Dear Mama,
Ada banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu, tetapi entah kenapa, semakin dewasa aku, semakin sulit rasanya mengucapkannya.
Mungkin karena ketika kita masih kecil, kita mengira orang tua akan selalu ada.
Kita tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, tangan yang dulu menggenggam tangan kita akan menjadi tangan yang paling kita takut kehilangan.
Jadi malam ini, izinkan aku menulis sesuatu yang mungkin terlalu sulit untuk kukatakan langsung.
Terima kasih, Mama.
Terima kasih sudah merawatku ketika aku bahkan belum tahu bagaimana cara merawat diriku sendiri.
Terima kasih sudah menyuapiku ketika aku tidak mau makan.
Terima kasih sudah mengkhawatirkanku ketika aku sakit.
Terima kasih sudah menungguku pulang.
Terima kasih untuk semua pakaian yang pernah dicuci, makanan yang pernah dimasak, obat yang pernah disiapkan, dan semua hal kecil yang dulu kupikir memang seharusnya dilakukan seorang ibu.
Sekarang aku tahu.
Tidak ada yang seharusnya dalam cinta.
Semua itu adalah pilihan.
Dan Mama memilihku.
Berulang kali.
Setiap hari.
Bahkan ketika mungkin Mama sendiri sedang lelah.
Aku tahu hidup Mama tidak selalu mudah.
Dan aku tahu, hidup yang Mama berikan kepadaku juga tidak sempurna.
Kita tidak punya rumah yang besar.
Tidak selalu punya uang untuk membeli apa yang kita inginkan.
Tidak semua hari terasa nyaman.
Ada banyak hal yang mungkin ingin kubenci dari masa kecilku.
Ada keadaan yang ingin kuubah.
Ada hari-hari yang berharap tidak pernah terjadi.
Tapi anehnya…
aku tidak pernah benar-benar bisa membenci Mama.
Karena semakin aku dewasa, semakin aku sadar bahwa Mama juga sedang belajar menjalani hidup.
Mama bukan perempuan yang memiliki semua jawaban.
Mama juga pernah takut.
Pernah kecewa.
Pernah merasa sendirian.
Pernah ingin menyerah.
Mungkin bahkan pernah bertanya-tanya apakah semua keputusan yang Mama buat adalah keputusan yang benar.
Dan mungkin, di beberapa malam, Mama juga pernah menangis tanpa memberitahuku.
Aku tidak tahu.
Aku mungkin tidak akan pernah tahu.
Karena ketika aku kecil, aku terlalu sibuk menjadi anak-anak untuk menyadari bahwa ibuku juga seorang manusia.
Seorang perempuan yang punya mimpi.
Punya ketakutan.
Punya luka.
Dan punya hidup yang mungkin tidak berjalan seperti yang dulu ia bayangkan.
Maaf karena aku baru mengerti sekarang.
Ada satu hal yang mungkin tidak pernah Mama tahu.
Pernah ada hari-hari ketika aku berpikir,
“Mungkin akan lebih baik kalau aku tidak pernah lahir.”
Bukan karena aku tidak mencintai Mama.
Bukan karena aku menyesal menjadi anak Mama.
Aku hanya pernah terlalu lelah.
Terlalu lelah menjadi diriku sendiri.
Terlalu lelah dengan hidup yang rasanya tidak pernah berjalan sesuai keinginan.
Dan terkadang, ketika seseorang sudah terlalu lelah, bahkan keberadaannya sendiri terasa seperti sebuah kesalahan.
Aku pernah berpikir mungkin hidup Mama akan lebih mudah tanpa aku.
Mungkin Mama bisa menggunakan uang untuk dirinya sendiri.
Mungkin Mama bisa hidup lebih tenang.
Mungkin Mama tidak perlu terlalu banyak khawatir.
Mungkin…
aku tidak perlu dilahirkan.
Tapi setiap kali pikiran itu datang, ada bagian kecil dalam diriku yang selalu mengingat Mama.
Dan tiba-tiba aku membayangkan wajah Mama ketika aku masih kecil.
Cara Mama menjagaku.
Cara Mama memanggil namaku.
Cara Mama memastikan aku baik-baik saja.
Lalu aku berpikir—
kalau aku tidak pernah lahir,
aku tidak akan pernah punya semua itu.
Aku tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya memiliki seseorang yang menyebutku anaknya.
Aku tidak akan pernah punya kenangan tentang Mama.
Dan mungkin, meskipun hidupku tidak sempurna,
aku tetap bersyukur pernah hidup di dalamnya.
Karena ada Mama.
Mama, aku tidak tahu apakah selama ini aku sudah menjadi anak yang cukup baik.
Mungkin belum.
Aku pernah keras kepala.
Pernah membantah.
Pernah mengatakan hal-hal yang seharusnya tidak kukatakan.
Pernah pergi ke kamarku dan menutup pintu karena marah, tanpa memikirkan bahwa mungkin di balik pintu yang tertutup itu ada seorang ibu yang hanya ingin tahu apakah anaknya baik-baik saja.
Aku minta maaf.
Maaf karena ketika aku masih kecil, aku hanya tahu bagaimana caranya menerima cinta.
Aku baru belajar bagaimana cara menghargainya setelah aku dewasa.
Dan kalau suatu hari nanti aku punya anak, mungkin saat itulah aku akan benar-benar mengerti betapa besar cinta Mama kepadaku.
Betapa melelahkannya menjaga seseorang.
Betapa menakutkannya bertanggung jawab atas kehidupan orang lain.
Betapa mudahnya seorang ibu lupa pada dirinya sendiri demi anaknya.
Dan karena itu, Mama…
kalau memang ada kehidupan setelah kehidupan ini,
aku ingin meminta sesuatu.
