Adhe Kurniawan
I am the strongest god in the world
Mulai membaca
Di Kerajaan Altarias, nama David Delmores dikenal sebagai aib terbesar bagi keluarga kerajaan. Lahir sebagai putra ketiga dari Raja Burkham Delmores, David tidak memiliki ambisi, enggan berlatih pedang, dan selalu terlihat bermalas-malasan di halaman belakang istana.
Kedua kakaknya adalah pahlawan kebanggaan kerajaan. Kakak pertamanya, Sergio Delmores, adalah panglima perang jenius yang tak terkalahkan di garis depan. Sementara kakak keduanya, Antoni Delmores, adalah penyihir agung muda yang menguasai elemen api tingkat tinggi. Di mata mereka dan sang ayah, David hanyalah pemuda tidak berguna yang membuang-buang fasilitas kerajaan.
Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang tahu rahasia terbesar David. Dia adalah seorang transmigran yang terlahir kembali di dunia ini. Lebih dari itu, David memiliki System Dewa Tertinggi di dalam kepalanya. Sejak bayi, sistem itu terus-menerus memberikan poin atribut dan kemampuan mutlak hingga kekuatannya melampaui batas dewa terkuat di dunia tersebut. David bisa menghancurkan sebuah benua hanya dengan jentikan jari. Namun, karena di kehidupan sebelumnya dia mati akibat kelelahan bekerja, di kehidupan baru ini David hanya memiliki satu tujuan: hidup santai, rebahan, dan menikmati kedamaian.
Satu-satunya orang yang tidak pernah memandang rendah David adalah Silvia Welims, putri seorang menteri pertahanan yang juga merupakan teman masa kecilnya. Silvia sering mengunjungi David di paviliunnya yang sepi, membawakannya camilan, atau sekadar menemaninya membaca buku di bawah pohon rindang.
"David, setidaknya berusahalah sedikit," ujar Silvia suatu siang, menatap David yang sedang asyik mengunyah anggur. "Raja Burkham dan kakak-kakakmu terus membicarakanmu. Aku takut mereka akan mengasingkanmu ke perbatasan."
David hanya tersenyum malas. "Perbatasan terdengar bagus, Silvia. Di sana sepi, tidak ada protokol istana yang merepotkan."
Silvia hanya bisa menghela napas, walau jauh di dalam hatinya, dia menyukai ketenangan yang selalu terpancar dari diri David. Bagi Silvia, berada di dekat David adalah satu-satunya momen di mana dia bisa lepas dari tekanan politik istana.
Kedamaian yang diagungkan David runtuh dalam satu malam. Kerajaan Xa, kekaisaran brutal dari tanah utara yang terkenal dengan pasukan monster dan penyihir hitamnya, melakukan invasi mendadak. Mereka melanggar perjanjian damai dan menghancurkan benteng pertahanan Altarias dalam hitungan jam.
Langit ibu kota Altarias berubah menjadi merah darah akibat sihir kutukan Kerajaan Xa. Pasukan musuh yang dipimpin oleh sang Kaisar Xa sendiri berhasil menembus dinding luar istana.
Raja Burkham, Sergio, dan Antoni memimpin pertempuran di aula utama dengan gagah berani. Namun, kekuatan Kerajaan Xa terlalu timpang. Sergio terluka parah setelah dikeroyok oleh tiga Jenderal Iblis, sementara sihir api Antoni dengan mudah dipadamkan oleh kabut hitam musuh. Raja Burkham berlutut, terengah-engah dengan pedang yang retak.
Di sudut aula, Silvia tertangkap oleh salah satu komandan musuh. Pakaiannya tak keruan, dan sebilah belati dingin menempel di lehernya.
"Kerajaan Altarias telah runtuh hari ini!" seru Kaisar Xa dengan tawa menggelegar, bersiap mengeksekusi Raja Burkham.
