Si Jas Kuning
Aida Elrika
Kelabu
Mulai membaca
Aku melihatnya lagi.
Berdiri di tepi pantai sendiri. Seorang pemuda dengan jas almamater kuning yang begitu mencolok, termenung menatap laut lepas dengan tatap kosong.
Tubuhnya diterpa ombak yang bergulung-gulung. Hampir roboh beberapa kali, tapi pijakannya terlalu kuat sama seperti tekad di dalam manik matanya.
Aku sering melihatnya di sepanjang waktu.
Pagi, siang, sore, malam. Ia tetap berdiri di sana dalam diam. Menatap lautan lepas dan membiarkan sang Bayu menerpa helai-helai rambut hitamnya yang berantakan.
Dulu, aku hanya berani menatapnya. Menekuri setiap gerak geriknya sambil bertanya-tanya, apa yang sedang ia lakukan di sana?
Namun, sore itu aku memberanikan diri mendekat. Berdiri di samping pemuda itu, ikut menatap lautan lepas walau berkali-kali nyaris rubuh dihantam ombak.
"Kau pengagum lautan, ya?" Suaraku akhirnya mengudara. Memecah hening dan fokusnya.
Pemuda itu menolehkan kepala dan untuk pertama kali aku melihat wajahnya dengan begitu jelas. Kelopak mata sayu membingkai manik coklat tua, tulang hidung tinggi dan agak bengkok, bekas luka melintang di kanan dan kiri pipi, serta helai rambut hitam yang membingkai rahang tegasnya.
Selain sorot mata kosongnya, ada satu atau dua hal yang mengganggu dalam diri pemuda itu. Kulit pucat dan bercak-bercak tanah menodai warna kuning cerah jas almamater yang ia pakai.
"Tidak juga."
Suaranya serupa debur ombak lautan di malam hari. Menenangkan, berat, dan dalam. Mengejutkan.
"Lantas apa yang kau lakukan setiap hari di sini?" Aku menatapnya, mengamati tiap inci wajahnya dari samping. Dia lumayan, walau baret luka-luka tertoreh di wajahnya.
"Tidak melakukan apa-apa," jawaban singkat ia beri.
"Lalu?"
"Aku mencari temanku."
Dahiku mengernyit heran. Mencari teman.
Dia ini sungguh konyol. Mana ada orang yang mencari teman di pantai? Menatap lautan sepanjang hari dan tidak melakukan apa-apa.
"Kalau mau cari temanmu pergi ke kantor polisi," aku berkata, tapi ia tertawa keras mendengar kalimatku.
"Tidak akan ada," ucapnya.
"Kenapa?"
"Aku hanya tidak percaya pada para aparat penegak hukum," ia mengedikkan bahu acuh. Matanya kembali sibuk menatap ke arah lautan, menatap ombak yang bergulung, burung-burung camar yang terbang melintasi angkasa, dan batu karang yang berdiri kokoh di sana.
Keberadaanku seolah sirna begitu saja. Tak lagi ia hiraukan aku, walau secara terang-terangan aku menatapnya. Dia tetap tenang, menatap lautan dengan tatap kosong.
"Memangnya temanmu itu hilang di mana?" Lagi-lagi aku melempar tanya. Tanya tidak masuk akal.
Pemuda itu hanya diam, kemudian ia menyunggingkan senyum tipis. Tangan kanannya terangkat dan jari telunjuknya menunjuk ke arah laut lepas.
"Di sana."
Lagi-lagi aku mengernyit.
"Temanmu hilang di lautan?"
Ia mengangguk.
"Dia ditenggelamkan di tempat yang paling dalam di negeri ini. Menjadi makanan ikan-ikan kecil dan berbagai macam makhluk laut lainnya. Menjadi salah satu dari mereka, para biota laut," ia menjawab dengan tenang kemudian.
Aku tidak paham apa yang sedang ia bicarakan. Aku pikir pemuda ini sedang melantur, efek jangka panjang dari hantaman ombak dan juga terpaan angin laut.
Aku terdiam selama beberapa saat. Menyusun deretan pertanyaan yang akan aku ajukan untuknya. Dengan perlahan aku kembali menatap pemuda itu yang sama sekali tidak tampak terusik oleh hantaman ombak dan hembusan angin laut. Padahal aku nyaris berkali-kali roboh dihantam ombak.
"Kalau boleh tahu, temanmu itu ... Siapa?"
Pemuda itu menoleh, menatap tepat ke manik mataku. Di kesempatan itu aku mampu menyelam ke kedalaman jiwanya yang terbelenggu oleh pengharapan semu.
Ia menyunggingkan senyum. Bukan senyum manis atau senyum tulus, tapi senyum miris. Bilah bibirnya bergerak, mengucapkan sebuah kata. Suaranya berat dan dalam menghantam tubuhku hingga roboh tergulung ombak.
"Keadilan."