Ubin bertekstur kasar yang sudah kering sejak tiga jam yang lalu kini basah kembali oleh cipratan air dan sabun aroma bunga sakura. Pori-pori kulitku menerima aliran jernih yang membawa hawa dingin. Kegiatan ini berhasil membangunkan setengah jiwaku yang masih tertinggal di alam bawah sadar.
Tiga jam adalah waktu tidur siang yang cukup lama bagiku. Jika tidak dibangunkan oleh nenek, episode mimpiku pasti akan bertambah panjang. Nenek Wulida selalu berhasil dalam urusan membujuk cucunya, meskipun tidak pernah barang sekali berbicara dengan nada tinggi kepadaku.
“Dammara, lulusan terbaik.”
Bibirku tersenyum di balik geraian rambut yang terguyur air. Aku membayangkan namaku akan disebut demikian ketika pesta kelulusan bersama teman satu angkatan nanti malam. Terlebih lagi, aku akan mengenakan baju yang dibelikan ayahku sebagai hadiah.
Nampak cahaya oranye menyelinap masuk dari lubang ventilasi ketika kaki kananku keluar dari pintu kamar mandi. Cahaya itu menyorot tepat ke arah sebuah pakaian yang digantung di atas mesin cuci. Alisku terangkat bersama dengan tanganku yang segera meraba baju tersebut.
“Ibu, kenapa ibu mencuci bajuku yang ini? Kalau basah begini, bagaimana bisa kupakai nanti? Kenapa ibu selalu saja berbuat apapun tanpa bertanya dulu padaku?” keluhku kepada seorang wanita yang sedang berkutat di dapur.
Wanita lima puluh tahun itu meletakkan sendok sayur di genggamannya, “Maaf, Dam. Ibu lupa. Ibu bisa mengeringkannya dengan pengering rambut.”
Solusi darinya tidak kuhiraukan sama sekali, apalagi raut wajahnya yang murung. Aku melangkahkan kaki menuju kamar. Hampir saja rumah panggung kami bergoyang oleh karena langkah kakiku yang penuh amarah.
Gumaman kecil keluar dari mulutku, namun cukup bisa terdengar oleh ibu, “Itu hanya akan merusak serat pakaiannya. Lagi pula, bagaimana ibu bisa tahu cara merawatnya dengan benar? Memakainya saja ibu tidak pernah.”
Langkahku terhenti ketika tiba-tiba sebuah tangan meraih lenganku dengan cengkraman yang kuat. Daya tekannya mampu meninggalkan bekas warna merah di kulitku. Sebelum aku menyadari siapa pemilik tangan itu, sebuah tangan lain mendarat di pipiku.
Rasa kebas menjalar tidak hanya di wajahku, tetapi juga sampai ke dasar hati. Hatiku tidak percaya dengan apa yang mata ini lihat. Nenek menamparku. Orang yang akan kubawa sebagai bukti pertentangan jika ada orang yang bilang bahwa setiap manusia pasti pernah marah.
Wajah nenek saat itu sama sekali tidak kukenali. Kutatap kembali wajah rentanya. Barangkali ada raut penyesalan atau kata-kata yang bisa menenangkan hatiku bahwa semua yang terjadi hanyalah kesalahan. Tetapi, nenek hanya diam. Buliran air di pelupuk mata memburamkan pandanganku. Begitu pula pendengaranku yang setengah mengabur dalam menangkap suara ibu dan nenek.
“Biarkan aku yang mengatasinya, Hayat” tegas Nenek kepada ibu.
Ragaku menolak untuk tetap berada di tempat ini. Sukma di dalamnya menuntut untuk ditenangkan. Aku meninggalkan rumah kami tidak jauh, hanya untuk angin segar pengusir awan hitam di kalbu. Derap langkahku terdengar samar di antara riuh orang-orang yang ingin berburu salam pamit dari matahari. Sol sandalku bertemu dengan jalan panjang yang seolah tak habis dalam pandangan.
Kuhentikan langkahku dan duduk tidak jauh dari sebuah keluarga yang sedang makan bersama. Di antara mereka terdapat seorang wanita yang tidak ikut makan karena sibuk menyuapi balita di pangkuannya. Makanan si balita yang belum habis pun berakhir masuk mulut wanita yang memangkunya. Baru beberapa kunyahan, terdengar rengekan yang memaksa hidangan itu diletakkan kembali.
“Mama, adik ingin buang air besar,” kata seorang anak sambil menunjuk si balita.
Mataku kemudian kualihkan ke arah laut. Gulungan ombak kian membesar seiring dengan menipisnya jarak di antara kami. Tetapi raksasa air itu tak pernah sampai menyentuhku dan orang-orang di bibir pantai. Ia luluh lantak setelah menabrak gugusan beton menjadi pertunjukkan percikan air yang meriah.
Suara yang kukenali memasuki liang telingaku, “Lihatlah tetrapod ini, Dam. Dia mirip seperti ibumu.”
