CeritaGW
Cerpen
Cerpen1.973 kata

Tiket Kelas Ekonomi ke Kota Pelajar

hp

harsa permata

Sekali duduk selesai

26 September 2026

Mulai membaca

Terik matahari yang menyengat menembus kaca jendela yang buram, membangunkan Sahar yang tengah tertidur lelap di atas kursi kulit imitasi yang robek. Ia berada di sebuah gerbong kereta ekonomi yang sedang melaju kencang membelah jalur selatan Jawa, membawa penumpang dari Jakarta menuju Yogyakarta. Saat itu tahun 1997. Gerbong kereta kelas ekonomi belumlah senyaman dan sebersih sekarang. Bau pesing yang tajam berkelindan dengan aroma minyak angin dan keringat penumpang, menjalar dari arah toilet gerbong yang pintunya tak pernah tertutup rapat akibat engsel yang rusak dan ember berisi air yang tak pernah dibersihkan.

Sahar, pemuda kampung berkulit legam itu, adalah seorang pengangguran baru lulusan SMA. Alasan utamanya berada di kereta ini sebenarnya sederhana sekaligus tragis: ia gagal total dalam UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) tahun 1997. Semua itu terjadi karena kedunguannya sendiri. Sahar sama sekali tak paham aturan dasar ujian nasional itu, yaitu bahwa setiap jawaban yang salah akan berakibat pada pengurangan poin sebesar seperempat. Jadi, jika seseorang asal menebak dan salah empat soal, skornya akan langsung dipotong minus satu. Sahar yang telanjur percaya diri menghantam semua lembar jawaban tanpa perhitungan, dan hasilnya membuat ia terlempar dari daftar calon mahasiswa.

Padahal, si Sahar yang berasal dari Kota Solok—sebuah kota kecil yang tenang di Provinsi Sumatera Barat—dulunya bukanlah anak yang ugal-ugalan. Memang, sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, ia sudah beberapa kali terlibat perkelahian khas anak laki-laki kampung. Namun, tindakan kenakalan remaja yang agak ekstrem seperti merokok, apalagi menenggak minuman keras, belum pernah terlintas di kepala. Di SD, ia bahkan terhitung sebagai anak yang lumayan berprestasi. Capaian tertingginya adalah ketika ia berhasil meraih nilai EBTANAS (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional) tertinggi di sekolahnya. Capaian yang mengagetkan hampir semua orang, termasuk ayahnya yang selalu mendidiknya secara Spartan dengan disiplin tangan besi.

Patahan karakternya baru dimulai pada semester dua kelas tiga SMP. Sahar mulai terseret arus pergaulan terminal, ikut-ikutan teman sejawatnya merokok dan mencicipi minuman keras. Kala itu, di bawah pemerintahan rezim Orde Baru, minuman beralkohol murah bisa dengan mudah didapatkan di kios-kios kecil dekat terminal bus di tengah kota. Walaupun kadang mereka harus kucing-kucingan dengan razia polisi pamong praja, botol-botol laknat itu selalu tersedia di malam hari. Polanya selalu sama: si tukang warung akan pura-pura tidak tahu atau pasif pada awalnya. Namun, begitu si pembeli mengucapkan kode rahasia tertentu atau menyebutkan merek dengan berbisik, tangan si penjual akan bergerak gesit ke bawah kolong meja, mengeluarkan botol yang dibungkus kantong plastik hitam.

Hanya dengan tiga ribu rupiah, Sahar dan kawan-kawannya sudah bisa berpesta dengan sebotol vodka atau scotch oplosan. Untuk menetralisasi rasa pahit dan panas yang membakar tenggorokan akibat minuman oplosan itu, mereka mencampurnya dengan minuman bersoda seperti Sprite atau Fanta. Celakanya, kebiasaan baru ini membutuhkan uang yang tak sedikit. Ketika uang saku habis, Sahar dan kelompoknya mulai nekat menggasak barang-barang dari rumah masing-masing: kaset video VHS, tape recorder portabel, bahkan beras dan bawang merah milik ibunya pun dijual demi mendapatkan beberapa botol minuman keras.

