CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Untuk Perempuan yang Selalu Menjadi Rumah
UP

Untuk Perempuan yang Selalu Menjadi Rumah

oleh Hestiningsih
CerpenGratis5 menit baca16 dibacaJFMM Participant

Aku tidak pernah benar-benar tahu kapan seorang anak mulai mengerti arti seorang ibu.

Mungkin bukan ketika kita pertama kali bisa memanggilnya “Ibu”.

Bukan juga ketika kita menerima pelukan pertama setelah menangis.

Mungkin, kita baru benar-benar mengerti ketika sudah cukup dewasa untuk melihat wajah ibu dan menyadari bahwa ada banyak hal yang selama ini ia sembunyikan.

Tentang lelahnya.

Tentang sedihnya.

Tentang keinginannya yang selalu ia simpan paling belakang.

Dan tentang betapa seringnya ia memilih kita daripada dirinya sendiri.

Waktu kecil, aku sering berpikir bahwa Ibu adalah orang yang tidak pernah capek.

Setiap pagi ia sudah bangun lebih dulu. Saat aku masih bergelung di balik selimut, Ibu sudah berada di dapur. Menyiapkan sarapan, merapikan rumah, memastikan semua kebutuhan kami sudah siap.

“Bangun, Nak. Sudah pagi.”

Kalimat itu hampir selalu sama.

Kadang aku menjawab dengan malas.

“Iya, Bu…”

Lalu menarik selimut lagi.

Ibu hanya tertawa kecil.

Aku tidak pernah berpikir bahwa mungkin saat itu Ibu juga masih mengantuk.

Aku tidak pernah bertanya apakah semalam Ibu tidur nyenyak.

Yang aku tahu hanya satu: ketika aku bangun, semuanya sudah tersedia.

Sarapan ada.

Seragam sudah rapi.

Tas sudah siap.

Dan Ibu selalu ada.

Dulu aku mengira semua itu memang seharusnya begitu.

Sekarang aku tahu, ternyata tidak.

Itu adalah bentuk cinta yang setiap hari dilakukan tanpa pernah meminta disebut sebagai pengorbanan.

Aku pernah marah kepada Ibu.

Hanya karena hal kecil.

Aku lupa persis apa penyebabnya. Mungkin karena keinginanku tidak dituruti. Mungkin karena Ibu menegurku ketika aku merasa tidak melakukan kesalahan.

Yang kuingat hanya pintu kamar yang kututup cukup keras.

“Ibu nggak pernah ngerti aku!”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Setelah itu, aku diam.

Ibu juga diam.

Beberapa menit kemudian terdengar suara langkahnya menjauh.

Tidak ada bentakan.

Tidak ada balasan.

Tidak ada kata-kata yang membuatku semakin merasa bersalah.

Hanya diam.

Malamnya, ketika aku keluar kamar, aku melihat Ibu sedang melipat pakaian.

Seperti tidak terjadi apa-apa.

“Sudah makan?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Ya sudah, makan dulu. Ibu simpan makanan di meja.”

Sesederhana itu.

Aku yang marah.

Aku yang membentak.

Tapi Ibu tetap bertanya apakah aku sudah makan.

Saat itu aku belum mengerti.

Sekarang aku mengerti.

Ada orang-orang yang mencintai kita bahkan ketika kita sedang tidak pantas untuk dicintai.

Dan salah satunya adalah Ibu.

Semakin dewasa, aku semakin sering pergi.

Sekolah.

Kuliah.

Pekerjaan.

Kesibukan.

Teman-teman.

Dunia yang terasa begitu besar sampai aku lupa bahwa ada seseorang di rumah yang selalu menunggu kabarku.

Awalnya aku masih sering menelepon.

Lama-lama hanya pesan singkat.

“Bu, aku sibuk.”

“Nanti aku telepon.”

“Maaf, Bu, tadi ketiduran.”

Dan anehnya, Ibu tidak pernah menuntut.

Tidak pernah berkata, “Kamu sekarang sudah jarang menghubungi Ibu.”

Ia hanya menjawab,

“Iya, nggak apa-apa. Kamu jaga diri.”

Kadang aku berpikir, mungkin Ibu memang tidak membutuhkan banyak hal.

Ternyata aku salah.

Ibu hanya tidak ingin menjadi beban bagi anaknya.

Suatu malam aku pulang cukup larut.

Rumah sudah sepi.

Lampu ruang tengah masih menyala.

Aku melihat Ibu tertidur di sofa.

Televisi menyala tanpa suara.

Di meja ada sepiring makanan yang sudah dingin.

Aku berdiri cukup lama di sana.

Lalu baru sadar.

Ibu menungguku.

