Mama ku berpulang ke Rahmatullah ketika aku duduk di kelas 5 Sekolah Dasar (SD), karena kecelakaan lalu lintas. Tidak banyak memori yang tersimpan selama singkatnya hidup bersamanya di dunia. Tetapi, dari yang sedikit itu mewariskan banyak pelajaran bermakna yang kubawa hingga saat ini usiaku menginjak 35 tahun, usia beliau saat berpulang.
Salah satu yang paling kuingat adalah ketika aku baru masuk SD. Bekerja sebagai seorang Polisi Wanita (Polwan) membuat Mama tidak bisa seperti ibu lainnya yang setiap hari menunggu anaknya di luar kelas dengan sesekali mengintip memantau melalui kaca jendela kelas. Pada masa itu, para Ibu menunggu anaknya di sekolah adalah hal yang lumrah, terlebih jam sekolah kelas 1 SD hanya pukul 08.00-10.00 atau 10.00-12.00. Mungkin sudah berbeda dengan masa sekarang yang mungkin hampir semua orang tua hanya diperbolehkan mengantar anaknya sampai pagar sekolah.
Suatu waktu Mama ada kesempatan mengantar dan menunggu aku di sekolah, aku gunakan kesempatan itu untuk menunjukkan ke Mama bahwa aku murid yang baik. Pada hari itu, aku duduk dengan tenang dan rapi sepanjang jam pelajaran di kelas. Setiap aku lihat Mama mengintip lewat jendela, kutegapkan badanku dan kulipat tanganku di atas meja. Di hari itu, aku sama sekali tidak ingin bercanda dengan teman di kelas.
Sepulang ke rumah, Mama bertanya “Ayu, kenapa tadi di kelas kok kamu diam saja? Kamu sakit atau lagi gak mau sekolah ya?”
Aku terdiam karena aku bingung kenapa Mama kok malah bertanya ini itu, kupikir beliau akan memujiku sebagai anak yang baik.
“Gapapa lho kalau mau ngobrol sama temen di kelas, bercanda dikit-dikit boleh.. biar gak tegang. Yang penting, kalau Guru sedang menjelaskan di depan kelas kamu mendengarkan, gak berisik sendiri atau membuat gaduh di kelas” lanjutnya.
“Waah.. boleh toh. Oke Ma!” jawabku sambil nyengir
Aku sama sekali tidak merasa sedih, juga tidak iri dengan teman-teman yang selalu diantar dan ditunggui oleh Ibunya di sekolah. Justru, pandangan menyedihkan itu datang dari teman maupun Ibu mereka yang memandang aku dengan rasa kasihan, seolah aku anak yang kurang kasih sayang dan tidak diurus karena Ibunya sibuk bekerja. Padahal, aku merasa cukup, kalau bahasa anak sekarang I am content.
Meskipun Mama tidak selalu ada saat aku keluar kelas, tapi Mama selalu menemani saat aku belajar dan mengerjakan PR di rumah. Momen belajar bersama Mama di malam hari menjadi momen menyenangkan yang tak akan aku lewatkan. Mungkin hal itu yang membuatku senang belajar dan menjadi salah satu siswa berprestasi di sekolah. Menjadi suatu kebanggaan dan kepuasaan tersendiri ketika aku mendengar celetukan “anaknya Bu Polwan lagi yang juara kelas” saat pengambilan rapor sekolah.
Bicara soal pekerjaan Mama, aku baru menyadari betapa kerennya beliau, saat aku beranjak dewasa. Bagiku, lahir sebagai anak perempuan di lingkungan keluarga besar Mama yang berdarah Betawi memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam hal pengembangan diri. Cibiran 'Ngapain sekolah tinggi-tinggi, toh ujungnya (perempuan) itu di dapur’ seringkali kudengar dari tetangga maupun keluarga saat Papa dengan segenap tenaga dan sedikit keras kepala mengupayakan pendidikan terbaik untukku. Seolah perempuan kelak hanya menjadi hiasan dan pelayan tanpa ada kesempatan memilih jati dirinya sendiri.
Aku kemudian melihat foto Mama dengan seragamnya yang gagah di ruang keluarga, “Ma.. Mama keren banget! Kerja Mama gak hanya sebatas urusan dapur, bahkan bisa membantu banyak orang. You’re inspiring me to be empowered woman. Aku akan menjadi wanita cerdas, pemberani, dan berdaya untuk hidupku”. Aku jadi kembali semangat mengejar pendidikan dan memperjuangkan hak aku sebagai perempuan. Mama adalah inspirasiku untuk mematahkan stereotip bahwa perempuan tidak (boleh) berkembang.
Energi itu yang selalu mengalir dalam darahku. Hingga semesta mempertemukan aku dengan Ibu mertua yang memiliki frekuensi yang sama. Ibu, begitu aku memanggilnya, merupakan seorang Ibu Rumah Tangga yang juga berdarah Betawi. Meskipun gaya bicara Ibu cenderung keras dan nyablak khas orang Betawi, tetapi beliau tidak pernah memandang rendah menantu perempuannya ini. Aku justru bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari cara Ibu selalu mendukung apapun pilihan hidupku. Aku seperti dipertemukan kembali dengan ibu kandungku, namun dengan versi rebelitas yang berbeda, hehe.
Ibu menjadi pendukung paling bangga ketika aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang S2 dan meninggalkan pekerjaan yang sudah kubangun bertahun-tahun. Ibu meringankan hatiku ketika lingkungan sekitar berisik dengan 'Ngapain sih (perempuan) sekolah lagi?.. Di usia segini..', 'Nyari apa lagi, kerjaannya nanti gimana, resign dong?'. Meskipun itu artinya aku harus meninggalkan sementara anak lelaki kesayangannya karena kami harus menjalani Long Distance Marriage di tengah perjuangan garis dua yang masih kami upayakan. Ibu pun tidak segan jika harus turun tangan membantu kami. Dukungan moril dalam hal pendidikan adalah satu dari sekian banyak dukungan yang Ibu berikan pada putusan-putusan kehidupan yang aku ambil.
Aku sangat bersyukur dan aku rasa semua ini bukan sebuah kebetulan. Tuhan kirimkan Ibu untuk membantuku menjaga warisan paling berharga dari Mama. Yaitu, nilai kehidupan bahwa perempuan bisa berdiri di atas kakinya sendiri, perempuan berdaya dan berhak memilih apapun jalan kehidupan yang diinginkan. Terima kasih, Mama.. Terima kasih, Ibu.. Kelak, jika Tuhan mengizinkan, akan aku wariskan kepada anak cucu-ku nanti.
