Sapanya disambut dengan senyuman. Naka berjalan mendekat ke arah keduanya. Laki-laki itu lalu menyapa Gavin dengan sopan yang dibalas dengan anggukan kepala.

Gavin lantas berlalu dari sana, tidak menoleh sedikitpun membuat Bea mendengus sebal.

"Kamu gak cari gara-gara sama dia lagi, kan?"

Pertanyaan Naka membuat Bea meringis. Ia menggelengkan kepala dengan cepat.

"Nanti ke Sanjaya Hotel jam berapa, mas?"

Dengan mulus ia lalu membelokkan obrolan sembari melangkah menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai tempat kantor mereka berada.

"Sebelum makan siang. Kamu nanti juga ikut?"

Bea mengangguk singkat. "Sekalian makan siang, ya? Sama siapa aja?"

Naka membiarkan Bea melangkah terlebih dahulu sebelum ia ikut masuk dalam kotak besi itu. Lalu melangkah mundur ketika beberapa orang ikut masuk bersama mereka.

"Sama Gavin, Sena dan Pras. Gilang akan menyusul bersama Agnes. Ditambah kamu kalo mau bareng."

Si cantik itu mengangguk. "Boleh deh."

"Ngomong-ngomong soal pembicaraan sebelumnya di pantry gak usah terlalu masukin hati. Anak-anak kadang memang suka kelewatan becandanya."

Diingatkan begitu tentu saja membuat Bea langsung mencibir. Naka yang tahu suasana hati gadis itu sedang tidak baik langsung buru-buru mengalihkan pembicaraan.

"Soal yang di konser. Aku gak terlalu paham maksud ucapan kamu."

Bea menoleh. Jika menyebut kesukaannya yang itu, Bea pasti akan langsung sumringah.

"Yang mana?"

"Yang cita-cita."

Naka bisa melihat mata Bea meredup beberapa saat sebelum akhirnya kembali tersenyum lebar. "Yang aku bilang kalo dulu aku gak mau mati karena belum bertemu Seventeen, terus karena udah ketemu jadi bisa mati sekarang. Yang itu?"

Laki-laki itu mengangguk ragu. "Kamu gak serius, kan?"

Tawanya langsung berderai. Tidak mengangguk juga tidak menggeleng. "Aku udah sering ketemu mereka. Aku bahkan ikut keliling dunia untuk bisa bertemu mereka."

Ucapan itu seolah pemberitahuan. Naka menebak dari raut wajahnya. Bea terlihat baik-baik saja mengucapkan kalimat tersebut seolah-olah itu adalah hal yang biasa. Ia tidak bisa menebak apa yang sebenarnya ada dalam kepala cantik itu.

"Gak usah dipikirin, Mas Naka. Aku matipun dunia akan baik-baik saja."

---

Makan siang itu memang meeting yang terselubung. Mereka pikir yang akan datang hanya Tito, manajer hotel. Namun Ryan Sanjaya juga datang bersama seorang perempuan yang tampak tidak senang duduk di sampingnya.

"Lho kami tidak tahu kalo ternyata Pak Ryan juga ikut meeting ini."

Gilang yang menyapa terlebih dahulu. Mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Ryan Sanjaya dengan senyum menghiasi wajahnya.

"Semoga tidak mengganggu, ya?"kelakar laki-laki itu."Kami hanya ingin melihat progressnya sudah sampai mana."

Semua orang menjabat tangan Ryan Sanjaya dan mengangguk sopan pada perempuan yang ada di samping laki-laki itu. Tidak ada yang berani atau tertarik untuk ikut mengulurkan tangan karena perempuan itu masih duduk sambil berpangku tangan.

"Persiapan sudah sembilan puluh enam persen. Kita tinggal finishing lalu mengecek kembali daftar undangan untuk memastikan semuanya sesuai."

Ryan Sanjaya yang ditemani beberapa orang dari timnya tampak menganggukkan kepala.

"Sebelum kesini, kami tadi sempat mampir ke hotel. Dan saya cukup terkesan dengan semuanya. Tidak salah saya memilih Abyakta sebagai vendor. Kalo boleh tahu siapa yang jadi project manager-nya?"

Sena menganggukkan kepala. "Saya mengambil alih langsung ketika tender kami menangkan. Tapi di bawah saya ada Pras dan Naka yang langsung turun tangan untuk mengurus semua detailnya."

Perempuan disamping Ryan langsung mengangkat kepala. Ia tidak lagi fokus pada ponselnya dan membulatkan mata. Bahunya terangkat seperti ingin bicara ketika tangan Ryan menahannya.

Tahu-tahu gadis itu bergumam pada Ryan namun dengan suara yang bisa didengar semua orang.

"Kita bisa gak beli Abyakta? Aku mau."

Pertanyaan itu dijawab gelengan oleh Ryan dengan tegas. Matanya menemukan Gilang lalu meringis pelan.

