Hubungan ini rumit. Sebab jika dibilang aku mencintaimu, aku benar-benar cinta. Buktinya, semua puisiku itu kamu, semua laguku itu kamu, semua ceritaku itu kamu. Namun, sekaligus semua kekacauanku itu karena kamu. Ya, kamu. Kepergianmu.
Jika saja, hari ini 18 tahun yang lalu. Aku tidak akan pernah membuktikan sebuah kebohongan ungkapan yang mahsyur, yang hanya meredamkan kesedihan sesaat saat kita berduka, "tenang saja, waktu yang akan menyembuhkan." Rasanya, kuingin bungkam mulut mereka karena tak pernah aku membayangkan bahwa perjalanan hidup menanggung rindu padamu, pada kenangan kita berdua atau berlima, itu tiada terkira.
Hari ini, aku tuliskan bersama barisan kata yang tak akan pernah kau baca, sebuah cerita rekayasa. Kusebut rekayasa karena adegan ini hanya bermain di anganku sebab begitulah jauh kini kau kugapai.
Kumulai dari "terima kasih Ibu." Dulu aku pernah kelaparan di sekolah padahal pulang sore. Aku lupa tak membawa bekal, harusnya aku bangun lebih pagi untuk menyiapkan bekalku. Tiba-tiba, temanku datang membawakan sebungkus nasi lengkap dengan lauk.
"Ini dari ibumu tadi di gerbang," katanya buru-buru. Hal yang mustahil sebab kala itu masih jam kerjamu.
Kususul hingga gerbang, kuharap masih bisa sekadar mencium aroma keringatmu yang lelah mengayuh sepeda untuk mengantarkan bekalku. Sayang, tak kudapati selain punggungmu di ujung jalan yang mengecil dari pandanganku.
Peristiwa 19 tahun yang lalu, aku lupa mengucapkan terima kasih. Maaf, baru satu yang kubayar di paragraf ini karena tak cukup jika harus kutulis semuanya. Kamu terlalu baik namun aku belum pernah bisa membalasmu. Tak ayal jika Tuhan memilihmu meninggalkan dunia yang kacau ini.
Kali ini, aku akan membahas mengenai amarahku. Di antara semua caramu mendidikku kenapa tak pernah kau selipkan cara berdamai dengan kehilangan sosokmu? Tega. Kadang aku ingin bilang, "Ibu, aku berhasil di semua hal kehidupan ini berkat doamu, berkat kerja kerasmu, dan ridhomu kecuali di satu hal yang tak pernah aku bayangkan."
Berulang kali, kau bilang pada kami, anak-anakmu jika kami harus mandiri dan saling memiliki agar saat kau meninggal kami tak bingung. Benar saja, kami tak pernah mempermasalahkan hidup. Kami, terutama aku, hanya bermasalah dengan kehilanganmu. Rumit. Kau pun tak akan paham rasanya. Betul? Tentu saja, kau sudah bersatu dengan tanah.
Jika saja kau bilang sekali saja, "Nak, merindukan orang tua itu sulit."
Tentu, aku akan mempelajari agar hal itu tak menjadi sulit atau sedikit lebih mudah. Nyatanya, tak ada kisi-kisi dalam ilmu manusia yang membahas bahwa rindu beda alam itu melebihi rasa penasaran memeluk bintang. Aku marah karena kau tak pernah mengajariku.
Hal ketiga yang ingin aku bahas yakni mengenai, KAMU BENAR, ya, Ibu benar.
Tak pernah sekalipun dalam babak hidupku saat tanpamu, tapi selalu ada sosokmu di setiap keadaannya. Hari itu, aku merasakan kesedihan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Rasa sakit yang biasanya hanya akan kubagi jika denganmu, kala itu terpaksa aku telan sendiri. Namun, kau selalu hadir di mimpiku untuk menguatkan. Seolah tanda, semua akan baik-baik saja.
Pernah juga, saat aku bingung, mengenai rahasia langit soal anakku alias cucumu yang tak pernah kau sentuh, kau berikan jawabannya melalui mimpi. Bahkan kita pernah membicarakan banyak hal nyata dalam mimpi. Kadang, aku heran, mengapa Tuhan membiarkan kita membincangkannya. Rasanya memang ini rahasia milik kita. Ingin kuucap, terima kasih untuk mitokondriamu yang masih bersamaku.
Oh ya, satu lagi. Saat akan melahirkan cucumu yang kedua, aku sudah sangat siap jika harus menyusulmu. Rasa sakit dan lelah beradu. Lagi-lagi, semua nasihatmu terngiang. Semua doa-doa tahajudmu yang pernah kusimak saat kanak-kanak, berputar di kepala. Seakan, kau hadir di sana. Semua terasa lebih mudah, lebih yakin. Menakjubkan.
Kau benar bahwa kau tak pernah meninggalkanku. Bahkan setelah jasadmu lebur, ingatan manusia padamu memudar, dan zaman mulai beralih perlahan. Ternyata, kau tetap ada.
Akhirnya, aku tak tahu lagi apa yang harus kubahas. Meski dadaku menyimpan semua keluhan yang hanya ingin kutumpahkan padamu. Sesak kumenahannya tapi habis kata-kataku untuk mewakilinya.
Di baris kata-kata yang tak pernah kau baca ini, tolong tanyakan pada Tuhan, berapa lama lagi aku harus menanggung rindu?
Di baris kata-kata yang tak pernah kau baca ini, aku ingin menyampaikan, maaf jika doaku telat hingga membuat duniamu di sana gelap. Aku akan berusaha berdoa sepanjang waktu yang tak akan pernah seimbang dengan cintamu padaku, agar kau percaya bahwa aku akan selalu mengingatmu. Satu tahun, dua tahun, sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun atau sebatas ingatanku selama hidup.
Di baris kata-kata yang tak pernah kau baca ini, tolong bicarakan pada Tuhan, bisakah kita bersatu lagi di tempat yang lebih indah dari dunia?

