Aku pernah baca quote ini, yang mengubah caraku memandang arti seorang Ibu.
“Untuk semua yang telah kucapai, aku berhutang pada satu orang…Ibuku.”Dulu, aku hanya tahu Ibu sebagai Ibu. Orang yang cerewet soal makan. Yang selalu mengingatkan untuk pulang. Yang terlalu khawatir. Yang kadang tidak kumengerti kenapa begitu banyak aturannya.
Dulu aku pikir, Ibu hanya sedang menjalankan perannya. Sampai akhirnya aku menjadi seorang Ibu. Dan tiba-tiba, banyak hal yang dulu terasa biasa…
menjadi begitu berarti.
Sekarang aku mengerti kenapa Ibu selalu menungguku pulang. Kenapa ia bisa terbangun hanya karena mendengar suara kecil dari kamarku. Kenapa ia tahu ketika aku sedang tidak baik-baik saja, bahkan ketika aku bilang, “Aku nggak apa-apa.”
Sekarang aku mengerti, ternyata menjadi Ibu berarti membiarkan hatimu berjalan diluar tubuhmu sendiri.
Dan mungkin selama ini aku terlalu sibuk menghitung pencapaianku sendiri, sampai lupa menghitung berapa banyak yang Ibu korbankan agar aku bisa sampai di sana.
Ada mimpi yang mungkin ia tunda. Ada lelah yang tidak pernah ia ceritakan. Ada keinginan yang mungkin ia simpan sendiri, hanya agar anaknya punya kesempatan untuk mengejar mimpi.
Hari ini, ketika aku melihat anakku tumbuh di depan mata, aku melihat sedikit diriku di dalam dirinya.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sedikit diriku juga di dalam diri Ibu.
Ternyata aku tidak menjadi perempuan ini sendirian. Ada tangan Ibu yang dulu menggandengku. Ada doa Ibu yang mengiringiku. Ada pengorbanan Ibu yang rasanya tidak ada satupun di dunia ini yang bisa membalasnya.
Jadi kalau suatu hari seseorang bertanya, "Siapa yang paling berjasa atas semua yang telah kamu capai?”
Aku mungkin akan menyebut banyak nama. Tapi di dalam hati, aku tahu jawabannya akan selalu sama:
Ibu.
Karena sebelum aku tahu bagaimana caranya menjadi perempuan yang kuat, aku pernah menjadi seorang anak perempuan yang dibesarkan oleh seorang Ibu yang memilih untuk kuat demi aku.