Jangan jadi ibuku lagi.
Tolong jangan salah mengerti.
Aku mengatakan itu justru karena aku sangat mencintai Mama.
Di kehidupan berikutnya, aku ingin Mama menjadi anak dari keluarga yang sangat kaya.
Bukan hanya kaya uang.
Tapi kaya akan cinta.
Aku ingin Mama lahir di rumah yang penuh tawa.
Di rumah yang tidak membuat Mama takut tentang hari esok.
Aku ingin Mama punya orang tua yang memeluk Mama ketika Mama sedih.
Yang mengatakan bahwa Mama tidak harus selalu kuat.
Yang membiarkan Mama menjadi anak-anak sedikit lebih lama.
Aku ingin Mama tumbuh tanpa harus belajar tentang kehilangan terlalu cepat.
Tanpa harus mengerti arti pengorbanan sebelum waktunya.
Tanpa harus memilih antara keinginan sendiri dan kebutuhan keluarga.
Aku ingin Mama punya masa muda yang indah.
Dan setelah itu…
aku ingin Mama bertemu laki-laki yang berbeda.
Seseorang yang benar-benar mencintai Mama.
Bukan seseorang yang membuat Mama terus bertanya-tanya apakah dirinya cukup.
Bukan seseorang yang membuat Mama merasa sendirian meskipun sedang berada di dalam sebuah hubungan.
Aku ingin Mama bertemu seseorang yang bisa diandalkan.
Seseorang yang ketika Mama berkata, “Aku takut,” akan menjawab,
“Aku di sini.”
Seseorang yang ketika Mama lelah, tidak menyuruh Mama menjadi lebih kuat.
Tapi justru berkata,
“Istirahatlah. Biar aku yang mengurusnya.”
Aku ingin Mama dicintai dengan lembut.
Dengan sabar.
Dengan kesetiaan.
Dengan kepastian.
Aku ingin ada seseorang yang memilih Mama setiap hari.
Bukan karena kewajiban.
Tapi karena memang tidak ada tempat lain yang lebih ingin ia tuju selain pulang kepada Mama.
Dan aku ingin Mama punya rumah yang hangat.
Rumah yang ketika pintunya dibuka, tidak ada rasa takut di dalamnya.
Hanya aroma makanan.
Suara tawa.
Dan seseorang yang menunggu Mama pulang.
Aku ingin kehidupan berikutnya menjadi kehidupan yang membuat Mama berkata,
“Aku bahagia.”
Tanpa harus menambahkan kata “meskipun.”
Dan kalau dalam kehidupan itu aku tidak pernah menjadi anak Mama…
tidak apa-apa.
Sungguh.
Karena mungkin, setelah semua yang Mama lakukan untukku di kehidupan ini, Mama sudah cukup banyak memberikan dirimu kepada orang lain.
Mungkin di kehidupan berikutnya, sudah waktunya Mama hidup untuk dirimu sendiri.
Aku akan baik-baik saja.
Aku hanya ingin Mama bahagia.
Tapi untuk kehidupan yang sekarang…
aku tetap bersyukur Tuhan mempertemukan kita.
Aku bersyukur aku lahir.
Aku bersyukur pernah menjadi anak kecil yang berlari mencari Mama.
Aku bersyukur pernah memiliki seseorang yang bisa kupanggil rumah.
Dan meskipun suatu hari nanti aku harus meninggalkan rumah itu untuk membangun kehidupanku sendiri, sebagian dari diriku akan selalu menjadi anak kecil yang mencari Mama ketika dunia terasa terlalu besar.
Jadi kalau suatu hari nanti aku terlihat terlalu sibuk untuk menelepon…
kalau suatu hari nanti aku lupa mengatakan bahwa aku mencintaimu…
kalau suatu hari nanti aku terlalu malu untuk memelukmu seperti dulu…
tolong ingat surat ini.
Ingat bahwa pernah ada seorang anak perempuan yang duduk diam dan mencoba mencari kata-kata yang cukup besar untuk menjelaskan betapa berartinya seorang ibu baginya.
Dan dia gagal.
Karena ternyata,
tidak ada kata yang cukup besar untuk menjelaskan rasa terima kasih seorang anak kepada perempuan yang pertama kali mengajarinya arti pulang.
Mama,
aku tidak bisa menjanjikan bahwa aku akan memberikan Mama kehidupan yang sempurna.
Aku bahkan tidak tahu apakah aku bisa membuat semua pengorbanan Mama terbayar.
Tapi aku ingin mencoba.
Aku ingin hidup.
Aku ingin menjadi seseorang.
Aku ingin suatu hari nanti Mama melihatku dan merasa,
“Ternyata semua ini tidak sia-sia.”
Dan sampai hari itu tiba,
tolong jangan pernah berpikir bahwa Mama gagal menjadi seorang ibu hanya karena Mama tidak bisa memberiku kehidupan yang sempurna.
Karena ketika aku melihat kembali masa kecilku,
yang paling kuingat bukanlah apa yang tidak kita punya.
Aku ingat Mama.
Dan ternyata,
itu sudah lebih dari cukup.
Kalau memang ada kehidupan berikutnya,
aku berharap kehidupan itu lebih baik untukmu.
Tapi kalau ternyata hanya ada kehidupan yang satu ini…
aku ingin memastikan bahwa setidaknya di kehidupan ini,
Mama tahu bahwa Mama dicintai.
Sangat dicintai.
Lebih dari yang pernah bisa kukatakan.
Terima kasih sudah memilih untuk melahirkanku.
Dan terima kasih,
karena setelah aku lahir,
Mama memilih untuk tetap mencintaiku.
Love,
Your daughter.
