CeritaGW
Buku / Bab
Bab 011.488 kata

Pagi yang Sama, Beban yang Berbeda

AG

Agly Ghilar Rivana

Hidup Tidak Pernah Bertanya Aku Siap atau Tidak

Mulai membaca

Dulu, aku selalu berpikir bahwa menjadi dewasa adalah tentang kebebasan. Tentang memiliki uang sendiri, menentukan jalan hidup sendiri, dan tidak lagi harus meminta izin untuk melakukan apa yang kuinginkan. Namun, semakin jauh aku berjalan, semakin aku sadar bahwa ternyata menjadi dewasa hanyalah tentang belajar menyembunyikan rasa lelah, sambil tetap berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Setidaknya, begitulah yang mulai kurasakan sekarang.

Hari-hariku tidak lagi sesederhana dulu. Bangun tidur, makan, bermain, tertawa bersama teman, lalu kembali tidur tanpa harus memikirkan apa pun. Dulu, malam hari adalah waktu untuk beristirahat. Sekarang, malam justru menjadi waktu ketika pikiranku bekerja paling keras.

Ada banyak hal yang berputar di kepala. Tentang masa depan yang belum jelas, tentang uang yang selalu terasa kurang, tentang pekerjaan yang harus dipertahankan, dan tentang pertanyaan-pertanyaan yang bahkan aku sendiri tidak tahu jawabannya.

“Sebenarnya, aku sedang menuju ke mana?”

Pertanyaan itu sering muncul ketika aku sedang sendirian.

Aku melihat orang-orang di sekitarku mulai melangkah maju. Ada yang mendapatkan pekerjaan bagus, ada yang mulai membangun keluarga, ada pula yang perlahan berhasil mewujudkan impian mereka. Sementara itu, aku masih berdiri di tempat yang sama, berusaha memahami apa yang sebenarnya ingin kulakukan dengan hidupku.

Aku tahu setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Aku sering mengatakan kalimat itu kepada diriku sendiri, seolah-olah aku sedang berusaha menenangkan seseorang yang hampir menyerah.

Namun, sejujurnya, ada bagian dari diriku yang tetap merasa tertinggal.

Bukan karena aku tidak senang melihat keberhasilan orang lain. Aku justru ikut bahagia ketika melihat mereka mendapatkan apa yang selama ini mereka perjuangkan. Hanya saja, di balik kebahagiaan itu, ada perasaan kecil yang sulit kujelaskan.

Aku mulai bertanya-tanya kapan giliranku tiba.

Kapan aku bisa membuat orang tuaku tersenyum tanpa harus merasa bersalah karena belum mampu memberikan banyak hal? Kapan aku bisa membeli sesuatu yang kuinginkan tanpa harus menghitung sisa uang berkali-kali? Kapan aku bisa menjalani hari tanpa terus-menerus memikirkan apa yang akan terjadi besok?

Aku tidak menginginkan kehidupan yang sempurna.

Aku hanya ingin hidup sedikit lebih tenang.

Namun, rupanya keinginan sesederhana itu pun tidak selalu mudah untuk diwujudkan.

Pagi itu, seperti biasa, aku bangun dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Mataku masih terasa berat, tubuhku belum sepenuhnya siap untuk memulai hari, tetapi aku tahu bahwa aku tidak punya banyak pilihan.

Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap lantai beberapa saat.

Di luar kamar, kehidupan sudah berjalan seperti biasa. Suara kendaraan mulai terdengar, orang-orang sibuk mempersiapkan aktivitas mereka, dan matahari perlahan naik tanpa peduli siapa yang semalam tidur dengan tenang atau siapa yang menghabiskan waktunya untuk memikirkan masa depan.

Dunia tidak pernah benar-benar berhenti.

Dan aku harus ikut berjalan, meskipun terkadang aku tidak tahu ke mana arah yang kutuju.

Aku mengambil ponsel di samping tempat tidur. Beberapa notifikasi muncul di layar. Pesan dari teman, pemberitahuan media sosial, dan beberapa hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Jempolku berhenti ketika melihat unggahan seorang teman lama.

Ia baru saja mendapatkan pekerjaan baru. Dalam fotonya, ia tersenyum bersama beberapa orang dengan pakaian rapi. Ada ucapan selamat dari banyak orang, disertai komentar yang mengatakan bahwa hidupnya kini mulai tertata.

Aku ikut tersenyum melihatnya.

Namun, setelah menutup layar ponsel, aku kembali terdiam.

