Kata Tiwi
So Do I
Mulai membaca
"Jika kamu goyah di atas ombak saat ini, rasakan saja dan biarkan tubuhmu mengikuti anginnya. Ketika angin memudar dan ombak semakin kecil, suatu hari nanti kamu akan berdiri di atas laut."--Vernon of Seventeen
---
"Gue udah nemu temen buat nonton nanti di sini."
Ditta menoleh. Tadi ketika ia mengajak sahabatnya itu untuk lari pagi di GBK, Bea masih ogah-ogahan. Setengah hati namun terpaksa ikut karena terus-terusan didorong olehnya.
Kini gadis itu tampak sangat sumringah ketika melihat Stadion Madya hanya karena band kesayangannya akan konser di sana dalam waktu beberapa hari lagi.
"Bayangin nanti gue ketemu Mingyu panas-panasan, Dit. Kayaknya gue bakalan pingsan deh,"
Sang sahabat hanya bisa mencibir.
"Temennya yang lo nemu di konser kemaren?"
Dengan penuh semangat, Bea menggeleng.
"Bukan."
"Siapa?"
"Ntar lo juga tahu,"
"Kenapa jadi rahasia-rahasiaan?"
Bea langsung mengulum senyum. "Nanti aja kalo gue udah nuker tiket. Takut malah gak jadi,"
Ditta memperlambat langkahnya. "Gue gak mau lo sama orang asing lagi, Be. Lo sadar kan lo udah cukup tua untuk melakukan hal-hal semacam ini?"
Tentu saja dijawab dengan senyum semakin lebar oleh Bea.
"Gak ada batasan umur untuk fangirling. Lo gak tahu tuh yang suka sama Super Junior siapa? Udah ibu-ibu anak dua!"
Berdebat dengan Bea tidak akan ada habisnya jika menyangkut kesukaan gadis itu.
"Terus cuti lo udah di-approve?"
"Boro-boro. Kayaknya email gue bahkan belum dibaca."
"Gue bantu biar di-approve mau gak?"
"Kayak lo bisa aja,"
"Bisa."
Melihat bagaimana yakinnya Ditta yang kini berjalan mundur di hadapannya membuat langkah Bea berhenti.
"Gimana?"
Langkah Ditta ikut berhenti. Gadis itu tersenyum sembari menaikkkan alisnya. Pandangan Ditta yang lurus melewati kepalanya membuat Bea menoleh.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, seseorang yang bisa memberikan persetujuan untuk cutinya sedang melangkah pelan menuju mereka.
Reflek, Bea langsung berdecak.
"Brengsek! Lo yang ngomong gue harus jauh-jauh dari dia, tapi lo juga yang terus-terusan bikin gue terlibat mulu sama dia!"
Ditta meringis. "Gue rasa omongan Gerry ada benernya. Sampai kapan lo bisa kabur dari semua ini?"
Giliran Bea yang meringis. Jika bersama Ditta, ia seperti membuka lapis pertama topeng yang biasa ia gunakan.
"Lo gak capek lari terus-terusan?"
"Kalo ga gitu, gue gak akan bisa hidup, Dit."
Bukannya tidak tahu, Ditta paham sekali bagaimana Bea bertahan selama ini. Hanya saja terkadang ia merasa Bea juga harus menghadapi semuanya.
"Lo udah hidup dalam badai selama ini,"
"Dan gue gak mau masuk dalam pusarannya. Kemungkinannya hanya dua, gue mati atau gue hidup tapi sekarat."
Selain ucapan Bea yang membuat lidahnya kelu, juga karena kedatangan Gerry bersama Gavin dengan muka datarnya.
Kedua laki-laki itu kompak memakai pakaian serba hitam dan sepatu putih dan rambut yang tidak tertata rapi seolah tadi hanya disisir seadanya menggunakan jari.
"Yok!"
Gavin sudah langsung mengayunkan kakinya dan berlari pelan, Bea menatap Ditta yang masih membungkam sehingga membuatnya menghela napas. Tidak seharusnya ia mengeluarkan pernyataan yang tentu saja membuat Ditta merasa bersalah.
"Udah, gak usah lo pikirin. Gue cuman ngasal."
Setelah menepuk bahu Ditta, Bea lalu menyusul Gavin dan meneriakkan nama laki-laki itu. Sedangkan Ditta sudah kembali menghela napas sebelum menatap Gerry yang saat ini sedang menatapnya khawatir.
---
"Kalo senin-selasa gak bisa, saya cuti hari rabu aja gak apa-apa deh, pak. Sehari aja."
Melihat Bea yang setengah merengek membuat Gavin mendorong dahi gadis itu dengan telunjuknya.
"Temen lo kenapa jadi aneh gini?"
