CeritaGW
Buku / Bab
Bab 121.659 kata

BAB 12 : KURSI KOSONG SANG AYAH

S

Suhendar

HIKMAH YANG TERTUNDA

Mulai membaca

"Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah janji-janji itu."
(QS. Al-Ma'idah: 1)
Surat gugatan penyitaan aset dari Konsorsium Nusantara Development yang diterima kemarin sore seolah menjadi genderang perang yang ditabuh di hadapan Rafa. Waktu dua puluh empat jam yang diberikan musuh-musuh almarhum ayahnya terus berjalan tanpa ampun.
Pukul delapan pagi, gedung pencakar langit PT Surya Konstruksi berdiri megah di kawasan bisnis Jakarta Pusat. Namun, bagi Rafa, bangunan kaca lima belas lantai itu kini terasa seperti sarang serigala.
Rafa melangkah menyusuri lorong utama lantai dua belas. Kemeja putih dan setelan jas hitam peninggalan almarhum Pak Budiman melekat di tubuhnya. Meski sedikit longgar di bagian bahu, kemeja itu memberi kehangatan tersendiri, seolah keteguhan sang ayah ikut mengalir di balik kainnya.
Di samping Rafa, Pak Broto pengusaha kawakan sekaligus sahabat lama almarhum Pak Budiman berjalan dengan langkah tenang. Di tangannya, Pak Broto membawa tas dokumen tebal berisi berkas teknis dan data digital yang berhasil diselamatkan dari flashdisk milik Rafi.
Sebelum berangkat tadi pagi, Amira sempat memegang tangan Rafa di safehouse, meminta Rafa untuk berjuang demi keadilan Pak Budiman dan Rafi yang masih terbaring lemah di kamar. Amira memilih tetap tinggal menjaga Rafi.
"Ingat, Rafa," bisik Pak Broto seraya memperbaiki letak dasinya. "Rapat direksi pagi ini bukan sekadar diskusi. Ini arena pembantaian. Dewan komisaris dan pemegang saham senior sudah dikuasai oleh kaki tangan Tuan Abraham dari Konsorsium."
Rafa mengangguk tipis, mengatupkan rahangnya rapat-rapat. "Aku paham, Pak Broto. Tapi aku tidak akan menyerahkan kursi Ayah begitu saja."
"Tetap kontrol emosimu. Jangan sampai mereka punya alasan untuk memanggil sekuriti dan melempar kita keluar," pesan Pak Broto mengingatkan.
"Tenang, Pak. Saya tahu batasannya," balas Rafa mantap, meski degupan jantung di dadanya bergemuruh kencang.
Mereka berhenti tepat di depan pintu ganda berbahan kayu jati ukir yang kokoh. Papan kuningan di samping pintu bertuliskan: Ruang Rapat Utama Direksi.
Rafa menarik napas panjang, lalu mendorong pintu tebal itu hingga terbuka lebar.
Keheningan di dalam ruangan mendadak pecah. Suara perbincangan belasan pria bersetelan mahal yang duduk mengelilingi meja oval besar seketika terhenti. Semua mata tertuju pada sosok Rafa yang berdiri tegap di ambang pintu.
Di ujung meja, tepat di sebelah kursi utama yang kosong—kursi milik almarhum Pak Budiman—duduk seorang komisaris senior bernama Pak Hendra. Pria berkumis tebal dan berperut buncit itu menatap Rafa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan merendahkan.
"Siapa yang mengizinkan anak kecil ini masuk ke ruang rapat direksi?" tegur Pak Hendra dengan suara berat dan dingin, mengibaskan tangannya seolah mengusir lalat.
Rafa tidak mundur satu langkah pun. Ia melangkah maju dengan percaya diri, diikuti Pak Broto.
"Saya Rafa. Putra dari Budiman, Direktur Utama PT Surya Konstruksi," tegas Rafa, suaranya bergema nyaring di dalam ruangan yang berpendingin udara dingin itu.
Beberapa anggota dewan komisaris tertawa terkekeh, sebuah tawa ejekan yang renyah dan menyakitkan.
"Putra dari Budiman?" potong Pak Hendra seraya menyandarkan tubuhnya ke kursi kulit. "Mas Rafa, ini rapat bisnis bernilai ratusan miliar. Bukan tempat untuk bermain drama keluarga atau pamer silsilah. Kamu bahkan belum genap seminggu lulus dari bangku kuliah!"
"Saya memang baru lulus, Pak Hendra," pangkas Rafa tajam, menatap lurus mata pria tua itu. "Tapi saya pemegang sah tiga puluh lima persen saham pendiri atas nama almarhum Ayah saya. Secara hukum perseroan, saya berhak menduduki kursi itu dan memimpin rapat hari ini!"
Rafa melangkah makin dekat, lalu memutar kursi kayu besar berukir di ujung meja kursi yang selama sepuluh tahun terakhir diduduki oleh ayahnya. Sebelum Rafa sempat duduk, sebuah tangan berurat mencegat sandaran kursi tersebut.