Entah mengapa, hal sederhana itu membuatku memikirkan kehidupanku sendiri. Aku mulai membandingkan pencapaianku dengan pencapaian orang lain, meskipun aku tahu bahwa kebiasaan itu hanya akan membuatku semakin lelah.

Aku meletakkan ponsel, lalu mengusap wajah dengan kedua tangan.

“Capek juga, ya,” gumamku pelan.

Tidak ada yang mendengar.

Tidak ada yang menjawab.

Dan mungkin, itulah salah satu hal yang paling aneh dari menjadi dewasa. Terkadang, kita hanya membutuhkan seseorang untuk mendengarkan keluh kesah kita tanpa buru-buru memberikan nasihat. Seseorang yang tidak akan mengatakan bahwa hidup kita sebenarnya baik-baik saja hanya karena masih ada orang lain yang keadaannya lebih buruk.

Seseorang yang mau mengerti bahwa rasa lelah tidak selalu harus dibandingkan.

Sayangnya, semakin dewasa, aku justru semakin sering menyimpan semuanya sendiri.

Bukan karena tidak memiliki siapa-siapa. Aku hanya tidak tahu harus mulai bercerita dari mana.

Bagaimana caranya menjelaskan bahwa aku lelah, padahal aku sendiri belum merasa melakukan sesuatu yang cukup besar untuk dibanggakan?

Bagaimana caranya mengatakan bahwa aku takut menghadapi masa depan, ketika orang-orang di sekitarku menganggap bahwa pada usia ini aku seharusnya sudah tahu apa yang harus kulakukan?

Dan bagaimana caranya meminta waktu untuk beristirahat, ketika begitu banyak hal terasa mendesak untuk diselesaikan?

Aku tidak menemukan jawabannya pagi itu.

Aku hanya bangkit dari tempat tidur, bersiap menjalani hari, dan kembali mengenakan wajah yang biasa kulihat di cermin.

Wajah seseorang yang tampak baik-baik saja.

Padahal, jauh di dalam dirinya, ada begitu banyak hal yang sedang berusaha ia tahan.

Siang harinya, aku kembali dihadapkan pada kenyataan yang tidak bisa kuhindari.

Ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Ada tanggung jawab yang menunggu. Ada keinginan-keinginan kecil yang harus kutunda karena aku belum mampu mewujudkannya.

Aku mulai memahami mengapa orang dewasa sering terlihat lelah, bahkan ketika mereka tidak banyak bercerita tentang apa yang sedang mereka hadapi.

Mungkin bukan karena mereka tidak ingin mengeluh.

Mungkin mereka hanya sudah terlalu terbiasa menelan keluh kesahnya sendiri.

Aku pun mulai melakukan hal yang sama.

Ketika seseorang bertanya apakah aku baik-baik saja, aku menjawab, “Baik, kok.”

Ketika ada yang bertanya bagaimana kehidupanku, aku berkata, “Ya, begini-begini saja.”

Dan ketika seseorang bertanya apakah aku punya masalah, aku hanya tertawa kecil sambil berkata, “Namanya juga hidup.”

Padahal, ada banyak hal yang ingin kukatakan.

Aku ingin mengatakan bahwa terkadang aku takut gagal. Aku takut mengecewakan orang-orang yang berharap banyak kepadaku. Aku takut suatu hari nanti menyadari bahwa aku telah menghabiskan terlalu banyak waktu hanya untuk bertahan hidup, sampai lupa bagaimana rasanya benar-benar menikmati kehidupan.

Namun, semua kalimat itu hanya berhenti di dalam kepala.

Aku tidak mengucapkannya.

Karena aku mulai percaya bahwa menjadi dewasa berarti harus mampu menyelesaikan masalah sendiri.

Aku lupa bahwa aku juga manusia.

Bahwa tidak semua hal harus kutanggung sendirian.

Dan bahwa meminta bantuan bukan berarti aku lemah.

Aku baru menyadari semua itu setelah terlalu lama memaksakan diri untuk terlihat kuat.

Malam kembali datang.

Aku duduk sendirian, memandangi langit yang gelap dari balik jendela. Hari ini telah berakhir, tetapi tidak ada yang benar-benar selesai. Masalah-masalah yang kupikirkan sejak pagi masih berada di tempat yang sama.

Besok, aku harus bangun lagi.

Menjalani rutinitas yang sama.

Menghadapi kenyataan yang sama.

