CTP18
LOVE BEYOND CONTROL
Mulai membaca
Malam makin larut saat jarum jam menunjuk ke angka setengah sembilan. Lampu ruang makan menyala redup dengan cahaya kuning yang lembut, memancarkan pendar hangat yang membelah kegelapan sudut-sudut rumah. Suasana begitu sunyi, hanya diselingi desis minyak panas dari dapur.
Dewi, tiga puluh delapan tahun.
Berdiri di depan kompor sambil mengaduk nasi goreng di atas wajan. Tubuhnya yang terawat padat terbungkus daster tipis tiga kancing berwarna maroon tanpa balutan bra.
Setiap kali tangannya bergerak mengayunkan sodet, kain katun yang agak melorot itu menjiplak jelas lekuk dadanya yang ranum dan mengkal. Dadanya bergetar pelan seirama guncangan tubuhnya, menyisakan pemandangan terlarang yang sengaja dibiarkan terbuka.
Sebagai janda muda yang ditinggal mati oleh almarhum suaminya, kesepian telah lama menggerogoti sudut terbawah dari akal sehat Dewi. Dan malam ini, wanita itu memutuskan untuk melewati garis batas.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Dewi menuangkan susu hangat ke dalam gelas kaca besar. Tangan kirinya merogoh saku daster, mengeluarkan botol bening berisi cairan tanpa warna.
Diteteskannya obat perangsang itu ke dalam gelas. Cairan itu larut seketika tanpa meninggalkan aroma atau perubahan rasa. Dewi menatap gelas itu dengan napas yang mulai memburu. Jantungnya berdegup kencang—campuran antara rasa bersalah dan gairah impulsif yang sudah menuntut pelampiasan.
Ia ingin melihat sejauh mana Farel, anak tirinya yang kini menginjak usia dua puluh tahun, sanggup bertahan.
Di saat yang sama, derit pintu depan terdengar. Farel melangkah masuk ke dalam rumah dengan bahu yang agak terkulai lelah. Pemuda itu membawa beban tersembunyi yang membuat seluruh saraf di tubuhnya tegang sepanjang sore.
Di dalam galeri ponsel di saku celananya, tersimpan sebuah foto yang diterima beberapa jam lalu: foto bugil polos Dewi yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya tanpa sehelai benang pun. Foto yang disertai pesan singkat bertuliskan "Maaf, salah kirim" itu terus berputar di kepalanya, membakar fokusnya hingga tak tersisa. Setiap kali Farel membayangkan kulit mulus ibu tirinya di foto itu, pangkal pahanya berdenyut hebat.
Farel tahu persis status mereka. Dewi adalah istri kedua almarhum ayahnya yang menikahi sang ayah beberapa tahun sebelum pria itu wafat. Sejak kematian ayahnya, hanya mereka berdua yang menghuni rumah sunyi ini. Dewi yang merawatnya, menyiapkannya makan, dan menjadi figur satu-satunya di rumah. Namun, sejak beranjak dewasa, pandangan Farel terhadap wanita itu mulai ternoda. Daster-daster tipis yang dipakai Dewi di rumah, aroma parfum mawar yang menguar dari lehernya, hingga cara wanita itu menatapnya—semuanya menyulut gairah terlarang yang membuat Farel merasa kotor sekaligus ketagihan.
Dan foto sore tadi adalah bensin yang menyiram api tersebut.
Farel berjalan menuju ruang makan, berusaha bersikap senormal mungkin. Ia mendudukkan diri di kursi kayu, menunduk menghindari tatapan mata Dewi.
"Makanlah, Nak. Kamu kelihatan capek banget," suara Dewi terdengar lembut, tapi ada getaran halus di ujung kalimatnya.
Dewi meletakkan piring berisi nasi goreng hangat dan menyodorkan gelas susu yang sudah diraciknya persis di samping tangan Farel. Pandangan mata Dewi sempat menyapu lipatan celana pendek Farel, sebelum ia duduk berhadapan.
"Iya, Ma. Makasih," jawab Farel pelan, tenggorokannya terasa kering.
Farel mulai menyendok makanannya. Nasi goreng yang gurih dan pedas itu ia santap cepat-cepat untuk mengalihkan pikiran mesumnya. Setelah piringnya bersih, ia meraih gelas susu hangat itu tanpa rasa curiga, lalu meneguknya hingga kandas dalam beberapa tegukan besar.
Sensasi hangat mengalir melintasi tenggorokannya. Biasa saja, tidak ada rasa yang aneh.
"Aku ke kamar duluan ya, Ma. Mau mandi terus istirahat," pamit Farel seraya bangkit berdiri.
Dewi mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sarat makna. "Iya, istirahat yang cukup ya, Farel."
Farel melangkah masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu, menghembuskan napas berat.
Namun baru lima menit ia berada di kamar, reaksi obat itu mulai bekerja.
Gelombang panas yang tidak alami mendadak menjalar dari dasar perutnya, merambat cepat menyapu dada, lalu menumpuk kencang di area selangkangan. Darahnya berdesir hebat, membuat denyut nadinya berpacu dua kali lebih cepat. Suhu tubuhnya meningkat drastis hingga pelatuk keringat dingin mulai bermunculan di dahinya.
Di bawah celana pendek kainnya, Pusaka Farel mengeras sempurna, menegang kaku hingga menekan kain celananya dengan sangat menyiksa. Farel mengerang pelan. Ia berjalan limbung menuju tepi tempat tidur dan merosot duduk di sana. Napasnya memburu kencang, matanya sedikit memerah karena dorongan gairah yang mendadak meluap tanpa bisa dikontrol.
Di atas kasur, Farel mencengkeram sprei kain hingga kusut.
Rasa panas di pangkal pahanya kini menjelma menjadi denyutan hebat yang menyiksa. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata untuk menetralkan akal sehatnya, gambaran visual foto polos Dewi—panggul mulusnya, buah dada yang ranum, serta lekuk tubuh ibu tirinya tanpa sehelai kain pun—malah tercetak makin jelas di balik kelopak matanya. Sentuhan tangannya di balik celana pendek bukan lagi sekadar dorongan refleks, melainkan kebutuhan mendesak yang membakar akal sehat. Napas Farel kian tersengal, menyuarakan erangan halus yang lolos dari celah giginya yang terkatup rapat.
Sementara itu di lorong remang, Dewi merapatkan seluruh tubuhnya ke daun pintu kayu. Udara dingin malam tak sanggup mendinginkan gejolak yang kian liar di dalam dadanya. Mendengar erangan nya sendiri yang tertahan, telapak tangan Dewi perlahan terangkat, meraba kenop pintu yang terkunci rapat di belakangnya. Sentuhan logam dingin itu bergetar seirama dengan detak jantungnya yang berpacu kencang. Daster maroon tipis yang dikenakannya terasa makin ketat meremas kulitnya yang mendadak gerah. Senyum tipis mengukir di bibirnya—sebuah kepuasan kelam melihat umpan terlarangnya berhasil menembus benteng pertahanan anak tirinya.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari LOVE BEYOND CONTROL.