Pertanyaan itu ditujukan untuk Ditta yang sedang menyuap bubur ayam. Gadis itu hanya menggeleng acuh.
Tadi setelah berlari mengelilingi stadion satu kali, Bea langsung melipir dan memilih duduk. Diikuti oleh Ditta setelah gadis itu menyelesaikan empat kali, dan disusul oleh Gerry dan Gavin setelah kedua laki-laki itu menyelesaikan tujuh keliling. Dan seperti biasanya, Bea akan mengajak Ditta mencari bubur ayam untuk sarapan mereka.
Kini setelah gadis itu menyelesaikan sarapannya dengan cepat karena hanya setengah porsi, Bea tidak henti-hentinya melakukan negosisasi pada Gavin agar cutinya disetujui oleh atasannya tersebut.
"Boleh ya, pak?"
"Saya gak punya kuasa. Yang setujui cuti kamu tetap Gilang."
Bea menggaruk lehernya. "Kan sebelum ke Pak Gilang lewat bapak dulu."
Gavin menghela napas. Menatap Bea sebelum akhirnya mengangguk pasrah.
Sedangkan Bea menatap Ditta penuh cinta. "Kalo segampang ini di-approve, gue mau deh nemenin lo lari tiap pagi. Gak apa-apa jadi obat nyamuk lo tiap hari,"
"Lo lebih ke anak sih, Be. Nyusahin,"
Jika Ditta terkekeh mendengar celutukan Gerry, Bea justru manyun.
"Gue doain anak lo lebih nyusahin dari gue. Lebih manja, lebih bawel, lebih nyebelin, lebih gak bisa diatur. Biar lo cepet ubanan,"
Gerry langsung terbahak. "Kalo urusan anak mah gampang, yang akan hamil dan melahirkan itu Ditta. Kalo dia childfree gue gak masalah."
Bea mencibir.
"Lo mau childfree emangnya, Dit?"
Ditta mengangkat bahu. "Belum kepikiran sampe situ. Tapi sepi gak sih kalo ga punya anak?"
"Kalo lo mau punya anak cuman karena takut sepi itu egois. Lo pikir anak lo badut dan hiburan biar hidup lo gak sepi?"
Bukan hanya Ditta, Bea dan Gerry langsung menoleh pada Gavin yang tampak acuh tak acuh.
"Gak gitu maksud gue,"
Gavin lalu terkekeh. "Gue ngerti. Tapi gue cuman pengen menyampaikan aja, kalo lo punya anak hanya untuk mikirin hidup lo nanti mending gak usah. Anak bukan beban apalagi investasi yang return-nya akan bisa lo nikmati nantinya,"
Gerry lalu tersenyum mendengar ucapan Gavin. Tangannya terangkat untuk mengelus puncak kepala Ditta yang tampak salah tingkah.
"Kita pikirin nanti aja."
"Harus lo pikirin dari sekarang."Gavin kembali menyahut. "Untuk menghindari hal-hal yang gak lo inginin nantinya. Kalo Ditta tiba-tiba hamil lo bisa nikah besoknya, tapi lo gak bisa jadi orang tua gitu aja."
Ditta tertawa kecil. "Tenang aja kalo itu. Gue aman kok,"
Gavin ikut terkekeh, lalu matanya menatap Gerry.
"Gue tahu apa yang ada di kepala lo, Gav."
Jika kini Gerry tersenyum, Gavin justru terdiam. Matanya lalu menatap ke arah lain. Kemanapun asal tidak pada mata Gerry, namun yang ditangkap oleh matanya adalah Bea yang kini melihatnya dengan tatapan berbeda.
Untuk pertama kalinya, yang dilihat Gavin pagi itu tidak pernah ia lihat sebelumnya. Binar yang biasanya terpancar kini tampak kelam dan menenggelamkan.
Lebih dari tiga detik bertatapan, Bea akhirnya membuka mulut.
"Saya disuruh untuk cari tahu soal kamu."
Tidak ada ekspresi. Suara itu datar tanpa perasaan apa-apa, tapi mata Bea membuatnya bergetar.
Ia tidak tahu apa maksud Bea. Ia juga tidak tahu siapa yang menyuruh gadis itu, tapi sebuah perasaan asing menyentuh dadanya. Entah bagaimana caranya, ia seolah dibisikkan bahwa sesuatu telah terjadi.
"Tapi saya perlu tahu, sebenarnya apa yang terjadi di Berlin?"
Rona di wajah Gavin menghilang. Wajahnya langsung pucat, matanya kembali menemukan manik Bea dan kembali tenggelam disana. Kali ini tidak ada penghalang.
Ditemani suara orang berlalu lalang, Gavin baru saja terjatuh pada lubang kematian.
---
Love
--aku
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari So Do I.