Dalam urusan ini, Sahar pernah menerima pelajaran yang sangat keras. Ayahnya, yang terkenal teliti dan sangat peka, suatu hari menyadari bahwa koleksi kaset video bekas milik keluarga raib dari lemari televisi. Semua penghuni rumah ditanyai, tetapi tak seorang pun mengetahui ke mana benda itu menghilang. Begitu Sahar melangkah masuk ke rumah dengan gerak-gerik canggung dan wajah yang dipenuhi ketakutan, ayahnya seketika memahami siapa pelakunya.

Sahar, yang saat itu telah menjelma menjadi remaja pembangkang, sama sekali tidak merasa menyesal ataupun meminta maaf. Sebaliknya, ia mengamuk hebat untuk menutupi rasa malu dan bersalahnya. Siapa pun yang berusaha mendekatinya ditendangnya, termasuk kedua orang tuanya sendiri. Beruntung, sebuah bogem mentah dari ayahnya mendarat telak di rahang Sahar hingga tubuhnya terhempas ke lantai, seketika memutus amarah yang menguasainya. Dalam keadaan tak berdaya itu, ayahnya menginterogasinya dengan dingin. Akhirnya Sahar mengaku terus terang bahwa kaset video tersebut telah dijual kepada seorang pedagang barang bekas di pasar bawah. Kaset itu kemudian ditebus kembali oleh ayahnya dan sempat kembali menghuni lemari televisi, sebelum akhirnya rusak selamanya akibat ditumbuhi jamur.

Kereta ekonomi melengking panjang, menyentak Sahar kembali ke realitas tahun 1997. Perjalanan ke Yogyakarta ini sebenarnya sama sekali tidak ada di dalam rencana hidupnya. Awalnya, ia dan sahabat karibnya yang bernama Alan hanya berniat kabur merantau ke Jakarta dengan menumpang truk fuso milik paman Sahar yang membawa muatan hasil bumi. Di atas truk besar itu, kedua pemuda tanggung ini bertindak sebagai kernet dadakan untuk membayar ongkos jalan.

Tugas mereka berat. Jika ada ban kempes di tengah jalur lintas Sumatra yang sepi dan rawan bajing loncat, Sahar dan Alan-lah yang melompat turun memutar dongkrak dan memegang kunci roda. Bahkan, saat truk mereka terjebak antrean mengular berjam-jam sebelum masuk ke Pelabuhan Bakauheni, Sahar dan Alan harus memanjat ke atas atap terpal truk, berdiri di sana menembus angin laut untuk memberikan aba-aba visual kapan paman Sahar harus menghidupkan mesin fuso dan bergerak maju beberapa meter.

Sesampainya di Jakarta, selayaknya orang kampung yang pertama kali menginjakkan kaki di megapolitan, keduanya hanya bisa ternganga memandangi gedung-gedung tinggi mencakar langit di sepanjang jalan protokol. Jakarta begitu megah, namun sekaligus terasa sangat asing, dingin, dan menolak kehadiran mereka yang tak punya keahlian apa-apa. Dua hari luntang-lantung di ibu kota tanpa kejelasan kerja membuat sisa uang di kantong menipis.

Di tengah situasi pelik itu, tiba-tiba Jengkol muncul di depan losmen murah tempat mereka menginap selama dua hari terakhir. Jengkol adalah kawan lama mereka yang sejatinya tengah menempuh pendidikan di sebuah SMA swasta keagamaan di Yogyakarta. Sebenarnya, si Jengkol ini sudah kehilangan semangat untuk kembali bersekolah di Jogja. Sebelum dipindahkan ke Kota Pelajar, Jengkol dulunya bersekolah di daerah Poncol. Walaupun perawakannya terhitung pendek dan berkulit kelam, menurut klaim Jengkol sendiri, pacarnya berderet banyak semasa ia bersekolah di Poncol dulu.

Kehilangan motivasi di Jogja sempat membuatnya enggan kembali, sampai akhirnya sang ibu mengeluarkan keputusan mutlak: "Kalau kau tak lanjut sekolah, uang jajan distop!" Ultimatum itu jelas membuat Jengkol kelabakan karena apa daya, ia belum memiliki pekerjaan sendiri. Begitu mendengar kabar dari jaringan perkawanan bahwa Sahar dan Alan sedang terdampar di Jakarta, Jengkol bergegas mendatangi losmen mereka. Kehadiran dua sahabat karibnya itu seketika memantik kembali semangatnya yang sempat padam. Dengan sisa tenaga dan rencana dadakan, ia langsung mengajak Sahar dan Alan untuk bersama-sama bertolak ke Yogyakarta menggunakan kereta api kelas ekonomi.

