Hai aku Ines, anak semata wayang yang cantik jelita. Satu hal yang aku simpan rapat-rapat dari semua orang: AKU BOSAN MENDENGAR CERITA MAMA! #help
Cerita tentang bagaimana ia pernah masuk IGD ketika mengandungku. Cerita tentang orang-orang yang mengucilkan mama di lingkungan asrama (ya, papaku adalah karyawan dari perusahaan yang mengharuskan para pekerjanya untuk tinggal di mess keluarga). Cerita tentang kesedihan ketika harus mengikuti suami keluar pulau, melepas karir, melepas semua kebahagiaan masa mudanya. Sesekali mama tertawa kecil ketika menceritakan bahwa dulu ia menjadi bintang di kampus dan sekarang hanya ibu rumah tangga biasa.
Bukannya tidak punya empati, tapi ini sudah puluhan kali aku mendengar kisah sama berulang kali. Menyebalkan. Apakah mama sadar kalau tindakannya ini menganggu. Aku pura-pura mengiyakan, walau sebenarnya tidak mendengarkan sama sekali. Bahkan jika Mama ingin memulai dongengnya itu, aku langsung menjauh dan beralasan jika lapar. Jahat ya? Tapi itu wajarkan!?
Di umur 12 tahun ini aku benar-benar benci hidupku. Aku muak. Teman-temanku pulang sekolah bisa langsung bermain petak umpet dan tukar binder. Nah aku? Les menyanyi, ekstra kuliner, public speaking, bahasa. Apa-apaan ini! Dipikir aku keturunan Putri Spanyol yang harus menguasai banyak hal kah?! Dan semua ini adalah ide mama. Lagi dan lagi. Karena hal ini aku lebih dekat dengan papa yang tidak otoriter!
-------
Ada satu malam yang ternyata akan mengubah hidupku selamanya. Malam itu mama menemukan bukti bahwa papa memiliki perempuan lain. Tapi lihat responnya bagaimana? Hanya duduk di pojokan kasur. Tidak menangis. Tidak marah. Aku ingin memeluk mama, tapi melihat aku yang sedang mengintip, mama tersenyum dan mengajak aku untuk makan malam. Besoknya seperti tidak terjadi apa-apa. Mama tetap memasak, mencuci, atau melakukan pekerjaan sebagai istri yang taat. Aku pernah bertanya apakah semuanya baik-baik saja. Tapi mama hanya tersenyum. Yang aku tau, papa sudah meminta maaf dan mama memaafkan. Jangan harap suasana rumah akan sehangat dulu. Sesekali ada pertengahan yang tidak aku ketahui. Tapi esoknya mama tetap beraktivitas seperti biasa.
Jujur, aku marah kepada Papa tapi entah kenapa, aku lebih marah kepada Mama. Aku anggap ia bodoh karena masih bertahan dengan pria yang jelas-jelas tidak lagi mencintainya. Aku menganggap Mama lemah. Ketika Mama mulai sering menangis, aku justru semakin menjauh. Aku tidak tahu bahwa saat itu Mama sedang kehilangan dirinya sendiri.
Yang kutahu hanya satu: aku lelah. Aku yakin setelah ini akan ada dongeng jilid dua yang akan terus diceritakan mama sampai aku tua (mungkin).
Akhirnya aku memilih ikut Papa. Mama tinggal sendirian. Untuk pertama kalinya, ia tidak punya siapa-siapa untuk mendengarkan ceritanya. Termasuk aku.
Setelah berpisah, komunikasi kami makin jarang. Sempat sih Mama menelpon papa untuk sekedar ingin mendengar suaraku. Awalnya aku mengangkat. Tapi makin lama ia selalu mulai dengan kalimat yang sama.
"Nez, mama mau cerita."
Dan entah mengapa, tiga kata itu selalu membuatku malas. Aku sudah bisa menebak kisah apa yang akan diceritakan. Lagipula aku sudah beranjak besar kan, memangnya aku tidak punya kesibukan lain selain mendengar mama mendongeng?
--------------
Aku baru mencarinya ketika aku akan menikah. Aku gengsi, tapi aku rindu didampingi mama dari proses lamaran sampai selesai. Aku kan tetap putri kesayangannya, yahhh walaupun bertahun-tahun kami hilang komunikasi. Tapi pasti mama sudah hidup lebih baik kan? Mama sudah tidak pernah menelepon lagi. Pasti beban di hidupnya sudah hilang dan menemukan kegemaran lain.
Tapi aku tidak menyangka nomor yang setia mama pakai bertahun-tahun itu sudah tidak aktif.
Aku menghubungi kerabatnya. Tidak ada yang tahu. Alamat lamanya sudah kosong. Aku mencari lewat teman-temannya. Tidak ada.
Enam bulan. Ya, aku mencari jejak mama selama enam bulan. Waktu lamaranku semakin dekat! Aku menyerah dan berpikir mungkin mama sakit hati karena aku ikut papa ya?
Sampai suatu sore, aku berteduh di depan sebuah supermarket karena terjadi hujan angin. Motor bututku sangat manja dan rentan.
Aku melihat, di antara orang-orang yang berlarian mencari tempat berteduh, aku melihat seorang perempuan.
Rambutnya lebih pendek.
Tubuhnya lebih kurus.
Di sampingnya ada seorang laki-laki.
Dan seorang anak kecil.
Aku mengenal cara perempuan itu berjalan.
Aku mengenal cara ia memegang tas.
Aku bahkan mengenal cara ia tertawa kecil ketika anak di sampingnya menarik tangannya.
Mama.
Aku berlari menghampirinya.

