Suhendar
HIKMAH YANG TERTUNDA
Mulai membaca
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)
Matahari pagi menembus celah gorden kamar Amira, membiaskan garis-garis cahaya
keemasan yang jatuh tepat di atas meja belajarnya. Di sana, tertata rapi dua
amplop tebal berbahan kertas linen mewah. Amira mengusap lembut permukaan amplop
tersebut dengan jemarinya yang sedikit gemetar. Senyum bahagia yang tak sanggup
ia tahan mengembang di bibirnya.
Amplop pertama berisi surat penerimaan beasiswa magister ke universitas impiannya
di luar negeri sebuah cita-cita yang telah ia rakit selama empat tahun kuliah.
Amplop kedua berisi draf awal undangan pernikahan dengan Rafi, laki-laki yang
telah mendampinginya sejak masa awal kuliah.
Bagi Amira, sebagai anak tunggal dari Dr. Kusuma dan Ibu Sulastri, hidupnya saat
ini bagaikan sebuah lukisan indah yang hampir selesai. Semua potongan teka-teki
yang ia susun dengan cermat akhirnya masuk ke tempatnya masing-masing.
"Amira, Rafi sudah datang di bawah," suara Ibu Sulastri terdengar lembut dari
balik pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Iya, Bu, Amira turun sekarang," sahut Amira seraya merapikan jilbabnya.
Ia membawa draf undangan itu, melangkah turun menuju ruang tamu. Di sana, Rafi
sudah duduk bersama Dr. Kusuma dan Ibu Sulastri. Dr. Kusuma, yang baru saja
menyelesaikan tugas jaga malam di rumah sakit ternama di Jakarta, tampak santai
menikmati teh hangat buatan istrinya. Wajah Rafi memancarkan ketenangan yang
selalu berhasil membuat Amira merasa aman.
"Assalamu'alaikum, Amira," sapa Rafi seraya mengangguk hangat.
"Wa'alaikumussalam. Kok pagi-pagi sudah ke sini, Ra?" tanya Amira seraya duduk
di samping Ibunya.
"Iya, Ra. Aku cuma mampir sebentar. Mau memastikan draf undangan ini sudah kamu
cek atau belum," jawab Rafi ramah.
Dr. Kusuma tersenyum menatap calon menantunya itu. "Rafi, bagaimana persiapan
pernikahan kalian? Dan bagaimana kabar Ayahmu, Pak Budiman? Proyek konstruksinya
lancar?"
"Alhamdulillah lancar, Dok... eh, Ayah," jawab Rafi penuh hormat. "Ayah Budiman
hari ini mengajak Rafi untuk mengecek sampel cetakan undangan secara langsung
ke percetakan. Makanya Rafi mampir ke sini dulu sebelum jalan bareng Ayah."
Ibu Sulastri menyodorkan piring berisi kudapan hangat. "Dimakan dulu kripiknya,
Rafi. Senang rasanya melihat kalian berdua sudah merencanakan semuanya dengan
sangat matang."
Rafi meraih draf kertas di atas meja, memperhatikan setiap detail nama dan
tanggal yang tertera. "Semua sudah sesuai rencana kita, Ra. Kita akan akad nikah
sebelum kamu berangkat studi magister, lalu kita jalani masa-masa indah itu
bersama. Aku sangat bersyukur Allah mempermudah jalan kita."
Beberapa jam berlalu dengan begitu cepat. Diskusi hangat di ruang tamu antara
dua keluarga terjalin dengan penuh tawa. Suasana rumah Dr. Kusuma terasa begitu
hidup dan dipenuhi kehangatan.
Tepat pukul setengah tiga sore, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan
pagar rumah. Suara klakson berbunyi dua kali menandakan kedatangan Pak Budiman.
Rafi melirik jam tangannya, lalu berdiri dengan sopan dari kursi ruang tamu.
"Dokter, Ibu... sepertinya Ayah Budiman sudah menjemput di depan. Rafi harus
pamit sekarang ke percetakan," pamit Rafi seraya mencium tangan Dr. Kusuma dan
Ibu Sulastri dengan santun.
"Hati-hati di jalan ya, Rafi. Salam untuk Pak Budiman," ucap Ibu Sulastri lembut.
Amira mengantar Rafi hingga ke teras depan. Di luar, angin sore berembus pelan,
memainkan ujung jilbab Amira. Rafi berbalik menatap Amira, memberikan senyuman
paling hangat yang selalu Amira ingat.
"Aku pergi dulu ya, Ra. Setelah dari percetakan, aku akan kabari kamu lagi.
Jaga kesehatanmu," ucap Rafi pelan.
"Iya, Rafi. Hati-hati di jalan. Jangan lupa baca doa," balas Amira dengan senyum
merekah.
Amira memperhatikan Rafi berjalan menuju mobil, menyapa Pak Budiman yang melambaikan
tangan dari dalam, lalu masuk ke kursi kemudi. Mobil sedan hitam itu perlahan
bergerak menjauh, menyusuri jalanan kompleks hingga akhirnya menghilang di belokan
ujung gang.
Amira menghela napas lega seraya melangkah masuk ke rumah. Hatinya terasa begitu
penuh dengan kebahagiaan dan kepastian. Ia merasa bahwa masa depannya sudah
terkunci rapat. Segala perencanaan manusia yang ia susun bersama Rafi terasa
begitu kokoh, tanpa ada sedikit pun celah untuk sebuah kegagalan.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa momen pamit sore itu adalah kali terakhir
ia melihat senyuman Rafi yang utuh. Amira tidak tahu bahwa apa yang baru saja
ia lepas pergi bukanlah sekadar perjalanan menuju percetakan, melainkan awal dari
sebuah ujian besar yang akan merobek seluruh lembaran rencana indah hidupnya.
CATATAN PENULIS:
Pada Bab 1 ini, interaksi antara Rafi dan keluarga Amira diperkuat untuk
menegaskan betapa dekat dan hangatnya hubungan dua keluarga ini sejak awal.
Kehadiran Dr. Kusuma dan Ibu Sulastri memberi gambaran utuh tentang posisi Amira
sebagai anak tunggal yang sangat disayangi.
Momen ketika Rafi berpamitan pergi bersama ayahnya, Pak Budiman, dibuat
menjadi titik krusial. Pembaca diajak merasakan kehangatan sebuah momen perpisahan
biasa yang tanpa disadari merupakan 'pintu masuk' menuju tragedi besar di bab
berikutnya.
Bab selanjutnya
Lanjutkan ke bab berikutnya dari HIKMAH YANG TERTUNDA.