CeritaGW
Buku / Bab
Bab 07458 kata

Kelas Kehilangan Pertamaku

FF

Fyda Fauziyyah

Martabak, Kosan Sempit, dan Pelajaran Jadi Orang Dewasa

Mulai membaca

Pandemi, bagiku, adalah sebuah kelas sunyi yang mengajarkan kita tentang kehilangan. Di kelas ini, tidak ada guru yang berdiri di depan papan tulis. Tidak ada kurikulum yang bisa dipelajari semalam suntuk. Tidak ada pula jeda istirahat untuk sekadar menghela napas. Kita semua dipaksa belajar sambil berjalan, melewati kehilangan demi kehilangan yang pelan-pelan merenggut apa yang dulu kita sebut sebagai "hidup".

Awalnya, aku kehilangan hal-hal kecil yang dulu terasa remeh. Aku kehilangan rutinitas bangun pagi sambil mengeluh mengantuk, terburu-buru berangkat kerja, hingga sapaan santai dari satpam kantor yang senyumnya selalu sama setiap harinya. Aku kehilangan riuhnya makan siang di warung murah bersama teman-teman, tempat kami menertawakan hal-hal sepele yang entah kenapa selalu berhasil meringankan beban di kepala.

Dulu, aku menyebut semua itu "biasa saja". Ternyata, aku salah. Semua itu adalah kemewahan kecil yang hilang sebelum sempat aku ucapkan terima kasih. Namun, kehilangan yang paling berat datang tanpa aba-aba, tanpa sopan santun, dan tanpa memberikan ruang untuk bersiap.

Ada rasa bersalah yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Rasa bersalah karena tubuhku sedang ringkih di saat orang yang kucintai pergi. Pandemi ini ternyata bukan hanya soal ketakutan akan tertular virus, melainkan soal ketidakberdayaan untuk hadir ketika orang tersayang mengembuskan napas terakhirnya.

Dunia di sekitarku mendadak berhenti berputar. Tidak ada pelukan hangat dari keluarga. Tidak ada genggaman tangan di pemakaman. Tidak ada kesempatan untuk memandang wajahnya yang tenang untuk terakhir kalinya. Hanya ada aku, duduk bersimpuh sendirian di kamar kos yang sempit, menatap tembok putih yang bisu. Tembok yang sama sekali tidak mengerti apa-apa tentang duka yang sedang menghancurkan hatiku.

Di dalam kesunyian kamar kos itu, aku belajar sesuatu yang sebenarnya tidak pernah ingin kupelajari: bahwa beberapa jenis kehilangan tidak pernah benar-benar sembuh. Kita tidak "melupakan" atau "merelakan" sepenuhnya; kita hanya belajar untuk hidup berdampingan dengan ruang kosong yang ditinggalkannya. Kita belajar untuk bernapas di sekitar lubang di hati kita.

Pandemi mengajarkanku bahwa bagian yang paling menyakitkan dari sebuah kematian bukanlah perpisahan itu sendiri, melainkan kehilangan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Kehilangan momen untuk membisikkan doa terakhir di telinganya. Kehilangan upacara pamit yang layak.

Duka di masa pandemi adalah duka yang terisolasi. Ia adalah tangis yang tertahan di balik masker, doa yang dikirim lewat layar ponsel, dan pelukan yang hanya bisa dibayangkan. Aku belajar bahwa cinta tetap bisa dirasakan menembus batas kota, namun pedihnya jarak tetaplah nyata.

Hari ini, jika aku mengingat masa itu, aku menyadari bahwa aku telah lulus dari "kelas kehilangan" tersebut dengan cara yang paling keras. Aku belajar menghargai setiap detik keberadaan orang-orang di sekitarku. Aku belajar bahwa "sampai jumpa esok" adalah sebuah janji yang sangat mahal harganya. Dan di atas segalanya, aku belajar bahwa meski aku tidak bisa hadir di pemakamannya, kasih sayang yang nenek berikan selama hidupnya telah membangun fondasi yang cukup kuat di dalam diriku untuk tetap bertahan, bahkan di saat dunia terasa runtuh.

Bab selanjutnya

08 - Untukmu yang Berhasil Bertahan

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Martabak, Kosan Sempit, dan Pelajaran Jadi Orang Dewasa.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 07 / 14
Martabak, Kosan Sempit, dan Pelajaran Jadi Orang Dewasa
06

Pandemi: Sebuah Pelajaran Tentang Kerapuhan

57 kata / Tersedia

07

Kelas Kehilangan Pertamaku

458 kata / Sedang dibaca

08

Untukmu yang Berhasil Bertahan

510 kata / Tersedia