"Cerai aja ngapa, sih? Tiap hari berantem, nggak ada komunikasi, ngomong cuma kalu pas butuh doang? Itu aja saling ketus. Terus kenapa masih bertahan?"
Mungkin, ini kali pertama Papa-Mama melihatku marah seperti kerasukan setan. Anak tengah yang dikenal paling cuek, seolah masa bodoh dengan hal-hal yang terjadi di rumah, kini meledak.
"Kenapa? Kenapa nggak mau cerai? Biar tetep dianggap keluarga cemara sama tetangga dan saudara?" Aku tersenyum sinis. "Luarnya aja utuh. Padahal utuh tak berarti cemara."
Kepalaku rasanya mendidih. Setiap hari, oh ralat -hampir setiap waktu pasangan lansia itu berdebat.
Hal-hal kecil bisa menjadi besar. Dan semua yang terjadi memang bukan tanpa sebab. Belasan tahun keluarga kami harus berpura-pura layaknya keluarga cemara. Harmonis dan terlihat manis. Ke mana-mana selalu bersama. Padahal ada luka masa lalu yang jika terlalu lama dibiarkan, akan semakin menganga.
***
2019 awal, beberapa hari sebelum upacara kelulusan.
"Aneh, kan? Padahal nggak biasanya Papa kalau nerima telepon sampai ngejauh gitu," ceritaku pada kakak perempuanku.
"Kemarin waktu kamu ke bebek panggang Pak Seto? Pantesan lama banget. Kirain karena antrenya lama." Kak Kila memanggapi serius.
Aku mengibas-ngibaskan tangan. "Mana ada. Orang makanannya udah siap, Papa masih lanjut teleponan. Gue ditinggal di mobil, Papa masih mojok teleponan. Mana kadang senyum- senyum."
Si bungsu -Sonya, yang turut mendengarnya tiba-tiba berkomentar, "mungkin soal kerjaan?"
Terlalu naif. Mending diem aja daripada kasih komentar yang tidak masuk akal. Aku pura-pura tak mendengar tanggapan Sonya lalu melanjutkan ceritaku.
"Dan nggak cuma lima menit atau sepuluh menit. Kamu tahu berapa lama aku nunggu di mobil? Setengah jam lebih. Sialan!"
Mendengarku mengumpat, Kak Kila langsung melotot. Sonya hanya geleng-geleng kepala. Pasalnya, memang di antara kami bertiga, cuma aku yang bar-bar.
"Tapi kita nggak ada bukti. Jadi untuk sementara ini kita pantau dulu aja."
"Sepakat!" Aku dan Sonya merespon kompak.
Belum genap satu tahun, Papa dan Mama terpaksa menjalani Long Distance Marriage. Sebenarnya kami harus bersyukur. Memasuki masa pensiun, Papa malah mendapat tawaran pekerjaan di kantor lain dengan jabatan dan gaji yang tentunya lebih tinggi.
Namun benar ternyata, jika dalam hidup pasti harus ada hal yang dikorbankan. Papa makin sering keluar kota sehingga perhatiannya ke keluarga berkurang.
Mama hanya sesekali menyusul ke Bandung. Padahal jarak Jakarta-Bandung sebenarnya tak seberapa. Namun waktu Mama habis tercurahkan untuk cucu pertamanya yang baru lahir bulan lalu. Mama jadi jarang sekali menemui Papa. Begitu pula Papa yang hanya pulang sekali dalam sebulan.
"Aku tadi liat Papa jalan kaki dari gang sambil teleponan."
Entah bagaimana bisa, aku yang selalu menjadi saksi gelagat aneh Papa. Mengendus aroma-aroma pengkhianatan.
Kami bertiga, memang bergantian mengunjungi Papa di Jakarta. Tapi ketika Kak Kila dan Sonya yang giliran ke sana, semua tampak normal.
"Terus kamu tanya, nggak? Kenapa Papa jalan kaki? Kan, Papa dapat mobil dari kantor. Bahkan kadang dikasih sopir juga kalau pas ada dinas luar kota." Kak Kila bertanya panjang lebar.
Sementara hatiku semakin tak tenang. Sebagai perempuan, firasatku berkata ada yang berbeda dari Papa. Dan ini tentu pertanda buruk.
"Oh, iya. Mama jangan sampai tahu sebelum kita dapet bukti yang valid, ya!" pesan Kak Kila sebelum kami mengakhiri sambungan video call bersama. Kecuali Mama, ini memang rapat tiga bersaudara.
