Panduan Cara Menulis di CeritaGW
Terakhir diperbarui: 06 Mei 2026
Menulis tidak harus dimulai dari ide yang sempurna.
Kadang, cerita hanya dimulai dari satu adegan kecil: seseorang duduk sendirian di halte, pesan yang tidak pernah dibalas, keluarga yang menyimpan rahasia, perjalanan yang mengubah hidup, atau pengalaman pribadi yang terlalu lama hanya tinggal di kepala.
Di CeritaGW, kamu bisa menulis fiksi, novel bersambung, cerpen, self memoir, esai naratif, catatan perjalanan hidup, refleksi pengalaman pribadi, dan berbagai bentuk karya naratif lainnya.
Panduan ini dibuat untuk membantumu mulai menulis dengan lebih terarah.
1. Mulai dari Alasan Kenapa Kamu Menulis
Sebelum memikirkan judul, genre, atau jumlah bab, coba jawab pertanyaan sederhana ini:
“Aku ingin menulis cerita ini karena apa?”
Jawabannya tidak harus besar. Bisa saja:
Karena ada pengalaman yang ingin kamu lepaskan.
Karena ada karakter yang terus muncul di kepala.
Karena kamu ingin menghibur pembaca.
Karena kamu ingin membagikan pelajaran hidup.
Karena kamu ingin membuat dunia fiksi sendiri.
Karena kamu ingin membuktikan bahwa kamu bisa menyelesaikan satu karya.
Alasan ini akan menjadi pegangan saat kamu mulai ragu, bosan, atau merasa tulisanmu belum bagus.
Menulis itu bukan lomba terlihat pintar. Menulis adalah latihan membuat sesuatu yang tadinya hanya ada di dalam kepala menjadi bisa dirasakan orang lain.
2. Tentukan Jenis Tulisanmu
CeritaGW menerima berbagai bentuk karya naratif. Sebelum mulai, tentukan dulu jenis tulisan yang ingin kamu buat.
2.1 Fiksi
Fiksi adalah cerita rekaan yang dibuat dari imajinasi penulis. Tokoh, konflik, tempat, dan peristiwa bisa sepenuhnya dibuat-buat, terinspirasi dari kenyataan, atau gabungan keduanya.
Contoh bentuk fiksi:
Novel romance.
Drama keluarga.
Fantasi.
Misteri.
Thriller.
Komedi.
Slice of life.
Cerita kantor.
Cerpen.
Novel bersambung.
2.2 Self Memoir atau Memoar Personal
Self memoir adalah tulisan yang berangkat dari pengalaman pribadi. Fokusnya bukan hanya “apa yang terjadi”, tetapi juga “apa artinya bagi kamu”.
Memoar personal bisa bercerita tentang:
Perjalanan hidup.
Masa kecil.
Keluarga.
Patah hati.
Perjuangan karier.
Perubahan diri.
Kehilangan.
Persahabatan.
Migrasi, perantauan, atau pengalaman hidup di kota/negara lain.
Proses sembuh dari masa sulit.
Memoar tidak harus menceritakan seluruh hidupmu. Satu fase hidup pun bisa menjadi memoar yang kuat.
2.3 Esai Naratif
Esai naratif adalah tulisan yang menggabungkan cerita pribadi, refleksi, dan gagasan. Biasanya lebih pendek dari memoar, tapi tetap punya alur dan emosi.
Contohnya:
Pelajaran dari kegagalan pertama.
Kenapa aku takut memulai sesuatu.
Hal yang kupelajari setelah pindah kota.
Tentang pekerjaan, cinta, keluarga, atau hidup sehari-hari.
Refleksi setelah mengalami perubahan besar.
2.4 Catatan Perjalanan Hidup
Ini bisa berupa tulisan serial tentang perjalananmu menjalani fase tertentu.
Contoh:
Perjalanan menjadi penulis.
Perjalanan mencari kerja.
Perjalanan membangun bisnis.
Perjalanan merantau.
Perjalanan memperbaiki diri.
Perjalanan spiritual.
3. Temukan Ide Cerita
Ide tidak harus selalu datang dari hal besar. Ide bisa muncul dari hal kecil yang terasa mengganggu, lucu, menyakitkan, atau sulit dilupakan.
Coba mulai dari pertanyaan berikut:
Pengalaman apa yang masih sering kamu ingat?
Pertanyaan hidup apa yang belum selesai di kepalamu?
