Muhammad Aldiansyah Putra
Kumpulan Karangan Aneh
Mulai membaca
Di sebuah dunia fana.
Terdapat seorang manusia.
Manusia itu punya cita-cita tinggi untuk menjadi penulis ternama.
Jadi, ia memulainya dengan mencoba menulis sebuah cerita.
Ia membuka sebuah halaman kosong.
Menulis sebuah cerita.
Lalu ia membacanya.
Setelah selesai membaca, ia berpikir bahwa ceritanya tidak bagus.
Ia merasa ceritanya jelek.
Jadi, ia menghapusnya.
Kemudian membuka halaman baru.
Dan membuat cerita yang baru.
Lalu ia membacanya lagi.
Setelah selesai membaca, ia berpikir cerita itu juga tidak bagus.
Ia merasa cerita itu juga jelek.
Jadi, ia menghapusnya lagi.
Membuka halaman baru lagi.
Membuat cerita baru lagi.
Membacanya lagi.
Setelah selesai membaca, ia berpikir bahwa kali ini ceritanya sudah lumayan bagus.
Tapi ia tetap merasa cerita itu masih jelek.
Jadi, ia terus membuka halaman baru.
Dan membuat cerita baru.
Hingga tak terasa, malam pun tiba.
Hari itu ia merasa sudah lelah.
Jadi, ia memutuskan untuk melanjutkannya besok.
<•>
Keesokan harinya.
Keesokan paginya.
Ia membuka sebuah halaman kosong.
Menulis sebuah cerita.
Lalu ia membacanya.
Setelah selesai membaca, ia berpikir bahwa ceritanya lumayan bagus.
Tapi ia merasa ceritanya masih jelek.
Jadi, ia menghapusnya.
Kemudian membuka halaman baru.
Dan membuat cerita yang baru.
Lalu ia membacanya lagi.
Setelah selesai membaca, ia berpikir cerita itu sudah cukup bagus.
Tapi kemudian ia merasa bahwa ceritanya bisa lebih bagus.
Jadi, ia menyimpannya.
Lalu membuka halaman baru lagi.
Membuat cerita baru lagi.
Membacanya lagi.
Setelah selesai membaca, ia berpikir bahwa kali ini ceritanya juga lumayan bagus.
Tapi ia merasa cerita itu tidak sebagus cerita sebelumnya.
Jadi, ia membuangnya.
Lalu ia membuka halaman baru.
Dan membuat cerita baru.
Hingga tak terasa, malam pun hadir kembali.
Ia merasa sepertinya hari itu sudah cukup sampai di sini.
Jadi, ia memutuskan untuk melanjutkannya besok.
<•>
Keesokan harinya lagi.
Pada pagi hari.
Ia kembali membuka halaman kosong.
Menulis sebuah cerita.
Lalu membacanya.
Setelah selesai membaca, ia berpikir cerita itu sudah cukup bagus.
Tapi ia merasa bahwa ceritanya bisa lebih bagus.
Jadi, ia menyimpannya.
Lalu membuka halaman baru lagi.
Membuat cerita baru lagi.
Membacanya lagi.
Setelah selesai membaca, ia berpikir bahwa kali ini ceritanya juga lumayan bagus.
Dan ia merasa cerita itu juga bisa lebih bagus daripada cerita sebelumnya.
Jadi, ia menyimpannya lagi.
Lalu membuka halaman baru lagi.
Membuat cerita baru lagi.
Membacanya lagi.
Setelah selesai membaca, ia berpikir bahwa kali ini ceritanya benar-benar tidak bagus.
Ia merasa cerita itu jauh lebih jelek daripada cerita pertamanya.
Jadi, ia menghapusnya.
Dan kemudian membuka halaman baru.
Membuat cerita baru.
Lalu membacanya.
Setelah selesai membaca, ia berpikir bahwa kali ini ceritanya juga tidak bagus.
Ia merasa cerita itu jelek.
Jadi, ia membuangnya.
Mendapatkan dua cerita yang buruk dalam satu hari sepertinya membuatnya menjadi marah.
Padahal, hari itu ia juga mendapatkan dua cerita yang bagus.
Ataukah ia lupa bahwa ia mendapatkan cerita-cerita yang bagus karena adanya dua cerita yang jelek?
Kemudian malam kembali datang.
Dalam perasaan marahnya, ia menutup pintu ruangan.
Kemudian pergi tidur.
<•>
Keesokan harinya.
Ia kembali membuka halaman kosong.
Membuat sebuah cerita.
Lalu membacanya.
Setelah membacanya, ia berpikir cerita ini cukup bagus.
Tapi ia merasa ada sesuatu yang terasa aneh.
Jadi, ia memutuskan untuk menyimpannya.
Kemudian membuka halaman baru.
Membuat sebuah cerita.
Lalu membacanya.
Setelah selesai membaca, ia berpikir bahwa kali ini ceritanya sangat bagus.