Sampai tiba sore itu, aku masih ingat saat Papa pulang ke Bandung. Ka Kila sedang menyiapkan makan malam. Sonya menonton drama korea di kamar. Di salah satu ruangan yang ada di lantai dua rumah kami, secara mengejutkan tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.
"Ma! Mama!"
Nihil. Tak ada jawaban. Kak Kila berusaha tetap memanggil. Sonya hanya membeku setelah berlari dari kamar menuju ruang keluarga.
"Kenapa, sih? Aku baru balik dari kampus, loh!" Aku berlari kecil melewati satu per satu anak tangga.
Brak
Sial. Pintu kamarnya dikunci. Kak Kila dan Sonya menyusul. Keduanya berdiri di belakangku.
"Kamu ngadu ke Mama, Far?" tanya Kak Kila.
"Kita kan udah sepakat buat ngerahasiain ini dari Mama, Kak." Sonya ikut-ikutan menuduhku.
Aku tak menggubris keduanya. Sekarang perhatianku hanya terfokus ke Mama-Papa di kamar.
"Buka pintunya!" Aku memekik. "Atau mau aku dobrak?"
Lenganku mungkin hampir remuk kalau pintu kamar tak juga terbuka. Papa muncul dengan kondisi yang berantakan. Keringatan dan wajahnya tampak frustasi.
"Kenapa?" tanyaku. Aku melongo melihat Mama duduk di lantai, bukan di ranjang. Matanya sembab. Bahunya naik turun menangis sesenggukan.
"Salah lo, Far. Ini gara-gara lo ngadu ke Mama," bisik Kak Kila. Menuduh tanpa bukti . Padahal bisa saja si bungsu yang mulutnya ember mengadu ke Mama.
Dengan sengaja Kak Kila menyenggol lenganku lalu menerobos masuk kamar Mama.
Ketika Kak Kila dan Sonya fokus menenangkan Mama, aku buru-buru menyusul Papa yang turun ke lantai satu. Ternyata sore ini Papa sudah harus kembali ke Bandung. Benar juga, besok Hari Senin.
"Pa," panggilku dengan suara parau.
Papa mengusap rambutku lalu tersenyum. "Kamu tenang aja, ya. Mama cuma salah paham aja. "
Aku menahan tangan Papa lalu menurunkannya perlahan dari kepalaku. "Kalau Papa sampe macem-macem, aku nggak bakal tinggal diem."
Mungkin Papa terkejut karena tak biasanya anak tengahnya menggertak. Spontan ia mundur dua langkah. Namun masih berusaha tetap tenang. Sambil menatap Papa yang sedang memasukkan beberapa kemeja ke koper, aku diam-diam merapal doa.
Semoga ketakutanku hanya mimpi buruk yang sampai kapan pun tak akan menjadi nyata.
***
Janji hanya di mulut saja. Realitanya, Papa tidak benar- benar membuktikan omongannya. Dia sendiri yang menghancurkan harapan putri- putrinya. Bangkai yang disembunyikan lama-lama tercium juga busuknya.
Suatu malam, Papa akhirnya mengaku. Bahwa ia jatuh cinta lagi dengan masa lalunya. Cinta lama bersemi kembali. Pubertas kedua, alasannya. Bullshit.
"Sekarang mau gimana? Cerai?" tanyaku.
Saat itu, Mama hanya diam. Meski tak mengatakan apa pun, tapi matanya yang menyorot sendu seolah menunjukkan betapa menyakitkannya menjadi korban perselingkuhan.
"Papa nggak mau cerai." Setelah lama terdiam, suara berat Papa memecah keheningan malam itu.
"Mama gimana?" tanyaku kedua kalinya. Tapi Mama hanya menunduk dengan tatapan kosong mengarah ke bawah. "Ma. .. "
Mama beranjak dari duduknya. Mengabaikanku yang terus mengulang pertanyaan serupa. Kepalaku rasanya mendidih. Tenggorokanku sudah gatal, ingin berteriak. Tapi hari itu berakhir dengan menggantung. Tak ada kesepakatan, tak ada solusi, tak ada lagi perbincangan.
***
Lima tahun berlalu. Awalnya kupikir keadaan akan berangsur membaik. Namun aku salah. Hari-hari berikutnya justru terasa lebih berat. Utuh tak berarti cemara. Dari luar terlihat sempurna. Namun kenyataannya sudah retak dan nyaris pecah.
"Tinggal tiga juta di ATM." Aku mengecek sisa saldo tabungan Papa melalui aplikasi mobile banking.