Tokoh seperti apa yang ingin kamu tulis?
Konflik apa yang menurutmu menarik?
Dunia seperti apa yang ingin kamu ciptakan?
Perasaan apa yang ingin kamu tinggalkan kepada pembaca?
Contoh ide sederhana:
Seorang perempuan menemukan surat lama dari ayahnya yang sudah meninggal.
Seorang karyawan biasa pura-pura bodoh agar bisa bertahan di kantor yang penuh politik.
Seseorang menulis memoar tentang 10 tahun hidupnya yang habis untuk mengejar cinta yang tidak pernah jadi miliknya.
Seorang anak rantau belajar memahami ibunya justru setelah tinggal jauh dari rumah.
Ide yang bagus biasanya punya dua hal: rasa ingin tahu dan emosi.
4. Ubah Ide Menjadi Premis
Premis adalah inti cerita dalam satu atau dua kalimat.
Premis membantu kamu tahu cerita ini sebenarnya tentang apa.
Format sederhana:
Tentang [tokoh utama] yang ingin [tujuan], tetapi harus menghadapi [konflik/halangan], sehingga ia belajar [perubahan/tema].
Contoh fiksi:
Tentang seorang penulis muda yang ingin menyelesaikan novel pertamanya, tetapi harus menghadapi rasa takut gagal dan bayangan masa lalunya sendiri, sehingga ia belajar bahwa karya yang jujur tidak selalu harus sempurna.
Contoh romance:
Tentang dua orang yang saling mencintai di waktu yang salah, tetapi harus memilih antara perasaan dan kenyataan hidup, sehingga mereka belajar bahwa tidak semua cinta harus dimiliki untuk tetap berarti.
Contoh self memoir:
Tentang perjalanan seseorang yang kehilangan arah setelah kegagalan besar, lalu perlahan membangun hidupnya kembali melalui pekerjaan, keluarga, dan keberanian untuk memaafkan diri sendiri.
Contoh esai naratif:
Tentang pengalaman pertama merantau, rasa kesepian yang datang diam-diam, dan bagaimana jarak membuat seseorang lebih memahami arti rumah.
Kalau premisnya belum sempurna, tidak apa-apa. Premis bisa berubah saat tulisan berkembang.
5. Kenali Tokoh Utama atau Sudut Pandang
Untuk fiksi, kamu perlu mengenal tokoh utamamu.
Tanyakan:
Siapa namanya?
Apa yang dia inginkan?
Apa yang dia takutkan?
Apa luka atau masalah terbesarnya?
Apa kebiasaan kecil yang membuat dia terasa hidup?
Apa yang harus berubah dari dirinya sampai akhir cerita?
Tokoh yang kuat bukan tokoh yang selalu benar. Tokoh yang kuat adalah tokoh yang punya keinginan, kelemahan, dan pilihan sulit.
Untuk self memoir atau esai naratif, tokoh utamanya biasanya adalah kamu sendiri. Tapi tetap perlu sudut pandang yang jelas.
Tanyakan:
Bagian hidup mana yang ingin kamu ceritakan?
Kamu yang dulu seperti apa?
Kamu yang sekarang memahami apa?
Perubahan apa yang ingin kamu tunjukkan?
Apa yang boleh dan tidak boleh kamu ceritakan demi menjaga privasi diri sendiri dan orang lain?
Memoar yang baik bukan sekadar membuka luka. Memoar yang baik membantu pembaca memahami perjalanan batin penulisnya.
6. Tentukan Konflik Utama
Cerita butuh konflik. Tanpa konflik, tulisan akan terasa datar.
Konflik tidak harus selalu besar seperti perang, pembunuhan, atau rahasia keluarga. Konflik bisa sederhana tapi kuat.
Jenis konflik:
6.1 Konflik Internal
Konflik yang terjadi di dalam diri tokoh.
Contoh:
Takut gagal.
Sulit memaafkan diri sendiri.
Bingung memilih cinta atau tanggung jawab.
Merasa tidak cukup baik.
Ingin berubah tapi takut kehilangan kenyamanan.
6.2 Konflik Eksternal
Konflik yang datang dari luar tokoh.
Contoh:
Keluarga tidak setuju.
Tekanan kantor.
Persaingan.
Rahasia masa lalu.
Kondisi ekonomi.
Jarak dan waktu.
Sistem sosial yang tidak adil.
6.3 Konflik Relasional
Konflik antara tokoh dengan orang lain.
