Kata Tiwi
So Do I
Mulai membaca
"Tidak ada akhir dari impian. Tetapi tidak apa-apa untuk beristirahat hari ini."--Woozi of Seventeen
---
Hujan sudah mulai mereda. Pintu masuk sudah terbuka menuju stadion madya yang menjadi venue konser hari ini. Meskipun cuaca yang kurang mendukung tetapi semua orang yang ada di sana sangat bersemangat.
Termasuk Bea.
Senyum tidak pernah luntur dari wajahnya, walaupun tertutup masker, Naka dapat melihat binar yang terpancar dari kedua mata gadis manis itu.
"Jangan lari, Be."
Bea langsung menurut ketika jemarinya digenggam oleh Naka. Namun langkahnya tetap cepat.
"Nanti ga bisa mepet pager, Mas."
Naka tidak mengerti maksud Bea, namun ia mengikuti langkah cepat gadis itu. Beruntung sekali keinginan Bea terwujud, mereka bisa mendapatkan tempat tepat di depan extended stage. Posisi yang menurut Bea sangat ia suka. Sekali lagi Naka hanya mengangguk karena ia tidak mengerti.
Di antara banyaknya manusia di sana, Bea tidak tampak resah seperti yang dilihat Naka jika gadis itu bertemu dengan orang-orang asing. Satu hal yang menimbulkan tanya pada laki-laki itu.
Sekitar hampir pukul empat sore, beberapa orang yang menggunakan jas hujan berwarna abu-abu muncul dan berseru.
Tidak pernah Naka sangka dan Naka kira bahwa telinganya langsung berdenging atas reaksi dari para perempuan yang berada di sekitarnya. Mereka berlomba meneriakkan berbagai macam nama yang asing di telinga Naka.
Ketika ia menolah, Bea tampak sibuk dengan ponselnya dengan sesekali bergumam.
"Wonwoo yang mana?"
Bea menoleh lalu menunjuk seorang laki-laki yang tampak masih menggunakan jas hujan disaat anggota bandnya yang lain sudah melepaskan. Laki-laki yang menggunakan kacamata dan masker yang menutupi setengah wajahnya.
"Anaknya mager. Kebanyakan di main stage."
Naka tertawa mendengar keluhan itu. Namun Bea tetap saja tersenyum mengambil foto dan video semua orang yang ia inginkan.
Ketika seorang laki-laki memakai kemeja kuning kecoklatan dan celana jeans mendekat ke bagian mereka, semua orang meneriakkan namanya.
Bea mendekat pada Naka untuk mebisikkan sesuatu.
"Yang itu mirip kamu. Sabar, baik, penyayang, senyumnya adem."
"Namanya Shua?"
Pertanyaan Naka semata-mata hanya karena teriakan semua orang.
Bea mengangguk. "Joshua."
---
Setelah sesi soundcheck yang hanya menyanyikan tiga lagu, Bea memilih untuk duduk lesehan sembari bersandar pada baricade yang kokoh. Disampingnya Naka langsung mengulurkan air mineral yang langsung diterima gadis itu dan meneguknya tanpa basa-basi.
"Kamu akan kehabisan suara kalo kebanyakan teriak kayak gitu."
"Namanya konser kak. Kalo gak teriak gak afdol."
Bukannya Bea, ucapannya justru dibalas oleh seorang gadis yang duduk di hadapan Bea. Kini semua orang tampak biasa saja mendengar semua obrolan lalu akan saling menyahuti.
"Kakaknya cuman nemenin atau carat juga?"
Naka langsung menggeleng. "Nemenin. Tapi baru denger lagunya semingguan ini."
"Wah. Asik banget nonton konser ditemenin pacar."
Naka tidak lagi berniat menanggapi seperti tadi ketika antri, Bea juga tidak ada keinginan meluruskan. Gadis itu tampak menikmati pemandangan di hadapannya. Naka sedang meladeni banyak pertanyaan iseng dari para penggemar.
"Aku boleh video gak kak buat di-upload di Tiktok?"
Pertanyaan itu membuat Naka terkekeh. Begitu juga dengan Bea.
"Jangan, ah. Nanti saya viral."
Ditolak dengan sopan membuat gadis itu menganggukkan kepala.
"Emangnya kakak juga dari luar kota ya? Sampe ditemenin?"
Kali ini Bea mengambil alih pembicaraan karena merasa kasihan pada Naka yang harus menanggapi berbagai macam pertanyaan basa-basi dari para perempuan di sana. Karena Naka menjadi makhluk minoritas. Tidak banyak laki-laki yang berada di sana, rata-rata para laki-laki itu datang karena ingin menemani kekasih mereka. Tidak benar-benar menyukai artisnya.
Setelah menunggu sembari mengobrol lebih dari tiga jam, konser akhirnya dimulai. Sorak sorai penonton terdengar sepanjang konser berlangsung.
Hujan kembali turun membuat semua orang memakai jas hujan plastik warna-warni yang sudah disediakan oleh promotor.
"Kenapa kamu gak pesen deket main stage kalo Wonwoo jarang kesini?"
Bea menggeleng. "Nanti semua akan kesini."
Ketika keadaan makin panas dan desak-desakan orang-orang, Naka lalu menawarkan bertukar tempat dengan seorang perempuan yang berdiri sangat dekat di belakang Bea. Perempuan itu tentu saja menerima tawarannya dengan penuh suka cita.