Nenek duduk di sebelahku, menyamakan posisi duduknya. Aku tidak menolaknya, tidak juga menyambutnya. Pandanganku masih tertuju ke depan. Apapun strategi nenek kali ini, aku tidak ingin menebaknya. Yang jelas, pembahasan seputar ibu sedang tidak menarik untukku yang baru saja dikecewakan.
“Tetrapod dibuat dari beton, sama halnya dengan gedung-gedung tinggi di tengah kota. Mungkin saja dia ingin menjadi bangunan megah yang dikagumi banyak orang. Tetapi, dia tidak punya pilihan ketika para insinyur meletakannya di perbatasan daratan dan lautan. Namun jika tanpa dia, mungkin gedung di tengah kota tidak akan selamat,” kata nenek melanjutkan.
Perkataan nenek mampu memindahkan pandanganku kepada ratusan struktur beton empat kaki yang tersusun di sepanjang tepi jalan. Ombak demi ombak yang datang dikoyaknya. Ia melindungi tanah daratan supaya tidak terkikis oleh aukan gelombang air laut. Makhluk hidup di daratan pun bisa berjalan dengan aman.
Nenek membuka kembali ceritanya, “Tuhan yang telah menciptakan suamiku, hari itu mengambil kembali milik-Nya. Tanah yang menimbun liang lahat seakan turut mengubur cita-cita putriku dalam-dalam. Jas putih impiannya seolah mengabur di saat yang dilihatnya justru kain putih yang membalut ayahnya.”
Akhirnya aku menatap wajah nenek. Aku ingin memastikan apa yang baru saja kudengar darinya. Kudapati nenek menyadari rasa penasaranku. Ia memberikan anggukan pelan sebagai jawaban. Beberapa helai rambut putihnya lepas dari ikatan karena tertiup angin.
“Ibumu dahulu ingin menjadi dokter. Dia tidak hanya berbakat, tetapi juga punya jiwa yang besar. Ketika Yang Maha Kuasa berkehendak berlainan dengan keinginannya, dia tidak lantas menjadi rapuh. Gadis muda itu berkata kepadaku, ‘Ibu, aku ingin keluargaku bisa berjalan tanpa takut terjatuh, berenang tanpa takut tenggelam, dan terbang tanpa takut terhempas.’ Hayat berjuang begitu keras untuk memastikan kemiskinan tak lagi jadi alasan kegagalan anak cucunya dalam meraih cita-cita seperti yang ia alami,” kenang nenek sembari matanya mengikuti gerak barisan burung yang terbang di langit.
Hatiku berkata bahwa ia baru saja menerima perasaan yang asing. Perasaan itu mampu mengusir ego yang telah lama menggelapkan nyaris setiap sisi hatiku. Seorang wanita yang selama ini kuanggap berkewajiban untuk selalu ada untukku adalah juga perempuan yang punya hak untuk merasakan kebahagiaannya sendiri. Aku yang selalu menuntut hak sebagai seorang anak, adalah juga merupakan pemilik kewajiban untuk berbakti kepadanya. Ibu sudah jelas telah mengorbankan banyak hal untukku. Sedangkan aku?
Nenek membelai kepalaku yang tertunduk sambil berkata, “Dammara, cucuku sayang. Maafkan nenek yang harus melukaimu. Mungkin kamu lupa bahwa nenek juga adalah seorang ibu. Seorang ibu tidak rela anak perempuannya dibentak oleh orang lain, sekalipun itu ayah kandungnya atau anaknya sendiri.”
Aku tidak menjawab nenek dengan kata-kata apapun. Kulingkarkan kedua lenganku yang salah satunya membiru kepada tubuh yang melukainya itu. Tetesan air dari sudut mataku jatuh meresap ke baju nenek. Kurasakan tangan keriput nenek mengusap rambutku pelan beberapa kali.
“Dam, bajunya sudah ibu keringkan. Ayo pulang dan bersiap, sebentar lagi acaranya dimulai bukan?” kata seorang wanita yang suaranya kudengar tiap hari namun entah kenapa saat itu sangat kurindukan.
Iris basahku beradu pandang dengan mata teduh milik wanita itu. Aku melompat meraih tubuhnya. Tubuh yang selama ini tidak kuperhatikan apakah bugar atau justru lesu. Tangannya masih menyambutku dengan usapan lembut. Tak peduli seberapa banyak kata dan perilakuku yang telah menyakitinya. Tangan itu tangan yang sama, yang tak pernah lelah bekerja untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan yang tidak membiarkanku terlambat menyadarinya.
Aku menata napasku yang tersengal untuk memastikan kalimatku terdengar olehnya, “Ibu, Dam sayang akan ibu. Maafkan Dam. Terima kasih, Bu. Ibu, berjalanlah, berenanglah, dan terbanglah bersama Dam. Dam tidak akan membiarkan ibu terjatuh, tenggelam, juga terhempas.”