Seorang pria paruh baya bersetelan abu-abu mahal berdiri di samping kursi itu. Pak Broto berbisik pelan di belakang Rafa: itu Pak Syamsul, utusan langsung Tuan Abraham dari Konsorsium.
Pak Syamsul tersenyum meremehkan, mengusap jam tangan emas di pergelangan tangannya.
"Kursi ini bukan untuk anak bau kencur yang cuma tahu teori di kertas, Mas Rafa," sindir Pak Syamsul dengan nada sinis. "Ayahmu sudah mati. Dan perusahaan ini sedang di ambang kehancuran gara-gara kasus korupsi dan sabotase yang dibuatnya sendiri!"
"Tutup mulutmu!" bentak Rafa, urat lehernya menonjol seketika. "Ayahku disabotase oleh pengkhianat di dalam perusahaan ini! Dan kalian semua tahu betul siapa yang berada di balik Sasono dan Wirawan!"
"Mana buktinya?!" tantang Pak Hendra seraya menepuk meja keras-keras. Buug! "Jangan asal menuduh! Bank sudah membekukan rekening perusahaan kita! Hari ini, kalau kita tidak menandatangani surat akuisisi dan penyerahan aset ke Konsorsium Nusantara Development, seluruh pekerja akan di-PHK dan perusahaan ini bangkrut total!"
Pak Hendra melemparkan setumpuk dokumen tebal berlogo Konsorsium ke tengah meja.
"Pilihan untuk seluruh pemegang saham cuma satu: serahkan pengelolaan PT Surya Konstruksi kepada Konsorsium, atau kita semua digulung utang!" lanjut Pak Hendra seraya mengedarkan pandangan ke seluruh anggota rapat yang mengangguk-angguk setuju karena takut.
Rafa mengambil alih perhatian. Ia mengeluarkan laptop serta berkas tebal dari tas Pak Broto dan langsung menyambungkannya ke proyektor ruangan.
"Tunggu dulu, Bapak-Bapak yang terhormat!" seru Rafa lantang. "Pembekuan rekening oleh bank itu cacat prosedur! Kami memiliki bukti bahwa rekapitulasi aliran dana yang dipakai bank untuk membekukan rekening adalah dokumen palsu yang dimanipulasi oleh Pak Sasono!"
Pak Syamsul tertawa sinis menatap Rafa. "Jangan membuat cerita fiksi di meja rapat profesional, Rafa!"
"Ini bukan cerita fiksi!" potong Rafa tanpa rasa gentar. "Ini adalah salinan log transaksi asli proyek Jembatan Sirah Cai yang dicatat dan dibongkar oleh kakak saya, Rafi, sebelum kecelakaan!"
Layar proyektor besar di dinding ruangan menyala, menampilkan bagan transfer bank dan salinan surat perintah palsu yang ditandatangani oleh Pak Wirawan dan beberapa oknum komisaris yang hadir di ruangan itu.
Suasana ruangan rapat yang tadinya riuh mendadak berubah menjadi senyap. Beberapa pemegang saham senior saling pandang dengan raut wajah cemas dan pucat.
"Ini... dari mana kalian dapat dokumen ini?!" tanya Pak Hendra, suaranya mulai gemetar meski berusaha ditutupi.
"Rafi menyimpan seluruh bukti ini di flashdisk terenkripsi," tegas Rafa seraya menatap satu per satu wajah para komisaris. "Kalian kira dengan menyingkirkan Ayahku dan mencoba meracuni Rafi di ICU, kejahatan kalian akan tertutup? Tidak!"
Rafa menarik kursi kayu utama itu, lalu mendudukinya dengan tegap dan gagah. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja oval tersebut, meniru persis gaya almarhum Pak Budiman saat mengendalikan rapat-rapat besar.
"Mulai detik ini," kata Rafa dengan suara rendah yang penuh penekanan dan otoritas murni, "Saya, Rafa Budiman, resmi mengambil alih kepemimpinan PT Surya Konstruksi sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama."
"Kamu tidak punya wewenang!" teriak Pak Syamsul panik.
"Saya punya tiga puluh lima persen saham pendiri, ditambah dua puluh persen saham milik Pak Broto yang berdiri di samping saya!" pangkas Rafa seraya menunjuk Pak Broto yang tersenyum tenang di sampingnya. "Total kami memegang lima puluh lima persen suara mayoritas! Secara aturan hak suara perseroan, rapat ini memutuskan: penolakan mutlak atas akuisisi Konsorsium Nusantara Development!"
Pak Syamsul dan Pak Hendra membeku di tempat. Rencana mereka untuk merebut PT Surya Konstruksi dalam kurun waktu dua puluh empat jam hancur berantakan di depan mata mereka sendiri.
