Dari remaja saya bercita-cita menjadi wartawan, yang didukung penuh oleh Ibu saya. Ayah saya tidak mendukung, dia pergi sejak saya balita dan tak pernah sekalipun datang menengok, memberi biaya hidup juga tidak.
Ibu saya bekerja serabutan, entah bagaimana caranya akhirnya ada uang terkumpul untuk saya kuliah. Saya memilih sebuah politeknik kecil di Yogyakarta karena ada program studi jurnalistik, dan biayanya murah.
Dengan penuh perjuangan akhirnya saya lulus. Tidak lama langsung diterima bekerja di sebuah tabloid di kota kelahiran saya.
Saya banyak melakukan liputan. Transportasi saya adalah jalan kaki dan angkot, karena murah. Kadang juga dapat tugas meliput ke tempat-tempat yang jauh, dan tetap pakai transportasi umum. Ada motor di rumah, tapi saya tidak bisa naik motor karena kendala fisik yang tidak bisa saya ceritakan.
Kalau saya mau meliput di tempat yang jauh, misalnya luar kota, Ibu selalu bertanya-tanya. Liputannya di mana? Jam berapa berangkat? Pulangnya jam berapa kira-kira? Kamu mau naik apa?
Ibu yang cukup hapal daerah-daerah di sekitar kota kami, seringkali berkata, “Lho itu tempatnya kan jauh. Kalau kamu pulangnya malam bis sama angkot susah. Aku antar aja.”
Meski saya tolak, Ibu pasti memaksa, saya harus diantarnya. Jadi kadang kalau liputan jauh saya dibonceng motor oleh Ibu yang sudah lansia. Kasihan, tapi bagaimana lagi saya benar-benar tidak bisa naik motor karena ada kendala tertentu.
Kalau di perjalanan capek kami berhenti dulu. Beli es teh yang murah, yang paling mewah adalah es kelapa muda.
Gaji saya di tabloid kecil sekali. Tapi Ibu bangga sama saya yang berhasil meraih cita-cita menjadi wartawan. Bangga itu dia wujudkan dengan terus mendukung saya. Termasuk sering ngobrol dengan saya tentang kegiatan liputan saya.
Tiba saatnya gajian pertama kali, saya dapat 400 ribu. Waktu itu cukup besar. Itu tidak murni gaji, tapi ditambah bonus karena saya berhasil mendapatkan iklan.
Saya belikan Ibu helm baru untuk menggantikan helmnya yang sudah usang. Dia senang sekali dengan pemberian kecil itu. Dia, single mother yang merawat saya sejak kecil, yang setelah saya bekerja pun tidak berhenti mendukung saya, mengucapkan terima kasih. Ucapan yang tidak perlu karena sebuah helm tidak akan pernah bisa menukar jasanya.