"Harusnya Papa jangan resign," komentar Papa.
Mama menyahut. "Harusnya Papa nggak selingkuh."
"Ungkit terus aja!" Tanpa sadar, Papa menaikkan intonasi bicaranya.
"Ya, pasti! Rasa sakit diselingkuhin pasti kebawa sampai mati!" Suara Mama tak kalah tinggi.
Aku menghela napas panjang. Keributan ini terjadi setiap hari. Bahkan pada saat-saat tertentu, huru-hara di rumah berguncang lebih dahsyat.
Papa yang mulanya hanya bisa diam mengalah karena merasa bersalah, perlahan mulai bisa memberontak. Hal-hal sepele menjadi pemicu keributan besar.
Satu penyebabnya, karena tak ada lagi 'saling' pada hubungan yang sudah terombang- ambing.
Yang menjengkelkan, aku juga terkena getahnya. Bukan cuma sekali - dua kali, aku menjadi tameng dari imbas kekesalan Mama. Semua gerak- gerikku dikomentari. Perkara tak sengaja meninggalkan gelas kotor di meja kerjaku. Padahal Mama tahu, aku selalu mencucinya malam sebelum tidur.
Atau karena masakanku keasinan. Mama akan memberi kritikan tajam dan menusuk. Sebelum-sebelumnya, Mama tak ambil pusing. Tinggal diberi tambahan air, simple.
Akar dari semua masalah adalah rasa sakit hati Mama yang semakin meradang. Ternyata waktu tak selalu bisa menjadi penyembuh
"Ya, kalo kalian yang berantem, jangan bawa-bawa aku. Pusing aku dengernya ribut tiap hari!"
Brak
Aku membanting pintu kamar. Mama menyusul masuk. Karena ada dua ranjang di kamarku, Mama duduk sejenak di pinggir ranjang kemudian berbaring menatap langit-langit kamar.
"Selama ini Mama udah berusaha jadi ibu dan istri yang baik." Sembari berbaring di ranjang kamarku, Mama mencoba melampiaskan rasa sesak di dadanya.
"Dulu waktu kamu masih kecil, Mama sering ditinggal Papa ke luar kota. Apa Mama pernah aneh-aneh?" Mama menggeleng sebagai bentuk jawaban dari pertanyaannya sendiri.
"Banyak laki-laki yang deketin Mama. Tapi Mama nggak pernah sekali pun menggubris," cerita Mama dengan suara parau.
"Mama juga nggak pernah beli tas mahal atau barang-barang branded lainnya. Padahal waktu itu Papa lagi di masa jayanya."
Dadaku seolah ditekan dari segala arah. Sakit. Terhimpit. Aku serasa kesulitan bernapas. Terbayang betapa sakit dan kecewanya Mama setelah pengabdiannya selama ini pada keluarga, dibalas dengan pengkhianatan oleh suaminya.
"Mama minta maaf. Mungkin kamu pikir Mama egois karena masih mau bertahan demi nama baik keluarga kita."
Setelah menunggu sekian lama, Mama akhirnya bisa jujur. Mungkin ada benarnya, namun tak bisa kubenarkan.
Mama adalah tipe manusia yang mudah terpancing omongan orang lain. Sementara moto hidupku, kebahagiaan diri sendiri adalah yang paling utama.
"Ya, itu terserah Mama. Tapi nanti entah kapan, kalau aku benar-benar mau menikah, menjadi istri atau sorang ibu, aku bakal tetap menomor satukan hidupku," tanggapku setelah lama terdiam.
"Itu pilihan Mama. Walau akhirnya dikecewakan, tapi Mama seneng bisa jadi ibu dan istri yang baik buat keluarga. " Senyum tipis terulas di bibir Mama.
Sebaliknya, aku tersenyum miris. "Ya, hidup memang pilihan. Dan setiap pilihan ada risikonya masing-masing."
"Mama minta maaf. Nggak tahu sampai kapan kamu harus tersiksa setiap hari, dengerin Papa-Mama berantem terus."
Aku tak berani menatap Mama. Badanku memutar ke arah sebaliknya, memunggungi Mama yang berbaring di ranjang satunya.
Jika ada kehidupan kedua, Mama mungkin akan tetap memilih menikah dengan Papa. Meski tahu bahwa di masa depan ia terluka.
Sekarang hanya bisa merapal doa. Semoga hal-hal baik selalu datang untuk pengorbanan seorang ibu. Semoga segala kekecewaan berganti menjadi kebaikan berkali lipat.
***