Pak Broto melangkah maju, meletakkan surat pendaftaran gugatan balik ke Kejaksaan Tinggi di meja. "Atas nama direksi baru, kami juga membatalkan seluruh kewenangan hukum yang pernah diberikan kepada Konsorsium. Kalian yang terlibat manipulasi dana... bersiaplah dipanggil pihak kepolisian sore ini."
Para komisaris senior yang terafiliasi dengan konsorsium mulai panik dan saling berbisik ketakutan. Pak Syamsul mengepalkan tangannya rapat-rapat, matanya memancarkan kebencian yang sangat mendalam pada Rafa.
"Bagus... Luar biasa, Anak Muda," desis Pak Syamsul seraya merapikan jasnya dengan gerakan kasar. "Kamu memang punya keberanian seperti ayahmu. Tapi kamu lupa satu hal... bermain dengan Konsorsium berarti kamu sedang bermain dengan api."
Pak Syamsul berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat, diikuti oleh Pak Hendra dan beberapa antek-anteknya.
Pintu ruang rapat tertutup keras. Bang!
Rafa menahan napasnya yang menegang sejak tadi. Punggungnya menyandar ke kursi. Keringat dingin menetes dari pelipisnya.
Pak Broto menepuk bahu Rafa dengan bangga. "Kamu berhasil, Rafa... Langkah awal yang sangat luar biasa."
"Kita baru memenangkan pertempuran kecil, Pak Broto," kata Rafa menatap layar proyektor. "Perang sesungguhnya baru saja dimulai."
"Benar," puji Pak Broto. "Sekarang, kita harus segera pergi ke Bank Mandiri Pusat untuk membuka pembekuan rekening sebelum jam operasional tutup."
Rafa berdiri, merapikan jas ayahnya. "Baik, Pak Broto. Ayo kita berangkat sekarang."
Mereka berdua keluar dari ruang rapat dan turun menggunakan lift khusus eksekutif menuju area parkir basemen gedung. Suasana basemen yang remang-remang dan sepi menyambut langkah kaki mereka.
Namun, saat Rafa dan Pak Broto berjalan mendekati mobil SUV hitam milik Pak Broto, empat buah mobil sedan hitam tiba-tiba melaju kencang dari balik pilar-pilar beton!
Ciiiit!
Empat mobil itu berhenti mendadak, mengepung mobil Pak Broto dari segala arah hingga menutup seluruh jalan keluar.
Pintu-pintu mobil sedan itu terbuka secara bersamaan. Belasan pria bertubuh kekar bersetelan serba hitam dan mengenakan topeng pelindung wajah keluar seraya memegang tongkat besi dan senjata tumpul.
Dari dalam salah satu sedan mewah yang berada di tengah, turun seorang pria tinggi berambut perak bersetelan jas mahal. Pria itu melepaskan kacamata hitamnya pria yang sama yang berdiri di bawah pohon kamboja saat pemakaman Pak Budiman kemarin.
Tuan Abraham.
Tuan Abraham berjalan santai mendekati Rafa yang langsung memasang posisi pasang untuk melindungi Pak Broto di sampingnya.
"Rafa Budiman..." suara Tuan Abraham terdengar sangat berat, tenang, namun memancarkan aura ancaman yang sangat mematikan. "Kamu baru saja menolak uluran tangan saya di ruang rapat."
"Tuan Abraham!" bentak Pak Broto mencoba maju. "Jangan bertindak gila di area publik!"
Tuan Abraham tidak mengindahkan Pak Broto. Matanya hanya tertuju lurus pada Rafa.
"Saya beri kamu pilihan terakhir, Rafa," kata Tuan Abraham dingin, mengangkat sebuah tombol remote kecil bermerek pemancar jarak jauh di tangan kanannya.
"Serahkan flashdisk asli dan seluruh berkas Jembatan Sirah Cai sekarang juga... atau dalam hitungan tiga detik, bom rakitan yang sudah terpasang di bawah tempat tidur saudaramu, Rafi tempat di mana tunangannya, Amira, sedang menunggunya di safehouse... akan saya ledakkan."
CATATAN PENULIS :
Bab 12 menyajikan pertarungan politik korporasi yang sangat menegangkan di ruang rapat direksi. Perkembangan karakter Rafa terampil memperlihatkan bagaimana ia mampu mengatasi intimidasi dari para pengusaha senior dengan memanfaatkan legalitas saham serta ketegasan sikap.
Kehadiran Amira yang memilih menjaga Rafi di safehouse mempertegas posisinya sebagai tunangan yang setia, sekaligus menjadikan ancaman Tuan Abraham di akhir bab terasa jauh lebih mencekam karena menargetkan keselamatan Rafi dan Amir

Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 12 / 12
HIKMAH YANG TERTUNDA
11

BAB 11 : FAJAR YANG TERNODA

1.636 kata / Terkunci

12

BAB 12 : KURSI KOSONG SANG AYAH

1.659 kata / Sedang dibaca