Maka di sinilah mereka bertiga sekarang. Laju kereta mulai melambat saat roda-roda besinya melewati jembatan beton di atas sungai yang lebar. Di luar jendela, rumah-rumah penduduk berhimpitan padat membentuk perkampungan kumuh perkotaan, diselingi deretan papan nama toko dan baliho-baliho lusuh bergambar simbol-simbol politik Orde Baru yang warnanya mulai memudar termakan cuaca.

Plang nama stasiun bertuliskan "LEMPUYANGAN" perlahan muncul dari balik asap tipis pembakaran sampah di samping stasiun di sore hari. Kereta akhirnya berhenti dengan sebuah sentakan keras yang melempar uap panas dari cengkeraman rem besi. Sahar segera berdiri, memanggul tas ransel kanvasnya yang kumal, lalu menyenggol bahu Alan yang masih setengah mengantuk. Di samping Alan, terlihat Jengkol bergerak bangkit dengan malas sembari mengucek matanya yang masih sarat akan kantuk.

Saat kaki Sahar melangkah turun dan menyentuh lantai peron stasiun yang disesaki oleh ribuan mahasiswa, pedagang asongan yang berteriak lantang, dan riuh rendah pengamen jalanan yang menyanyikan lagu-lagu satire sosial, ia tersadar penuh. Petualangan liarnya di kota ini baru saja dimulai, tepat di sebuah tahun di mana atmosfer seluruh negeri mulai terasa aneh, pengap, dan siap meledak kapan saja.

Bertumpuk di atas satu becak yang dipaksa memuat tiga tubuh gempal beserta seluruh barang bawaan, mereka bertiga bergerak membelah jalanan menuju pangkalan bus kota. Dari sana, mereka menyambung perjalanan menumpangi bus kota yang berderit-derit, membelah aspal Yogyakarta menuju arah Jalan Wates, sebelum akhirnya meminta kondektur menghentikan bus tepat di mulut Gang Nitipuran.

Dari depan gang, dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa, mereka berjalan kaki menyusuri koridor kampung menuju sebuah rumah kos mahasiswa tempat Jengkol tinggal selama merantau di Jogja. Rata-rata penghuni yang tinggal di kos-kosan itu adalah mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Tetua sekaligus penguasa tak tertulis di kos tersebut bernama Jontor, seorang mahasiswa angkatan 1993 yang sudah mengakar di sana selama empat tahun penuh.

Hubungan antara Jengkol dan Jontor sejatinya masih terikat darah. Jalur pamannya lah, kurang lebih. Hal itu karena di dalam kekerabatan, Jengkol memanggil Jontor dengan sebutan "Mamak"—sebuah istilah sapaan khas Minangkabau untuk memanggil adik laki-laki atau saudara laki-laki dari pihak ibu. Sebagai seorang senior yang sudah kenyang makan garam di tanah perantauan, si Jontor ini ke mana-mana banyak disapa orang. Pengaruhnya cukup luas; bahkan di asrama mahasiswa Minang sekalipun, ia bisa datang melenggang masuk kapan saja tanpa hambatan.

Hawa Jogja sore itu entah mengapa terasa cukup bersahabat bagi tubuh-tubuh lelah mereka. Setelah merebahkan badan dan langsung terlelap selama tiga jam penuh, Sahar, Alan, dan Jengkol—yang anehnya sama sekali tidak merasa kepanasan di dalam kamar kos yang sempit itu—kemudian terbangun dengan kesadaran yang baru terkumpul setengah. Rasa kantuk masih menggelayut tebal di pelupuk mata.

Melihat situasi yang masih hening, Jengkol segera bangkit menuju dapur umum kos untuk membuatkan kopi bagi dirinya dan kedua temannya yang baru mendarat dari ibu kota.