Setelah memastikan posisinya aman, Naka lalu melingkarkan lengannya untuk membawa Bea berada dalam pengawasannya. Tangannya yang panjang mencapai tepian baricade sehingga Bea tidak akan terdorong dari kiri dan kanannya.
"Sini aku aja yang videoin. Kamu nikmatin aja penampilan mereka dengan mata tanpa handphone."
Bea tentu saja bersyukur. Ia lalu membiarkan Naka mengambil alih ponselnya dan menikmati lagu-lagu kesukaannya sembari mengayunkan lightstick dengan semangat.
Konser berlangsung sangat meriah dan mengesankan. Berkali-kali setiap anggota band mengatakan bahwa mereka sangat bahagia. Yang tentu saja juga membuat bahagia pada penggemar mereka.
Hampir pukul sepuluh malam, konser akhirnya benar-benar usai. Mereka lalu mengantri untuk keluar dari venue. Dalam keramaian itu, Naka tidak melepaskan lingkaran lengannya pada tubuh Bea sejak tadi.
Sepanjang malam itu, Bea tidak merasa kedinginan. Dua buah lengan kekar nan hangat menjaga dan seolah menyelimutinya di tengah hujan.
Tangannya terangkat. Membalas rangkulan pada lengan milik Naka dan mengusapnya pelan. Ia mendongak untuk menatap laki-laki yang kini memayungi dirinya dengan jaket miliknya.
"Ini konser terbaik seumur hidup aku. Makasih ya."
Melihat senyum manis Bea membuat Naka terdiam. Dadanya bergemuruh. Suara bass dari sound system sudah tidak menggema, tapi lagu-lagu penuh cinta yang tadi mereka dengarkan kembali mengalun di telinganya.
"Won't let you down, naegero wa, in my new world."
Potongan lirik lagu yang dikutip oleh Naka membuat Bea tertawa gemas. Hatinya serasa penuh oleh bahagia.
"Ternyata konser ditemenin gini bikin makin happy,"
Naka yang tidak dapat melihat wajah Bea tetap tersenyum hanya karena suara gadis itu terdengar sangat bahagia.
"Kamu pulang ke mana?"
"Apartemen aja."
"Kamu tunggu di halte deket pintu dua aja. Aku ambil mobil dulu."
Bea langsung menggeleng cepat.
"Aku ikut ke parkiran."
"Kamu pasti capek seharian berdiri."
"Kamu pasti lebih capek,"
Naka bukanlah laki-laki yang suka berdebat. Jadi akhirnya ia hanya mengangguk.
Sepanjang jalan menuju parkiran, Bea tidak henti-hentinya membahas bagaimana tampan dan kerennya para laki-laki yang sepanjang malam tidak berhenti menari.
Bea juga berkali-kali berkata bahwa ia kembali jatuh cinta pada Wonwoo. Laki-laki yang sepertinya lebih pendiam dan tenang dibandingkan yang lainnya.
"Tapi mingyu ganteng banget ya mas. Gak heran sering diomong buaya darat,"
Naka langsung terkekeh.
"Hanya karena dia ganteng terus diomong buaya?"
Pertanyaan Naka membuat Bea tertawa. Kadang memang kehidupan fangirling sering tidak masuk akal.
"Lucu-lucuan. Tapi sering keterusan."
"Lagian mereka cuman bekerja. Semua fan service yang mereka kasih itu kan murni karena mereka sedang kerja dan ingin menyenangkan hati penggemarnya. Biar konsernya rame terus,"
Kepalan tangan Bea menyapa lengan kiri Naka yang sedang menyetir.
"Kenapa sih?! Hancurin kehaluan orang aja."
Naka kembali terkekeh. "Kamu tahu gak isi kepala Wonwoo waktu liat penonton yang lebih mirip anak ayam pinggir jalan tadi?"
Karena hujan, semua penonton yang menggunakan jas hujan plastik warna-warni memang lebih mirip anak ayam yang dijual di depan sekolah dasar. Naka tidak henti-hentinya menertawakan hal itu sejak tadi.
"Pasti dia happy banget satu stadion penuh gitu,"
"Happy lah. Dia diem-diem itu lagi menatap uang-uang yang akan dia dapet dari anak ayam warna-warni itu,"
Bea langsung mengamuk. Walaupun yang diucapkan oleh Naka adalah kenyataan, tapi bagaimana hubungan antara artis dan penggemar hanyalah hubungan bisnis membuatnya mendadak sedih.
"Tapi kalo gak ada mereka mungkin aku udah mati dari lama,"
Ucapan pelan dari Bea bertepatan dengan mobil berhenti di lobby apartemen milik gadis itu. Naka langsung terdiam. Ia menatap lurus pada Bea yang kini tampak lebih kalem.
"Be, gak gitu maksud aku. Aku cuman lagi becanda doang. Sorry."
Bea langsung kembali sumringah.
"Hari ini aku akan happy terus. Aku gak akan sedih hanya karena becandaan kamu."
Keduanya lalu keluar dari mobil. Naka sengaja turun sebentar untuk mengantarkan Bea hingga lift, namun langkah kaki gadis itu berhenti ketika menatap seorang perempuan yang menyerukan namanya.
"Be?"
Bea menoleh. "Ternyata happy nya cuman sampe disini. Makasih ya, Mas Naka."
Naka tidak maju lagi karena dari tatapan dan cara Bea bicara, ia tahu yang diinginkan gadis itu sekarang adalah dirinya pergi dari sini. Secepat yang ia bisa.
---
Love
--aku
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari So Do I.