Contoh:
Dua orang saling mencintai tapi tidak bisa bersama.
Anak dan orang tua yang sulit saling memahami.
Persahabatan yang retak karena ambisi.
Pasangan yang punya impian berbeda.
Rekan kerja yang saling bersaing.
Konflik membuat pembaca bertanya: “Lalu apa yang akan terjadi?”
7. Buat Outline Sederhana
Outline adalah peta cerita. Tidak harus terlalu detail, tapi cukup untuk membantumu tidak tersesat.
Gunakan struktur sederhana ini:
Awal
Perkenalkan tokoh, dunia, masalah awal, dan alasan pembaca harus peduli.
Pertanyaan utama:
Siapa tokohnya?
Apa situasinya?
Apa yang kurang atau bermasalah dalam hidupnya?
Peristiwa apa yang membuat cerita mulai bergerak?
Tengah
Tokoh mulai menghadapi konflik, membuat pilihan, mengalami kegagalan, dan berubah perlahan.
Pertanyaan utama:
Apa tantangan yang muncul?
Apa yang membuat situasi semakin rumit?
Apa yang dipertaruhkan?
Apa keputusan penting yang harus dibuat tokoh?
Akhir
Tokoh menghadapi konsekuensi terbesar dan mencapai bentuk perubahan tertentu.
Pertanyaan utama:
Apa klimaks cerita?
Apa keputusan terakhir tokoh?
Apa yang berubah dari awal cerita?
Perasaan apa yang ingin ditinggalkan kepada pembaca?
Contoh outline singkat:
Awal: Seorang anak rantau pindah ke kota baru dan merasa hidupnya kosong.
Tengah: Ia bertemu banyak orang, gagal beradaptasi, merindukan rumah, dan mulai mempertanyakan pilihannya.
Akhir: Ia sadar bahwa rumah bukan hanya tempat asal, tapi juga sesuatu yang bisa ia bangun pelan-pelan di tempat baru.
8. Menulis Bab Pertama
Bab pertama sangat penting karena menjadi pintu masuk pembaca.
Bab pertama tidak harus menjelaskan semuanya. Justru, jangan terlalu banyak menjelaskan.
Bab pertama sebaiknya punya:
Tokoh atau suara narasi yang menarik.
Situasi yang jelas.
Pertanyaan yang membuat pembaca ingin lanjut.
Emosi yang terasa.
Konflik atau tanda bahwa sesuatu akan berubah.
Hindari memulai dengan terlalu banyak informasi seperti sejarah dunia, biodata semua tokoh, atau penjelasan panjang yang belum dibutuhkan.
Mulailah dari momen yang hidup.
Contoh pembuka yang lebih kuat:
Aku tahu hari itu akan buruk sejak Ibu menelepon sebelum matahari terbit.
Di kantor ini, orang yang terlihat paling sibuk biasanya sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku pindah ke Dubai dengan dua koper, satu kontrak kerja, dan perasaan yang belum selesai.
Surat itu kutemukan di laci Ayah, tiga hari setelah pemakamannya.
Pembuka yang baik tidak selalu heboh. Yang penting membuat pembaca ingin tahu kelanjutannya.
9. Gunakan Detail yang Terasa Nyata
Tulisan akan terasa hidup jika punya detail yang spesifik.
Bandingkan:
Kurang spesifik:
Aku merasa sedih hari itu.
Lebih hidup:
Aku duduk di tepi kasur sambil menatap gelas kopi yang sudah dingin. Pesannya masih kubuka di layar, tapi aku tidak punya tenaga untuk membalas.
Kurang spesifik:
Kantor itu sangat sibuk.
Lebih hidup:
Printer menyala sejak pagi, kalender meeting penuh warna merah, dan semua orang bicara seperti dikejar sesuatu yang bahkan tidak mereka pahami.
Detail kecil membantu pembaca masuk ke dalam suasana.
Tapi jangan berlebihan. Pilih detail yang benar-benar mendukung emosi, karakter, atau konflik.
10. Tunjukkan, Jangan Hanya Memberi Tahu
Dalam menulis, ada prinsip penting: show, don’t just tell.
Artinya, jangan hanya memberi tahu pembaca apa yang dirasakan tokoh. Tunjukkan lewat tindakan, dialog, pilihan kata, dan detail.
Contoh tell:
Raka sangat gugup.