Di tengah keputusasaan itu, terdengar langkah kaki yang santai. Suara menguap yang keras memecah ketegangan aula perang. Semua mata tertuju ke arah pintu samping. David Delmores berjalan masuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian berisik sekali," keluh David dengan nada malas. "Kalian mengacaukan waktu tidur siangku."
"David! Pergi dari sini! Kamu hanya akan mati konyol!" teriak Antoni dengan sisa kekuatannya, merasa adiknya yang tidak berguna ini benar-benar tidak tahu situasi.
Kaisar Xa menyipitkan mata, mengabaikan peringatan itu. "Satu lagi sampah Altarias. Singkirkan dia."
Seorang prajurit raksasa Kerajaan Xa maju, mengayunkan kapak besar ke arah kepala David. Silvia menjerit histeris, menutup matanya tak sanggup melihat David terbelah menjadi dua.
Klang!
Bunyi logam hancur bergema. Kapak raksasa itu hancur berkeping-keping saat menyentuh kulit leher David. David bahkan tidak berkedip.
[Sistem Mengaktifkan: Aura Penunduk Dewa]
Detik itu juga, atmosfer di seluruh kerajaan berubah total. Tekanan gravitasi yang amat dahsyat mendadak meremukkan lantai istana. Langit merah darah di luar langsung robek, digantikan oleh cahaya keemasan yang begitu suci dan menakutkan.
Para prajurit Kerajaan Xa, termasuk para Jenderal Iblis yang tadinya arogan, langsung berlutut paksa hingga lutut mereka hancur menghantam lantai. Mereka bahkan tidak bisa mengangkat kepala akibat tekanan energi yang begitu masif.
Kaisar Xa memuntahkan darah segar, matanya membelalak penuh horor. "Ke-kekuatan apa ini?! Kamu... siapa kamu sebenarnya?!"
David berjalan mendekati komandan yang menyandera Silvia. Hanya dengan satu tatapan dingin dari mata David, tubuh komandan itu langsung abu, lenyap tanpa sempat berteriak. David menangkap tubuh Silvia yang lemas dan membantunya berdiri.
"Kamu tidak apa-apa, Silvia?" tanya David, suaranya kembali melembut.
Silvia menatap David dengan tatapan kosong, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, melainkan karena syok. Pemuda malas yang mengunyah anggur di paviliunnya ternyata memiliki kekuatan yang menandingi pencipta dunia.
David kemudian berbalik menatap Kaisar Xa. Dia mengangkat satu jarinya ke udara. "Kalian telah merusak rumahku, mengganggu keluargaku, dan yang paling parah... kalian membuatku harus bekerja keras hari ini."
Dengan satu sentikan jari yang pelan, sebuah gelombang kejut kosmis berwarna emas melesat keluar dari istana, menyapu bersih seluruh jutaan pasukan Kerajaan Xa yang mengepung ibu kota dalam sekejap mata. Tidak ada ledakan, tidak ada darah yang tersisa—mereka semua terhapus dari eksistensi dunia seolah-olah tidak pernah ada.
Suasana aula seketika hening mencekam.
Raja Burkham ternganga hingga pedangnya terlepas dari tangan. Sergio dan Antoni memandang adik bungsu mereka dengan tubuh bergetar hebat. Rasa bersalah, tidak percaya, dan rasa takut bercampur aduk di dalam hati mereka. Selama ini mereka menganggap David sebagai beban, namun ternyata, David adalah entitas tertinggi yang bisa memusnahkan sebuah negara dalam satu kedipan mata.
David meregangkan otot lehernya yang kaku, lalu menatap keluarganya dan seluruh menteri yang tersisa.
"Urus sisanya. Aku mau kembali tidur," ucap David santai, lalu berjalan keluar meninggalkan aula, membiarkan seluruh dunia gempar dan terkejut oleh identitas as
li sang pangeran tidak berguna.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari I am the strongest god in the world.