"Maaf, ya. Adik saya memang kadang suka impulsif kalo melihat sesuatu yang bonafit."

Mereka mengangguk paham. Lalu memulai makan siang itu dengan tenang.

"Soal beberapa undangan. Saya melihat nama Gautama sebagai tamu. Saya mau mengkonfirmasi saja karena setahu saya Sanjaya tidak terlibat dalam polemik politik."

Mendengar hal itu, Ryan tersenyum kecil. "Tidak ada yang salah. Kami memang mengundang Gautama. Soal apakah Gautama terlibat dengan beberapa politisi itu bukan urusan kami. Raka Sanjaya dulu punya hutang budi dengan Gautama."

Disinggung begitu, mereka mengangguk paham. Gilang lalu melanjutkan. "Saya hanya takut nanti acara ini ditunggangi beberapa pihak. Galih Purwanto katanya juga tidak akan ikut dalam periode mendatang. Infonya Gautama banyak mendukung klan itu sejak lama."

Pernyataan Gilang mau tak mau membuat Bea mengangkat wajah. Gavin yang duduk di sebelah gadis itu langsung berdehem singkat. Menarik perhatian Gilang dan Ryan Sanjaya.

"Sepertinya kita gak perlu membahas sesuatu yang bukan urusan kita."ucapnya pelan. Gilang nampak salah tingkah sedangkan Ryan tertawa singkat. Matanya meneliti Gavin sebelum akhirnya mengedikkan bahu.

Matanya menatap semua orang sebelum berhenti pada Bea yang masih mematung lalu berdehem singkat. Ia lalu mengalihkan pandangan pada laki-laki di sebelah kanan Bea sebelum mengulum senyum.

"Ah,"serunya. "Mari kita lanjutkan makan siang ini."

---

"Are you okay?"

Bea mengangguk sembari mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin diganggu oleh siapapun termasuk Gavin yang sedari tadi mengekorinya. Sebenarnya bukan mengekori, memang unit apartemen mereka bersebelahan.

Sepertinya hari ini memang bukan harinya. Atau memang setiap hari bukanlah harinya. Menjauh dari Gavin, ternyata Aruna sudah menunggu. Memangku tangan dan bersiul ketika melihatnya datang.

Bea tidak tahu apa yang terjadi, tapi tiba-tiba saja tangannya digenggam. Ia tidak perlu menoleh untuk melihat siapa orangnya.

Matanya masih menatap Aruna yang kini melotot lalu berjalan sangat cepat ke arahnya. Berhenti dengan napas keras sebelum melayangkan tangan pada pipi kirinya.

Kepalanya terhempas. Tamparan itu lebih sakit dari pukulan dan membuat kepalanya berdenging. Matanya langsung terpejam menahan gelagak amarah yang tiba-tiba menguasainya.

"Gue suruh lo buat mata-matain dia bukan jadi simpanan dia. Benar-benar murahan. Persis seperti ibunya. Pelacur!"

Kalimat itu sudah menghantuinya seumur hidup. Jadi tidak berdampak apa-apa terhadapnya jika saja genggaman itu semakin erat dan membuatnya sadar bahwa ia sedang dipermalukan didepan seseorang.

Tidak.

Tidak seperti ini rencananya. Tidak seperti ini yang ia inginkan.

"Bunuh gue."

Dua kata itu meluncur tanpa bisa dicegah. Jika Gavin terkesiap, Aruna justru tertawa.

"Sia-sia uang yang gue keluarkan untuk menyelamatkan lo waktu itu."

Tangan itu kembali menyentuhnya. Kini merapikan rambutnya yang berantakan. Mengelus pipi yang baru saja ia gampar.

"Jangan nabrakkan diri lagi. Kasian supir taksi jadi tersangka gara-gara lo. Kalo memang lo mau mati, harus di tangan gue. Dan sebelum gue pengen lo mati, lo gak boleh mati sebelum itu."

Aruna kembali terkekeh. Tangannya menangkup dagu Bea hingga perempuan itu mendongak. Matanya melirik Gavin lalu tersenyum miring.

"Tugas lo berubah. Gue gak butuh informasi apa-apa lagi soal ini cowok. Gue udah punya semuanya. Jadi sekarang gue cuman mau, lo bikin dia menderita. Sangat menderita sampai dia bisa ngeluarin permintaan seperti yang lo ucapkan barusan."

Tubuh Bea menggigil. Rahangnya mengeras penuh amarah.

Aruna lalu mengedikkan bahu. Melepaskan pegangan sebelum mendekat pada Gavin dan berjinjit untuk mengecup pipi kiri laki-laki itu.

"Bye, Honey."

---

love

--aku

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 17 / 17
So Do I
16

Bab 15

1.040 kata / Tersedia

17

Bab 16

1.215 kata / Sedang dibaca