Ia merasa ini sesuatu yang luar biasa.
Jadi, ia menyimpannya.
Kemudian ia membuka halaman baru lagi.
Membuat cerita baru lagi.
Lalu membacanya.
Setelah selesai membaca, ia berpikir bahwa cerita itu tidak sebagus cerita yang ia buat sebelumnya.
Ia merasa seharusnya ia membuat cerita yang lebih bagus.
Jadi, ia membuangnya.
Kemudian membuka halaman baru.
Membuat cerita yang baru.
Membacanya lagi.
Setelah selesai membaca, ia berpikir bahwa cerita kali ini juga tidak sebagus cerita yang ia buat sebelumnya.
Ia merasa seharusnya ia bisa membuat cerita yang jauh, jauh lebih bagus daripada cerita sebelumnya.
Jadi, ia membuangnya.
Lalu membuka halaman baru.
Ia membuat cerita baru.
Cerita yang lain dan yang lain.
Namun hingga malam kembali hadir,
ia tetap tidak dapat membuat cerita yang jauh lebih baik daripada ceritanya yang sebelumnya, yang ia anggap luar biasa.
Merasa frustrasi karena tidak berhasil membuat cerita yang lebih baik, ia membanting pintu ruangan dan pergi ke tempat tidur.
<•>
Keesokan harinya.
Ia membuka halaman kosong.
Membuat sebuah cerita.
Lalu membacanya.
Setelah membaca, ia berpikir cerita itu tidak sebagus cerita yang ia buat kemarin.
Ia merasa cerita itu tidak cukup bagus.
Jadi, ia membuangnya.
Lalu membuka halaman baru.
Membuat cerita baru.
Membacanya.
Setelah selesai membaca, ia kembali berpikir bahwa cerita itu tidak sebagus cerita yang ia buat kemarin.
Ia merasa cerita itu bahkan tidak sebagus cerita yang ia buat sebelumnya.
Jadi, ia membuangnya.
Lalu membuka halaman baru lagi.
Membuat cerita baru lagi.
Membacanya lagi.
Setelah selesai membaca, ia kembali berpikir bahwa cerita itu tidak sebagus cerita yang ia buat kemarin.
Ia merasa seharusnya itu bisa lebih baik, atau setidaknya bisa menyamai cerita yang ia buat kemarin.
Sebuah cerita yang luar biasa.
Karena tidak puas atas cerita itu, ia pun membuangnya.
Lalu membuka halaman baru.
Membuat cerita baru lagi.
Sampai malam hadir kembali.
Ia masih tidak mendapatkan cerita yang sebaik cerita yang ia buat kemarin.
Ia merasa frustrasi.
Ia menghamburkan benda-benda yang ada di ruangannya sebelum membanting pintu.
Dan pergi tidur.
<•>
Keesokan harinya...
Ia kembali melakukan hal yang sama.
Membuka lembaran kosong.
Menulis sebuah cerita.
Membacanya.
Kemudian merasa itu tidak bagus.
Dan menghapusnya lagi.
Lalu membuat cerita baru lagi.
Hari demi hari...
Minggu demi minggu...
Bulan demi bulan...
Tahun demi tahun...
Ia melakukan hal yang sama setiap hari.
Membuka lembaran kosong.
Menulis sebuah cerita.
Membacanya.
Dan ia merasa itu tidak bagus.
Kemudian membuangnya.
Lalu menulis cerita baru.
Sampai pada suatu ketika.
Ia merasa sangat lelah.
Lalu keluar dari mulutnya sebuah pertanyaan.
“Kenapa aku tidak pernah bisa membuat cerita?”
Lelah.
Marah.
Frustrasi.
Stres.
Putus asa.
Tidak berdaya.
Ia menangis di ruangannya.
Ia menangisi waktu yang telah berlalu.
Ia menangisi usaha yang terasa sia-sia.
Ia menangisi kegagalan yang terus berulang.
Ia menangisi harapan yang mulai hilang.
Ia menangisi kesempatan yang telah dilewatkan.
Ia menangisi impian yang semakin jauh.
Ia menangis.
Menangis.
Menangis.
Dan menangis.
Dalam tangisnya itu.
Ia kemudian membuka folder-foldernya.
Melihat sisa-sisa hal yang telah dibuatnya.
Cerita-cerita.
Kisah-kisah.
Ia menyesal membuang cerita-ceritanya.
Ia menyesal menjelekkan kisah-kisahnya.
Dengan itu, ia menyadari semua hal yang telah ia korbankan demi kesempurnaan.
Dan menyadari kenyataan bahwa ia tidak pernah merasa cukup.
Lalu menangisi dirinya sendiri.
Kemudian, ia menemukan sebuah file yang bertuliskan Untuk Diriku.
Ia membukanya...
Dan melihat isinya...
Hanya ada satu kalimat saja.
“Aku ingin menjadi seorang penulis.”
Tamat.