“Besok gantian kau yang bikin ya, Har,” ucap Jengkol sembari menyodorkan dua gelas kecil kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis kepada Sahar dan Alan.

Malam harinya, petualangan kultural mereka di Jogja langsung dimulai dengan sebuah kejutan budaya yang tak akan pernah dilupakan Sahar. Mamak Jontor mengajak mereka bertiga keluar untuk makan malam di sebuah warung tenda pinggir jalan dekat kos. Di sana, sepiring nasi goreng digoreng mengepul dengan harga yang tidak masuk akal bagi isi kepala Sahar: hanya seribu rupiah saja!

Sahar seketika melongo kaget. Di kampung halamannya, Kota Solok, sepiring nasi goreng biasa sudah dipatok seharga lima sampai sepuluh ribu rupiah. Merasa mendadak kaya raya di tanah perantauan yang murah ini, ego Sahar yang berdarah Solok langsung menyala. Tanpa pikir panjang, ia memutuskan untuk mentraktir seisi kos-kosan malam itu. Dengan uang sepuluh ribu rupiah yang di Solok paling banter hanya bisa membeli satu atau dua piring makanan, di Jogja Sahar bisa memborong sepuluh piring nasi goreng sekaligus untuk anak-anak Teknik UMY. Harga es teh manis pun sama ajaibnya, hanya 250 rupiah per gelas. Total pengeluaran malam itu untuk pesta karbohidrat satu kosan hanya menghabiskan uang 12.500 rupiah. Sahar tersenyum puas; Jogja seketika terasa seperti surga tersembunyi bagi dompetnya yang tipis.

Keesokan harinya, petualangan Sahar bergeser dari urusan perut ke urusan nyali. Ia diajak oleh Mamak Jontor berkunjung ke asrama mahasiswa Minang yang sore itu kebetulan sedang mengadakan agenda memplonco alias mengospek mahasiswa baru. Di sinilah mentalitas ugal-ugalan Sahar kembali diuji. Alih-alih mengaku sebagai pengangguran yang gagal UMPTN, Sahar dengan pasang muka tembok mengaku di depan para mahasiswa baru bahwa dirinya adalah mahasiswa Hukum angkatan 1995. Gila dan nekat, namun tidak ada satu pun orang di asrama itu yang meragukannya. Semua orang percaya begitu saja tanpa curiga, sebab tepat di samping Sahar berdiri Jontor, salah satu sesepuh dan tokoh yang sangat disegani di asrama mahasiswa Minang tersebut. Sahar menikmati betul peran barunya sebagai senior gadungan yang dihormati.

Hari demi hari berlalu, dan atmosfer kebebasan serta kemurahan Jogja membuat Sahar jatuh cinta setengah mati. Ia betah sekali dan mulai menyusun rencana masa depan yang baru. Ia bahkan berniat mendaftar ke sebuah akademi bahasa Inggris terkenal di kota itu, ABAYO (Akademi Bahasa Asing Yogyakarta). Sialnya, impian itu langsung membentur dinding tebal setelah ia menghubungi orang tuanya di Solok. Ayahnya yang berprinsip kaku dan Spartan memegang teguh satu dogma mutlak: kalau mau kuliah, pokoknya harus di universitas negeri. Titik. Kuliah di swasta, apalagi akademi bahasa swasta, dianggap bukan masa depan yang layak didanai.

Akibat terganjal restu orang tua dan tidak diperbolehkan mendaftar ke ABAYO, impian kuliah Sahar kandas di tengah jalan. Akhirnya, pemuda asal Solok itu hanya luntang-lantung tanpa kejelasan di Yogyakarta selama tiga bulan penuh. Mengisi hari-harinya yang kosong, ia kerap diajak oleh Mamak Jontor nongkrong di sudut-sudut kamar kos yang temaram, membunuh waktu sembari menghisap rokok impor asal Thailand pemberian kawan senior yang rasanya aneh dan sukses membuat kepala mereka pusing tujuh keliling. Menatap langit-langit kos Nitipuran yang mulai menguning oleh asap, Sahar sadar dirinya sedang terombang-ambing di kota perantauan, tepat sebelum badai besar sejarah tahun 1998 benar-benar menyapu habis sisa-sisa kenyamanan hidup mereka.

#CeritaAnakRantau