Dan sekali lagi, berusaha meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Aku menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku membiarkan diriku mengakui sesuatu yang selama ini selalu kuhindari.

Aku sebenarnya takut.

Aku takut tidak menjadi siapa-siapa. Takut mengecewakan keluarga. Takut gagal mencapai impian. Takut melihat waktu terus berjalan sementara hidupku tidak banyak berubah.

Aku takut sudah berusaha begitu keras, tetapi pada akhirnya tetap tidak sampai ke tempat yang kuinginkan.

Dan yang paling kutakutkan adalah kemungkinan bahwa suatu hari nanti aku akan terbiasa dengan kehidupan yang tidak pernah benar-benar kuinginkan.

Aku memejamkan mata sebentar.

“Apakah semua orang juga merasakan hal yang sama?” tanyaku kepada diri sendiri.

Mungkin iya.

Mungkin ada banyak orang di luar sana yang sedang mengalami hal serupa. Mereka yang tertawa di siang hari, tetapi diam-diam mempertanyakan hidupnya ketika malam tiba. Mereka yang terlihat kuat di hadapan keluarga, tetapi merasa rapuh ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Mereka yang terus melangkah bukan karena tahu ke mana harus pergi, melainkan karena tidak punya pilihan selain melanjutkan perjalanan.

Mungkin kita semua sedang belajar menjadi dewasa dengan cara yang berbeda-beda.

Sebagian belajar melalui kegagalan.

Sebagian melalui kehilangan.

Sebagian lagi melalui tanggung jawab yang datang terlalu cepat, sebelum mereka sempat mempersiapkan diri.

Dan aku?

Aku masih belajar menerima kenyataan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Aku masih belajar memahami bahwa tidak semua impian bisa diwujudkan dalam waktu yang kuinginkan.

Aku masih belajar berdamai dengan diriku sendiri, dengan segala kekurangan, ketakutan, dan hal-hal yang belum berhasil kucapai.

Aku belum menjadi orang yang hebat.

Aku belum memiliki semua jawaban.

Bahkan, terkadang aku masih tidak tahu apa yang sebenarnya kuinginkan.

Namun, malam itu, aku mencoba berhenti menyalahkan diriku sendiri karena belum sampai ke mana-mana.

Mungkin aku memang belum berhasil.

Mungkin aku masih jauh dari kehidupan yang kuimpikan.

Tetapi setidaknya, aku masih di sini.

Masih mencoba.

Masih bertahan.

Dan untuk sementara, mungkin itu sudah cukup.

Aku tidak tahu apa yang menungguku esok hari. Aku tidak tahu apakah keadaan akan menjadi lebih baik atau justru semakin sulit. Aku juga tidak tahu berapa lama lagi aku harus berjalan sebelum akhirnya bisa bernapas sedikit lebih lega.

Yang kutahu, waktu tidak akan menungguku siap.

Kehidupan akan terus bergerak, dengan segala tuntutan dan ketidakpastiannya.

Maka, entah bagaimana caranya, aku harus belajar melangkah meskipun masih takut.

Bukan karena aku sudah siap menjadi dewasa.

Melainkan karena aku tidak bisa kembali menjadi anak kecil yang dulu, yang percaya bahwa semua masalah akan selesai hanya dengan tidur dan menunggu pagi.

Sebab, ternyata, menjadi dewasa bukan tentang mengetahui cara menjalani kehidupan.

Terkadang, menjadi dewasa hanyalah tentang tetap bangun setiap pagi, meskipun kita sendiri belum tahu bagaimana cara menghadapi hari itu.

Dan malam itu, sebelum memejamkan mata, aku akhirnya memahami satu hal.

Hidup memang tidak pernah bertanya apakah aku siap atau tidak.

Hidup hanya terus berjalan.

Sementara aku, dengan segala ketakutan yang kumiliki, masih harus belajar berjalan bersamanya.

— Bersambung.

Bab selanjutnya

02 - Ketika Uang Menjadi Sumber Segala Kecemasan

Lanjutkan ke bab berikutnya dari Hidup Tidak Pernah Bertanya Aku Siap atau Tidak.

Lanjut baca
Kembali ke detail bukuSemua bab

Navigasi bab

Bab 01 / 4
Hidup Tidak Pernah Bertanya Aku Siap atau Tidak
01

Pagi yang Sama, Beban yang Berbeda

1.488 kata / Sedang dibaca

02

Ketika Uang Menjadi Sumber Segala Kecemasan

2.316 kata / Tersedia