Contoh show:
Raka mengulang kalimat pembukanya tiga kali di depan cermin. Saat namanya dipanggil, telapak tangannya sudah basah.
Contoh tell:
Ibu marah.
Contoh show:
Ibu tidak berteriak. Ia hanya meletakkan piring lebih keras dari biasanya, lalu berhenti menyebut namaku sampai makan malam selesai.
Show membuat pembaca ikut merasakan, bukan hanya menerima informasi.
11. Buat Dialog yang Natural
Dialog bukan sekadar percakapan. Dialog bisa menunjukkan karakter, hubungan, konflik, dan emosi.
Tips menulis dialog:
Jangan membuat semua tokoh berbicara dengan gaya yang sama.
Jangan terlalu banyak menjelaskan hal yang sudah jelas.
Gunakan jeda, diam, atau kalimat pendek saat emosi sedang berat.
Biarkan subteks bekerja. Kadang yang tidak dikatakan lebih penting daripada yang dikatakan.
Hindari dialog yang terlalu kaku seperti orang membaca brosur.
Contoh kurang natural:
“Aku sangat marah karena kamu telah mengkhianati kepercayaanku sebagai sahabat dekat sejak SMA.”
Contoh lebih natural:
“Dari semua orang, kenapa harus kamu?”
Dialog yang baik sering kali tidak mengatakan semuanya secara langsung.
12. Jaga Ritme Bab
Ritme adalah rasa gerak dalam tulisan.
Bab yang terlalu panjang tanpa perubahan emosi bisa terasa berat. Bab yang terlalu cepat bisa terasa dangkal.
Coba variasikan:
Narasi.
Dialog.
Aksi.
Refleksi.
Deskripsi.
Keheningan.
Untuk cerita bersambung, akhir bab sebaiknya memberi alasan bagi pembaca untuk lanjut.
Akhir bab bisa berupa:
Pertanyaan baru.
Keputusan penting.
Rahasia kecil.
Konflik yang belum selesai.
Kalimat emosional yang menggantung.
Perubahan situasi.
Contoh akhir bab:
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku sadar bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke rumah.
Pesan itu hanya terdiri dari lima kata: “Aku tahu kamu bohong.”
Ia tersenyum, tapi kali ini aku tahu senyum itu bukan untukku.
13. Menulis Self Memoir dengan Aman
Self memoir bisa sangat kuat, tapi juga perlu ditulis dengan hati-hati.
Karena tulisan personal sering melibatkan orang nyata, kamu perlu menjaga privasi, batasan, dan dampaknya.
Tips menulis memoir:
Tentukan bagian hidup mana yang ingin kamu ceritakan.
Jangan merasa harus menceritakan semuanya.
Ubah nama atau detail tertentu jika perlu melindungi privasi.
Hindari menyebarkan data pribadi orang lain.
Fokus pada pengalaman dan pemaknaanmu, bukan hanya menyalahkan orang lain.
Beri jarak emosional sebelum menulis luka yang masih terlalu mentah.
Jika menulis tentang trauma, tulislah dengan bertanggung jawab dan beri peringatan konten jika diperlukan.
Pastikan tulisan tidak berubah menjadi fitnah, doxxing, atau serangan personal.
Memoar yang baik tidak harus membuka semua rahasia. Kadang kekuatan memoar justru ada pada cara penulis memilih apa yang cukup untuk diceritakan.
14. Jangan Takut Draft Pertama Berantakan
Draft pertama memang sering berantakan.
Itu normal.
Draft pertama tugasnya bukan menjadi bagus. Draft pertama tugasnya adalah ada.
Jangan terlalu cepat menghapus tulisan hanya karena terasa jelek. Tulis dulu. Rapikan nanti.
Tahapan menulis yang sehat:
Tulis kasar.
Selesaikan bagian utama.
Diamkan sebentar.
Baca ulang.
Perbaiki struktur.
Perbaiki kalimat.
Cek typo.
Baru publish.
Menulis dan mengedit adalah dua pekerjaan berbeda. Kalau dilakukan bersamaan terus-menerus, kamu bisa capek sebelum ceritanya lahir.
15. Revisi Sebelum Publish
Sebelum mempublikasikan bab, cek beberapa hal berikut:
Checklist Isi
Apakah bab ini punya tujuan yang jelas?
Apakah ada sesuatu yang berubah dari awal sampai akhir bab?
Apakah konflik atau emosi terasa?
Apakah pembaca punya alasan untuk lanjut?
