CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Untuk Mama, yang Tidak Pernah Bertanya “Kapan Selesai?”
UM

Untuk Mama, yang Tidak Pernah Bertanya “Kapan Selesai?”

oleh Nelly Setiawaty
CerpenGratis33 menit baca11 dibacaJFMM Participant

Ada orang-orang yang datang ketika hidup kita sedang baik-baik saja.

Ada juga orang-orang yang tetap berdiri di samping kita ketika hidup sedang berantakan.

Buatku, orang-orang itu adalah Mama dan Papa.

Tapi tulisan ini terutama untuk Mama.

Karena semakin aku dewasa, semakin aku mengerti bahwa kasih sayang seorang ibu tidak selalu datang dalam bentuk kata-kata lembut.

Kadang kasih sayang itu datang dalam bentuk omelan.

Dalam bentuk marah.

Dalam bentuk pertanyaan yang berulang-ulang.

Atau dalam bentuk tangan yang tetap membantu, bahkan ketika mungkin dirinya sendiri sedang lelah.

Ketika almarhum suamiku mengalami kesulitan dalam usaha, keadaan keluarga kami ikut berubah. Di tengah masa yang sulit itu, aku tetap harus memikirkan pendidikan anak-anak.

Aku tidak tahu harus bagaimana.

Dan saat itulah Mama dan Papa membantu.

Mereka membantu membiayai sekolah anak-anakku, membantu meringankan beban keuangan keluarga, dan melakukan banyak hal yang mungkin dulu tidak terlalu kupikirkan sebagai sebuah pengorbanan.

Aku hanya tahu, setiap kali keadaan terasa berat, ada Mama dan Papa yang membantu membuatnya sedikit lebih ringan.

Waktu berjalan.

Aku kemudian menikah lagi dan kembali membangun keluarga.

Kupikir setelah menikah lagi, aku akan bisa lebih mandiri dan tidak terlalu bergantung kepada orang tua.

Ternyata hidup kembali mengajarkan hal yang sama.

Ketika suamiku sekarang mengalami kesulitan dan kehilangan pekerjaannya, kondisi keuangan keluarga kembali tidak mudah.

Dan lagi-lagi, Mama dan Papa ada di sana.

Mereka kembali membantu pendidikan anak-anak.

Aku pun sekarang membantu di toko. Setiap hari Mama masih memberikan uang untuk keperluanku. Untuk makan sehari-hari, kami masih bisa makan bersama di toko. Kalau ada makanan yang bisa dibawa pulang, aku membawanya untuk anak-anak.


Bahkan untuk hal-hal lain yang mungkin terlihat sederhana, seperti ketika aku membutuhkan HP, seragam sekolah anakku, tas sekolah anakku atau keperluan lainnya, Mama dan Papa juga tetap berusaha membantu.


Bahkan untuk hal-hal lain yang mungkin terlihat sederhana, seperti ketika aku membutuhkan HP atau keperluan lainnya, Mama dan Papa juga tetap berusaha membantu.

Kalau dipikir-pikir, ternyata sejak dulu sampai sekarang, pola itu tidak pernah banyak berubah.

Aku jatuh.

Mereka membantu.

Aku mencoba berdiri lagi.

Lalu hidup memberikan ujian yang lain.

Dan mereka masih ada.

Tentu saja Mama dan Papa bukan manusia sempurna.

Mereka bisa marah.

Bisa ngomel.

Bisa mengeluarkan kata-kata yang kadang membuat hati terasa tidak enak.

Papa kalau sudah marah, kata-katanya terkadang pedas.

Mama juga begitu.

Kadang aku ingin menjawab.

Kadang aku merasa ingin membela diri.

Dan jujur, aku masih manusia. Tidak setiap saat aku berhasil mengendalikan emosi.

Tapi semakin bertambah usia, aku belajar sesuatu.

Tidak semua hal harus dibalas.

Tidak semua perkataan harus dijawab.

Dan tidak setiap perbedaan harus berakhir menjadi pertengkaran.

Kalau aku merasa mulai terpancing, sekarang aku lebih memilih menjauh.

Pergi sebentar.

Diam.

Memberi waktu supaya emosi kami sama-sama turun.

Bukan karena aku tidak mau mendengarkan.

Bukan karena aku tidak menghargai mereka.

Justru karena aku tahu mereka adalah orang tuaku.

Papa sudah semakin tua dan tubuhnya juga tidak sekuat dulu. Aku tidak ingin karena emosiku, kami bertengkar dan akhirnya aku mengatakan sesuatu yang akan kusesali.

Aku juga belajar melakukan hal yang sama kepada Mama.

Lebih sedikit menjawab.

Lebih banyak mendengarkan.

Dan kalau aku merasa sudah tidak bisa mengendalikan emosi, aku memilih pergi daripada membuat semuanya menjadi lebih buruk.

Mungkin ini adalah salah satu bentuk kedewasaan yang baru kupahami setelah menjadi seorang ibu.

Dulu aku mungkin hanya melihat omelan Mama dan Papa sebagai omelan.

Sekarang aku mulai melihat sesuatu di baliknya.

Kekhawatiran.

Rasa sayang.

Ketakutan mereka melihat anaknya susah.

Mungkin cara mereka menunjukkan cinta memang tidak selalu seperti yang kuharapkan.

Tapi mereka menunjukkannya dengan cara yang mereka tahu.

Mama mungkin bisa marah kepadaku pagi ini.

Tapi ketika aku membutuhkan sesuatu, dia tetap membantu.

Mama mungkin bisa mengomel panjang.

Tapi dia tetap memikirkan apakah aku sudah makan.

Mama mungkin bisa membuatku kesal.

Tapi dia juga orang yang memastikan anak-anakku tetap bisa sekolah ketika aku sedang tidak mampu.

Dan mungkin justru di situlah aku menemukan arti kasih sayang yang sebenarnya.

Kasih sayang tidak selalu terlihat seperti pelukan.

Tidak selalu terdengar seperti kata “sayang”.

Kadang kasih sayang adalah seseorang yang tetap membantumu berdiri, bahkan setelah berkali-kali melihatmu jatuh.

Aku tidak tahu apakah aku sudah menjadi anak yang cukup baik untuk membalas semua kebaikan Mama dan Papa.

Mungkin belum.

Bahkan mungkin aku tidak akan pernah benar-benar bisa membalasnya.

Karena bagaimana caranya membalas orang tua yang sudah membantu kita melewati begitu banyak fase kehidupan?

Yang bisa kulakukan sekarang adalah belajar.

Belajar menjadi anak yang lebih sabar.

Belajar tidak mudah terpancing.

Belajar mendengarkan.

Belajar mengendalikan emosi.

Dan yang paling penting, belajar berdiri dengan kakiku sendiri agar suatu hari nanti Mama dan Papa tidak perlu terlalu khawatir memikirkan aku.

Ma, mungkin aku tidak selalu mengatakannya.

Mungkin aku juga tidak selalu menunjukkan rasa terima kasihku dengan baik.

Tapi aku melihat semuanya.

Aku ingat semuanya.

Aku ingat saat Mama dan Papa membantu ketika kehidupan bersama almarhum suamiku sedang sulit.

Aku ingat ketika mereka membantu pendidikan anak-anakku.

Aku ingat ketika kehidupanku kembali mengalami kesulitan setelah menikah lagi.

Aku ingat bantuan-bantuan kecil yang mungkin bagi Mama dan Papa hanyalah hal biasa, tetapi bagiku sangat berarti.

Aku ingat makanan yang bisa kubawa pulang.

Aku ingat uang harian yang Mama berikan.

Aku ingat barang-barang yang Mama bantu belikan.

Aku ingat semuanya.

Dan suatu hari nanti, kalau aku sudah benar-benar mampu berdiri sendiri, aku ingin Mama dan Papa tahu:

Semua bantuan itu tidak pernah sia-sia.

Karena dari semua yang kalian berikan, bukan hanya hidupku yang kalian bantu.

Kalian membantu aku tetap menjadi seorang ibu yang bisa terus berjuang untuk anak-anaknya.

Ma, terima kasih.

Untuk semua bantuan yang pernah Mama berikan.

Untuk semua omelan yang dulu mungkin tidak kupahami.

Untuk semua kekhawatiran yang mungkin baru sekarang bisa kulihat.

Untuk semua hal yang Mama lakukan tanpa pernah menghitung berapa banyak yang sudah diberikan.

Mungkin Mama tidak selalu mengatakan,

“Ma sayang kamu.”

Tapi sekarang aku tahu.

Mama menunjukkannya.

Dengan caranya sendiri.

Dan mungkin, sepanjang hidupku, aku akan terus belajar memahami bahasa cinta Mama.

Sampai suatu hari nanti aku bisa membalasnya dengan satu hal yang paling Mama inginkan:

melihat anaknya baik-baik saja.

Terima kasih, Ma.

Aku sayang Mama.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen