CeritaGW
Cerpen
Cerpen806 kata

UANG TERAKHIR IBU

S

Suhendar

Sekali duduk selesai

15 Oktober 2026

Mulai membaca

Hujan turun deras ketika Iskandar pulang ke rumah. Pemuda berusia dua puluh lima tahun itu membanting pintu, lalu melemparkan tasnya ke kursi.

“Bu! Ada makanan nggak? Aku lapar!”

Dari dapur kecil, seorang perempuan berusia enam puluh tahun keluar sambil membawa sepiring nasi dan telur dadar.

“Sebentar, Nak. Ibu baru selesai memasak.”

Iskandar melirik piring itu dengan wajah kesal.

“Telur lagi? Setiap hari telur. Aku bosan!”

Ibu Sulastri hanya tersenyum tipis.

“Maaf, Nak. Besok kalau Ibu punya uang, Ibu belikan ayam kesukaanmu.”

“Janji terus! Katanya dulu aku disuruh kuliah supaya hidupku lebih baik. Sekarang lihat! Aku malah masih tinggal di rumah reyot begini.”

Sulastri terdiam. Tangannya yang keriput meremas ujung bajunya.

Iskandar tidak tahu bahwa sejak pagi ibunya berjualan gorengan di pinggir jalan. Uangnya hanya cukup untuk membeli beras, minyak, dan telur. Bahkan, obat untuk sakit lututnya sudah tiga hari tidak dibeli.

“Aku mau pergi ke kota besok,” kata Iskandar sambil makan.

“Untuk mencari pekerjaan?”

“Bukan urusan Ibu. Aku mau bertemu teman. Mungkin aku bisa mendapatkan pekerjaan bagus di sana.”

“Kalau begitu, bawa uang ini.”

Sulastri mengambil sebuah amplop dari lemari. Di dalamnya ada uang dua juta rupiah, hasil tabungannya selama berbulan-bulan.

Iskandar langsung mengambil amplop itu.

“Kenapa cuma dua juta?”

“Itu uang yang Ibu punya.”

“Sudahlah. Daripada tidak ada sama sekali.”

Iskandar memasukkan uang itu ke saku, lalu kembali sibuk dengan ponselnya.

Malam itu, Sulastri tidur dengan perut kosong. Ia hanya minum air putih karena uang yang tersisa harus digunakan untuk membeli bahan gorengan esok pagi.

Tiga hari kemudian, Iskandar menelepon ibunya.

“Bu, kirim uang lagi, dong!”

“Uang dua juta kemarin sudah habis?”

“Ya, habis! Hidup di kota mahal. Ibu jangan banyak tanya.”

“Nak, Ibu sedang tidak punya uang.”

“Alasan! Ibu punya rumah, punya tanah. Jual saja sedikit!”

Sulastri terdiam lama.

“Tanah itu satu-satunya peninggalan ayahmu.”

“Memangnya tanah itu bisa membuatku sukses? Kalau Ibu benar-benar sayang kepadaku, Ibu pasti mau membantu!”

Telepon terputus.

Sulastri duduk di kursi kayu sambil menangis. Ia menatap foto suaminya yang tergantung di dinding.

“Pak, apa salahku mendidik anak kita? Kenapa dia sekarang begitu jauh?”

Hari-hari berikutnya, Sulastri tetap berjualan. Ia tidak menjual tanah peninggalan suaminya, tetapi diam-diam menggadaikan gelang emas satu-satunya untuk membayar biaya pelatihan kerja yang pernah diceritakan Iskandar kepadanya.

Ia berharap anaknya benar-benar sedang berjuang membangun masa depan.

Namun, kenyataannya berbeda.

Iskandar menggunakan sebagian besar uang kiriman ibunya untuk membeli pakaian mahal dan bersenang-senang bersama teman-temannya. Ia bahkan malu mengakui bahwa ibunya hanyalah penjual gorengan.

Sampai suatu sore, sebuah telepon masuk ke ponsel Iskandar

“Apakah benar ini keluarga Ibu Sulastri?” tanya suara seorang laki-laki.

“Iya. Ada apa?”

“Ibu Anda pingsan di pasar. Sekarang beliau dirawat di rumah sakit.”

Wajah Iskandar langsung pucat.

Ia bergegas pulang dan mendapati ibunya terbaring lemah dengan selang infus di tangan.

“Bu!”

Sulastri membuka mata perlahan.

“Iskandar... kamu pulang?”

“Iya, Bu. Kenapa Ibu tidak bilang kalau sedang sakit?”

Sulastri tersenyum lemah.

“Ibu tidak mau mengganggu kamu. Kamu sedang berusaha mencari pekerjaan, kan?”

Iskandar menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak sanggup menatap mata ibunya.

Seorang perawat datang membawa kantong plastik berisi barang-barang milik Sulastri.

“Mas, ini barang ibu Anda. Tadi kami temukan di dalam tasnya.”

Iskandar membuka kantong itu. Ada beberapa lembar uang kecil, sebuah dompet lusuh, dan secarik kertas yang terlipat.

Tulisan di kertas itu membuat tangannya gemetar.

Tabungan untuk Iskandar: Rp15.000.000.

Di bawahnya tertulis beberapa catatan pengeluaran, termasuk biaya pelatihan kerja yang telah dibayarkan ibunya.

Iskandar menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.

“Bu, uang ini dari mana?”

Sulastri mengalihkan pandangan.

“Dari hasil jualan, Nak.”

“Tidak mungkin. Ibu bilang uang Ibu tidak ada!”

Perawat yang berdiri di dekat pintu akhirnya angkat bicara.

“Mas, ibu Anda bekerja hampir setiap hari meskipun lututnya sakit. Beberapa kali beliau datang ke klinik, tetapi pulang lagi karena tidak punya cukup uang untuk berobat.”

Iskandar merasa dadanya sesak.

“Kenapa Ibu melakukan semua ini?”

Sulastri menggenggam tangan anaknya.

“Karena Ibu ingin kamu punya kehidupan yang lebih baik daripada Ibu.”

Air mata Iskandar jatuh.

“Maafkan aku, Bu. Aku sudah jahat sama Ibu.”

Sulastri mengusap rambut anaknya.

“Sudahlah. Ibu tidak pernah berhenti menyayangimu.”

Kalimat itu justru membuat tangis Iskandar semakin keras.

Dua bulan kemudian, Iskandar mendapatkan pekerjaan di sebuah bengkel besar. Gajinya tidak banyak, tetapi ia bekerja dengan sungguh-sungguh. Ia juga membawa ibunya tinggal di rumah kontrakan kecil yang lebih layak dan memastikan pengobatannya tidak terputus.

Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, Iskandar membuatkan sarapan untuk ibunya.

Suatu hari, Sulastri melihat anaknya sedang menghitung uang di meja.

“Untuk apa uang itu, Nak?”

Iskandar tersenyum.

“Untuk membeli gelang emas Ibu yang dulu digadaikan.”

Sulastri terkejut.

“Kamu tahu dari mana?”

“Aku menemukan suratnya di lemari rumah lama.”

Iskandar menggenggam tangan ibunya.

“Dulu aku selalu meminta Ibu memberikan segalanya untukku. Sekarang izinkan aku mengembalikan sedikit kebahagiaan Ibu.”

Sulastri menangis sambil memeluk anaknya.

Namun, Iskandar belum selesai.

Ia mengeluarkan sebuah amplop lain dari tasnya.

“Bu, ini apa?” tanya Sulastri ketika melihat amplop itu.

“Surat dari tempat pelatihan kerja yang dulu Ibu bayarkan.”

Iskandar menelan ludah sebelum melanjutkan.

“Aku sudah mendaftar lagi. Kali ini aku benar-benar akan belajar. Aku ingin menjadi orang yang bisa Ibu banggakan.”

Sulastri memeluknya erat.

Di luar, hujan kembali turun, sama seperti malam ketika Iskandar pergi meninggalkan rumah dengan hati penuh kesombongan.

Bedanya, kali ini Iskandar tidak lagi memikirkan betapa miskinnya rumah mereka.

Ia justru sadar bahwa di dalam rumah sederhana itu, ada seseorang yang telah memberikan kekayaan paling besar dalam hidupnya.

Kasih sayang yang tidak pernah meminta balasan.

Dan sejak hari itu, Iskandar berjanji tidak akan membiarkan ibunya merasa sendirian lagi.

Tamat.