Apakah adegan terlalu panjang atau terlalu cepat?
Checklist Bahasa
Apakah kalimat mudah dibaca?
Apakah ada typo?
Apakah tanda baca cukup rapi?
Apakah dialog mudah dipahami?
Apakah paragraf terlalu panjang?
Checklist Publikasi
Apakah judul bab sudah menarik?
Apakah genre dan tag sesuai?
Apakah perlu content warning?
Apakah rating usia sudah benar?
Apakah cover dan sinopsis tidak menyesatkan?
Revisi bukan tanda tulisanmu buruk. Revisi adalah cara tulisanmu naik kelas.
16. Membuat Judul yang Menarik
Judul adalah pintu pertama pembaca.
Judul yang baik biasanya:
Mudah diingat.
Sesuai dengan rasa cerita.
Tidak terlalu panjang.
Punya emosi atau rasa penasaran.
Tidak menyesatkan isi cerita.
Contoh gaya judul:
Rumah yang Tidak Pernah Pulang
Catatan dari Kota yang Jauh
Dia yang Datang Terlambat
Karyawan Paling Biasa di Lantai Tujuh
Tiga Kopi Sebelum Resign
Aku Pernah Menjadi Orang yang Salah
Judul tidak harus puitis. Yang penting terasa punya nyawa.
17. Menulis Sinopsis
Sinopsis membantu pembaca memutuskan apakah mereka ingin membaca karyamu.
Sinopsis yang baik tidak perlu menceritakan semua isi cerita. Cukup beri gambaran tokoh, konflik, dan rasa cerita.
Format sederhana:
Perkenalkan tokoh utama.
Tunjukkan situasi atau masalah.
Beri konflik utama.
Sisakan pertanyaan.
Contoh sinopsis fiksi:
Nara selalu percaya bahwa hidupnya akan berjalan aman selama ia tidak berharap terlalu banyak. Tapi semua berubah ketika ia menemukan surat lama dari ayahnya—surat yang membuka rahasia keluarga yang selama ini disimpan rapat. Semakin jauh Nara mencari jawaban, semakin ia sadar bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar pergi.
Contoh sinopsis self memoir:
Ini adalah catatan tentang tahun-tahun ketika aku merasa kehilangan arah: pekerjaan yang tidak lagi terasa berarti, rumah yang terasa jauh, dan diri sendiri yang sulit dikenali. Ditulis dari pengalaman pribadi, buku ini bukan tentang menjadi kuat setiap hari, melainkan tentang belajar tetap berjalan meski pelan.
Sinopsis sebaiknya tidak terlalu panjang. Buat pembaca ingin masuk, bukan merasa sudah membaca seluruh cerita.
18. Memilih Genre, Tag, dan Rating
Genre, tag, dan rating membantu pembaca menemukan karya yang sesuai.
Pilih genre utama yang paling menggambarkan karya.
Contoh genre:
Romance.
Drama.
Slice of life.
Fantasi.
Misteri.
Thriller.
Komedi.
Memoir.
Esai naratif.
Nonfiksi personal.
Gunakan tag yang relevan, bukan sebanyak mungkin.
Contoh tag:
keluarga
patah hati
kantor
perantauan
healing
coming of age
persahabatan
second chance
self growth
kehilangan
Jika karya mengandung tema sensitif, gunakan rating dan peringatan konten yang sesuai.
19. Konsisten Menulis Tanpa Membakar Diri Sendiri
Konsistensi penting, tapi jangan sampai membuatmu membenci tulisanmu sendiri.
Mulailah dengan target yang masuk akal.
Contoh target:
Menulis 300 kata per hari.
Menulis 1 bab per minggu.
Menulis 30 menit setiap malam.
Menyelesaikan 1 outline sebelum akhir bulan.
Merevisi 1 bab setiap akhir pekan.
Kalau sedang sibuk, turunkan target. Jangan berhenti total kalau masih bisa menulis sedikit.
Tulisan panjang selesai bukan karena satu hari sangat produktif. Biasanya selesai karena penulisnya kembali lagi, pelan-pelan, berkali-kali.
20. Menghadapi Rasa Takut Dibaca Orang
Banyak penulis takut ketika karyanya mulai dibaca.
Takut jelek.
Takut dikritik.
Takut tidak ada yang peduli.
Takut terlalu personal.
Takut dibandingkan.
Itu wajar.
Tapi ingat: karya tidak bisa menemukan pembacanya kalau tidak pernah diberi kesempatan keluar dari draft.
Mulailah dari satu bab. Satu cerita pendek. Satu catatan. Satu tulisan yang berani kamu lepaskan.
Tidak semua orang harus suka. Kamu hanya perlu menemukan pembaca yang tepat.
21. Etika Menulis di CeritaGW
Saat menulis dan mempublikasikan karya di CeritaGW, ingat beberapa hal berikut:
Jangan menjiplak karya orang lain.
Jangan menggunakan gambar atau cover tanpa izin.
Jangan menyebarkan data pribadi orang lain.
Jangan menulis fitnah terhadap orang nyata.
Jangan menipu pembaca dengan judul, sinopsis, atau konten berbayar yang tidak sesuai.
Beri label untuk konten sensitif.
Hormati pembaca dan penulis lain.
Terima kritik dengan bijak, tapi kamu tidak wajib mengikuti semua komentar.
Jika memakai pengalaman nyata, lindungi privasi orang-orang yang terlibat.
Jadikan karya sebagai ruang bercerita, bukan ruang menyerang.
22. Template Cepat Sebelum Mulai Menulis
Gunakan template ini sebelum membuat karya baru:
Judul sementara:
[isi judul]
Jenis karya:
[Fiksi / Self memoir / Esai naratif / Cerpen / Novel bersambung / Lainnya]
Genre utama:
[isi genre]
Tentang apa tulisan ini?
[isi 1–2 kalimat]
Tokoh utama / sudut pandang:
[isi nama tokoh atau “aku”]
Konflik utama:
[isi konflik]
Emosi utama yang ingin ditinggalkan:
[contoh: hangat, sedih, lucu, tegang, lega, reflektif]
Target pembaca:
[siapa yang kira-kira akan relate]
Rating / content warning:
[isi jika ada]
Rencana jumlah bab:
[isi estimasi]
Akhir yang dibayangkan:
[isi gambaran kasar]
23. Template Struktur Bab
Gunakan template ini untuk menulis satu bab:
Judul bab:
[isi judul bab]
Tujuan bab:
[Apa fungsi bab ini dalam cerita?]
Adegan utama:
[Adegan apa yang paling penting?]
Konflik bab:
[Apa yang membuat bab ini menarik?]
Perubahan emosi:
[Tokoh mulai dari emosi apa dan berakhir di emosi apa?]
Informasi baru untuk pembaca:
[Apa yang pembaca tahu setelah membaca bab ini?]
Akhir bab:
[Apa alasan pembaca ingin lanjut?]
24. Contoh Alur Menulis dari Nol sampai Publish
Berikut alur sederhana yang bisa kamu ikuti:
Tulis ide kasar.
Buat premis 1–2 kalimat.
Tentukan jenis karya dan genre.
Buat tokoh utama atau sudut pandang.
Tentukan konflik utama.
Buat outline awal-tengah-akhir.
Tulis bab pertama tanpa terlalu banyak mengedit.
Diamkan sebentar.
Baca ulang dan revisi.
Buat judul, sinopsis, genre, tag, dan rating.
Cek content warning jika perlu.
Publish di CeritaGW.
Dengarkan respons pembaca tanpa kehilangan arah cerita.
Lanjutkan bab berikutnya.
25. Penutup
Menulis adalah proses belajar melihat sesuatu dengan lebih jujur.
Kadang kamu menulis untuk menghibur orang lain. Kadang kamu menulis untuk memahami diri sendiri. Kadang kamu menulis karena ada cerita yang tidak mau diam sebelum diberi bentuk.
Apa pun alasanmu, mulailah dari satu kalimat.
Tidak perlu sempurna.
Tidak perlu menunggu semua siap.
Satu bab bisa menjadi awal dari perjalanan panjang.
Dan mungkin, pembaca pertamamu sedang menunggu cerita yang hanya bisa kamu tulis.
Ringkasan Cepat
Kalau bingung mulai dari mana, ikuti ini:
Tentukan alasan menulis.
Pilih jenis tulisan: fiksi, memoir, esai naratif, atau lainnya.
Buat premis satu kalimat.
Tentukan tokoh/sudut pandang.
Tentukan konflik utama.
Buat outline awal-tengah-akhir.
Tulis bab pertama.
Revisi secukupnya.
Pilih judul, genre, tag, rating, dan sinopsis.
Publish.