Padahal aku tidak pernah meminta.

Aku mendekat dan mematikan televisi.

Saat hendak membangunkannya, aku melihat wajahnya dari dekat.

Ada sesuatu yang berbeda.

Dulu wajah itu terlihat begitu kuat.

Sekarang aku melihat garis-garis kecil di sekitar matanya.

Rambutnya tidak lagi seluruhnya hitam.

Tangannya juga tidak sekuat dulu.

Dan untuk pertama kalinya aku merasa takut.

Takut suatu hari nanti aku pulang dan Ibu tidak lagi ada di sofa itu.

Takut suatu hari nanti aku menelepon dan tidak ada suara yang menjawab.

Takut suatu hari nanti aku baru menyadari betapa berharganya seseorang setelah kehilangan kesempatan untuk memeluknya.

Aku duduk di samping Ibu.

Pelan-pelan kugenggam tangannya.

“Ibu…”

Ia terbangun.

“Kamu sudah pulang?”

Aku mengangguk.

“Sudah makan?”

Pertanyaan itu lagi.

Selalu itu.

Bukan “Kenapa pulang malam?”

Bukan “Kenapa tidak memberi kabar?”

Bukan “Kamu ingat Ibu atau tidak?”

Tapi selalu,

“Sudah makan?”

Aku menahan air mata.

Sudah bertahun-tahun aku menjadi anaknya, tapi rasanya baru malam itu aku benar-benar mendengar arti dari pertanyaan sederhana itu.

Itu bukan sekadar pertanyaan.

Itu cara Ibu mengatakan,

“Ibu masih peduli sama kamu.”

Bu,

mungkin aku bukan anak yang selalu bisa membuatmu bangga.

Aku pernah membuatmu kecewa.

Pernah membantah.

Pernah pergi tanpa berpamitan.

Pernah terlalu sibuk dengan hidupku sendiri sampai lupa bertanya bagaimana harimu.

Bahkan mungkin ada banyak malam ketika Ibu menangis diam-diam dan aku tidak pernah mengetahuinya.

Maaf.

Maaf karena selama ini aku terlalu sering menganggap kehadiranmu sebagai sesuatu yang pasti.

Seolah-olah Ibu akan selalu ada.

Seolah-olah rumah akan selalu memiliki tempat untukku pulang.

Seolah-olah suara “hati-hati di jalan” akan selalu terdengar dari pintu.

Padahal tidak ada yang benar-benar abadi.

Sekarang aku mengerti satu hal.

Aku tidak harus membelikan Ibu rumah besar.

Tidak harus memberikan barang mahal.

Tidak harus menjadi seseorang yang hebat di mata semua orang.

Mungkin yang Ibu inginkan sebenarnya sederhana.

Melihatku baik-baik saja.

Melihatku menjadi manusia yang baik.

Melihatku pulang sesekali.

Mendengar ceritaku.

Dan mungkin, sesekali, mendengar aku berkata,

“Bu, terima kasih.”

Maka kalau suatu hari nanti aku berhasil mencapai sesuatu, kalau namaku disebut orang karena sebuah keberhasilan, kalau aku berdiri di tempat yang selama ini aku impikan…

aku ingin orang tahu bahwa aku tidak sampai di sana sendirian.

Ada seorang perempuan yang mungkin tidak pernah berdiri di panggung bersamaku.

Tidak pernah menerima penghargaan.

Tidak pernah disebut namanya.

Tapi setiap langkahku selalu punya sedikit bagian dari doanya.

Perempuan itu adalah Ibu.

Bu, aku tidak tahu berapa lama lagi Tuhan memberiku kesempatan untuk memanggilmu dengan nama yang paling indah di dunia:

Ibu.

Karena itu, selama masih ada waktu, aku ingin lebih sering pulang.

Lebih sering menelepon.

Lebih sering memelukmu.

Dan lebih sering mengatakan sesuatu yang selama ini terlalu sulit untuk kuucapkan.

Aku sayang Ibu.

Bukan karena Ibu telah melakukan begitu banyak hal untukku.

Tapi karena Ibu adalah Ibu.

Dan kalau suatu hari nanti aku ditanya,

“Untuk siapa semua yang kamu perjuangkan?”

Aku ingin menjawab tanpa ragu:

Just for my mom.

Untuk perempuan yang sejak awal tidak pernah berhenti memperjuangkanku.

Untuk perempuan yang mencintaiku bahkan ketika aku lupa bagaimana cara mencintainya kembali.

Untuk perempuan yang selalu menjadi tempat pulang, bahkan ketika aku terlalu sibuk mencari tempat lain untuk merasa nyaman.

Untuk Ibu.

Selalu untuk Ibu

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen